
Natasha menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Apakah ini balasan atas sikap buruk dia selama ini terhadap orang-orang? Sekarang ini dirinya selalu mengalami penolakan-penolakan. Dulu Andra yang selalu menolaknya, sekarang ini wanita yang menjadi ibu mertuanya. Penolakan Andra pada dirinya, tidak sebanding dengan penolakan yang dia rasakan saat ini. Penolakan yang dilakukan ibu mertuanya ini terasa lebih menyakitkan.
Setelah cukup puas menangis, Natasha segera bergegas mengambil koper, dia berniat mengepak kembali baju-bajunya yang semalam dia taruh di lemari Yoga, karena minggu depan rencananya ada sepupu Yoga yang akan menikah di sini, jadi Yoga menyuruh Natasha membawa pakaian sekalian.
Natasha menyusun kembali beberapa pakaian yang dia bawa, sesekali dia menyeka lelehan air mata yang masih menetes di pipinya.
" Kamu sedang apa?" Tiba-tiba suara Yoga terdengar dari arah pintu. Yoga heran melihat istrinya itu terlihat sibuk memindahkan kembali pakaian dari lemari ke koper milik Natasha.
Natasha tak memperdulikan apa yang ditanyakan suaminya, dia tetap fokus menyusun pakaiannya.
" Kenapa pakaiannya kamu taruh kembali di koper? Kan aku sudah bilang, pakaian yang kamu bawa biar di taruh di sini saja, biar kalau kita kemari nggak usah repot bawa baju ganti." Natasha masih bergeming, hingga akhirnya Yoga mencekal tangan Natasha, memaksanya untuk menghentikan aktivitasnya. " Ada apa?" tanya Yoga saat mendapati wajah sendu Natasha dengan mata memerah khas orang habis menangis. " Apa yang mamih katakan ke kamu?"
" Aku mau pulang sekarang." Natasha menghempaskan cengkraman tangan Yoga di lengannya.
" Iya, tapi kenapa? Bukankah kita sudah sepakat pulang hari Senin selepas shubuh?!" Yoga kembali menarik tangan Natasha.
" Lepaskan ...!!" Natasha pun kembali menyingkirkan tangan Yoga. " Aku mau pulang sekarang juga!" tegasnya.
" Mamih bilang apa sama kamu?!" tanya Yoga meraih kedua bahu Natasha memaksa tubuh istrinya itu menghadap ke arahnya. " Mamih ngomong apa sama kamu?" Yoga kembali melontarkan pertanyaan, sementara tangannya membelai wajah Natasha mencoba menghapus air mata yang berlinang di pipi mulus istrinya. Sontak perlakuan Yoga semakin membuat Natasha semakin tersedu. Bagaimana mungkin dirinya disuruh berpisah dengan pria yang kurang dari sebulan ini secara tak sengaja selalu hadir di kehidupannya? Bagaimana mungkin dia disuruh melepaskan pria yang belakangan ini selalu membuatnya merasa nyaman?
" Aku mau kisah pisah ..." ucap Natasha dengan suara tercekat.
Yoga menghela nafas perlahan, dia sudah menduga tindakan istrinya yang merajuk ini pasti karena ulah mamihnya. " Mamih bicara apa?"
__ADS_1
Natasha tak menjawab, tidak mungkin dia menceritakan semua yang diminta ibu mertuanya itu kepada Yoga, karena itu akan memperburuk keadaan, dan mungkin akan membuat ibu mertuanya itu semakin membencinya. Dia mengurai tangan Yoga yang masih mengelus wajahnya.
" Ini nggak ada hubungannya dengan mamih kamu, Ga. Aku ingin pulang, dan aku ingin kita pisah!" Natasha berusaha mencoba tegar mengucapkan kalimat itu.
" Nggak mungkin kamu tiba-tiba bicara seperti ini kalau nggak ada yang mempengaruhi kamu. Pasti mamih sudah bicara macam-macam sama kamu."
" Aku bilang nggak ada hubungannya dengan mamih kamu, kamu ngerti nggak, sih?!" bentak Natasha lepas kendali.
