
" Hai, jagoan ..." sapa Raditya pada Raffasya yang terlihat sedang menunggu di pos satpam di depan sekolahnya.
" Kok, Om Radit yang jemput Raffa?" tanya Raffasya merasa heran karena Om nya itu yang menjemputnya.
" Iya, karena kebetulan Om mau lewat dekat sini jadi Om bilang ke mama kamu biar Om saja yang jemput kamu." Raditya menerangkan kepada keponakannya. " Ayo ..." ajaknya kemudian.
" Nanti dulu, Om ..." seru Raffasya menolak ajakan Om nya lalu menarik tangan Raditya untuk segera turun dari motor gedenya.
" Lho, lho ... ada apa memangnya?" tanya Raditya heran.
" Om turun dulu deh, Om. Kita hadang orang yang tadi tendang Raffa."
Raditya mengeryitkan keningnya.
" Kamu ditendang? Siapa yang berani-beraninya tendang keponakan Om ini?" Raditya terkekeh seraya mengacak rambut keponakannya itu.
" Anaknya belum pulang, Om. Makanya nanti Om marahin anaknya, ya. Atau jewer saja sekalian, Om." Raffasya berusaha mencoba memprovokasi Raditya.
" Memang kamu ditendang apanya?" Raditya kemudian turun dari motor gedenya.
" Ini, Om." Raffasya menunjuk area sensitifnya membuat Raditya seketika tergelak.
" Kamu ditendang itunya?" Raditya ikut menunjuk area sensitif milik Raffasya.
" Makanya kalau Om ajak latihan karate tuh mau, jangan mainan game saja maunya," cibir Raditya masih belum menghentikan tawanya.
" Nah, itu-tuh, Om. Orangnya ..." Raffasya menunjuk ke arah Alden dan Azkia yang berjalan ke arah mereka.
" Alden?"
" Om kenal Alden?" Raffasya terkesiap saat Raditya mengenali Alden.
" Iya, Alden itu 'kan berlatih karate di tempat Om. Jadi Alden itu yang tendang itu kamu?"
" Bukan, Om."
Raditya menoleh ke arah Raffasya. " Lalu siapa kalau bukan Alden?" Karena arah yang ditunjuk Raffasya tidak ada murid lain selain Alden dan Azkia.
" Itu ..." Raffasya menunjuk gadis kecil sedang memegang permen lollypop dan digandeng oleh Alden.
" Azkia? Kamu ditendang Azkia?" Raditya seakan tak percaya dengan arah yang ditunjuk Raffasya, tapi bibirnya tak tahan untuk tidak menyeringai.
" Iya, Om kenal juga?"
" Kenal, dong. Mereka berdua 'kan sama-sama berlatih karate di tempat Om." Raditya menjelaskan.
" Alden, Azkia ..." Raditya menyapa kedua kakak beradik itu seraya melambaikan.
" Om Radit?" Hanya Azkia yang membalas sapaan Raditya.
" Kalian sekolah di sini, ya?" tanya Raditya.
" Iya, Om. Aku kelas satu, kalau Kak Alden kelas tiga." Azkia menerangkan.
" Keponakan Om juga sekolah di sini. Namanya Raffasya, kalian sudah kenal, kan?" Raditya menunjuk ke arah Raffasya yang berdiri di sampingnya yang sedang melipat tangan di dadanya dengan jumawa.
Alden menatap ke arah Raffasya lalu melirik ke arah adiknya yang masih terlihat asyik dengan permen lollypop nya.
" Oh ya, katanya tadi Azkia habis tendang Raffa, ya?"
__ADS_1
Alden langsung merapatkan tubuhnya dengan tubuh adiknya, genggaman tangannya pun semakin kencang di tangan Azkia
Sedangkan Azkia yang mendengar ucapan Raditya langsung merunduk, dia sudah beranggapan jika Raditya akan memarahinya.
Sementara Raffasya sudah tidak diragukan lagi sikap congkaknya itu. Dia kini mengembangkan seringai tipis di sudut bibirnya merasa di atas angin.
