
Kalau bukan pacar kenapa Kak Yoga cium-cium Kak Natasha seperti itu? Aku saja yang calon istri Kakak nggak pernah Kakak cium!"
" Calon istri?? Kapan aku mengganggap kamu sebagai calon istriku?" Yoga kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Cindy yang sudah berlinang air mata.
" Tapi aku cinta sama Kak Yoga, hiks ... hiks ...."
" Ya ampun, kamu masih sekolah, SMU saja belum lulus, sudah mikir macam-macam. Fokus saja sama sekolah kamu, dapat nilai yang bagus, kalau sudah cukup umur baru mikir cinta pacaran dan menikah." Yoga mencoba menasehati.
" Ta-tapi Kak Yoga mau menunggu Cindy sampai Cindy cukup umur, kan?"
" Untuk apa?"
" Untuk jadiin Cindy istri Kak Yoga."
Yoga dan Natasha saling bertatapan. " Maaf, Kak Yoga nggak bisa," sahut Yoga.
" Kenapa, Kak? Apa karena Kak Natasha? Tapi tadi Kak Yoga bilang bukan pacar Kakak ..." Cindy menyeka air mata di pipi chubby nya.
" Dia memang bukan pacar aku, tapi dia istri aku," Yoga kembali mengeratkan pelukannya.
" I-istri??" Seketika wajah Cindy memucat, tubuhnya terasa lemas.
" Iya, dia istri aku, hubungan kami sah, bukan hubungan telarang."
" Kak Yoga jahaaaatt ...!!" Cindy langsung berlari keluar dari rumah Yoga dengan menangis tersedu.
" Kamu iihhh ... kasihan banget itu nangis," ucap Natasha yang merasa kasihan melihat Cindy yang tampak terluka, dia jadi mengingat dirinya sendiri saat menjumpai Andra dan Adelia di kantor Andra dulu.
" Kamu yang iseng, kenapa pakai mengaku sepupu aku?" Yoga menggigit pipi Natasha.
" Aawww ...! Sakit, Yoga!" Yoga terkekeh mendengar rintihan Natasha.
" Sudah ah, aku mau bantu Bu Ratna masak." Natasha melepaskan tangan Yoga yang membelit pinggangnya.
" Memang kamu bisa masak?"
" Ya masak-masak air saja sih bisalah." Natasha terkekeh. " Kamu mau makan apa? Aku mau buat pasta, kamu mau??"
Yoga nampak berpikir tak langsung menjawab Natasha.
" Mau apa nggak?" Natasha mengulang pertanyaan.
" Aku mau kamu saja, deh." Yoga kembali menggendong tubuh Natasha dengan kedua lengannya.
" Yoga, astaga!! Lepaskan, nanti keburu Maghrib ..." Yoga akhirnya menurunkan tubuh istrinya itu kembali.
Natasha ingin melangkah pergi tapi tangan Yoga kembali menarik lengan Natasha.
" Ada apa lagi?"
" Beri aku ciuman ...."
Cup...
Natasha langsung mendaratkan ciuman kilat di bibir Yoga.
__ADS_1
" Apa lagi, sih?" tanya Natasha saat tangan.Yoga masih menghalangi langkahnya.
" Kasih ciumannya yang mesra, dong! Pakai luma*tan gitu ..."
Natasha memutar bola matanya. " Itu sih maunya kamu ...."
" Memang mauku, cepat lakukan!"
" Kamu lepaskan aku nggak?! Kalau nggak, nggak akan aku kasih jatah nanti malam," ancam Natasha dengan sorot mata menghunus tajam.
Yoga menaikkan satu alisnya mendengar ancaman sang istri. " Sudah berani mengancam, kamu rupanya ...!" Yoga menaikkan dagu Natasha dengan tangannya.
" Memangnya yang boleh mengancam kamu doang?"
" Cepat kasih dari aku ciuman!"
" Satu ciuman, tidak akan ada ronde-ronde nanti malam!"
Yoga tergelak. " Apa artinya ini kode, bahwa kamu siap bertarung dua belas ronde nanti malam, hemm?" Yoga mainkan alisnya bergerak turun naik.
Natasha terkesiap, dia tidak berfikir sejauh itu. Dia hanya bermaksud lepas dari cengkraman suaminya itu yang seolah tidak pernah menyia-nyiakan waktu jika sedang berdua. Dia lupa jika suaminya ini pandai bermain kata, apa pun awalnya akhirnya dia yang selalu kalah dalam berdebat. Berdebat untuk hal formal saja dia kalah apalagi untuk seputaran hal yang berbau kebutuhan biologis.
" Jadi nanti malam siap berapa ronde?" Yoga mengerlingkan matanya sambil terkekeh.
" Dasar gendeng! Pria mesum..!!" Natasha memukul tangan suaminya,
" Kamu KDRT banget sih sama suami, nanti aku laporin ke Komnas HAM lho, atas tuduhan melakukan tindakan kekerasan."
" Aku juga akan lapor balik kamu, karena tindakan ...."
" Kamu nyebeliiinn ...!!"
" Kamu gemesin ..."
