
Natasha berulang-ulang memutar nomer telepon yang sama, tapi tak juga nomer itu bisa dihubunginya.
" Gimana, Bu?" tanya Sinta yang sedari tadi sibuk memperhatikan Natasha yang tampak gelisah.
" Nomernya nggak bisa dihubungi lho, Sin." Natasha menyalakan loudspeker di ponselnya.
" Apa nomer Ibu diblokir, ya?" tanya Sinta saat mendengar bunyi yang terdengar dari ponsel Natasha.
" Diblokir? Maksudmu nomer aku diblokir oleh Nyonya Agatha, gitu?" Natasha menautkan alisnya.
" Biasanya kalau nadanya begitu, nomer kita diblokir sama orang itu, Bu. Ibu memang nggak tahu ciri-ciri nomer HP kita diblokir atau tidak?"
Natasha mengedikkan bahunya. " Siapa orangnya yang mau blokir nomer ponselku, Sin? Yang minta justru banyak," seloroh Natasha mencoba memecah ketengangan yang dia rasakan sendiri.
Sinta terkekeh. " Pasti yang minta deretan cowok-cowok ganteng ya, Bu?"
" Ya seperti itulah kira-kira," sahut Natasha. " Coba pakai nomer butik, Sin! Kalau sudah nyambung kasih ke aku," perintah Natasha.
" Sama saja begitu nadanya, Bu ..." ujar Sinta setelah mencoba menghubungi dari dua nomer PSTN butiknya. " Coba pakai nomer HP saya ya, Bu." Sinta langsung berlari ke luar ruangan Natasha, dan tak lama kembali dengan ponsel di tangannya.
" Bagaimana, Sin?" tanya Natasha penasaran.
" Kok, nggak bisa juga, ya? Apa jangan-jangan Nyonya Agatha menyeting pengaturan ponselnya untuk menolak panggilan yang tidak dia kenal?" Kening Sinta berkerut.
" Memang bisa?"
" Iisshh ... Ibu cantik-cantik kok gaptek banget, ya?!" sindir Sinta.
Natasha memicingkan matanya. " Kamu ngatain aku?!"
" Maaf, Bu. Hanya bercanda, jangan dilaporin ke Mas Yoga ya, Bu. Hehehe ..." Sinta terkekeh. " By the way, kenapa tiba-tiba Nyonya Agatha memutuskan kerjasama ini ya, Bu? Memang kita ada kesalahan? Perasaan Sinta nggak ada deh. Barang dia yang kita jual di butik kita juga banyak diminati konsumen."
" Aku nggak tau alasan sebenarnya dia apa, Sin. Tapi yang pasti ... dia tahu kalau suaminya itu suka sama aku."
Sinta terkesiap mendengar ucapan Natasha. " Hahh ... serius, Bu?"
" He-em ... kamu ingat waktu aku pergi makan siang ketemu sama dia sebelum aku ke Bogor kemarin? Dia menyuruh aku menjauhi suaminya."
" Hahh?? Yang benar, Bu? Ternyata dia bawa masalah pribadi rupanya. Tapi kan sekarang ini kenyataannya kalau Tuan Gavin itu kakak sepupu Ibu, apa masih dipermasalahkan?"
" Entahlah, Sin. Tapi aku juga jadi malas melanjutkan kerjasama ini. Apalagi saat itu dia terang-terangan bilang kalau aku adalah pemicu keretakan hubungan dia dengan Kak Gavin." Natasha menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi kerja dengan tangan dilipat di dadanya.
" Iiisshh ... itu secara tidak langsung sama saja mengatakan ibu sebagai pelakor, dong! Jahat banget, sih! Sudah tua baperan gitu. Makanya cari suami yang seumuran, atau lebih tua, jangan berondong yang ganteng kaya Tuan Gavin. Ikutan emosi kan saya jadinya." Natasha tertawa kecil mendengar karyawannya menggerutu.
__ADS_1
" Ibu nggak bilang kalau Ibu sudah punya suami yang nggak kalah ganteng dari Tuan Gavin, Mas Yoga yang Hot banget?"
" Maksud kamu Hot itu apa?"
" Lho, memang Mas Yoga itu suami yang Hot kan, Bu? Kalau nggak Hot, nggak mungkin stempelnya bertebaran di leher Ibu tiap hari," sindir Sinta.
Seketika Natasha memegang lehernya yang saat ini mengenakan kerah model turtle neck. "Memang kelihatan ya, Sin?" Natasha kemudian mengambil compact powder dari tas nya, untuk melihat lehernya dari cermin di compact powder itu. " Nggak kelihatan, kok," gumamnya.
" Memang nggak kelihatan, saya kan cuma nebak saja, Bu." Sinta tertawa kecil sembari menutup mulutnya hingga membuat Natasha melotot ke arahnya. " Saya kan pernah beberapa kali lihat ada tanda merah di leher Ibu, memangnya perbuatan siapa itu? Nggak mungkin kan ada serangga masuk apartemen terus tiap malam gigit Ibu pas Ibu tidur? Hahaha ..." Sinta tergelak keras.
" Sudah ah, kamu senang banget kalau ngegodain aku, Sin." Natasha mencebik.
" Maaf, Bu. Sekedar intermezzo biar nggak terlalu stress, Bu ..." sambung Sinta. " Lantas apa langkah kita selanjutnya? Apa kita mesti mengembalikan dana yang dia kasih ke kita waktu itu?"
" Ya mau gimana lagi? Tapi masalahnya kalau kita mesti mengembalikan dana dia untuk sekarang-sekarang ini sepertinya nggak bisa, Sin. Kalau pakai anggaran dari butik nggak mungkin sebanyak itu. Sedangkan uang pribadi aku paling cuma ada sepuluh milyar, kamu tahu sendiri kan waktu kita buka cabang butik di wilayah barat tahun lalu, setengahnya aku pakai modal sendiri, sisanya baru kita pinjam dari bank. Belum lagi yang di Bogor ini, aku juga pakai uang pribadi buat modal lagi."
" Jadi gimana, Bu?"
" Solusinya ya kita mesti menjual yang di Bogor itu atau kita mengajukan pinjaman di bank lagi. Tapi masalahnya kan butuh waktu buat prosesnya. Sedangkan Nyonya Agatha cuma kasih waktu sebelum akhir pekan ini." Natasha memangku dagu dengan kedua tangannya. " Aku mau coba minta waktu ke Nyonya Agatha, tapi kamu tahu sendiri nomernya susah dihubungi. Apa aku ke tempatnya saja, ya?"
" Jangan, Bu." Sinta cepat merespon menolak rencana Natasha.
" Kenapa?"
" Diapa-apain gimana? Iiihhh ... kamu jangan bikin aku takut, deh."
" Iya siapa tahu, Bu. Kan Nyonya Agatha menuduh Ibu yang merusak rumah tangganya. Marahnya wanita yang cemburu, Ibu tahu sendiri gimana? Apalagi dia orang berduit, bisa saja menyuruh orang berbuat yang tidak-tidak. Bisa saja lho, Bu. Bukannya aku nuduh yang nggak-nggak, segala kemungkinan itu bisa saja terjadi."
" Lalu kita mesti gimana, biar bisa menghubungi dia. Kalau lewat email kayanya kurang enak, deh." Natasha lalu berdiri dan berjalan ke arah sofa. " Apa aku minta bantuan Kak Gavin saja ya, agar bisa menghubungi Nyonya Agatha?"
" Nah ... iya, Bu. Saya juga tadi ingin bilang begitu. Tuan Gavin pasti mau bantuin Ibu."
" Ya sudah kamu kembali ke mejamu sana."
" Baik, Bu." Sinta pun akhirnya keluar dari ruangan Natasha.
Sementara Natasha meraih ponselnya dan menekan nomer Gavin.
" Hallo, Alexa ... " Tak butuh waktu lama, Gavin langsung menjawab panggilan telepon dari Natasha.
" Kak, apa Kakak sibuk?" tanya Natasha ragu.
" Tidak, ada apa, Alexa?"
__ADS_1
" Kak, aku butuh bantuan Kakak ..." Natasha menggigit bibir bawahnya, dia sebenarnya tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah ini, apalagi dengan Gavin. Tapi karena dia merasa Gavin lah satu-satunya orang terdekat Nyonya Agatha yang bisa membantunya, mau tak mau dia harus meminta bantuan kakak sepupunya itu.
" Ada apa Alexa? Katakan saja, Kakak pasti akan bantu kamu. Kamu ada masalah apa?" Ada nada khawatir terdengar dari suara Gavin.
" A-aku kesulitan menghubungi Nyonya Agatha, Kak."
Gavin mendengus, sebenarnya dia sendiri sudah beberapa hari ini tinggal terpisah dengan istrinya , dia memilih tinggal di apartemennya.
" Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan dia?" tanya Gavin kemudian.
" I-iya, Kak. Nyonya Agatha memutuskan kerjasama dengan Alexa Butique, dia ingin kami mengembalikan dana yang sudah dia kasih buat modal kami secepatnya."
" Dia memutuskan sepihak? Seingatku dalam perjanjian kerjasama kalian salah satu pihak bisa memutus kerjasama secara sepihak jika pihak yang lain melakukan kecurangan. Apa ada masalah dengan itu?"
" Aku sendiri nggak mengerti, Kak. Sejauh ini semua berjalan dengan lancar, kami nggak pernah melakukan kecurangan. Aku belum mendapat penjelasan dari Nyonya Agatha karena ponselnya nggak bisa dihubungi. Aku hanya ingin Nyonya Agatha memberikan waktu untuk kami agar bisa mengembalikan dana yang sudah dia beri."
" Berapa total yang sudah dia keluarkan?"
" Dua puluh lima milyar, dana segar pribadi aku nggak ada segitu. Rencananya kalau nggak jual asset yang di Bogor itu ya aku terpaksa mengajukan pinjaman ke bank, dan itu kan makan waktu. Makanya aku ingin bicara dengan Nyonya Agatha agar kasih waktu ke aku buat cari dana buat ganti modal dia."
" Kalau kamu merasa tidak ada kesalahan dengan kerjasama kalian, kamu bisa saja minta ganti rugi karena pemutusan sepihak ini, Alexa."
" Nggak, Kak. Aku nggak ingin memperpanjang hal ini. Aku hanya minta waktu saja kepada Nyonya Agatha."
" Baiklah, nanti Kakak coba bicara dengan Agatha."
" Terima kasih, ya. Kak. Aku sudah merepotkan Kak Gavin."
" Tak masalah, jangan sungkan sama Kakak jika kamu butuh bantuan Kakak, Kakak pasti bantu kamu."
" Makasih, Kak."
***
*
*
*
Bersambung ...
Sinta, Cindy sama Amara ( adik Natasha ) kalo dijadiin satu Genk cocok ya, Mak?😂
__ADS_1
Happy Reading😘