" Pasti karena Raffa nakal ya makanya Azkia tendang Raffa?" Raditya kini melirik keponakannya yang langsung terkejut dengan pertanyaan yang bersifat tudingan itu.
" Iya, Om. Tadi Kak Raffa hina-hina dan meledek orang, Om." Azkia yang merasakan angin segar karena Raditya terkesan tidak memihak kepada Raffasya langsung menceritakan hal yang sebenarnya.
Terang saja pengakuan Azkia membuat Raffasya kini mendapat sorot mata tajam Raditya.
" Apa benar yang Azkia bilang tadi, Raffa?" selidik Raditya.
" Tadi Raffa cuma bercanda kok, Om." Raffasya menyahuti.
" Kak Raffa juga dorong-dorong sama cubit pipi aku, Om." Azkia kembali mengadukan kelakuan Raffasya kepada Raditya.
" Kia ...!" Alden melotot ke arah Azkia meminta adiknya jangan terlalu banyak mengadu.
Sementara Raffasya pun ikut melemparkan tatap mata penuh kebencian kepada Azkia atas aduan gadis kecil itu ke Raditya.
" Raffa, Om nggak suka dengan sikap kamu yang membully dan bertindak kasar terhadap orang lain. Kalau ceritanya seperti ini Om sangat setuju dengan apa yang dilakukan Azkia terhadap kamu. Dan sekarang, kamu harus minta maaf terhadap Azkia karena kamu sudah bersikap kasar terhadap wanita." Raditya menyuruh keponakannya itu untuk minta maaf.
" Tapi Azkia juga tadi berbuat kasar terhadap Raffa 'kan, Om."
" Kia 'kan sudah minta maaf sama Kak Raffa tadi. Di depan Bu guru juga Kia sudah minta maaf, kok." Azkia dengan cepat bereaksi.
" Tuh, Azkia bilang sudah minta maaf, sekarang giliran kamu yang minta maaf."
" Raffa nggak mau, Om." Raffasya mendengus kesal kembali menatap tajam Azkia.
" Kalau Raffa tidak mau meminta maaf, Om akan adukan kelakuan kamu ke Mama kamu dan juga eyang. Biar nanti papa dan eyang saja yang hukum kamu." Raditya mengancam.
" Kalau begitu cepat minta maaf," perintah Raditya.
" Maaf ..." ucap Raffasya dengan nada terpaksa.
" Ucapkan yang benar kalau minta maaf." Raditya memprotes karena keponakannya sangat keras kepala.
" Aku minta maaf ..." Raffasya kembali mengulang permintaan maafnya.
" Iya, Kak. Kia sudah maafin, Kok. Tapi Kak Raffa jangan hina Kak Gibran lagi ya nanti." Azkia menerima permintaan maaf Raffasya.
" Ya sudah, sekarang kita pulang." Raditya kemudian menggenggam lengan Raffasya.
" Oh ya, kalian pulang sama siapa? Sama mama kalian?" tanya Raditya kemudian membuat air muka Alden yang semula datar kini mulai menampakkan ketidak sukaannya pada Raditya.
" Sama Pak Hasan." Alden kemudian menjawab.
" Oh ... ya sudah kalau begitu Om Radit duluan, ya." pamit Raditya kepada Alden dan Azkia sebelum akhirnya pergi meninggalkan anak-anak dari Yoga dan Natasha itu.
***
" Oops, I did it again, I played with your heart, got lost in the game ... Oh baby, baby ... Oops, you think I'm in love ... that I'm sent from above ...
I'm not that innocent ...."
Yoga memperhatikan istrinya yang sedang menyanyikan lagu Britney Spears sambil meliuk-liukkan tubuhnya tepat dihadapannya dengan menggunakan lingerie warna merah yang terlihat sangat menggoda hingga Yoga harus menelan salivanya.
