MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Rencana Mamih


__ADS_3

" Jadi Mamih dan Tante ini dulunya berteman?" tanya Yoga saat mereka berempat akhirnya berbincang selesai makan siang di butik Natasha. Saat Natasha mengirimkan foto Mamihnya dengan Mamanya Andra, Yoga langsung mengarahkan motornya segera ke butik, sedangkan Natasha segera memesan makanan di rumah makan padang yang ada di depan butiknya.


" Iya, tapi setelah itu dia memusuhi Mamih karena pria yang dia suka ternyata sukanya sama Mamih, dia pikir Mamih yang merebut pria itu," ungkap Mama Yoga.


" Gimana aku nggak kesal sama kamu, Len. Sudah tahu aku suka dia, kamu malah senang-senang saja dia dekati, mestinya kan kamu tolak gitu, bukannya malah kamu ladeni." Tante Melly memprotes.


" Aku bukannya meladeni, tapi dia selalu traktir ini itu, bayarin ini itu, lumayan kalau tidak dimanfaatkan." Mama Yoga terkikik.


" Aiisshh ... Mamih matre juga dulu, ya?" sindir Yoga menanggapi sikap Mamihnya itu.


" Bukan matre, Prayoga. Tapi iseng saja, lumayan kan ada orang yang sering royal ke kita, yang penting kan bukan kita yang minta." Mama Yoga berucap dengan cueknya.


" Tapi sikap kamu itu dianggap kamu kasih harapan ke dia, sudah tahu aku suka sama dia, malah kamu terus yang nempel sama dia," gerutu Tante Melly.


Yoga terkekeh melihat dua wanita paruh baya di depannya itu.


" Jadi kalian bermusuhan karena masalah satu orang cowok yang pada akhirnya sama Mamih nggak, sama Tante juga nggak. Sayang banget persahabatan berakhir karena urusan cowok, kaya nggak ada cowok lain saja di dunia ini," sindir Yoga.


" Iihh Mamih sih nggak rebutin dia, orang Mamih sudah dijodohkan sama Papih kamu, kok." Mama Yoga mengelak.


" Kalau sudah dijodohkan mestinya kamu nggak usah dekat-dekat pria lain, dong! Apalagi pria itu orang yang sahabat kamu sendiri sukai," sindir Tante Melly.


" Ya sudahlah, lagipula aku kan nggak sama dia akhirnya, aku menikah dengan pria yang dijodohkan orang tuaku, dan rumah tanggaku bahagia. Memangnya rumah tangga kamu sendiri tidak bahagia gitu, sampai terlihat kesal seperti ini?" Mama Yoga tersenyum meledek.


" Siapa bilang aku tidak bahagia dengan suami aku sekarang? Aku bahagia sangat bahagia, kalau kamu tak percaya, kamu tanyakan saja pada Natasha, dia sangat dekat dengan keluarga kami, benarkan Sayang?" Tante Melly melirik ke arah Natasha yang sedari tadi hanya menjadi pendengar obrolan mereka.


" Iisshh ... aku bilang jangan panggil-panggil sayang pada menantuku." protes Mama Yoga.


" Hei, aku lebih dulu kenal Natasha ketimbang kamu, dan aku sayang sama dia seperti ke anak aku sendiri, kok." Tante Melly tak ingin terintimidasi oleh mantan sahabatnya dulu.


" Biarpun kamu lebih dulu kenal, nyatanya aku yang menjadi mertuanya bukan kamu!" sergah Mama Yoga.


" Sudah-sudah, kenapa malah pada ribut lagi, sih?" Yoga berusaha melerai, kemudian menoleh ke arah istrinya yang sedari tadi tak bersuara.


" Yang, kamu kenapa?" tangan Yoga mengelus pucuk kepala Natasha.


" Nggak apa-apa, sih. Cuma aku surprise saja ternyata Mamih kenal sama Tante Melly," ucap Natasha menarik sedikit senyuman di sudut bibirnya.


" Itu bagus kan, Yang. Seperti katamu tadi, mertua versus mantan calon mertua." Yoga tergelak membuat Natasha tersenyum kaku.


