
" Ma, Kia 'kan perempuan, kenapa disuruh ikutan berantem seperti Kak Alden, sih?" tanya Azkia yang duduk di belakang saat Natasha, Alden dan Azkia dalam perjalanan pulang.
" Berantem? Siapa yang suruh Kia berantem?" Natasha menoleh sebentar ke arah Azkia mendengar pertanyaan anaknya itu.
" Papa sama Mama ..." sahut Azkia.
Natasha mengeryitkan keningnya. " Kapan Mama sama papa suruh Kia berantem?"
" Ini suruh Kia belajar karate seperti Kak Alden. Berantem itu 'kan anak laki-laki, Ma. Kata nenek, perempuan itu harusnya belajar memasak biar pintar masak, nggak seperti Mama dan nenek."
Natasha menaikan kedua alisnya hingga membuat kedua matanya membulat sempurna.
" Nenek bilang begitu?"
" Iya, nenek bilang kalau sudah besar nanti Kia harus pintar masak, biar kalau sudah menikah pasti disayang sama suami."
" Hmmm, nenek bilang gitu, ya?"
" Iya, Ma. Tapi Kia bilang ke nenek, Mama nggak bisa masak, tapi papa tetap sayang sama Mama. Co cuiiitt lagi ..." Azkia memasang wajah menggemaskan saat mengucapkan kalimat terakhirnya, membuat Natasha tak tahan untuk tidak tertawa.
" Makanya nanti kalau sudah dewasa, Kia cari yang seperti papa, dong. Baik, bertanggung jawab, sayang keluarga, ganteng ... pokoknya paket komplit deh papa kalian itu." Natasha tanpa ragu membanggakan Yoga di hadapan anak-anaknya.
" Berarti nanti Kia harus cari kaya papa ya, Ma?"
" Iya, dong. Tapi nanti kalau Kia sudah dewasa. Sekarang ini tugas Kia itu belajar yang rajin biar jadi anak yang pintar dan ..."
" Berbakti kepada orang tua ..." Azkia lebih dahulu menyahuti.
" Iiihh ... cantiknya Mama Tata makin lama makin pintar, deh."
" Terus kenapa Kia juga suruh ikut seperti Kak Alden, Ma?" Azkia kembali menanyakan pertanyaan yang sempat terabaikan tadi.
" Oh ... itu, itu bukan berantem, Sayang. Itu namanya bela diri. Kita, apalagi perempuan seperti Kia itu bagus jika menguasai bela diri. Tujuannya jika ada orang yang mau berbuat jahat sama kita, kita bisa lawan orang itu. Tapi ... mesti diingat, hanya digunakan jika dalam kondisi mendesak saja. Jangan gunakan bela diri itu untuk menakuti atau berbuat jahat terhadap orang lain ya, itu nggak boleh dilakukan." Natasha menasehati.
" Siap. Ma." Azkia melakukan gerakan hormat dengan membusungkan dadanya.
Natasha tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat tingkah Azkia. Kemudian dari kaca spion dia memperhatikan Alden yang hanya membisu dengan menatap ke arah luar jendela.
" Kakak kok dari tadi diam saja, kenapa?" tanyanya kemudian.
" Alden nggak suka mama jemput ke tempat karate," ketus Alden.
" Nggak suka Mama jemput? Kok gitu? Bukannya Kakak bilang senang kalau Mama bisa jemput kalian?" tanya Natasha heran.
__ADS_1
" Tapi bukan ke tempat karate," tegas Alden.
" Memang kenapa Kak Alden nggak suka Mama jemput?" tanya Natasha kembali.
" Pokoknya Alden nggak suka." Alden tak mengutarakan alasannya kenapa dia keberatan Natasha menjemputnya.
" Lalu kalau Pak Hasan berhalangan menjemput kalian, siapa dong yang akan menjemput?"
" Minta papa saja suruh orang jemput Alden dan Azkia. Pokoknya Mama nggak boleh datang-datang lagi ke tempat karate!" tegas Alden tak ingin dibantah, membuat Natasha dibuat bingung dengan sikap keras anak sulungnya itu.
***
Tok tok tok
" Pa masih sibuk, ya?" tanya Alden setelah mengetuk pintu dan membuka pintu ruang kerja Yoga.
" Kakak? Ada apa, Kak?" Yoga segera bangkit dari kursi kemudian menghampiri anaknya.
" Papa masih sibuk?" tanya Alden kembali.
" Nggak, sih. Kenapa? Sini duduk di sini." Yoga mengajak Alden duduk di sofa yang ada di ruang kerja Yoga itu.
