MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Kedatangan Mamih


__ADS_3

Sekitar jam dua belas Yoga dan Natasha ke rumah orang tua Yoga, mereka memilih pulang ketimbang menginap di hotel, karena besok pagi harus segera kembali ke Jakarta. Mereka sengaja meninggalkan urusan Gavin dan Azahra yang masih belum tahu bagaimana hasil akhirnya karena sikap orang tua Azahra yang terkesan tarik ulur.


" Kakak sepupu kamu itu aneh, ada-ada saja kelakuannya. Menikah dengan wanita yang lebih dewasa, sekarang malah mengerjai wanita polos." Yoga menyindir saat Natasha merebahkan kepala di dadanya.


" Tapi setidaknya Kak Gavin itu orang baik, dia nggak mempunyai maksud melecehkan Rara." Natasha membela kakak sepupunya." Mas, kalau aku mau jodohin Kak Gavin sama Rara, gimana?" Jari tangan Natasha melakukan gerakan melukis abstrak di dada suaminya.


" Aku nggak setuju."


Natasha mendongakkan kepalanya. " Kenapa? Kamu meragukan Kak Gavin? Aku merasa mereka akan cocok, Kak Gavin yang Charming bersanding dengan Azahra yang lugu dan polos."


" Apa katamu tadi? Kau bilang Gavin apa?"


Natasha tersenyum, dia tahu suami tidak akan suka jika dia memuji pria lain tapi dia sengaja melakukannya. " Kak Gavin yang tampan, baik hati, suka menolong Kak Gav ... mmmppptt."


Yoga menutup mulut Natasha dengan telapak tangannya.


" Aku nggak suka ya, dengar kamu memuji pria lain." protes Yoga kemudian melepaskan tangannya dari mulut Natasha.


" Tapi kenyataannya memang Kak Gavin begitu, kok." Natasha kembali menggoda suaminya.


Yoga menghunuskan tatapan tajam ke istrinya. " Tapi suamiku ini lebih dari segala-gala nya, kok. Nggak ada yang bisa mengalahkan suamiku ini." Jemari Natasha kini berpindah mengelus wajah Yoga.


" Sudah pasti itu," ucap Yoga jumawa.


" Lalu alasan kamu apa Mas, nggak setuju Kak Gavin dan Rara?"


" Aku khawatir dengan istrinya itu."


" Kan mereka akan berpisah."


" Tapi bukan berarti dia tidak akan melakukan banyak hal untuk mempertahankan Gavin. Kamu tahu sendiri dia seperti apa? Rara bukan lawan yang kuat buat hadapi dia."


" Ah ... iya, digoda Kak Gavin saja pingsan apalagi kalau sampai dilabrak Nyonya Agatha." Natasha terkekeh.


" Sudah nggak usah pikirkan mereka, kita lanjutkan kegiatan mengolah adonan yang terpotong tadi saja." Tangan Yoga melucuti kancing piyama Natasha.


" Mas ini sudah malam, aku lelah. Besok kita mesti pulang ke Jakarta pagi-pagi." Natasha berusaha menolak.


" Bentar saja, Sayang. Tuntaskan yang tadi kepotong." Yoga langsung menyergap bibir Natasha tanpa memberikan kesempatan Natasha untuk menolak.


Dan akhirnya pergumulan tengah malam pun terjadi. Natasha tidak akan pernah bisa menolak jika suaminya sudah menginginkannya. Walaupun dia lelah dan bibirnya menolak tapi permainan Yoga mampu membuat tubuhnya menikmati semua sentuhan suaminya itu.


" Aakkkhhh ... Mas ..." Natasha mendesah saat mencapai pelepasan dan merasakan aliran hangat memasuki rahimnya.


" I love you, honey. I love you ..." bisik Yoga kemudian menghujani seluruh wajah istrinya dengan ciuman.

__ADS_1


***


" Maaf, ibu sudah punya janji sebelumnya? Saya mesti tanyakan dahulu kepada Ibu Natasha.


" Saya tidak perlu buat janji sama dia."


" Kalau begitu ibu duduk dulu di sana, nanti saya lihat dulu apa Ibu Boss saya sibuk atau nggak."


" Saya tidak mau, kamu jangan mengatur saya, ya."


" Saya hanya menjalankan peraturan di sini, ibu jangan keras kepala, dong! Kalau Ibu Nat marah karena saya melanggar, yang kena semprot Ibu Boss itu saya, bukan Ibu."


Natasha menajamkan pendengarannya, dia mendengar ada ribut-ribut di depan ruang kerjanya. Satu suara dia kenal jelas itu suara Sinta, satu suara lagi samar-samar dia juga merasa mulai familiar dengan suara itu.