" Jadi dia ini yang kamu ingin tukar posisinya dengan Mamih, Ta?" sindiran Mama Yoga membuat Natasha membulatkan matanya, dia langsung melirik kesal ke arah suaminya yang terlihat santai seolah tak mengerti apa-apa.


" Tukar posisi bagaimana maksudnya?" Tante Melly bingung.


" Jadi ...."

__ADS_1


" Prayoga!" Mama Yoga mendelik saat melihat Yoga bersiap menceritakan yang sesungguhnya.


" Jadi apa, Yoga?" Tante Melly dibuat penasaran karena ucapan Yoga dipotong Mamihnya terlebih dahulu.


' Jadi awalnya Mamih nggak setuju aku menikah dengan Natasha, Tante. Makanya sikap Mamih ke dia jutek banget, sampai Natasha bilang mau tuker Mamih sama Tante yang jadi mertuanya." Yoga tergelak, dia tidak perduli Mamihnya yang terlihat kesal. " Aawww ... kok dicubit?" Natasha yang melihat Yoga tertawa puas menggoda Mamihnya langsung mencubit paha suaminya itu.


" Dasar anak durhaka!" umpat Mama Yoga memberengut.


" Mamih iiihh ... ucapan itu doa, jangan bicara yang nggak baik, Mamih mau Yoga beneran jadi durhaka?" protes Yoga.


" Naudzubillah min dzalik, jauh-jauh, deh." Mama Yoga mengedikkan bahunya.


" Nah ... makanya jangan bicara sembarangan." Layaknya orang tua yang menasehati anaknya Yoga berucap.


" Jadi Ellena tidak memperlakukan kamu dengan baik, Nat? Berarti benarkan tebakan tante tadi? Tante sangat hapal karakter dia," sindir Tante Melly merasa di atas angin.


" Eh, Melly ... aku juga bisa memperlakukan dia seperti kamu, bahkan lebih baik dari kamu pun aku bisa." Mama Yoga yang merasa panas mendengar sindiran Tante Melly merasa tertantang.


" Buktikan kalau begitu, Mih!" Dengan cepat Yoga menimpali ucapan Mamihnya. " Jangan jutek terus sama Tata, siapa tahu sekarang ini sudah ada janin yang siap tubuh menjadi cucu Mamih."


" Kamu hamil, Natasha?" tanya Tante Melly terkesiap.


" Be-belum ada tanda-tanda, Tante." Natasha menjawab apa adanya.


" Doakan saja, Tante. Semoga ikhtiar tiap malam cepat membuahkan hasil, benar kan, Sayang?" Yoga mengecup kening dan pucuk kepala Natasha.


" Aamiin, Tante doakan yang terbaik untuk kamu ya, Sayang." Ada nada getir dalam kalimat yang diucapkan Mama dari orang yang pernah sangat dicintai Natasha dulu, membuat mata Natasha berkaca-kaca.


Tante Melly yang melihat reaksi Natasha langsung berhambur memeluk tubuh Natasha dan terisak, membuat Natasha ikut terisak.


" Tante sayang sama kamu, meskipun akhirnya kamu nggak menjadi menantu Tante, Tante akan selalu sayang sama kamu, Nat." Tante Melly tersedu.


" Terima kasih, Tante. Selama ini Tante selalu baik sama aku, selama ini Tante sudah anggap Natasha seperti anak sendiri, aku nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Tante dan Om Ruslan selama ini ke aku. Maafkan Natasha juga Tante, karena Natasha nggak bisa memenuhi keinginan Om dan Tante." Air mata terus mengalir hingga membasahi baju dari Tante Melly.


Tante Melly mengurai pelukannya kemudian menangkup wajah Natasha dengan telapak tangannya.


" Kamu nggak perlu minta maaf, semua ini kesalahan Andra, semua ini kesalahan anak bodoh itu yang telah menyia-nyiakan kamu, Sayang. Tante yang mestinya minta maaf, karena perbuatan Andra yang hampir membuat kamu celaka. Maafkan Andra ya, Sayang. Tante merasa gagal mendidik dia."


