
" Siapa tadi, Bu?" tanya Sinta saat mobil yang dikendarai Natasha melaju meninggalkan lokasi kejadian tadi.
" Hemm??" Natasha melirik ke arah Sinta yang sudah pindah duduk di sebelahnya.
" Itu, cowok yang tadi nolongin kita." Sinta menoleh ke belakang menunjuk sosok pria yang tadi menolong mereka. " Ibu kenal dia? Siapa dia, Bu?"
" Dia ...???" Natasha mengerutkan keningnya, dia sendiri bingung menjelaskan, apa posisi Yoga baginya? Teman?? dia tidak pernah merasa berteman. Seseorang yang kebetulan dia kenal, mungkin? Atau ... mungkin boleh dibilang pria itu adalah dewa penolongnya, karena sudah beberapa kali pria itu menghindarkannya dari celaka. Dewa penolong?? Terbesit seulas senyum di bibir Natasha mengingat dua kata itu.
" Ciee ... ciee, senyum-senyum sendiri ..." Sinta yang mendapati Boss nya itu tersenyum dengan cepat menggodanya. " Siapa, tuh ...?? Jangan bilang selingkuhan Ibu, deh! Cinta Ibu kan cuma buat Pak Andra seorang ..." Sinta menyilangkan tangan di dadanya mendramatisir.
" Berisik!!!" seru Natasha memalingkan wajah menghindari Sinta yang akan bisa melihat rona merah di pipinya.
" Memang dia siapa sih, Bu? Dari tadi ditanya nggak dijawab-jawab."
" Bukan siapa-siapa, cuma kebetulan aja beberapa kali ketemu, dan beberapa kali dia tolong aku saat aku lagi kena masalah, kaya tadi itu."
" Beberapa kali ketemu, dan beberapa kali tolongin ibu?" Natasha mengangguk merespon pertanyaan Sinta.
" Wah, jodoh itu namanya, Bu." Lanjut Sinta.
" Jangan asal bicara, deh."
" Ganteng loh, Bu. Kalau Ibu nggak mau, boleh dong dikenalin ke saya, Bu. Kalau Tuan Gavin terlalu tinggi dijangkau, dikasih cowok tadi juga nggak nolak saya, Bu. Mau deh jadi pacarnya ..."
" Jangan macam-macam kamu!!"
" Ah ... cieee, yang mendadak posesif, uhuuyyy..." ledek Sinta sambil tergelak. " Ngaku aja deh, Bu. Cowok itu siapa?? Aku lihat loh, Bu. Waktu kalian saling pandang, ada getar-getar cinta yang terpancar."
" Kamu bisa diam nggak, sih?! Aku lagi bawa mobil, jangan ganggu konsentrasi, bikin nggak fokus." Wajah Natasha bersemu kemerahan.
" Iya, deh ... yang nggak bisa konsentrasi, yang nggak fokus karena abis ketemu sang arjuna ..." Sinta terkekeh sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
" Kamu bicara lagi, aku pending gaji kamu sampai tahun depan!" ancam Natasha.
" Oh, Astaga ... jangan dong, Bu. Jangan jadi atasan yang dzolim dong, Bu. Cukup cerewet saja nggak usah ditambah-tambahin yang lain." Sinta terbahak melihat mata Natasha yang melotot ke arahnya.
***
" Silahkan, Nona. Bapak dan Ibu sudah menunggu di dalam," ujar sektretaris dari Om Ruslan sambil membukakan pintu ruang kerja Papa Andra itu.
" Terima kasih, Mbak," Natasha sempat mengucapkan kalimat itu sebelum memasuki ruang Om Ruslan. Kalimat yang sebelumnya mungkin jarang sekali diucapkan olehnya.
" Siang, Om, Tante ..." sapa Natasha saat melihat kedua orang tua Andra.
" Natasha, sayang ..." Mama Andra langsung berhambur merengkuh tubuh Natasha ke dalam pelukannya. " Sayang, Tante minta maaf ya, atas apa yang telah dilakukan Andra." Mama Andra kemudian menangkup wajah Natasha. " Kamu gimana sekarang? Apa sudah membaik? Kamu ke mana setelah Andra ninggalin kamu? Tante sangat khawatir sekali, sayang ..." Mama Andra terlihat sangat mengkhawatirkan Natasha.
" Suruh duduk dulu, Ma," ujar Om Ruslan yang bangkit dari kursi kerjanya kemudian berjalan ke arah sofa.
" Sini sayang ..." Mama Andra menuntun Natasha duduk di sofa.
