
Yoga memperhatikan selembar kertas yang disodorkan Natasha di dalam map berwarna merah.
" Apa ini?" tanya Yoga kemudian.
" Bacalah, dan tanda tangani setelahnya," perintah Natasha menyerahkan pulpen di atas kertas itu.
Yoga meraih lembar kertas yang dimaksud Natasha dan melihat sekilas, lalu tersenyum dan mulai membaca isi surat itu.
...Surat Peryataan...
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama. : Prayoga Atmajaya
Usia. : 26 tahun
Alamat : xxxx
Yang disebut sebagai Pihak ke 1 ( Suami ), dan
Nama : Natasha Alexandrina
Usia. ; 26 tahun
Alamat ; xxxx
Yang selanjutnya disebut sebagai Pihak kedua ( Istri )
" Kita nggak lagi menjalankan pernikahan kontrak, kan? Kenapa harus pakai surat pernyataan seperti ini?" Yoga menjeda ucapannya membaca isi surat itu.
" Baca saja dulu, baru komentar," sahut Natasha.
" Kami menyepakati beberapa poin-poin di bawah ini, antara lain :
Pihak ke 1 harus sepakat untuk tinggal di apartemen milik Pihak kedua sebagai tempat tinggal utama.
Pihak ke 2 sewaktu-waktu setuju menginap di rumah tinggal Pihak ke 1 jika diminta.
Yoga melirik ke arah Natasha yang juga sedang memperhatikan ekspresi suaminya itu.
Selama tinggal bersama di apartemen, Pihak ke 1 dan Pihak ke 2, tidur di kamar terpisah.
__ADS_1
" Aku nggak setuju kalau harus terpisah." Yoga melancarkan protes membaca poin ketiga. " Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang jahat yang masuk ke apartemen kamu? Terus masuk kamar kamu, culik kamu. Kalau kita ngga satu kamar, mana bisa aku tolong kamu. Aku kan sudah janji ke papa buat jagain kamu."
" Nggak usah mikir yang aneh-aneh, deh!" sergah Natasha.
Poin ke 4 : Tidak ada kontak fisik antara Pihak kesatu dengan Pihak kedua.
" Ini juga aku nggak setuju, Kalau kamu dalam bahaya, seperti kemarin hampir keserempet mobil, sama waktu diganggu preman, gimana dibilang nggak boleh kontak fisik? Yang rugi kamu sendiri, loh!"
" Maksudku bukan kontak fisik seperti itu!" sanggah Natasha
" Terus kontak fisik yang seperti apa?" Yoga menyandarkan punggungnya ke punggung kursi. " Jelasin, dong ... yang detail. " Yoga menyeringai. " Cium? Peluk? Pegang tangan? Make love, Hubungan intim suami istri?"
" Bisa pelankan sedikit nggak sih, suara kamu?" Natasha melotot saat suara Yoga terdengar kencang. " Nanti kedengaran orang."
Yoga terkekeh, " Memang kenapa nggak boleh ada kontak fisik segala? Takut jatuh cinta sama aku, ya?" Yoga mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha sambil menaik turunkan alisnya.
" Jangan kebanyakan mimpi!" Natasha membantah, memalingkan muka.
Yoga kembali terkekeh, rasanya bahagia sekali menggoda istri cantiknya itu.
" Kasih aku satu alasan yang masuk akal, agar aku bisa memahami poin ke tiga dan empat. Kalau poin ke satu dan kedua, bisa aku pahami," ucapan Yoga kini bernada serius.
Natasha menundukkan kepala memainkan jemari tangannya. " Pernikahan kita ini sangat mendadak dan nggak direncanakan. Orang tua kamu juga pasti belum tahu masalah ini, dan belum tentu mereka bisa menerima aku sebagai istri kamu. Aku nggak mau jika sesuatu yang nggak diinginkan terjadi, dan berimbas pada pernikahan kita," ucap Natasha lirih.
Natasha menoleh dan menatap Yoga, dia tak menolak atau pun mengiyakan permintaan Yoga.
" Dan juga itu nggak berlaku untuk cium, peluk pegang tangan, ya?! Aku nggak mau kalau itu juga dilarang. Percuma aku jadi Dewa Penolong kamu kalau nggak dapet bonus gitu," lanjut Yoga meledek.
" Jadi kamu perhitungan?" Natasha mencebik.
