
Yoga terlihat sedang bersenda gurau dengan Alden, saat Natasha memasuki kamarnya. Natasha tersenyum memandang dua orang pria yang paling berharga dalam kehidupannya saat ini.
Natasha berjalan dengan langkah agak berat, karena usia kandungannya sudah sembilan bulan. HPL nya menurut dokter sekitar satu Minggu lagi. Dia juga sudah memberitahukan Mama Nabilla dana Mamih Ellena agar mereka menemani saat melahirkan nanti.
" Alden belum bobo, Sayang?" Natasha mendudukkan tubuhnya, dengan kaki berselonjor di tempat tidur. Tak lama bayi berpipi gembil itu mendekat ke arah Natasha lalu mencium perut Natasha berulang-ulang.
" De-de ... de-de ... mamama ... de-de ..." celoteh Alden menunjuk ke arah baby bumb.
" Dedenya sapa coba?" tanya Natasha kepada Alden.
" De-dededede ..." celoteh Alden lagi.
" Alden, ayo cepat bobo, sini." Yoga menepuk tempat di sebelah kanannya. membuat Alden mendekat ke arah papanya.
" Alden sudah minum susunya, Mas?" tanya Natasha melihat Yoga yang sedang mengelus punggung Alden yang tidur dengan posisi tengkurap.
" Alden sudah minum susu, Papanya yang belum." Yoga menyeringai sambil mengedipkan matanya.
" Oh, Papa mau minum susu juga? Mama bikinkan dulu, ya." Natasha hendak beranjak dari tempat tidur tapi tangan Yoga keburu mencengkeramnya.
" Bukan yang itu, Yank." Yoga terlihat gemas jika istrinya sudah berlaga innocent seperti ini.
" Terus Papa maunya yang apa?" Natasha berucap sambil membelai rambut suaminya.
" Mama pasti tau, dong. Apa yang Papa gemari?"
" Apa, sih, Pa? Iihh ... baru mau punya anak dua saja, kok Mama sudah lupaan gini, ya?"
" Kamu ini dari dulu gemesinnya nggak hilang-hilang, Yank." Yoga menarik hidung Natasha.
" Iya, dong. Mas. Aku ini 'kan orangnya cantik dan menggemaskan. Kalau nggak gitu, nggak mungkin kamu suka sama aku," ujar Natasha narsis.
" Aku 'kan suka kamu karena terpaksa.,"
" Cih, terpaksa. Tapi kalau berduaan ngajaknya mesum terus. Kalau terpaksa, nggak ikhlas. Aku telan jang bulat juga punyamu nggak akan berdiri." Natasha mencebik membuat Yoga terkekeh.
" Kalau Papa Farhan bisa lihat, papa pasti bahagia lihat kehidupan aku sekarang, ya, Mas." Natasha tiba-tiba teringat akan papanya.
" Iya, Papa Farhan nggak salah pilih menantu."
" Kamu menyesal nggak, sih, Mas. Menikah sama aku?"
" Nggak, dong. Jarang bisa ketemu wanita seperti kamu." Natasha tersipu mendengar ungkapan suaminya.
" Angkuh, jutek, mau nya menang sendiri, keras kepala, sedikit bar-bar." Yoga terkekeh melihat wajah Natasha berubah cemberut.
" Alden, sudah tidur, pindahkan ke box baby nya, Mas," perintah Natasha saat melihat anaknya sudah terlelap. Dengan cepat Yoga memindahkan Alden ke box tidurnya.
" HPL kamu seminggu lagi 'kan, Yank?"
" Iya, kenapa?"
" Dokter menyarankan melakukan hubungan suami istri, biar kasih tunjuk jalan dedek bayi biar nggak nyasar keluarnya." Yoga menyeringai.
__ADS_1
" Iiihh ... itu 'kan maunya kamu, Mas," cibir Natasha.
" Tapi kamu juga mau, kan?"
" Siapa bilang aku mau?"
" Memang kamu nggak mau, gitu?"
" Aku nggak mau, tapi aku suka, suka banget malah." Natasha terkekeh membuat Yoga tidak tahan untuk tidak menyerang istrinya.
Yoga langsung mencium bibir Natasha dengan sangat rakusnya. Tangannya dengan gesit melucuti kancing piyama istrinya. Yoga pria yang terkesan tenang dan berpenampilan kalem itu akan berubah buas dalam urusan bercinta dengan istrinya.
" Pelan-pelan, Mas. Kasihan dedeknya."
" Siap, Tuan putri." Yoga kembali menyergap dan memulai pemanasan sebelum akhirnya dia menuntaskan mencumbu istrinya dengan penuh gairah.
***
" Mas ..." Natasha mengguncang tubuh Yoga yang tertidur setelah mereka melakukan pergumulan panas.
" Hmmm, ada apa, Yank?" Yoga langsung mengerjapkan matanya.
" Perut aku sakit banget, Mas. Ssshhhh ..." Natasha meringis seraya memegang perutnya. " Aduuuhh ...."
