MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Kamu Masih Normal, Kan?!


__ADS_3

Suasana di meja makan malam ini sedikit agak mencekam, tidak ada suara obrolan selain denting sendok yang beradu dengan garpu. Natasha lebih banyak menunduk karena saat ini dia sedang dalam pantauan sorot mata penuh intimidasi sang ibu mertua. Makanan yang terhidang di meja yang sejatinya bercitra rasa nikmat terasa pahit di lidahnya. Rasanya berbeda sekali ketika dia makan bersama dengan orang tua Andra.


Selepas makan malam, Yoga meminta Natasha untuk kembali ke kamarnya, sedangkan dia menuruti perintah Papih Prasetya untuk menemuinya di ruang kerjanya.


" Masuk, Ga ..." sahut Papa Yoga saat mendengar pintu ruangannya diketuk. " Duduk sini ..." Papa Yoga memerintahkan Yoga untuk duduk di kursi samping sofanya.


Yoga sempat melirik ke arah mamihnya yang duduk persis di samping papinya masih memasang ekspresi wajah dingin.


" Ceritakan pada kami, bagaimana pernikahan kalian itu bisa terjadi?" tanya Papa Yoga kemudian.


Yoga mengatur nafasnya sebelum memulai menceritakan kisah perjalanan hubungannya dengan Natasha.


" Sebenarnya Yoga dan Natasha memang nggak merencanakan pernikahan mendadak ini, Pih. Yoga kenal Natasha dan beberapa kali Yoga menolong dia saat dia membutuhkan bantuan Yoga ..."


" Tuh, kan. Mamih bilang juga apa?! Wanita itu pasti memanfaatkan kamu, Yoga!" sergah Mama Yoga memotong ucapan anaknya.


" Mih, dengarkan cerita Yoga terlebih dahulu," ujar Papa Yoga menginterupsi.


" Natasha nggak seperti yang Mamih pikirkan. Dan bantuan yang dia butuhkan bukan berupa materi, Mih. Natasha nggak kekurangan materi, dia punya usaha sendiri, dia punya beberapa usaha butik di Jakarta. Bantuan yang dia butuhkan berupa perlindungan. Yoga sempat menolong dia saat mobil dia dikerumuni massa saat dia sedang berbagi sembako kepada orang-orang yang membutuhkan." Yoga mengucapkan kalimatnya dengan ekor mata yang mengarah ke mamihnya yang langsung memalingkan wajahnya.


" Wah, dia berbagi sembako? Bagus itu." Tanpa diduga Papa Yoga menimpali yang semakin membuat wajah Mama Yoga semakin ditekuk.


" Iya, Pih. Sampai dia nggak memikirkan keselamatannya, Dia hanya berdua dengan sekretarisnya turun langsung ke jalan untuk memberi rejeki kepada mereka-mereka yang membutuhkan."


" Hmmm ..." Papa Yoga manggut-manggut.


" Lalu saat papa dia sakit di Bandung, Yoga yang temani dia, Pi. Karena Yoga takut terjadi sesuatu sama dia di jalan, sebab harus bawa kendaraan sendiri. Saat itulah akhirnya Yoga dikenalkan dengan orang tua Natasha, dan akhirnya Papa Farhan meminta Yoga menikahi Natasha sebelum beliau meninggal."


" Papanya Natasha sudah meninggal?" tanya Papa Yoga, sepertinya Papa Yoga tidak terlalu fokus saat Natasha menjelaskan tadi sore.

__ADS_1


" Iya, Pih. Beberapa jam setelah ijab qobul kami."


" Innalillahi wainnaillaihi rojiuun," ucap Papa Yoga bersimpati.


" Natasha wanita baik, Pih, Mih. Dia nggak pernah mempermasalahkan status Yoga yang saat itu dia lihat sebagai mahasiswa dan driver ojol. Orang tuanya juga bisa menerima Yoga dengan baik, nggak merendahkan pekerjaan Yoga. Karena itu Yoga bersedia menikahi Natasha, walaupun masih secara siri." Yoga tidak semuanya menceritakan awal pertemuan dengan Natasha, dia hanya mengambil bagian yang bisa mendukung dia mendapat restu kedua orang tuanya.