" Nggak, Tante. Bukan Tante yang gagal, tapi mungkin Andra yang khilaf. Tante selama ini sudah menjadi orang tua yang baik, Natasha bisa merasakan itu. Tante nggak usah minta maaf sama aku. " Mereka berdua seakan larut dengan perasaan masing-masing sampai tidak menyadari ada ibu dan anak yang menatap interaksi mereka berdua dengan pikirannya masing-masing, terutama untuk Mama Yoga, dia sampai ikut menitikan air mata haru, dia juga merasa iri melihat keakraban menantunya dengan sahabatnya dulu yang ternyata adalah mantan calon mertua menantunya sekarang ini.


" Sudah-sudah, acara reunian nya jangan dilanjutkan." Potong Mama Yoga setelah dia menyeka air matanya.


" Oh ... maaf, Mih." Natasha merasa tak enak hati pada mertuanya.


" Oh ya, Mih. Mamih bilang mau bicara sesuatu hal penting, bicara apa?" Yoga mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


" Soal rencana resepsi pernikahan kalian, Mamih merencanakan diadakan bulan depan di Jakarta ini, Mamih sudah membicarakannya dengan Papih, apa kalian setuju?"


" Gimana, Yang?" Yoga meminta pendapat Natasha.


" Aku ikut kamu saja, Mas."


" Kalau kalian setuju, nanti kalian saja yang cari-cari tempat yang cocok buat acara resepsinya," sambung Mama Yoga.


" Aku serahkan ke kamu saja, Yang. Kalau urusan itu aku nyerah," ujar Yoga.


" Aku nanti minta bantuan Kak Gavin nggak apa-apa, kan? Siapa tahu di hotel Om David bisa dipakai buat acara resepsi kita." Natasha meminta ijin.


" Gavin? Om David? Gavin dan Om David siapa, Nat?" Tante Melly tergelitik menanyakan saat mendengar nama Gavin dan Om David disebut.


" Oh iya, Tante. Aku lupa kasih tahu, kalau sebenarnya aku dengan Kak Gavin itu sepupuan. Mama aku itu adik Mommy Kak Gavin. Aku dengar dari Kak Gavin katanya Om David itu kakaknya Tante, ya?"


Tante Melly terkesiap. " Benarkah? Jadi kamu keponakan Amanda? Ya Tuhan ... selama ini kita berputar di lingkungan yang saling berhubungan ternyata." Tante Melly kembali merengkuh tubuh Natasha hingga kembali berpelukan.


" Sudah-sudah, jangan reuni keluarga lagi, kita sedang membahas masalah resepsi pernikahan anakku dan menantuku," sindir Mama Yoga yang kembali melihat interaksi keakraban Natasha dengan Tante Melly.


" Menantu kamu itu keponakan aku." Tante Melly tak mau kalah. " Sayang, nggak apa-apa kan Tante anggap kamu keponakan Tante? Walau nggak sedarah, tapi karena kamu adik sepupu Gavin, jadi Tante anggap kamu keponakan Tante juga." Natasha mengangguk menyetujui.


" Gimana, Mas? Aku boleh minta bantuan Kak Gavin?" kembali Natasha meminta persetujuan suaminya.


" Oke, tapi kalau harus bertemu dengan dia, aku ikut." Yoga menyahuti.


" Astaga, kamu masih saja cemburuan." Natasha mencebik.


" Siapa yang cemburu sama Gavin?" Tante Melly penasaran.


" Tante, apa Tante tahu, kalau keponakan Tante itu tergila-gila pada istriku yang cantik ini?" Yoga merengkuh tubuh Natasha dan menciumi wajahnya berkali-kali.


" Mas ...!" Natasha mencubit pinggang Yoga karena pertama membuka rahasia soal Gavin kedua karena sikapnya tak tahu malu menciumnya di depan umum.


Sedangkan Tante Melly dibuat terperanjat dengan ucapan Yoga tadi " Gavin maksud kamu, Yoga? Tapi bukankah tadi Natasha bilang kalian sepupuan?" Tante Melly kembali dibuat bingung.


" Iya, Tan. Itu sebelum terkuak fakta yang sebenarnya ternyata mereka itu bersaudara. Bisa Tante bayangkan anak sama keponakan Tante memperebutkan wanita yang sama, hampir saja terjadi perang saudara, untung Natasha sudah aku nikahi terlebih dahulu." Yoga tergelak menceritakan semuanya secara terang-terangan membuat istrinya memberengut kesal atas ulah suaminya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2