__ADS_1
" Kamu lagi ngapain sih, Yank?" Yoga berpura-pura tak mengerti maksud dari istrinya itu yang memang sengaja menggodanya.
" Iisshh ... kamu ini, Mas. Aku ini 'kan sedang melakukan pemanasan tahu." Natasha langsung menghentikan aktivitasnya saat suaminya itu bertanya.
" Pemanasan? Memang kamu mau olah raga? Sudah malam, Yank. Mendingan juga tidur. Aku sudah ngantuk banget ini." Yoga membuka mulutnya lebar-lebar melakukan gerakan menguap lalu mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur kemudian menarik selimut dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Kamu sudah mau tidur, Mas? Nggak mau itu dulu?" Natasha menarik selimut Yoga.
" Aku ngantuk, Yank. Besok harus berangkat pagi juga, jadi mesti istrirahat biar besok bangun fresh. Sudah kamu juga buruan tidur. Sini aku peluk biar cepat tidur."
Sikap Yoga yang seolah tak tertarik dengan tarian sen*sual yang dilakukannya membuat Natasha mencebikkan bibirnya.
" Mas, kamu sudah nggak naf*su ya lihat aku?" ketus Natasha.
" Kamu ngomong apa, sih? Aku itu sudah ngantuk, Yank. Sudah sini tidur." Yoga menepuk tempat di sampingnya menyuruh istrinya itu agar segera tidur.
Natasha yang kesal karena merasa usahanya diacuhkan langsung menghempaskan kasar tubuhnya. Mengambil jarak agak jauh dekat tepi tempat tidur dan membelakangi suaminya lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Yoga yang melihat istrinya merajuk langsung menyeringai lalu mendekati istrinya itu seraya mengecup bagian kepala Natasha yang tertutup selimut lalu berbisik, " Selamat tidur, Sayang."
Tanpa sepengetahuan Natasha yang merajuk kini Yoga menanggalkan seluruh pakaiannya lalu memeluk erat tubuh istrinya itu.
" Kalau lagi kepingin bilang saja langsung nggak perlu pakai kode-kodean gitu, dong." Yoga menarik selimut yang menutupi tubuh Natasha dan dengan cepat dia menguasai tubuh istrinya.
" Semakin lama kamu semakin pintar menggoda suamimu ini. Oh ... Natasha bagaimana aku tidak akan tergila-gila padamu?" Yoga memberikan sentuhan-sentuhan memabukkan kepada Natasha.
" Karena aku nggak mau suamiku yang tampan ini tergoda dengan wanita lain." Natasha melingkarkan lengannya ke leher kokoh Yoga.
" Memangnya siapa wanita yang berani menggodaku? Mereka pasti tak akan berani melawan istriku satu ini." Yoga menyatukan tubuhnya dengan sang istri hingga menimbulkan suara desa*han, lenguhan dan erangan saat pelepasan itu mereka dapat .
" Kita ini sudah menikah lama tapi serasa pengantin baru terus ya, Mas?" ucap Natasha dengan nafas tersengal saat berada dalam pelukan suami.
" Biar kita selalu awet muda." Yoga terkekeh.
" Mas, gimana kalau kita pergi berdua, ngerasain honeymoon lagi?"
" Lalu anak-anak gimana?"
" Kita minta tolong Mama Nabilla sama Mamih Ellena dong, buat jagain cucu-cucunya, pasti mereka mau." Natasha memberi saran.
" Mau program bikin anak lagi?" Yoga memainkan alisnya.
" Anak kita sudah banyak lho, Mas."
" Aku sanggup menghidupi banyak anak."
" Tapi Aulia masih kecil, Mas."
" Tambah satu lagi, setelah itu sudah, ya." Yoga membujuk sang istri. " Usia kamu masih bisa hamil, kan?"
" Bisa, sih."
" Ya sudah, kita nanti buat program hamil saat honeymoon nanti. Aku akan berusaha menghamili kamu."
Dan Natasha tergelak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya itu.
*
*
__ADS_1
"
Happy Reading ❤️