MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Losing You


__ADS_3

Yoga yang cemas saat Kirania tiba-tiba menghampiri dan mengatakan Natasha terjatuh, dengan cepat dia berlari ke arah pintu samping. Yoga terperanjat saat dia melihat istrinya sedang terduduk menangis sambil memegangi perutnya. Dia segera merengkuh mengambil tubuh istrinya yang saat itu dipegangi oleh pegawai restoran. " Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?"


Natasha bukannya menjawab dia malah semakin terisak saat mendapati suaminya memeluknya. Dan perkataan salah seorang pelayan membuat hati Yoga seketika gusar.


" Mas sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit. Mbak ini sepertinya mengalami pendarahan," ujar pelayan yang menunggu Natasha.


Serasa disambar petir Yoga mendengar perkataan pelayan tadi. " Pendarahan?" Yoga melihat darah di kaki Natasha yang mengalir dari sela paha istrinya.


" Iya, Mas. Takut terjadi sesuatu dengan kandungannya," sambung pelayan itu tadi.


Yoga kembali tersentak, dia melihat istrinya yang semakin terisak sambil mengeluh sakit di bagian perutnya.


" Mas, maaf ini semua karena ulah anak-anak saya tadi yang tidak sengaja menabrak istri Mas." Ibu dua orang anak merasa sangat bersalah, dia sudah bisa membayangkan jika Yoga akan marah saat mengetahui penyebab Natasha terjatuh.


Tapi Yoga tidak memperdulikan perkataan wanita itu, dia langsung mengangkat tubuh istrinya dan hendak dibawanya ke mobil.


" Kita naik mobil aku saja, Ga." Dirga dan Kirania yang sudah menyusul pun memberikan tawaran. Akhirnya mereka mengunakan mobil Dirga ke rumah sakit.


" Mas, sakiiiitt ..." rintihan Natasha sambil terus menangis membuat pikiran Yoga sangat kacau ditambah rasa cemas yang semakin menguat apalagi saat melihat darah tadi.


" Sabar, Sayang ..." Yoga menghujani ciuman di seluruh wajah istri yang kini ada di pangkuannya.


Kirania yang duduk di depan di samping kemudi bisa melihat kecemasan dari ucapan Yoga. Dia sempat melihat dari kaca spion wajah panik Yoga yang berusaha menenangkan istrinya.


" Ga, apa istrimu sedang hamil?" tanya Kirania kemudian.


Pertanyaan Kirania sukses mengalihkan perhatian Yoga yang sedari tadi sibuk menenangkan istrinya. " Beberapa hari lalu dicek hasilnya negatif."


" Dicek pakai test pack atau cek ke dokter kandungan?" Kirania semakin dibuat penasaran.


" Pakai alat test kehamilan." Jawaban Yoga membuat Kirania menghela nafas panjang.


" Hiks ... hiks ... sakiiiitt ...!! Natasha memekik kencang.


" Bang, bisa tolong lebih cepat?!" Yoga berucap kepada Dirga yang ada di belakang kemudi.


" Macet, Ga. Jam segini tahu sendiri ini jam-jam macet." Dirga menyahuti.

__ADS_1


" Padahal rumah sakit sudah dekat, kurang dari satu kilometer dari sini." Kirania pun dilanda kepanikan.


Yoga yang melihat istrinya terlihat semakin lemah dan memucat semakin membuatnya kalut, apalagi saat tiba-tiba Natasha sudah tak bersuara dengan mata terpejam." Ta, Sayang bangun, kamu mesti bertahan, Sayang ...."


Yoga kemudian membuka pintu mobil Dirga dan keluar dengan masih menggendong tubuh Natasha yang pingsan.


" Ga, kamu mau ke mana?" tanya Dirga dan Kirania bersamaan, tapi Yoga nampak tak memperdulikan seruan mereka berdua.


Yoga berjalan setengah berlari di tengah jalanan yang cukup padat dengan kemacetan. Dia sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain segera membuatnya sampai ke rumah sakit. Tindakan Yoga tentu saja menarik perhatian pengemudi lain di jalan itu. Tak sedikit dari mereka yang menanyakan apa yang terjadi.


" Ada apa, Mas? Mbaknya kenapa?" tanya seorang pengendara yang melihat Yoga terlihat panik.


" Istri saya pendarahan, saya harus segera ke rumah sakit." Dengan tersengal Yoga menjelaskan kondisi istrinya.