Papa Yoga lalu menghela nafas sesaat mendengar perkataan Yoga. " Prayoga, pernikahan itu suatu hal yang sakral, kalau bisa itu hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup. Janji pernikahan itu tidak bisa dipermainkan, karena kamu bukan hanya janji di depan penghulu, saksi, orang tua dan istri kamu. Tapi yang terpenting adalah saat itu juga kamu telah berjanji di depan Allah SWT, karena itu butuh persiapan yang matang bagi setiap pasangan untuk menuju jenjang pernikahan ..." Papa Yoga menjeda kalimatnya beberapa saat. " Prayoga, jujur Papih merasa kecewa, kamu anak Papih dan Mamih satu-satunya, kami berharap jika kamu menikah mengakhiri masa lajang kamu, Papih dan Mamih ada di sana, melihat kamu mengucapkan ikrar janji pernikahan, merasakan sakralnya melepas kamu untuk menantu kami." Ada nada getir yang terdengar dari setiap ucapan yang keluar dari mulut Papa Yoga dan itu membuat Yoga merasa sangat bersalah.


" Maafkan Yoga, Pih. Yoga nggak bermaksud mengecewakan Papih dan Mamih ..." lirih Yoga.


" Tapi apa yang kamu lakukan ini benar-benar mengecewakan kami, Prayoga!" ketus Mama Yoga. " Kamu tahu kan kalau Mamih dan Papih sudah mejodohkan kamu dan Azahra?! Mamih dan Papih bahkan sudah merencanakan pernikahan kalian tahun depan. Sekarang kamu malah menikah dengan wanita lain, kamu bisa bayangkan bagaimana kecewanya Azahra mengetahui fakta ini. Dan bagaimana kami harus menghadapi orang tuanya Azahra, kalau mereka ternyata tahu kamu sudah melanggar janji kami untuk menikahkan kamu dan Azahra." Mama Yoga berbicara dengan menggebu-gebu.


" Manusia hanya bisa berencana, Allah SWT lah yang menentukan, Mih. Kita nggak bisa menentang apa yang sudah ditetapkan Allah."


" Bukan Allah yang menentukan, tapi mertua kamu itu! Yang seenaknya saja menyuruh kamu menikahi anaknya!" geram Mama Yoga semakin kesal.


" Mih ..." Papa Yoga mengelus punggung istrinya menyuruh istrinya itu lebih bersabar.


" Maaf, Mih. Yoga bersalah, apa yang harus Yoga lakukan untuk menebus kesalahan Yoga, Mih, Pih?"


" Ceraikan wanita itu ...!!"


" Mih ...!!" ucap Yoga dan Papihnya bersamaan.


" Yoga nggak bisa melakukan itu, Mih. Yoga sudah berjanji kepada Papa Farhan untuk menjaga Natasha seumur hidup, Mih.


" Mih, apa yang sudah dipersatukan oleh Allah, hendaknya jangan dipisahkan oleh tangan manusia. Jika harus ada perpisahan, hanya Allah SWT yang punya hak untuk melakukan itu," tandas Papa Yoga penuh ketegasan.


Mama Yoga langsung bangkit dari duduknya. " Pokoknya Mamih tetap nggak setuju! Mamih nggak mau punya menantu dia! Mamih hanya ingin Azahra lah yang menjadi menantu Mamih! Titik ...!!" Mama Yoga bergegas meninggalkan ruang kerja suaminya dengan bersungut-sungut.

__ADS_1


" Mamih kamu kecewa karena dia nggak bisa merasakan tangis haru yang mestinya dia rasakan saat kamu sungkem selepas ijab qobul," seloroh Papa Yoga mencairkan suasana yang sempat tegang.


" Apa Papih merestui Yoga dan Natasha?" Dengan hati-hati Yoga menanyakan hal itu kepada Papihnya.


" Lalu Papih harus bagaimana? Mau tidak setuju pun kenyataannya kalian memang sudah menikah," jawab Papa Yoga bijak. " Lantas kenapa kalian tidak segera mengesahkan pernikahan kalian secara hukum negara?" tanya Papa Yoga kemudian.


" Tata ingin mendapatkan restu Papih dan Mamih terlebih dahulu sebelum kami mengesahkan pernikahan kami secara hukum negara."


" Kenapa berpikir seperti itu?? Justru kalau kalian cepat mengesahkan pernikahan kalian, pernikahan kalian itu lebih kuat." Papa Yoga menjelaskan." Setelah ini segeralah urus pengesahan pernikahan kalian."


" Baik, Pih."


" Kapan kamu ingin mengadakan resepsi?"


Yoga menatap wajah teduh papihnya, sungguh dia merasa sangat beruntung memiliki papih sebijak papihnya ini. " Kami belum memikirkan ke arah sana, Pih."


Papih Yoga kembali menganggukkan kepala, sembari mengusap rahangnya.


" Apa benar selama ini kalian belum melakukan hubungan suami istri? Kamu masih normal, kan?!' tanya Papa Yoga tiba-tiba usil menanyakan hal yang membuat wajah Yoga seketika memerah.


*


*


*


Author POV : Iihh Si Papih.. sepertinya kita tau darimana kebiasaan usil Yoga berasal😂


Bersambung....

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2