" Kamu yang sebenarnya ngerti nggak?! Kalau pernikahan itu suatu hal yang sakral, bukan untuk dipermainkan! Kenapa setiap ada permasalahan kamu selalu bilang ingin pisah?! Setiap ada persoalan lagi selalu bilang ingin pisah! Apa kamu nggak memahami saat aku mengucapkan ijab qobul itu aku sudah berjanji kalau pernikahan kita ini hanya terjadi sekali seumur hidup, untuk saling berbagi suka ataupun duka?! Walaupun pernikahan kita terjadi karena keadaan yang memaksa, tapi sedikit pun aku berniat untuk mempermainkan pernikahan kita!" tegas Yoga dengan suara lantang.
Natasha kembali terisak mendengar kata-kata Yoga yang sebenarnya adalah kalimat-kalimat yang menenangkan jiwa, tapi apa yang dikatakan ibu mertuanya tadi membuat hatinya merasa gamang.
" Tapi mamih kamu nggak bisa terima aku, Ga. Mamih kamu nggak merestui pernikahan kita. Aku nggak mau kamu menentang orang tua kamu hanya karena aku. Aku nggak mau kamu jadi anak yang durhaka terhadap orang tuamu sendiri." Natasha terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya dengan bahu terguncang.
" Aku sudah bilang 'kan, kalau kita akan menghadapi mamih bersama. Kita berdua yang menjalankan pernikahan ini bukan mamih, jadi kamu nggak perlu takut, ada aku di sini. Aku tahu kamu wanita yang kuat, kamu wanita yang tegar. Bukankah ini bukan pertama kalinya kamu mengalami penolakan? Aku nggak menyuruh kamu untuk melawan namih, aku hanya meminta kamu mempertahankan apa yang seharusnya memang menjadi hak kamu." Yoga merenggangkan pelukannya, dia menatap lekat wajah Natasha dengan kedua tangannya menangkup wajah wanita itu. " Mamih memang mempunyai hak atas aku karena aku adalah anaknya, karena namih adalah wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini. Tapi kamu juga punya hak atas aku, Ta. Karena aku adalah suamimu, karena kamu adalah istri aku," tutur Yoga dengan penuh kelembutan.
" Ta-tapi ..."
" Tapi apa, hemm?"
" Ba-bagaimana jika mamih tetap tak bisa terima aku?"
Yoga terdiam beberapa saat, sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan sikap mamihnya yang dirasanya berubah saat ini.
__ADS_1
" Sekarang aku tanya sama kamu. Setiap ada masalah kamu selalu meminta kita berpisah, apa kamu benar-benar ingin berpisah dari aku? Apa benar itu keluar hati nurani kamu? Setelah apa yang telah kita lewati bersama belakangan ini, apa kamu benar sanggup hidup berjauhan dari aku?" Yoga menyampirkan rambut Natasha ke belakang telinga, sementara Natasha tertegun mendengar pertanyaan-pertanyaan Yoga yang ditujukan kepadanya.
Natasha memandang sendu wajah suaminya. Sungguh sangat berat jika dia harus berjauhan dengan pria di hadapannya ini. Natasha langsung memeluk erat tubuh Yoga, dia menenggelamkan wajahnya dan menangis di dada bertubuh tegap suaminya itu.
" Aku nggak mau, Ga! Aku nggak mau jauh dari kamu ..." lirihnya kemudian.
Yoga membalas pelukan Natasha, kembali mengecup puncak kepala Natasha agak lama.
" Aku nggak ingin dengar lagi kata pisah dari mulut kamu. Kita akan menghadapi situasi ini bersama. Mamih itu sebenarnya baik, mungkin karena mamih belum mengenal kamu lebih jauh. Mungkin kalian membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengenal satu sama lain." Yoga mengangkat wajah Natasha ke arahnya hingga saat ini kening mereka saling merekat.
" Saat ini, mamih dan kamu adalah wanita yang mesti aku bahagiakan di dunia ini. Aku tak ingin ada pertikaian di antara kalian. Aku ingin kalian saling menyanyangi, karena kamu adalah satu-satunya menantu keluarga Atmajaya. Dan jangan pernah menyuruh aku untuk memilih di antara kalian berdua, karena kalian berdua adalah orang-orang yang akan selalu aku pertahankan dalam hidupku," ucap Yoga seraya mengecup lembut bibir Natasha dengan penuh kehangatan.
*
*
*
Author POV : Yoga ππππ Sweet banget ga sih dia, Mak??
Bersambung...
Happy Readingπ
__ADS_1