MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Gavin tersenyum lebar menatap kagum pada wanita yang ada di hadapannya, wanita yang belakangan ini berhasil mencuri perhatiannya. Namun seketika senyuman itu menyurut saat pandangannya terarah pada sosok pria yang kini duduk di sofa dengan kaki menyilang. Siapa pria ini? Kenapa dia berada di dalam ruangan Natasha? Itu yang berkecamuk di pikiran Gavin saat ini.


" Silahkan duduk, Tuan Gavin ..." Natasha mempersilahkan Gavin untuk duduk saat dilihatnya Gavin hanya tercenung. Dia sudah menduga jika adanya Yoga di ruangan ini sangat tidak disukai oleh Gavin.


Gavin menatap pria yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata tajam. " Ah, iya ... terima kasih, Alexa," ucap Gavin, sementara matanya menyiratkan rasa tidak suka dengan kehadiran Yoga.


Setelah Gavin duduk, Natasha pun memilih duduk di samping Yoga. " Maaf Tuan Gavin, kita tidak punya janji hari ini, apa ada sesuatu yang penting yang ingin Tuan Gavin sampaikan kepada saya?" tanya Natasha sopan seraya meraih cushion sofa dan meletakkan di atas pangkuannya.


" Oh, tidak, Alexa. Saya hanya kebetulan lewat dekat sini, Beberapa hari ini saya tidak bisa menghubungimu, saya khawatir sesuatu terjadi denganmu." Gavin memicingkan matanya, menatap pergerakan tangan Yoga yang terlihat merengkuh pundak Natasha dengan posesif, seketika rasa tak nyaman kini menggelayuti hatinya melihat perlakuan mesra pria itu terhadap Natasha.


" Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Tapi Anda tidak usah merasa khawatir, dia aman bersama saya." Yoga yang membalas ucapan Gavin, dia tak mempermasalahkan panggilan Alexa untuk istrinya itu, karena Natasha pun memakai nama Alexa Butique untuk nama butiknya. " Benar, kan ... Alexa?" bisik Yoga mengikuti panggilan yang diberikan oleh Gavin


" Emmm ... iya, Tuan Gavin. Saya baik-baik saja, kemarin itu saya ada kesibukan jadi maaf kalau tidak bisa dihubungi." Natasha menggeliat karena saat ini Yoga sedang mengendus area leher Natasha, untuk menikmati wangi tubuh wanitanya.


Gavin yang melihat pemandangan itu seketika mengeratkan giginya, hingga tercetak jelas rahangnya yang mengeras, sorot matanya sudah menebarkan permusuhan, sementara dadanya bergolak terbakar rasa cemburu atas apa yang dilakukan Yoga terhadap wanita yang saat ini dipujanya.


" Aku sudah bilang, lehermu ini nggak perlu ditutupi." Tangan Yoga kemudian mengurai ikatan scraf di leher jenjang milik istrinya.


" Yoga ...!" Natasha berusaha menepis karena dia merasa malu harus memperlihatkan bekas tanda merah yang ditinggalkan Yoga di lehernya tapi pergerakan Yoga tak terbantahkan.


Seketika bola mata Gavin membulat saat dia mendapati tanda, yang sudah pasti dia tahu bagaimana tanda itu biasanya berasal, nampak lebih dari satu terlihat di leher jenjang putih mulus Natasha. Seketika itu pula darahnya terasa terbakar, tangannya kini mengepal. Tidak biasanya dia seperti ini, bahkan menghadapi Andra sekalipun dia masih bisa bersikap santai, tapi tidak dengan kali ini rasanya ingin dia menghajar pria yang dia anggap kurang ajar telah menyentuh pujaan hatinya itu.

__ADS_1


" Maaf, Tuan ... saya rasa Alexa tidak merasa nyaman dengan sikap Anda tadi," ucap Gavin dingin merasa jengah melihat kelakuan Yoga.


Yoga melirik sebentar ke arah Gavin, lalu memalingkan pandangan ke arah Natasha. " Benarkah seperti itu, sayang? Apa kau merasa jengah dengan perlakuanku tadi?" Natasha membelalakkan matanya, tubuhnya seakan membeku, ribuan kelopak bunga seolah bermekaran di hatinya mendengar kata sayang yang diucapkan Yoga kepadanya, tapi seketika dia mulai kembali kepada akal sehatnya, melihat wajah menyebalkan penuh kepalsuan yang ditunjukkan Yoga. Dia sadar perlakuan Yoga saat ini adalah siasat dia untuk membuat Gavin menjauhinya. Keadaan terbalik dengan Gavin, ucapan yang dilontarkan Yoga membuat hatinya semakin panas, bahkan dinginnya alat pendingin di ruang kerja Natasha itu tak sanggup mengimbangi hawa panas di hatinya.