" Pa, kalau Pak Hasan nggak bisa jemput Alden sama Azkia. Apa nggak ada supir lain yang bisa jemput, Pa?"
Alden menggelengkan kepala. " Alden nggak suka Mama jemput ke sana."
Yoga memicingkan mata hingga membuat keningnya berkerut.
" Memangnya kenapa Alden nggak suka Mama jemput ke sana?" tanya Yoga curiga, karena setahunya anak-anaknya itu selalu senang jika dia atau Natasha mengantar atau menjemputnya pulang beraktivitas.
" Pokoknya Alden nggak suka." Sama seperti kepada Natasha, Alden pun mengatakan hal yang sama pada Yoga tanpa memberitahukan alasannya.
" Kak Alden, jika kita suka pada sesuatu pasti kita punya alasan kenapa kita bisa suka sama sesuatu itu. Begitu juga sebaliknya, jika tidak suka akan suatu hal pasti kita juga punya alasan kenapa kita tak suka dengan hal itu." Yoga mengelus pucuk kepala Alden. " Sekarang bilang sama Papa, apa yang membuat Kakak nggak suka dijemput Mama?"
Alden menatap wajah papanya, dia ragu untuk mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa dia keberatan jika mamanya yang menjemput.
" Alden nggak suka ada Om yang ngeliatin mama. Alden nggak suka ada Om yang senyum-senyum sama mama. Alden juga nggak suka ada Om yang pegang-pegang mama." Alden langsung menundukkan kepalanya setelah mengutarakan unek-uneknya yang mungkin itu merupakan sikap posesif terhadap mamanya.
" Om yang pegang mama?" Gigi Yoga langsung mengerat saat mendengar alasan Alden menolak dijemput Natasha.
" Om siapa?" tanya Yoga bernada serius.
" Om yang latih Alden sama Kia, Pa." Alden melirik papanya. Dia sudah melihat perubahan ekspresi papanya kali ini terlihat tidak lagi sesantai tadi.
__ADS_1
" Siapa nama Om yang melatih Alden itu?" selidik Yoga kembali.
" Om Radit, Pa ..."
Yoga menghela nafas panjang. " Ya sudah, Kakak kembali ke kamar ya, nanti Papa cari supir baru lagi."
" Makasih, Pa." Alden memeluk papanya sebelum akhirnya berpamitan keluar ruang kerja Yoga.
Selepas kepergian Alden, Yoga memutuskan menyudahi pekerjaannya dan kembali ke kamarnya.
" Hahaha ... iya dong, Ra. Biar sudah punya anak banyak, kita mesti bisa rawat diri, biar suami kita nggak digondol pelakor."
" Apalagi kamu itu Ra, Kak Gavin itu 'kan tajir melintir jangan sampai ada pelakor yang nyantol lihat dompet tebal suami kamu itu."
" Kita harus tetap cantik biar suami kita itu cuma memandang ke kita bukan wanita lain."
" Kamu juga harus pintar melayani suami, Ra. Nggak apa deh kita sekali-sekali agresif, suami pasti suka kok, kalo sewaktu-waktu istrinya agresif di ranjang, hahaha ... lain waktu nanti aku kasih tahu lagi ya, gaya apa yang nantinya akan bikin Kak Gavin bakal betah lama-lama di kamar. Hahaha ...."
Dari pintu Yoga memperhatikan istrinya yang sedang melakukan pembicaraan telepon dengan Azzahra.
" Eheemn ...."
Natasha menoleh ke arah pintu saat mendengar Yoga berdehem.
" Ra, sudah dulu ya, suamiku sudah kasih kode tuh, minta jatah." Natasha terkikik tanpa merasa malu mengatakan hal itu kepada Azzahra. " Nanti kita sambung lagi ya, assalamualaikum ..." Natasha langsung menutup panggilan teleponnya.
" Sudah selesai mengerjakan tugas-tugasnya, Mas?" tanya Natasha mendekati suaminya.
" Sudah ..." jawab Yoga singkat kemudian melangkah melewati Natasha menuju kamar mandi. Tentu saja sikap dingin Yoga itu membuat Natasha mengeryitkan keningnya.
*
*
*
Bersambung ...
Alden, pake bilang² Papa Yoga sih ...😂
Yang minta visual Tata & Yoga juga visual novel aku yg lain lihat di IG aja ya @rez_zha29
Like & Komennya jangan ketinggalan ya Readers tersayank😘
__ADS_1