
" Assalamualaikum, Hai ... Rania." Natasha masuk ke ruang rawat Kirania yang baru saja melahirkan seorang bayi perempuan cantik.
" Waalaikumsalam, Hai ... Nat." Kirania melihat kehadiran Natasha yang saat itu datang bersama Alden.
" Adudu ... tantik banet tih talon menantu Onty Tata." Natasha mengelus pipi lembut bayi mungil itu. " Siapa namanya, Ran?"
" Falisha, Onty."
" Hai, Baby Fa ... cini-cini gendong cama Onty." Natasha lalu mengambil Baby Fa yang selesai mendapatkan ASI dari Kirania. " Alden, sini sayang, lihat ini dede bayinya Tante Rania. Cantik 'kan kaya Mama." kelakar Natasha terkekeh menunjukkan Baby Fa ke arah Alden.
" Alden juga mau punya dede lagi ya, Sayang?" tanya Kirania seraya mengelus kepala Alden. " Sudah ketahuan jenis kelaminnya, Nat?"
" Kemungkinan Baby boy lagi, Ran," jawab Natasha.
" Alden dapat teman main, dong. Ya apapun jenis kelaminnya semoga lancar sampai persalinan ya, Nat."
" Aamiin ..." Natasha menyahuti.
" Kamu berdua saja dengan Alden? Azkia mana?"
" Azkia dibawa neneknya ke Bogor kemarin. Ran, aku minta Baby Fa buat Alden kelak, ya? Aku mau jodohin dia sama Alden. Boleh, kan?" Natasha terkekeh, sepertinya dia sudah jatuh hati pada Baby Fa, sejak bayi itu masih dalam kandungan.
" Masih kecil lho, Nat. Kita planning seperti ini sekarang, tapi Tuhan juga 'kan yang nantinya menentukan siapa jodoh Alden, siapa jodoh Falisha."
" Iya, sih. Tapi nggak apa-apa, kan? Kalau kita rencana 'kan sedari awal, syukur-syukur anak kita ini memang berjodoh kelak "
" Aku sih, oke-oke, saja. Tinggal kamu nanti bilang sama papanya Falisha."
" Sini aku bilang sekalian, orangnya ada di mana?
" Sedang ke kantin, cari makan. Kamu sendiri , Yoga nggak ikut antar?"
" Mas Yoga masih di kampus."
" Hmmm, pak dosen sibuk terus, ya?"
" Ya, seperti itulah ... suami sibuk cari duit, istrinya sibuk ngabisin duitnya, dong." Natasha tergelak saat mengucapkan kalimat tadi.
Kirania ikut tersenyum mendengar perkataan Natasha. Seraya menggelengkan kepala dia berucap, " Aku nggak sangka, Yoga yang selalu berpembawaan tenang dan kalem ketemunya sama kamu yang rame."
" Hahaha ... itu yang namanya Tuhan pasti memberikan jodoh yang tepat untuk kita. Siapa yang kita inginkan tenyata yang lain yang kita dapatkan."
" Andra yang kamu inginkan, Yoga yang kamu dapatkan, gitu, kan?" Kirania terkekeh.
Natasha terkesiap mendengar ucapan Kirania. " Kamu tahu dari mana?"
" Mamanya Kayla yang cerita."
" Iihh, pasti Andra yang bilang-bilang, deh." Natasha mengerucutkan bibirnya.
" Bukan Andra yang bilang, tapi mamanya."
" Tante Melly?"
__ADS_1
" Iya." Kirania menganggukkan kepalanya. " Tapi kamu nggak nyesel 'kan nikahnya sama Yoga?"
" Nggak, dong! Aku justru beruntung banget dipertemukan sama dia. Yoga itu baik banget, baiiiikk banget ..." Natasha memuji suaminya.
" Aku berpikir juga seperti itu. Aku juga berhutang budi sama suamimu itu, Ran. Beberapa kali tolongin aku," lirih Kirania mengingat masa lalunya.
" Yang kamu hampir diarak warga sama dibully teman kampus itu, ya? Mas Yoga cerita kok, sama aku." Kirania menyahuti.
" Ran, kamu makan dulu."
Tiba-tiba seorang wanita paruh masuk ke dalam ruangan Kirania, membuat Kirania dan Natasha langsung mengarahkan pandangan ke pintu masuk ruang rawat inap.
" Eh, ada tamu rupanya," ucap wanita paruh baya itu selanjutnya.
" Oh iya, Bude. Kenalkan ini Natasha, istrinya Prayoga. Nat, kenalkan ini Budeku, Bude Arum." Kirania memperkenalkan Natasha kepada Bude Arum yang ternyata muncul di ruangan itu.
" Istrinya Prayoga? Prayoga ..." Bude Arum nampak berpikir mencoba mengingat. " Prayoga, Nak Yoga yang dulu naksir kamu itu 'kan, ya?"
" Bude ..." Kirania mencoba menegur budenya karena keceplosan mengungkit masa lalu hubungan dirinya dan Yoga.
" Eh, maaf-maaf, suka keceplosan kalau bicara." Bude Arum menutup mulutnya seraya terkekek. " Ini siapa, anak ganteng ini?" Bude Arum kemudian membungkukkan badannya mengusap wajah Alden. " Ini pasti buntutnya Nak Yoga, kan?"