Yoga menyampirkan beberapa helai rambut Natasha ke belakang telinga, tanpa memperdulikan emosi Gavin yang kini sudah naik ke ubun-ubun. "Bukan kah kau tadi justru sangat menikmati percintaan kita, sayang? Lenguhan dan desa*han yang keluar dari mulutmu itu menandakan kau sangat puas dan menikmati setiap sentuhanku, bukan?!" Yoga dengan tidak tahu malunya kembali mengumbar aktivitas yang tadi telah mereka lakukan,


" Yoga ...!" Natasha merasa risih terhadap sikap Yoga yang seolah selalu ingin memamerkan kemesraan mereka di depan Gavin.


" Hentikan tingkah kurang ajar Anda terhadap Alexa, Tuan!" Gavin langsung bangkit. Rasa cemburu menutupi akal sehatnya. Dia tidak berpikir, memangnya siapa dia berani melarang pria, yang dia sendiri belum tahu apa hubungan pria itu dengan Natasha.


" Maaf Tuan, sebaiknya Anda kembali duduk," ucap Yoga tenang. Sementara Natasha sendiri mulai menegang, dia ingat peristiwa pemukulan yang dilakukan Yoga terhadap Andra dua hari lalu. " Apakah Anda sudah menikah?" pertanyaan Yoga terasa menohok untuk Gavin.


" Ini tidak ada hubungannya dengan sikap kurang ajar Anda dengan status saya!" tegas Gavin geram.


Akhirnya Gavin kembali mendaratkan bokongnya dengan sedikit kasar ke sofa.


" Jika Anda sudah menikah, pasti Anda sudah paham. jika menyentuh istri sendiri bukanlah suatu tindakan yang kurang ajar, benarkan, Tuan?" pertanyaan yang lebih mirip kalimat penegasan keluar dari mulut Yoga.


" Istri??" Gavin terperangah, hatinya seketika mencelos mendengar kata istri yang terucap oleh pria yang duduk di samping Natasha, yang selalu lekat seolah tak ingin lepas dari wanita itu. " Siapa yang Anda maksud dengan istri?? Setahu saya Alexa itu belum menikah." Gavin lalu menatap ke arah Natasha yang sedang memaksakan senyuman kepadanya.


" Sayang ... jangan kamu bilang, kamu belum memberitahukan statusmu sebagai seorang wanita bersuami kepada pria-pria rekan bisnismu!" Yoga memandang Natasha yang hanya sedang menggigit bibir bawahnya. " Kenapa kamu menutupi statusmu? Apa itu tujuannya agar pria lain bisa bebas mendekatimu?" Yoga mencengkram lembut dagu Natasha, " Aku akan menghukummu atas kelalaianmu, Nyonya Prayoga Atmajaya. Cup ..." Yoga memberikan kecupan singkat nan lembut di bibir Natasha membuat Natasha tertegun menerima perlakuan Yoga yang menciumnya di depan orang lain. Gavin pun dibuat tercengang bahkan sampai menelan salivanya melihat pria di depannya itu mencumbu mesra wanita yang dia harapkan akan menjadi pelabuhan terakhir cintanya.

__ADS_1


" Eheeemmm, maaf Alexa, apa benar yang dikatakan Tuan ini?" Gavin berharap agar Natasha membantah dan mengatakan apa yang dikatakan Yoga adalah sebuah kebohongan.


" I-iya, Tuan Gavin ... dia suami saya." Kalimat yang diucapkan Natasha sontak membuat hati Gavin kembali mencelos.


" Alexa, apa pria ini memaksamu untuk menikah dengannya? Apa dia mengancammu? Apa kau sedang berada dalam tekanan dia?!" Gavin masih belum bisa terima kenyataan yang sebenarnya tentang hubungan antara Yoga dan Natasha.


Yoga mengkerutkan keningnya. " Sayang, apa kau terpaksa menikah denganku, hemm?" Yoga kembali memberi kecupan ke arah kening Natasha.


Natasha menggeleng, " Maaf Tuan Gavin, hubungan yang terjalin antara saya dan suami saya ini normal, bukan karena suatu keterpaksaan atau tekanan," ucap Natasha mengulas senyuman.


" Apa kau yakin, Alexa? Bukankah ini suatu hal yang mendadak?!" Kenyataan pahit ini sulit diterima Gavin.


" Maaf, Tuan, kenapa sepertinya Anda susah sekali menerima kenyataan bahwa saya adalah suami Natasha?! Jangan bilang kalau Anda tertarik dengan istri saya, Tuan!" Suara Yoga mulai terdengar berat. Dia mulai jengah melihat Gavin yang terkesan tidak bisa menerima kenyataan jika Natasha sudah menikah dengannya.


*


*


*


Author POV : Maaf kemarin kurang fit jadi cuma bisa up 1 bab aja, maksa mau nyelesain 1 bab lagi udah setengah jalan tapi akhirnya nyerah🙏

__ADS_1


Bersambung..


Happy Reading😘


__ADS_2