" Maaf, Non. Jadi mau bikin pastanya, nggak?" Bu Ratna yang sedari tadi memperhatikan pasangan suami istri yang sedang berdebat itu memberanikan diri bicara dengan senyum malu-malu.
" Oh, i-iya, Bu." Natasha langsung melangkah menuju arah dapur.
" Kamu yakin mau masak?" Yoga ternyata mengekori Natasha sampai dapur.
" Iyalah, kenapa? Nggak yakin aku bisa buat pasta enak?"
" Gimana aku bisa yakin? Selama nikah ini aku nggak pernah lihat kamu sentuh kompor, gimana Mamih nggak ngeraguin kamu buat jadi menantu, coba!" sindir Yoga.
" Jadi nyesel nikah sama aku? Karena aku nggak bisa masak?!"
" Rara tuh pinter banget masak, enak lagi ..." Natasha melotot saat mendengar nama Rara disebut Yoga.
Dengan cepat Natasha memutar tubuhnya kemudian berjalan mendekat dengan gerakan langkah menggoda ke arah suaminya dan melingkarkan tangan di leher suaminya itu.
" Mungkin tangan aku ini tidak diciptakan untuk menyentuh kompor, tapi ..." Natasha menggigit bibir bawahnya.
" Tapi apa?" Yoga menatap manik mata coklat milik istrinya bergantian lalu menatap gerakan bibir istrinya yang sanggup membuat darahnya berdesir.
" Tapi untuk menyentuh milik suamiku ..." Natasha mengerlingkan matanya, kemudian mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari dapur.
__ADS_1
" Cepat keluar dari sini! Atau kau mau sekalian aku rebus, hahh?!" seru Natasha dengan galak.
Yoga yang melihat istrinya sudah berubah menyeramkan seperti singa betina langsung memilih pergi dari dapur sambil tertawa meledek.
" Romantis sekali kalian ..." ucap Bu Ratna yang hanya tersenyum melihat kemesraan Yoga dan Natasha.
" Dia itu menyebalkan, Bu ..." gerutu Natasha.
" Tapi Non Tata cinta, kan? Biasanya kalau wanita mengatakan seorang pria itu menyebalkan, hatinya itu berbanding terbalik sama ucapannya. Di mulut bilang menyebalkan, di hati kita selalu sayang sama orang itu."
" Tuh dengerin kata Bu Ratna, jangan cinta bilang benci, weekkkk ..." Yoga yang menyembul dari arah pintu dapur menjulurkan lidah meledek.
" Yogaaaaaa ...!!"
***
" Pagi, Bu. Ibu sudah cek email dari Nyonya Agatha di alamat email Alexa butique?" sapa Sinta saat Natasha datang ke butik pagi ini.
" Email? Nyonya Agatha ada kirim email? Tentang apa?" tanya Natasha penasaran.
" Emmm ... sebaiknya Ibu baca sendiri saja, deh. Saya nggak tega menyampaikannya ..." Nada suara Sinta terdengar cemas.
Natasha buru-buru masuk ke ruangan lalu membuka laptop dan membuka akun email butik. Natasha membaca email dari Nyonya Agatha dengan seksama. Tiba-tiba wajahnya memucat dengan sorot mata penuh ketegangan mengetahui isi email dari Nyonya Agatha.
Natasha memijat pelipisnya yang tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya.
" Bu, Ibu baik-baik saja?" Sinta langsung mengambil air mineral di show case di sudut ruangan Natasha lalu menyodorkannya ke Natasha. " Minum dulu, Bu ...."
Natasha menutup wajah dengan ke dua tangannya dengan siku bertumpu di sisi meja.
" Kenapa Nyonya Agatha tiba-tiba memutuskan hubungan kerja sama dengan kita ya, Bu? Pakai minta semua dana ditarik segala lagi, itu nggak sedikit kan, Bu? Apalagi yang buat pembangunan cabang di Bogor."
" Berapa total dana yang dia kasih ke kita buat cabang Bogor, Sin?"
" Sekitar dua puluh lima Miyar, Bu ..."
" Dan dia meminta dana itu ditarik secepat mungkin." Natasha menghela nafas yang terasa berat.
" Tapi kan kita bikin kontrak kerjasama, Bu. Apa dia bisa gitu saja memutuskan kontrak secara sepihak begini?"
Natasha mendengus kasar, dia menduga rencana putusnya kontrak kerjasama ini bukan karena ada masalah dengan bisnis yang mereka jalani, tapi lebih karena masalah pribadi, atau mungkin lebih tepatnya karena masalah Gavin, kakak sepupunya.
*
*
*
Bersambung ...
Jujur aja aku nulis novel ini karena iseng, kalo pas senggang nggak ada kesibukan di kantor, atau pas lagi antre panjang di bank, buat aku, ada yang suka sama cerita yang aku tulis ini sudah senang banget apalagi ada yang kasih like, gift and komentar, jadi bikin aku semangat nulisnya. Makasih juga yang sudah setia selalu menanti kelanjutan Mengejar Suami Impian ini, walau typo bertebaran dimana²🤭 Maklum masih amatiran.
Happy Reading😘
__ADS_1