" Hahh, perut kamu sakit? Kamu nggak mau lahiran sekarang, kan? HPL nya masih seminggu lagi, kan?" Yoga langsung bangkit dari tidurnya.
" Iya tapi ini sakit banget, Mas. Sepertinya aku mau melahirkan sekarang, deh." Natasha terus mengelus pinggangnya menahan serbuan sakit yang luar biasa.
" Aku panggil Bu Ratna dulu. Kita ke rumah sakit sekarang. Sama suruh Pak Hasan siapkan mobilnya." Dengan sedikit senewen Yoga berlari keluar kamar.
" Non Tata mau melahirkan, Den? Apa sudah terasa mulasnya?" tanya Bu Ratna yang sudah menghampiri.
" Iya, Bu. Cepat siapkan apa yang perlu dibawa, kita berangkat sekarang."
" I-iya, Den."
Yoga kembali bergegas menuju ke kamar, dia merasa tak tega melihat istrinya itu yang masih saja meringis menahan sakit.
" Kita berangkat sekarang, Yank." Yoga langsung mengangkat tubuh istrinya. Dengan sedikit berlari dia keluar dari kamar.
" Bu Ratna, tolong kabari Mamih sama Mama Nabilla kalau Tata mau melahirkan sekarang. Kirim pesan saja jangan telepon. Takut mengganggu barangkali mereka sudah tidur. Biar kalau besok pagi bangun langsung baca pesan itu," perintah Yoga.
" Baik, Den." Bu Ratna kemudian mengambil ponselnya lalu mengetikkan yang diperintahkan Yoga.
" Ssshhh ... sakiiiitt, Mas," rintih Natasha dalam gendongan Yoga.
" Bu, ketik pesannya di mobil saja. Pak Hasan sudah siapkan mobilnya, kan?" Yoga bergegas menuju arah pintu.
" Sudah, Den."
" Ya sudah, ayo berangkat. Kasihan Tata sudah kesakitan."
" I-iya, Den." Bu Ratna kembali memasukan ponsel ke sakunya dan meraih tas yang berisikan keperluan untuk melahirkan Natasha.
__ADS_1
" Pak, buruan berangkat. Agak cepat dikit!" perintah Yoga pada Pak Hasan saat masuk ke dalam mobil.
" Ssshhhh ..." Wajah Natasha terlihat memucat, dia menahan serbuan rasa sakit yang serasa mematahkan tulang-tulangnya.
" Sabar sayang, ya." Yoga mencoba menenangkan Natasha yang terus merintih menahan sakit.
" Ini kita ke rumah sakit biasa, kan, Den?" tanya Pak Hasan.
" Iya, Pak." Yoga menyahuti. " Bu, apa mungkin Tata lahiran sekarang, ya? Menurut jadwalnya 'kan satu Minggu lagi," tanya Yoga pada Bu Ratna.
" HPL itu bisa maju dan bisa mundur, Mas. Seperti waktu Non Tata melahirkan Den Al 'kan mundur dari jadwal yang ditentukan oleh ibu dokternya" ungkap Bu Ratna menerangkan.
" Mas ...."
" Iya, Sayang? Sebentar, kamu yang sabar, ya." Yoga menciumi pucuk kepala Natasha. " Dedek sudah nggak sabar mau ketemu Papa sama Mama, ya?" Yoga mengelus lembut perut Natasha.
" Mas ..." Natasha mendongakkan kepala ke arah wajah suaminya.
" Iya, Sayang, kenapa?"
" Alden, Mas ..."
" Alden? Alden kenapa?"
" Alden mana, Mas?"
Yoga langsung membulatkan matanya saat Natasha menanyakan keberadaan Alden.
" Bu, Alden mana?" tanya Yoga pada Bu Ratna.
" Astaghfirullahal adzim ... Den Al, ketinggalan di rumah, Den." Bu Ratna berbicara dengan nada cemas.
" Ya Allah, Bu ..." Yoga mendengus kasar menyesali keteledoran, Bu Ratna juga dirinya, yang tidak menyadari keberadaan Alden, putra pertamanya.
" Jadi gimana ini, Den?" tanya Pak Hasan.
" Kita pulang saja, Mas. Ssshhhh ..." lirih Natasha masih terus berusaha menahan rasa sakitnya sambil mencengkram kencang lengan Yoga.
" Tapi, kamu sendiri gimana, Yank?"
" Pak, putar balik sekarang. Aku takut Alden terbangun. Dia pasti akan menangis ketakutan kalau nggak ada orang di sampingnya," perintah Natasha pada Pak Hasan.
" Ba-baik, Non." Pa Hasan pun akhirnya mengikuti perintah Natasha memutar balik arah mobil kembali ke rumah.
*
*
*
Kok, aku rasanya ga rela pengen melepas couple ini. Sedih banget mau berpisah😢 Feel-nya udah dapet banget aku ke pasangan ini.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy reading ❤️