
Hari ini Natasha benar-benat hilang konsentrasi, setelah tadi pagi mobilnya mesti putar balik gara-gara butiknya terlewat, siang ini dia malah banyak melakukan kesalahan dalam bekerja, dari salah memberi tanda tangan, sampai salah melakukan transfer dana via internet banking sebanyak lima puluh juta ke lain orang, untung saja orang yang rekeningnya kemasukan dana ghoib mau segera merefund uang tersebut.
" Maaf, Bu. Kalau saya lancang bertanya. Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Sinta hati-hati saat dilihatnya Ibu Boss nya itu sedang berdiri bersandar di dekat jendela, dia takut Boss nya itu akan marah seperti kemarin.
" Memangnya kenapa, Sin?" Natasha sedikit heran dengan sikap Sinta yang terlihat agak sedikit kikuk terhadapnya.
" Dari tadi saya perhatikan ibu banyak melamun, apa Ibu sedang nggak enak badan?"
Natasha menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Sinta. " Aku baik-baik saja, Sin." Natasha kemudian berjalan menuju meja kerjanya. " Dokumen yang mesti saya tanda tangan ulang sudah selesai?"
" Sudah, Bu." Sinta menyerahkan dokumen yang dipegangnya. " Jangan salah lagi loh, Bu." Sinta sedikit beseloroh memecah kecanggungan.
" Kalau salah, tinggal suruh print ulang lagi," balas Natasha tersenyum.
" Alhamdulillah ..." ucap Sinta bersyukur, membuat Natasha menolehnya.
" Kok Alhamdulillah ...?" tanya Natasha heran, kenapa ditambah pekerjaan malah Sinta bersyukur.
" Alhamdulilah karena saya bisa lihat senyum ibu lagi. Sumpah saya lebih senang melihat ibu yang cerewet dari pada ibu yang dua hari ini saya temui," tutur Sinta dengan wajah berbinar.
" Memangnya dua hari ini aku kenapa?! Perasaan aku biasa saja, nggak ada yang beda," sangkal Natasha, karena dia sendiri merasa dari kemarin dia bekerja serasa tidak bersemangat. Apalagi hari ini, dirinya merasa seperti ada yang hilang yang mengendurkan semangatnya.
" Ibu mau saya jujur?"
" Apa?"
" Ibu seperti orang yang sedang patah hati."
Natasha langsung mendelik ke arah Sinta. " Kamu jangan mulai lagi kaya cenayang, ya!"
" Nggak butuh profesi jadi seorang cenayang untuk menebak orang yang patah hati dan orang yang jatuh cinta. Ekspresi wajah ibu dua hari ini beda banget dengan sebelumnya yang saya temui, waktu Ibu senyum-senyum sendiri. Apa Ibu sedang kasmaran dan patah hati disaat yang hampir bersamaan?"
Perkataan yang dilontarkan Sinta terasa sangat menohok di hati Natasha, dia kemudian menghela nafas panjang. " Entahlah, Sin ..." ucapnya lirih.
" Kalau saya boleh kepo, siapa yang buat Ibu seperti ini? Apa Mas Yoga?"
" Kenapa kamu berkesimpulan seperti itu?"
" Karena saya melihat interaksi yang aneh kalian berdua."
" Interaksi aneh gimana maksudnya?"
" Sewaktu Mas Yoga masuk ruangan ibu, terus ruangan Ibu dikunci, saya sempat intip dari jendela, dia memeluk Ibu dari belakang sambil cium-cium leher Ibu."
Natasha membelalakkan matanya mendengar cerita Sinta. " Astaga, kamu mengintip kami??"
" Nggak sengaja, Bu." Sinta mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
" Mengintip itu tindakan yang dilakukan dengan sadar dan dengan kesengajaan karena rasa ingin tahu urusan orang lain."
__ADS_1
" Maaf, Bu." Sinta menundukkan wajahnya, dia takut Bossnya ini akan marah seperti kemarin.
" Terus apalagi yang kamu lihat kemarin?"
" Nggak ada, Bu. Waktu saat lihat sepintas Mas Yoga peluk Ibu, saya langsung kembali ke tempat saya, takut ketahuan." Sinta terkekeh. " Lalu soal keributan di bawah, yang Pak Andra dipukuli, nggak mungkin kalau nggak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Dan jangan lupakan waktu saya ketemu pertama kali dengan Mas Yoga, saat dia menolong kita saat itu dari kerumunan massa, saya merasa ada sesuatu yang terlihat saat kalian saling menatap." Semua yang dikatakan Sinta memang sebagian adalah kebenaran.
" Sudah, deh. Jangan sok-sokan meramal seperti Mak Erot," sergah Natasha.
" Kok Mak Erot, Bu? Mama Laurent kali, Bu." Sinta seketika terbahak.
Natasha yang menyadari dia salah ucap langsung salah tingkah. " Nggak usah senang gitu deh, ketawanya." Natasha mencebik.
" Memang kenapa Ibu tiba-tiba sebut nama Mak Erot? Ibu sedang memikirkan sesuatu?" ledek Sinta tak berhenti menggoda masih tidak menghentikan tawanya.
" Ck, kamu ini menyebalkan." Natasha berdecak kesal.
" Jadi Ibu dan Mas Yoga itu benar pacaran, ya? Soalnya di sini anak-anak pada ramai gosipin hubungan Mas Yoga denga Ibu."
