
Boleh ga Otor minta, untuk Bab ini
satu reader \= satu like + satu komen
anggap itu hadiah untuk Alden dari reader tercinta.
Aku kasih nama anak mereka Alden, karena terispirasi oleh visual Yoga yang ganteng menggemaskanđ¤
_________________________________
Dua tahun kemudian ...
Natasha sedang membantu memasang kancing kemeja yang dipakai suaminya. Pandangan matanya tak lepas dari wajah tampan sang suami yang juga sedang menatapnya lembut. Tangan Natasha terulur menangkup wajah suaminya yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu di beberapa bagian.
" Mas, bisa nggak, sih. Kalau mau ke kampus, kadar ketampanan kamu itu ditinggal sembilan puluh sembilan persen di rumah saja? Aku nggak rela, lho. Mahasiswi-mahasiswi kamu mengagumi ketampanan suamiku ini. Aku nggak mau mereka menggoda dosennya yang super ganteng ini." kelakar Natasha membuat suaminya itu terkekeh.
" Kenapa kamu jadi insecure gini, sih?" Yoga menarik tangan Natasha dari wajahnya kemudian mengarahkan kedua telapak tangan Natasha ke dadanya. " Hati aku cuma ada satu, dan kamu adalah satu-satunya pemilik hati aku. Jadi kamu nggak usah khawatirkan hal itu."
" Tapi aku takut kamu akan tergoda sama mahasiswi kamu yang lebih muda, lebih cantik, lebih seksi dari aku." Natasha merajuk.
" Kita pernah bicarakan soal ini 'kan, dulu. Tak ada alasan untuk aku menduakan cintaku. Tak ada alasan untuk aku tergoda dengan wanita lain. Karena apa yang aku punya, yang aku dapatkan dari kamu, sudah membuat aku bahagia. Hidup aku sudah sangat sempurna denganmu." Yoga kemudian mengecup dengan penuh perasaan kening Natasha. Seakan menyalurkan energi yang akan bisa menenangkan istrinya itu.
" Aakkhh ..." Natasha meringis sambil memegangi perutnya, membuat Yoga melepaskan ciumannya.
" Kenapa, Yank? Apa si dedek bergerak?" Yoga kemudian melirik perut Natasha. Dia langsung berjongkok di depan perut buncit istrinya itu. Tangannya menyentuh perut istrinya. Dia bisa merasakan gerakan-gerakan bayi di dalam perut Natasha yang kini berusia tujuh bulan.
" Sayang jangan nakal di perut Mama, ya?! Anak Papa jangan bikin Mama repot, ya?! Sebentar lagi dedek pasti akan bertemu sama Papa dan Mama. Papa sama Mama sudah nggak sabar untuk melihat kamu, Sayang." Yoga kemudian mengecup berkali-kali baby bumb istrinya itu.
" Iya Papa, dedek juga nggak sabar ingin digendong Papa. Dedek akan jaga Mama, kok. Dedek nggak akan nakal. Papa juga jangan nakal di kampus. Jangan genit-genit sama aunty-aunty yang diajar sama Papa. Papa jangan bikin Mama sedih juga." Natasha berucap mengikuti gaya bicara anak kecil.
Yoga kembali bangkit dan tersenyum ke arah istrinya.
" Hari ini jadi mau senam hamil?" tanya Yoga menyampirkan helaian rambut Natasha ke belakang telinga.
" Iya, dong. Aku 'kan disuruh Kak Gavin menemani Kakak ipar juga. Kak Gavin nggak ingin ada pria yang menggoda istrinya di tempat senam nanti."
" Cih. Posesif banget sepupu kamu itu." Yoga mencibir.
" Lalu bagaimana dengan Anda Tuan muda Atmajaya? Apa kau sendiri tidak merasa posesif selama ini, hahh?!" Natasha balik menyindir.
" Aku nggak posesif. Aku cuma terlalu sayang sama kamu." Yoga kemudian menaikan dagu Natasha dan mencium lembut bibir istrinya yang selalu menjadi candu sejak pertama kali menyentuhnya.
" Papapapapa ...."
__ADS_1
Natasha dan Yoga menghentikan aktivitas bercumbu nya. Mereka lalu menoleh ke bawah posisi mereka berdiri. Terlihat seorang bayi laki-laki berusia satu tahun sedang berdiri menarik celana yang dipakai oleh Yoga. Sambil mendongakkan kepala ke arah mereka dan senyum mengembang di wajah bayi mungil tadi.
" Oh ... Alden minta dicium Papa juga, ya?" Yoga lalu membungkukkan tubuhnya dan meraih tubuh mungil itu lalu menggendong dengan lengan kirinya. " Sini Papa cium ..." Yoga menghujani pipi gembil anak pertamanya itu membuat bayi itu tertawa riang.
" Sekarang Alden cium pipi Papa." Yoga menyodorkan pipinya ke arah wajah Alfatih Alden Atmajaya, nama putra pertama Yoga dan Natasha itu. Tapi bukannya mendapat ciuman, justru Yoga mendapat gigitan dari Alden yang sudah mempunyai empat buah gigi.
