MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Disappointed


__ADS_3

" Kamu kenapa ikutin aku, sih, Mas?" Natasha merasa jengah saat suaminya mengikuti langkahnya ke dalam bathroom.


" Aku penasaran, Yank. Ingin cepat lihat hasilnya." Yoga menyahuti.


" Ya sudah, tunggu saja di luar, nanti aku kasih lihat hasilnya." Natasha mendorong tubuh suaminya itu agar meninggalkan kamar mandi.


" Nggak mau, aku mau ikut lihat, Yank." Yoga bersikukuh tetap ingin menemani Natasha mengecek hasil test pack.


" Kamu mau lihat apa? Aku malu ih, dilihatin gitu." Natasha merengek manja.


" Kenapa mesti malu, sih? Kan sudah sering kali aku lihat." Senyum nakal tercetak di satu sudut bibirnya.


" Iya tapi aku kan malu, Mas. Masa pipis saja dilihatin, nanti malah urine-nya malu, nggak mau keluar." Natasha mencebik, membuat Yoga kembali terkekeh.


" Nggak keluar, karena urine-nya malu ketemu aku, gitu? Ada-ada saja kamu, Yank." Yoga mengacak rambut Natasha membuat wanita itu kembali mencebik.


Akhirnya dengan ditemani suaminya Natasha mengecek hasil urine-nya dengan test pack.


Natasha dan Yoga sama-sama menahan nafasnya memandangi hasil test pack yang belum melihatkan tanda garis di alat test kehamilan itu. Setelah beberapa saat kemudian terlihat satu garis merah di alat test itu, Natasha langsung terisak.


" Hiks ... aku nggak hamil, Mas." Tubuh Natasha merosot ke bawah hingga terduduk di lantai.


" Yank, ini maksudnya apa? Kamu nggak hamil?" Yoga dibuat bingung, dia mencoba mengganggkat tubuh istrinya dan mendudukannya di kloslet.


" Garisnya cuma satu, artinya aku nggak hamil, Mas. Kita nggak akan segera punya anak, hiks ...."


Yoga menarik nafas yang tiba-tiba saja terasa berat dihirupnya, apa yang dikatakan istrinya jelas membuatnya kecewa, karena dia sungguh ingin agar Natasha cepat hamil. Asa yang semalam melambung cukup tinggi, tiba-tiba saja terhempas begitu saja.


" Aku takut, Mas. Aku takut nanti Mamih marah, aku takut Mamih akan semakin membenci aku, huhuhuuu ..." Natasha tersedu menutup wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Yoga menelan salivanya karena tenggorokan tiba-tiba terasa gersang. " Yank, Mamih nggak akan marah, kalau kamu belum hamil, mungkin Allah belum kasih rejeki untuk kita. Kamu jangan sedih begini ya." Yoga langsung merengkuh tubuh istrinya.


" Aku sedih, Mas. Aku sudah mengecewakan kamu, sudah mengecewakan Mamih juga, hiks ... gimana kalau nantinya Mamih mau ganti menantu, karena aku nggak hamil, Mas?" Natasha tak juga menghentikan tangisannya.


" Hush, jangan bicara sembarangan, itu nggak akan terjadi. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri kalau saat ini kamu belum hamil. Lagipula kita menikah juga baru sebulan lebih saja, kita masih punya banyak kesempatan ke depannya. Mungkin karena aku juga kurang maksimal membuatnya. Mungkin kita harus semakin sering melakukannya, kita mesti tambah jadwal pembuatannya, jadi sehari tiga kali, pagi, siang, malam, bukankah semakin sering kita berikhtiar, kemungkinan besar hasilnya akan cepat didapat, kan?"


Natasha yang sedari tadi menangis tersedu-sesu langsung menghentikan Isak tangisnya, kemudian mendorong tubuh Yoga yang sedang memeluknya.


" Apa kamu bilang tadi, Mas?" Natasha memicingkan matanya menatap tajam ke arah suaminya.


" Kita mesti sering-sering melakukan penyatuan agar cepat-cepat muncul dede bayi di sini." Yoga menunjuk perut istrinya seraya terkekeh.


" Nggak!! Aku nggak mau! Enak saja pagi siang malam, memangnya nggak sakit, apa? Kamu yang enak, bisa-bisa aku yang gempor." Natasha memprotes.


" Kan kamu juga sama-sama enak, Yank. Nggak inget kalau kamu sudah sampai orgas*me selalu merancau, ' Aahh mas enak banget, uugghh nikmat rasanya, uugghh yess oh no, lagi Yank, yang kaya tadi' gitu, kan?" Yoga menirukan ucapan-ucapan yang jika dalam keadaan sadar, Natasha akan malu mengakuinya.