Natasha melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan, dia sempat mengintip di jendela terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Mata Natasha membulat saat melihat sosok wanita yang sedang berdebat dengan Sinta.


" Mamih??" Natasha tercengang saat melihat Mama Yoga lah yang sedang berdebat dengan sekretarisnya itu. Dia hampir tak percaya atas kedatangan ibu mertuanya ke butiknya. Dengan cepat Natasha membukakan pintu ruangannya.


" Mamih?" Suara Natasha menghentikan perdebatan antara ibu mertua dan sekretarisnya.


" Kamu kasih tahu karyawan kamu ini, jangan kurang ajar kalau sama orang tua." Mama Yoga langsung melenggang masuk ke dalam ruangan melewati Natasha yang masih terpaku atas kehadiran orang tua suaminya itu.


" Ibu tadi itu siapa, Bu?" tanya Sinta yang menyadarkan Natasha yang tercenung.


" Alamak, mati aku." Sinta menepuk jidatnya sendiri.


Sementara di dalam ruangan Natasha...


" Mamih ada apa ke sini? Kok nggak kasih kabar Tata mau kemari, memang Mamih sama siapa kemari nya?" tanya Natasha basa-basi.


" Memangnya saya nggak boleh ke sini? Harus bikin janji dulu gitu kalau mau ke sini? Kamu nggak suka saya datang ke sini?" ketus Mama Yoga.


" Bu-bukan begitu, Mih." Dengan cepat Natasha mengelak. " Tata senang kok Mamih mau mampir ke sini, tadi Tata surprise banget lihat Mamih ada datang ke sini. Nanti Tata kabari Mas Yoga dulu ya, Mih." Natasha hendak mengambil ponselnya tapi langsung dihalangi oleh mertuanya.


" Nggak usah, jangan ganggu kuliah dia," perintah Mama Yoga.


" I-iya, Mih."


Mama Yoga lalu mengitari ruang kerja Natasha.


" Saya penasaran apa yang dikatakan oleh Alline itu benar atau tidak."


Natasha tersenyum, walau dia tadi sempat kaget karena kedatangan Mama Yoga tapi kehadiran ibu mertuanya itu dia anggap sebagai suatu hal positif untuk kelanjutan rumah tangga dia dan Yoga.

__ADS_1


" Siapa yang mendesain butik ini?" tanya Mama Yoga.


" Almarhum Papa Farhan, Mih."


" Ada berapa banyak butik yang kamu punya?"


" Ada tiga, Mih. Tambah rencana bangun di daerah Bogor satu."


" Buka di Bogor juga?"


" Iya, Mih. Aku join sama Kakak sepupuku mau buka di sana."


" Kakak sepupu yang kemarin urusan sama Rara?"


" Iya, Mih."


Tok tok tok


Tiba-tiba pintu diketuk dan muncullah Sinta. " Maaf, Bu. Ada Ibu Melly ...."


" Natasha, apa kabar, Sayang?" Tiba-tiba dari arah belakang Sinta terlihat Tante Melly yang kemudian melangkah menuju Natasha dan memeluk tubuh Natasha.


" T-tante?" Natasha terkesiap atas kehadiran Mama Andra disaat yang dia rasa kurang tepat.


Mama Andra mengurai pelukannya, sementara tangannya menangkup wajah Natasha. " Kamu kemana saja, nggak pernah terdengar kabarnya? Nggak pernah main ke rumah juga. Apa karena kamu marah sama Andra lalu kamu marah sama Om dan Tante juga, sampai nggak pernah berkunjung ke rumah lagi?"


" Bu-bukan begitu, Tante." Natasha merasa kikuk, apalagi sang mertua langsung menghunuskan tatapan matanya memperhatikan interaksi dia dengan Tante Melly.


" Sayang, apa kamu masih marah sama Andra, sampai belum juga memberi keputusan tentang rencana pernikahan kalian?"


Deg ...


Mata Natasha terbelalak mendengar kalimat yang diucapkan Mama dari Andra itu.


" Tante tahu apa yang telah dilakukan anak Tante kepada kamu itu salah, karena itu Tante mohon sama kamu, menikahlah dengan Andra, biar Tante dan Om merasa tenang, tidak terbebani dengan rasa bersalah atas sikap Andra terhadap kamu, Sayang." Mama Andra membelai kepala Natasha penuh kasih sayang.


" Apa Anda bilang? Anda ingin menikahkan anak Anda dengan menantu saya?!"


*


*.


*


Bersambung...

__ADS_1


Happy Reading 😘


__ADS_2