" Bukan perhitungan, sayang ... bonus ... bonus, masa nggak dapet, sih." Kali ini Yoga yang pura-pura mencebik. " Lagi pula bonusnya enak gitu, kayak pagi tadi. Kamu juga suka. kan? menikmati lagi." Kedipan matanya mengakhiri kalimatnya.
Natasha memutar bola matanya. " Sudah buruan baca yang lainnya." Natasha tak ingin Yoga terus menggodanya.
Poin ke 5 : Pihak kesatu dan kedua tidak berhak melarang pasangan masing-masing berinteraksi dengan lawan jenis.
" Aku setuju, untuk poin ini aku setuju banget." Natasha terperanjat, melihat Yoga sangat antusias menanggapi poin kelima yang dia ajukan. Dia berfikir Yoga akan mentah-mentah menolaknya.
" Di kampus banyak teman-teman cewek yang suka aku, kalau aku dilarang berinteraksi dengan mereka, bisa-bisa populeritas aku menurun. Yang ikut Bimbel juga kebanyakan itu cewek-cewek yang seger masih ABG, beberapa orang minta aku jadiin pacarnya. Belum lagi pelanggan aku di Ojek, banyak yang minta nomer WhatsApp aku. minta diantar pakai orderan offline, itu kan semua cuma modus mereka saja biar bisa terus dekat-dekat ...."
" Nggak usah dijelasin mendetail gitu, deh!" Potong Natasha, menghentikan kenarsisan suaminya itu. Tiba-tiba saja hatinya merasa sangat kesal mendengar semua penjelasan yang Yoga berikan.
Yoga menyeringai, " Poin kelima aku setuju nggak perlu direvisi."
Natasha memberengut. dilihatnya pria yang duduk di seberang meja, terlihat aura bahagia di wajahnya. membuatnya semakin kesal.
__ADS_1
" Jadi intinya, poin satu, dua, lima, aku setuju. poin ketiga dan keempat, aku revisi. Dan ada satu lagi poin yang aku tambahkan di sini."
" Apa?"
" Aku akan mengantar dan menjemput kamu ke butik dan apartemen. Jadi motor aku nanti akan aku simpan di butik kamu. Kalau pagi aku antar kamu berangkat pakai mobil kamu. Dari butik aku pakai motor ke kampus dan ngojek. Sebelum jam pulang kamu, aku balik ke butik. Aku juga berencana membeli motor Bang Jamal, dia butuh tunai jadi mau jual motornya, dia mau ambil lagi pakai kredit, Motor itu mau aku pakai buat aktifitas kalau aku ikut ke apartemen kamu. Nggak mungkin aku keluar jarak dekat mesti pakai mobil kamu? Takut lecet, nggak kuat bayar bengkelnya," tutur Yoga.
" Kenapa nggak beli motor yang baru saja, sih?"
" Nggak usah, sayang-sayang uangnya. Mending yang bekas saja, kondisinya juga masih bagus, kok."
" Ya sudah, nanti motor Bang Jamal aku yang bayar."
" Jangan, aku masih ada uang, kok."
" Tapi ...."
" Nggak pakai tapi, nurut apa kata suami!"
" Terserah, deh." Natasha pasrah, dia tak akan menang berdebat dengan suaminya yang pandai bicara itu.
" Good girl." Yoga mengacak rambut Natasha.
" Yoga, iihh ... tangan kamu kotor!" Natasha menepis tangan Yoga.
" Sudah aku cuci, kok tadi." Yoga mengendus-endus tangannya.
" Bau sambal, Nanti rambut aku banyak semutnya gara-gara bau sambal." Natasha merapihkan rambutnya yang tadi dibuat berantakan Yoga.
" Memang semut doyan sambal, ya?" Yoga tersenyum lebar.
" Oke ya, kita sepakat dengan apa yang aku katakan tadi. Tidak ada bantahan lagi," Yoga kemudian menyobek kertas kesepakatan itu. " Nggak usah dibuat perjanjian secara tertulis, takutnya kamu akan melanggar poin-poin yang ada di sana," lanjutnya.
" Aku??"
" iya, Aku takut kamu melanggar poin kelima," Seringai tipis kembali mengukir wajah tampan pria itu.
" Nggak akan, ya! nggak akan ada yang aku langgar!" tegas Natasha, berdiri dan menyampirkan Tote bag di pundaknya. Mereka pun akhirnya keluar dari Restoran Sunda itu menuju tujuan masing-masing.
*
*
*
Bersambung...
Happy Readingš
__ADS_1