" Aku digosipin karyawanku sendiri?!" tanya Natasha tidak percaya.
" Iyalah, Bu. Soalnya cowok yang sering dekat sama Ibu ganteng-ganteng, sih!" jawab Sinta terkekeh. " Jadi gimana, Bu?"
" Apanya?"
" Benar atau nggak Mas Yoga itu pacar Ibu? Kalau bukan saya kan masih punya kesempatan." Sinta tersipu malu.
" Kesempatan buat jadi pacar Mas Yoga," jujur Sinta melontarkan harapannya.
" Jangan macam-macam kamu, ya!" ancam Natasha dengan melotot.
" Maaf, Bu, Maaf .. .nggak mungkin juga Ibu dan Mas Yoga nggak ada hubungan apa-apa kalau lihat kemesraan kalian kemarin. Lagi pula mana mungkin saya bersaing dengan Ibu."
" Awas kamu ya, kalau coba-coba cari perhatian ke dia!" Natasha kembali mengancam.
" Cieee, posesifnya sama kekasihnya, cieee ... " Entah kenapa Sinta mendadak senang menggoda Ibu Boss nya itu. " Oh, Mas Yoga kekasih hatiku, kenapa kau membuat hatiku gelisah gundah gulana seperti ini ..." Sinta semakin meledek Natasha.
" Berisik banget, sih." Natasha kembali mencebik.
" Jadi sejak kapan kalian jadian? Bukannya beberapa minggu yang lalu Ibu masih bersama Pak Andra? Eh, tapi kemarin kenapa Pak Andra yang dihajar sampai babak belur, ya? Kalau Ibu selingkuh dari Pak Andra, mestinya Mas Yoga yang dihajar habis-habisan oleh Pak Andra ...."
" Eh, aku nggak selingkuh, ya!" tandas Natasha. " Dan Yoga itu bukan pacar aku, dia itu suami aku!"
" What???" Sinta mendelik hebat, terkesiap dengan pengakuan yang dikatakan Natasha. " Oh my God ..." Sinta memegang dadanya. " Saya nggak salah dengar, kan?? Awwww ..." pekik Sinta saat merasakan cubitan.di lengannya. " Kok saya dicubit, Bu?" Sinta mengelus lengan yang bekas kena cubitan Natasha.
" Biar kamu sadar, bahwa apa yang kamu dengar itu benar."
" Serius Mas Yoga itu suami Ibu?" Natasha memutar bola matanya menanggapi pertanyaan Sinta.
" Tapi kapan Ibu menikah? Kok saya nggak diundang, Bu?"
__ADS_1
" Iya karena mendesak keadaannya, kami menikah di Bandung kemarin."
" Ibu nggak MBA kan, Bu?"
" Astaga, otakmu itu loh, kok mikirnya ke situ?"
Sinta terkekeh. " Soalnya saya terlalu syok mendengar kabar ini, Bu." Sejurus kemudian semyum usil terbentuk di sudut bibirnya. " Pantas saja tadi sebutnya Mak Erot, rupanya sudah pernah rasain yang biasa dipegang Mak.Erot, ya?" Sinta terpingkal-pingkal melemparkan ledekan ke Boss nya itu.
" Sintaaaa ...!!"
" Maaf, Bu, maaf ..." Sinta langsung memeluk Natasha mendengar teriakan Natasha. " Selamat ya, atas pernikahan Ibu, semoga Samawa, langgeng sampai maut memisahkan, walau hati saya sedih karena patah hati, tapi saya ikhlas kok, ngucapinnya."
" Aamiin, makasih, Sin ..." Natasha pun membalas pelukan Sinta. Beberapa detik kemudian pelukan terurai saat Natasha mendengar ponselnya berbunyi. Natasha melirik jam yang menunjukkan waktu makan siang. Entah mengapa dia berharap Yoga lah yang menghubungi dan mengajaknya makan siang. Tapi wajahnya berubah masam saat dia lihat bukan Yoga yang menelponnya, melainkan Tante Melly.
" Assalamu'alaikum, Tante ..."
" Waalaikumsalam, Natasha." Tante Melly sempat tercenung mendengar salam yang diucapkan Natasha, karena tidak biasanya gadis itu mengucapkan salam seperti itu.
" Apa kabar, Tante? Sehat?"
" Alhamdulillah Tante dan Om sehat, Sayang. Tapi Andra yang kurang sehat ...."
Deg..
Jantung Natasha seketika berdetak kencang, apa kondisi Andra ada hubungannya dengan pukulan yang dilakukan Yoga kemarin. Hati Natasha mendadak gelisah.
" Natasha sayang, kamu masih dengar Tante, kan?"
" I-iya Tante, Natasha dengar."
" Jadi katanya kemarin ada orang yang mukul dia di butik kamu. Apa kamu kenal orang yang memukul Andra, sayang?"
Natasha mengatur nafasnya yang terasa berat " Memangnya kenapa jika Natasha kenal orang itu, Tante?"
" Tante akan melaporkan dia ke kantor Polisi atas tuduhan penganiayaan."
Natasha terkesiap, bola matanya melebar, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan, dan serasa ada bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya. " Dipolisikan, Tante??"
*
"
*
Author POV : Nah, loh.. kan urusannya jadi panjang🙄
Bersambung...
Happy Reading😘
__ADS_1