" Iya, Bu ..." jawab Natasha.
" Ganteng seperti ayahnya, Dulu Bude senang kalau lihat wajahnya Nak Yoga. Ganteng apalagi kalau senyum lesung pipinya itu kelihatan banget."
" Bude Arum dulu ngefans sama suamimu lho, Nat," ceketuk Kirania.
" Hahh?? Serius, Bu?" Bude Arum mengangguk seraya tersipu menjawab pertanyaan Natasha.
***
Tok tok tok
Yoga menoleh arah pintu ruang kerja saat terdengar suara pintu diketuk. Terlihat istrinya menyembulkan wajahnya di sana.
" Belum selesai ya pekerjaannya?" tanya Natasha kemudian.
Yoga melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 22.15, dia kemudian menoleh ke arah istrinya lantas tersenyum.
" Kemarilah ..." Yoga membentangkan tangannya, layaknya seorang ayah yang menyuruh anaknya untuk mendekat untuk memberikan pelukan.
" Sudah malam lho, Mas." Natasha langsung duduk di pangkuan Yoga seraya melingkarkan tangannya ke leher sang suami.
" Kenapa? Nggak bisa tidur, hemm?" Yoga langsung menghujani ciuman ke perut Natasha yang sudah mulai membuncit karena saat ini istrinya itu sedang mengandung anak ke tiga dan baru usia lima bulan.
" Dedenya minta bobo ditemenin papanya." Natasha berucap manja.
" Dedenya atau mamanya, hemm?" Kini wajah Natasha lah yang dihujani kecupan Yoga.
Natasha menyeringai seraya menyandarkan kepalanya di bahu Yoga. " Kalau mamanya sih sudah pasti, dong." Natasha bergelayut manja.
Yoga langsung mematikan laptopnya kemudian mengangkat tubuh Natasha dan membawanya menuju kamar sambil menghujani kecupan-kecupan di pucuk kepala wanitanya itu.
__ADS_1
" Alden sudah bobo?" tanya Yoga selepas merebahkan tubuh Natasha di atas tempat tidur.
" Sudah."
" Azkia rewel nggak dibawa mamih ke Bogor?"
" Nggak, sih."
Yoga pun langsung memposisikan tubuhnya tidur di sebelah Natasha.
" Oh ya, gimana tadi besuk Rania?" tanya Yoga seraya menarik Natasha agar mendekat dan memeluk tubuhnya.
" Baby Fa cantik lho, Mas."
" Baby Fa?" Yoga mengeryitkan keningnya.
" Iya Baby Falisha, cantik, lucu menggemaskan. Aku ingin menjodohkannya dengan Alden, kamu setuju, kan?" Natasha mendongakkan kepala menatap suaminya.
Yoga membelalakkan matanya. " Menjodohkan Alden dan Baby Fa?"
" He-em."
" Wah, yang ada nanti kamu dan papanya Baby Fa berdebat terus, dong." Yoga terkekeh. " Kamu sama dia 'kan setipe."
" Dan kamu sama Kirania pun satu tipe, Mas. Tapi kita nggak tertukar jodoh 'kan, ya?" Kelakar Natasha.
" Nggak, dong. Aku ini jodoh terbaik untukmu." Yoga kembali tergelak.
" Narsis." Natasha mencibir. " Oh ya, kamu ingat budenya Rania, Mas? Tadi aku ketemu dengan budenya Rania. Dia kenal kamu juga ternyata."
" Hmmm, iya-iya, siapa ya namanya, aku lupa?"
" Bude Arum."
" Ah, iya ... Bude Arum, gimana kabar dia?"
" Alhamdulillah kelihatan baik dan sehat." Natasha menyahuti. " Kamu ternyata genit juga ya, Mas?" cibir Natasha lagi.
" Genit?" Yoga menautkan kedua alisnya.
" Iyalah, sampai budenya Rania saja ikutan baper sama kamu. Rupanya selain mendekati ponakannya, tebar pesona juga sama budenya, modus banget." Natasha memutar bola matanya.
Yoga langsung tergelak. " Ya itulah resiko jadi cowok ganteng, bukan perawan-perawan saja, ibu-ibu pun ikutan terpesona."
" Hadeuh, narsis terus ..." sindir Natasha. " Awas saja kalau masih suka flirting sama cewek-cewek. Aku bawa kabur anak-anak sekalian!" ancam Natasha
" Nggak dong, Yank. Aku itu setia sama kamu. Cuma kamu wanita yang aku inginkan, cuma kamu yang membuatku bahagia, cuma kamu yang menyempurnakan hidupku." Yoga langsung menyematkan ciuman di bibir ranum sang istri, yang semakin lama berubah menjadi ciuman penuh hasrat dan menuntut, hingga kemudian diakhiri dengan kegiatan saling bertukar peluh yang sanggup membuat suhu dingin kamar mereka seketika menjadi panas karena pergulatan yang mereka lakukan dengan penuh rasa sayang dan cinta.
*
*
*
__ADS_1
Ngadem di sini dulu ah, di sebelah lagi memanas😂😂😂
Happy Reading❤️