" Nggak ada, nggak mungkin aku bicara seperti itu!" Dengan wajah bersemu Natasha dengan cepat menyangkal.


" Jangan macam-macam, kamu!!"


Yoga tergelak melihat istrinya melotot mendengar ide gilanya. " Tapi sekali waktu, bolehlah kita rekam, ya, Yank. Biar bisa jadi bahan diskusi, kita bisa reaction video kita sebelum tidur, gerakan apa yang kurang, gaya apa yang mesti diganti biar kita bisa perbaiki lagi yang kurangnya itu."


" Iihhh, dasar mesum ...!!" Natasha langsung mencubit lengan suaminya kemudian bergegas keluar dari kamar mandi itu, meninggalkan Yoga yang tertawa kencang.


***


" Mih ..." Yoga menghampiri Mamihnya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan, sementara Natasha berjalan di belakangnya.


" Prayoga, gimana hasilnya? Tata hamil, kan?" tanya Mama Yoga antusias.

__ADS_1


Yoga lalu menyodorkan test pack kepada Mamihnya, sedang Natasha langsung bersembunyi di belakang punggung Yoga, layaknya anak kecil yang ketakutan karena berbuat kesalahan.


Mamih mendengus menatap hasil test packnya. " Negatif?" Mama Yoga langsung terduduk di kursi makan. Natasha yang mengintip dari belakang punggung Yoga bisa melihat raut kecewa di wajah ibu mertuanya itu, seketika rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya.


Yoga mendekat ke arah Mamihnya, masih dengan Natasha yang berjalan bersembunyi dibalik perlindungan tubuh suaminya.


" Belum rejeki, Mih. Mamih jangan kecewa, ya." Yoga mengelus lengan Mamihnya terlihat bersedih. " Mamih lihat, nih. Menantu Mamih sampai ketakutan begini saat Tata tahu, ternyata Tata nggak hamil. Dia takut ketemu Mamih bilangnya. Nih, Mamih lihat sampai bersembunyi di belakang Yoga." Yoga terkekeh, ada nada getir dalam tawa kecil Yoga itu. Sebenarnya dia sendiri pun masih belum bisa menutupi kekecawaannya, karena dia terlalu semangat saat Mamihnya memberitahukan tanda-tanda yang sering dialami wanita hamil pada diri istrinya semalam.


" Mih, maafin Tata. Maaf, jika Tata sudah buat Mamih kecewa. Tata belum hamil, belum bisa kasih cucu buat Mamih." Natasha memberanikan diri mendekati Mama Yoga kemudian menggenggam tangan ibu mertuanya itu. " Tapi Tata mohon, Mamih jangan punya niatan untuk ganti menantu ya, Mih. Apalagi tambah menantu. Karena Tata nggak akan sanggup kalau disuruh pisah sama Mas Yoga. Tata juga nggak sanggup jika harus berbagi suami dengan wanita lain, Mih. Tata nggak rela," lirih Natasha tertunduk sedih.


Mamih menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


" Prayoga itu anak Mamih satu-satunya, hanya dari Prayoga Mamih mengharapkan mendapatkan cucu. Kalau kalian tidak bisa memberikan cucu kepada Mamih, lalu Mamih mesti berharap kepada siapa lagi??" Mama Yoga kemudian bangkit dan bergegas beranjak menuju kamar tamu.


" Mih ...!" Bahkan teriakan Yoga memanggil pun tak dihiraukannya.


" Tuh, kan, Mamih marah sama aku karena aku nggak hamil, hiks ... nanti Mamih pasti suruh kamu menceraikan aku, terus nanti Mamih suruh kamu menikah dengan Azzahra. Aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau jadi janda muda, Huhuhuuuu ..."


" Sudah-sudah, kamu jangan nangis gini, dong, Yank. Jangan berpikiran yang macam-macam. Tidak akan ada perceraian, tidak akan ada pernikahan dengan Azzahra ataupun wanita lain. Kamu percaya sama aku, kan? Aku yakin, Mamih pasti akan mengerti, kok." Yoga terus mencoba menenangkan istrinya. Setelah menenangkan Natasha, tugas selanjutnya adalah memberi pengertian kepada Mamihnya, agar bisa menerima kenyataan saat ini, jika kehamilan yang mereka perkirakan semalam ternyata tidak menjadi kenyataan.


*


*


*


Mak-emak dan perawan cantik silahkan ditengok kisah cinta Dirgantara❤️Kirania di novel aku satunya, Makasih yg sudah sudi mampir🙏 btw give away aku umumin tgl 15 ini ya Mak untuk 5 orang yg beruntung.


__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2