" Ya Allah, di depan sana ada polisi, Mas. Kita ke sana, siapa tahu mereka bisa membantu memberi jalan." Salah seorang pengemudi menyarankan. " Ma, Mama yang pegang kemudi, Papa mau tolong Mas ini, kasihan istrinya pendarahan." Orang itu berseru kepada istrinya yang ada di dalam mobil. Setelah mendapatkan persetujuan dari istrinya orang itu segera berlari ke arah polisi. Terlihat dia berbicara kepada petugas polisi itu sambil menunjuk ke arah Yoga yang berjalan di belakangnya.


" Mari saya bantu, sebaiknya Bapak naik mobil patroli saja." Pak Polisi itu menawarkan bantuannya. Dengan segera pak polisi itu membukakan pintu mobil belakang mempersilahkan Yoga untuk masuk ke dalam.


" Saya boleh ikut, Pak?" tiba-tiba suara Kirania yang tersengal karena menyusul Yoga terdengar. " Yoga aku ikut."


" I-iya, Pak. Saya masih kerabat," sahut Kirania.


" Baiklah, Ibu silahkan duduk di depan saja." Pak Polisi itu menyarankan, kemudian dia berputar ke arah kursi kemudinya, untuk menjalankan mobilnya. Sementara petugas yang lain dan pengemudi yang tadi menolong Yoga membantu mengurai kemacetan agar mobil patroli itu bisa segera berjalan menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Kirania dengan sergap membukakan pintu mobil untuk Yoga. Dia juga kemudian berbicara dengan satpam untuk menyediakan brankar untuk Natasha.


" Ga, biar aku yang urus administrasi." Kirania berucap menyuruh Yoga segera membawa ke ruang IGD. Yoga pun mengikuti perawat yang membawa brankar Natasha, tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepada pak polisi yang telah membantunya.


" Pak, saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Bapak yang sudah menolong teman saya," Kirania mengucapkan terima kasihnya kepada petugas polisi mewakili Yoga dan Natasha.


***


Yoga terlihat cemas, sedari tadi dia terlihat gelisah, berjalan hilir mudik dengan kegusaran yang kini semakin membuncah.


" Bagaimana dengan istri Yoga?" tanya Dirga yang baru saja tiba setelah diberi kabar oleh Kirania keberadaan mereka langsung menuju ke rumah sakit.


Kirania menggeleng. " Masih ditangani dokter."

__ADS_1


Tak berapa lama pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter wanita keluar dari ruangan itu.


" Dokter, bagaimana kondisi istri saya, Dok?" Yoga langsung menghadang dokter itu dengan pertanyaan.


" Anda suami dari Ibu Natasha?" tanya dokter paruh baya itu.


" Iya, dok. Saya Prayoga, Natasha itu istri saya." Yoga menjawab. " Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?"


" Sebaiknya Kita bicara di ruangan saya." Dokter itu melangkah menuju ruangannya, disusul oleh Yoga di belakangannya.


" Bagaimana, Dok? Istri saya baik-baik saja kan, Dok?" Yoga sepertinya tidak sabar mengetahui kondisi istrinya itu.


" Alhamdulillah istri Pak Prayoga tidak apa-apa, tapi sayang sekali ..." Dokter itu menjeda ucapannya, karena dia tahu berita yang akan disampaikan kepada suami pasien di depannya bukanlah berita yang baik. " Kami mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di rahim istri Bapak."


Deg


Yoga tersentak saat dokter itu bicara tentang janin. Seketika hatinya mencelos, dadanya terasa bergemuruh, pasokan oksigen seakan terhenti di tenggorokan membuatnya seolah sukar untuk bernafas.


" J-janin? Ma-maksud dokter i-istri saya ...."


" Istri Pak Prayoga mengalami keguguran. Usia kehamilan Ibu Natasha masih terlalu muda, kandungannya baru berjalan tiga minggu. Usia segitu masih terlalu riskan. Sepertinya Ibu Kirania baru saja mengalami benturan, dan itu berakibat sangat fatal pada janin yang dikandungnya."


Seketika tubuh Yoga melemas, bagaikan ditimpa ribuan bongkahan batu besar dan ditusuk ribuan anak panah yang Yoga rasakan saat ini, mendengar penuturan jika istrinya ternyata benar sedang hamil dan harus kehilangan janin yang sama sekali dia tidak sempat mengetahui buah cintanya dengan sang istri sempat bersemayam di rahim istrinya.


*


*


*


Maafkan daku ... maafkan telah membuat emak² kecewa. Kan beberapa bab sebelumnya udah aku kasih kode ada kejutan di kehamilan Tata ini😁😁Maaf kalo kejutannya ini menyedihkan


Bersambung ...


Selamat menunggu waktu berbuka puasa😁


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2