" Awww ... kok digigit, sih? Alden nakal, ya!" Yoga kembali menyerang Alden dengan mencium gemas pipi anaknya itu.
" Sudah-sudah nanti Papa telat berangkat, lho." Natasha menghentikan keakraban papa dan anak itu.
" Ma ... mamama ..." Alden merentangkan tangannya ke arah Natasha.
" Alden mau gendong Mama?" tanya Natasha kini dia ikut mencium pipi Alden.
" Alden gendong Papa saja. Mamanya berat gendong Adik bayi." Yoga menunjukkan perut Natasha ke Alden. Lalu menyuruh Alden mencium adiknya yang masih di dalam perut.
***
" Pagi, Mih." sapa Yoga saat melihat mamihnya di ruang tengah.
Mama Yoga menoleh ke asal suara Yoga. " Eh, Alden sudah bangun, ya? Sini Alden ikut sama Nenek. Papa Alden 'kan mau berangkat kerja." Mama Yoga kemudian mengambil Alden dari tangan Yoga.
" Yoga berangkat, Mih. Assalamualaikum ..." Yoga mencium tangan mamihnya dan mencium kembali Alden sebelum akhirnya berpamitan.
" Tata, antar Mas Yoga ke depan sebentar, Mih," pamit Natasha yang dibalas anggukan kepala mama mertuanya itu.
" Hati-hati di jalan, ya, Mas. Jangan ngebut bawa mobilnya." Natasha menyalami punggung tangan Yoga.
" Iya, Sayang." Yoga kemudian membalas mengecup kening Natasha.
" Kalau sudah selesai mengajar, buruan pulang, ya?" pinta Natasha.
" Iya, istriku yang cerewet." Yoga menarik hidung Natasha sembari terkekeh. " Nanti kalau sudah sampai di tempat senam kabari aku, ya? Nanti diantar Pak Hasan, kan?" Yoga kembali mengecup perut buncit Natasha.
" Iya, Mas."
" Ya sudah, aku berangkat, ya!Assalamualaikum ..." pamit Yoga.
" Waalaikumsalam ..." Natasha membalas salam Yoga.
***
" Ta, itu air rebusan kacang hijaunya nanti diminum." ujar Mama Yoga saat melihat Natasha kembali dari mengantar Yoga. Sementara ia sendiri sedang menyuapi Alden makan.
__ADS_1
" Iya, Mih." Natasha menyahuti seraya menghampiri Mama Yoga dan anaknya.
" Alden lagi makan, ya? Makan apa sayang?" Natasha mencium gemas pipi anaknya.
" Makan sama nasi tim ati sama brokoli wortel, Mama." Mama Yoga mewakili cucunya menjawab pertanyaan Natasha.
" Makan yang banyak ya, Sayang."
" Iya, Mama."
" Mih, Tata nanti titip Alden, ya? Soalnya hari ini jadwal senam hamil," ujar Natasha kemudian.
" Sama siapa kamu senam hamilnya?" tanya Mama Yoga, sementara tangannya masih sibuk menyuapkan makanan ke Alden yang langsung diterima dengan lahap oleh bayi berpipi gembil itu.
" Sama mantan calon mantu idamannya Mamih." Natasha terkekeh.
" Oh ya, bagaimana kabar dia? Mamih lama nggak ketemu."
" Nanti juga Kak Gavin antar Rara kemari, Mih."
Mama Yoga tersenyum bahagia. " Mamih nggak menyangka akhirnya mereka berjodoh. Mamih awalnya khawatir dan merasa bersalah, karena memaksakan kehendak Mamih ingin menjodohkan dia dengan Yoga. Mamih merasa bersalah saat melihat wajah sedihnya."
" Sekarang Rara sudah bahagia, Mih. Dia mendapatkan pria yang tepat untuknya. Kak Gavin itu pria yang baik. Walaupun perjalanan kisah mereka awalnya tidaklah mudah. Tapi mereka bisa melewatinya. Rara beruntung mendapatkan Kak Gavin. Seperti halnya Tata beruntung bisa mendapatkan Mas Yoga."
" Mamih minta maaf ya, Ta. Mamih dulu bersikap
buruk terhadap kamu. Semakin lama Mamih
semakin sadar, jika kebahagian Yoga adalah bersama kamu."
" Mamih nggak usah bicarakan itu lagi. Tata sudah melupakannya, kok. Tata justru sekarang sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangga Tata. Tata yang mestinya berterima kasih kepada Mamih. Karena Mamih telah melahirkan lelaki baik hati yang akhirnya menjadi suami aku." Natasha merangkul pundak Mama Yoga kemudian menyadarkan kepalanya di pundak mama mertuanya itu.
*
*
*
Aku mau tanya nih, kisah ini mau tamat atau lanjut? Soalnya kayanya kalah pamor sama RTB deh.
Bersambung ...
Happy Readingâ¤ď¸
__ADS_1