" Natasha, sebelumnya ... sebagai orang tua Andra. Om ingin memohon maaf atas apa yang sudah Andra lakukan beberapa hari lalu. Jujur sebagai orang tua, Om dan Tante sangat kecewa dengan perbuatan Andra itu, Om sendiri tidak pernah menyangka Andra akan berperilaku buruk seperti itu." Terdengar nada getir di setiap kalimat-kalimat yang diucapkan Papa Andra itu
" Sayang, Om dan Tante sudah mengambil keputusan untuk membatalkan pertunangan kalian. Tapi kami berencana akan menikahkan kalian secepat mungkin." Natasha terperanjat demi mendengar kalimat yang dituturkan Mama Andra baru saja. Bola matanya membulat sempurna.
Deg
" Me-menikah??"
" Benar, Natasha. Om dan Tante sudah sepakat jika kalian akan menikah dalam waktu dua minggu ke depan," tegas Papa Andra.
" Ta-tapi, Om, Tante..."
" Tapi apa sayang? Kamu tidak usah khawatir, Andra sudah sepakat dengan keputusan kami. Dia mesti mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dia lakukan. Jadi jangan khawatir jika Andra akan menolaknya." Mama Andra menerangkan.
__ADS_1
Natasha menghela nafas yang terasa berat. Seharusnya dia bahagia saat ini. Andra bersedia menikah dengannya. Bukankah ini yang selama ini dia inginkan? Bukankah ini yang selama ini dia impikan? Tapi kenapa perasaan gusar yang sekarangĀ menggelayuti hatinya.
" Sayang ..." Belaian halus tangan Mama Andra seketika menyadarkan Natasha dari lamunannya. " Kamu bersedia kan menikah dengan Andra?"
Natasha menelan saliva nya sesaat. " Ma-maaf, Om, Tante ... sebelumnya Natasha berterima kasih karena Om dan Tante selama ini baik sama Natasha. Selama ini Om, terlebih Tante sangat perhatian sama aku. Tapi Natasha rasa keputusan ini terlalu cepat. Sebaiknya Om dan Tante mempertimbangkan kembali soal pernikahan ini. Aku baik-baik saja,kok, Om, Tante ... tidak perlu Om dan Tante memaksa Andra untuk menikahi Natasha." Akhirnya kalimat-kalimat itu bisa keluar dengan lancar dari mulut Natasha.
" Tapi Natasha. Andra harus bertanggung jawab atas perbuatannya," sergah Mama Andra.
" Tante, untuk saat ini Natasha masih terlalu takut untuk bertemu dengan Andra."
" Tapi bukankah kamu mencintainya, sayang?"
" Aku memang mencintai Andra, Tante. Tapi apa yang telah Andra perbuat sudah membuat hati aku sakit." Natasha menjeda ucapannya seraya memejamkan mata untuk mengatakan kalimat selanjutnya. " Apalagi jika mengingat apa yang terjadi setelah Andra meninggalkan aku, Tante ..." Cairan bening pun luruh dari matanya.
" Apa yang terjadi setelah itu, Nat?" Papa Andra menjadi penasaran.
" Aku ... Natasha hampir di ruda paksa beberapa orang di jalan, Om. Untung saja ada orang baik hati yang menolong Natasha, kalau tidak ada orang itu, entah apa yang akan terjadi pada Natasha, Om, Tante." Natasha terisak.
Papa dan Mama Andra terkesiap mendengar cerita Natasha, Sorot mata Papa Andra terlihat kelam seakan kemarahan membuncah di sana. Sedangkan Mama Andra hanya bisa menangis mengetahui akibat dari perbuatan yang dilakukan anaknya.
" Karena itu, Tante, Om. Natasha tidak bisa menerima permintaan yang telah kalian putuskan. Natasha butuh menenangkan diri. Natasha butuh waktu untuk bisa menghilangkan rasa trauma itu. Jadi Natasha minta maaf kalau Natasha saat ini harus menolak rencana pernikahan Natasha dan Andra." Natasha meraih jemari Mama Andra. " Natasha harap, Om dan Tante mau mengerti dan menerima keputusan Natasha ini."
Mama Andra menarik nafas dalam-dalam. " Baiklah sayang ... Tante mengerti, tapi Tante berharap kamu bisa berubah pikiran. Dan jika kamu memutuskan bersedia menikah dengan Andra. Tante akan dengan senang hati menerimanya."
Natasha mengangguk seraya berhambur ke pelukan Tante Melly, wanita paruh baya itu sejak dulu sangat menyanyanginya, seandainya dari dulu Andra bisa menerimanya dengan baik, mungkin Natasha adalah wanita yang sangat beruntung, bisa mendapatkan calon mertua seperti Tante Melly dan Om Ruslan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš