
Natasha menatap pantulan dirinya di depan cermin, masih mengenakan bathrobe matanya tertuju pada beberapa jejak percintaan yang ditinggalkan suaminya semalam. Dia berdecak kesal, padahal dia sudah memberi peringatan kepada suaminya agar tidak meninggalkan tanda kepemilikan itu di area yang bisa dilihat oleh orang.
Dia ingat percakapan saat bangun tidur tadi.
" Lain kali jangan suka meninggalkan jejak di leher." Natasha mencebik, karena suaminya melanggar apa yang dia minta.
" Lain kali?" Yoga merengkuh tubuh Natasha dari belakang. " Artinya akan ada lagi, lagi dan lagi?!" Yoga terkekeh meledek.
Natasha menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah, tiba-tiba dia mendengar ponsel Yoga berbunyi di atas nakas. Dia hanya menoleh tak berniat mengangkat panggilan telepon milik suaminya, hingga akhirnya panggilan itu berhenti dengan sendirinya.
Tapi beberapa detik kemudian suara panggilan telepon kembali berbunyi. Natasha pun tergerak untuk mengetahui siapa yang menghubungi suaminya. Natasha mematikan hair dryer dan melangkah menuju arah nakas yang berada di tepi tempat tidurnya.
Mamih Ellena Calling..
Nama itu yang nampak di panggilan suara WhatsApp milik Yoga. Seketika jantung Natasha berdebar kencang melihat panggilan masuk itu, apalagi dari foto profil si penelpon, sama persis dengan foto yang tergantung di dinding kamar kontrakan Yoga.
Natasha menahan salivanya, nafasnya seolah tercekat di tenggorokan. Natasha dapat menduga jika sang penelpon pastilah Mamanya Yoga. Natasha bingung, apa yang mesti dia lakukan. Apakah dia akan menerima panggilan telepon itu atau mengabaikannya, namun pada akhirnya dia memberanikan diri meraih ponsel milik Yoga, setelah panggilan ketiga kalinya berdering.
Natasha mengambil nafas sesaat, saat ini kepercayaan diri dia seolah berada di level terendah.
Natasha mengusap tanda telepon berwarna hijau ke atas.
" Assalamu'alaikum, kasep. Kumaha kabar na? Naha tara ngahubungi mamih?" Sapa suara di seberang sana.
(" Assalamu'alaikum, ganteng. Gimana kabarnya? Kenapa nggak pernah hubungi Mamih?)
" Waalaikumsalam, Tante ..." jawab Natasha membalas sapaan Mama Yoga.
" Saha iyeu, teh?! Kamu siapa? Yoga mana? Kenapa hape anak saya bisa ada sama kamu?!" Wanita yang Natasha anggap Mamanya Yoga itu tersentak kaget mendengar suara wanita yang menjawab panggilan di ponsel anaknya.
" Yo-Yoga sedang mandi, Tante."
" Sedang mandi? Kamu siapa? Kenapa kamu pagi-pagi bisa ada di rumah anak saya?" Nada bicara Mama Yoga menyelidik, karena memang saat ini waktu belum lewat dari jam tujuh pagi.
" Emmm, Sa-saya ..."
Klik
Belum sempat Natasha menyelesaikan ucapannya, sambungan telepon sudah terputus. Natasha menarik nafas lega sambil memegang dadanya, jujur saja dia merasa nervous berbicara dengan mama mertuanya, padahal dia bisa akrab dengan Tante Melly, Mama Andra. Tapi ketenangan Natasha tak berlangsung lama karena ponsel Yoga kembali berbunyi, dan Natasha membulatkan matanya karena saat ini Mama Yoga melakukan panggilan video.
__ADS_1
Natasha kemudian membuka panggilan video dari Mama Yoga. Terlihatlah seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik alami di usia yang tidak lagi muda.
" Kamu siapa? Kenapa bisa ada di rumah ..." Mama Yoga memicingkan matanya sebelum melanjutkan kalimatnya, Mama Yoga menangkap pemandangan ke belakang Natasha, background spring bed dan bathrobe yang dipakai Natasha membuat Mama Yoga membelalakkan matanya " Astaghfirullahal adzim, kalian habis melakukan apa di kamar? Dan ini kamar siapa? Ini bukan kamar Yoga!"
" I-iya, Tante. Ini apartemen saya ...."
" Apartemen kamu?! Kenapa Yoga bisa ada di apartemen kamu?"
" Siapa yang telepon, Ta?" Tiba-tiba Yoga keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang dan bertelanjang dada, tangannya mengusap rambutnya dengan handuk kecil, dia menghampiri Natasha yang sedang memegang teleponnya saat mendengar suara yang dia kenal.
" Mamih??" Yoga langsung merebut ponsel dari tangan Natasha.
" Yogaaaa ...!!" Mama Yoga sampai ternganga melihat anaknya sedang bertelanjang dada. " Astaghfirullahal adzim, Duh Gusti nu Agung, apa yang kalian lakukan di kamar berdua? Jangan bilang kalau kalian habis melakukan ..." Mama Yoga menggelengkan kepala dan meremas baju di bagian dadanya tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Mama Yoga terlihat syok mendapati anaknya sedang bersama seorang wanita di dalam kamar.
" Mih, kita nggak seperti yang Mamih pikirkan." Yoga mencoba menenangkan mamihnya.
" Siapa wanita itu Yoga?! Kenapa kamu bisa ada di apartemen wanita itu pagi-pagi begini?!"
" Dia Natasha, Mih." Satu tangan Yoga merengkuh pundak Natasha membuat tubuh Natasha menjadi lebih dekat dengan Yoga dan membuat Natasha pun akhirnya terlihat di layar telepon. " Dia istri aku, Mih ...."
" Apa?? Istri ??" Mama Yoga menutup mulutnya tak percaya. " Kamu jangan bercanda, Yoga! Bagaimana kamu punya istri tanpa sepengetahuan Mamih sama Papih?!" ucap Mama Yoga dengan suara tercekat.
" Nggak ...! Ini nggak mungkin, Yoga! Kamu nggak bisa menikah tanpa restu dari Mamih dan Papih kamu, kasep." Mama Yoga terus menggelengkan kepala. " Kamu nggak bisa menikah dengan sembarang wanita."
Natasha yang melihat penolakan Mama Yoga hatinya seketika menciut, rasa khawatirnya sepertinya akan menjadi kenyataan. bahwa pernikahan mendadaknya dengan Yoga tidak akan mudah diterima orang tua Yoga.
" Yoga, kamu pulang ke Bogor hari ini juga! Kamu mesti menjelaskan semua ini di depan papih kamu secepatnya! Assalamu'alaikum!" Mama Yoga langsung mematikan panggilannya.
Natasha tercenung, sepertinya bukan hal mudah untuk membuat orang tua Yoga bisa menerimanya sebagai menantu.
" Hey, kenapa melamun?" Yoga membuyarkan lamunan Natasha.
" Sepertinya Mama kamu nggak menyukaiku, Ga," lirih Natasha menundukkan kepalanya.
" Hey, kemana Natasha yang aku kenal dulu? yang angkuh penuh percaya diri dan penuh intimidasi terhadap orang lain?!" ledek Yoga mencairkan ketegangan yang dialami istrinya itu. " Kenapa kamu jadi krisis percaya diri seperti ini? Apa karena menjadi Nyonya Prayoga Atmajaya membuatmu menjadi cengeng?"
Natasha mengedikkan bahunya lalu melangkah dan duduk di tepi tempat tidurnya. Tanpa dia sadari banyak yang berubah dalam dirinya, termasuk dengan perasaan itu.
Yoga melakukan hal yang sama dengan Natasha, memilih duduk di samping istrinya itu.
__ADS_1
" Aku tahu kenapa kamu seperti ini," ucap Yoga yang membuat Natasha menoleh ke arahnya. " Kamu khawatir orang tua ku nggak menerima pernikahan kita, karena kamu takut berpisah denganku, karena kau tak ingin kehilangan aku, kan?!" Yoga memainkan alis matanya turun naik.
" Pede banget, sih!" Natasha melengos enggan melihat wajah suaminya yang sudah dalam mode siap meledek.
" Ngaku aja, deh ..." Yoga mencondongkan wajah ke arah wajah Natasha yang memalingkan mukanya.
" Nggak ...!!
" Ngaku aja ..."
" Nggak ...!!"
" Nggak Bohong ..."
" Nggak ...!!" Natasha menoleh ke arah Yoga karena kesal pria itu terus meledeknya, dan..
Cup..
Bibir mereka pun akhirnya bertemu sekilas, karena Natasha tidak menyadari jika wajah suaminya itu berada dekat dengan wajahnya.
" Iihh ...!" Natasha dengan cepat mendorong tubuh Yoga dan berusaha bangkit tapi tangan Yoga terlebih dulu mencengkram lengan Natasha dan menjatuhkan tubuh Natasha dan dirinya ke atas tempat tidur, sehingga mereka berdua berbaring dengan posisi terlentang bersebelahan dengan kaki menggantung ke lantai.
" Kamu itu sedang kena karma atas sikap kamu dulu berlaku dzolim ke aku ..." sindir Yoga kemudian.
" Dzolim ke kamu??" Natasha memicingkan matanya.
" Iyalah, Sekarang saja kamu takut berpisah, kamu nggak ingat dulu? Aku pernah ditampar, dipukul pakai tas, dituduh mau berbuat jahat, dituduh mau mencuri di butik kamu, dituduh membuntuti kamu. Seumur hidup aku dari SD, SMP, SMA sampai kuliah, setiap ketemu cewek itu mereka selalu bersikap baik, manis dan ramah ke aku. Nggak ada yang kaya kamu, udah jahat, galak, sombong, arogan, bawel, cerewet, pokoknya sifat antagonis itu nempel semua di diri kamu, sudah persis Mak Lampir." Yoga tergelak mendeskripsikan sifat istrinya dulu, membuatnya diserang pukulan dan cubitan dari Natasha.
*
*
*
Author POV ; Maafkeun 🙏 bab kedua hari ini telat, cz tadi ada sedikit chaos di kerjaan RL
Bersambung..
Happy Reading 😘
__ADS_1