MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Papa, Mama ... Tolong Aku


__ADS_3

" Awwww, Andra jangaaaannn ... aku mohon jangan lakukan ini, aku mohon hentikan ... huhuhuuuu ...!" Natasha menyilangkan kedua tangannya di dada, menutupi sebagian dadanya yang terbuka karena bajunya yang terkoyak. Tapi Andra menyingkirkan tangan Natasha. Pandangan mata Andra mulai berkabut, sorot matanya mulai mendamba. Bagaimanapun juga dia seorang laki- laki normal, melihat tubuh putih molek dihadapannya membuat gairahnya bangkit. Yang diinginkan saat ini adalah  bisa menyalurkan hasratnya yang tiba-tiba saja membara.


Andra terus mengeksplor bagian wajah, leher dan dada Natasha. Mengen*dus, mencium, menji*lat bahkan memberikan gigitan-gigitan yang meninggalkan bercak kemerahan di tubuh putih mulus Natasha. Tangannya yang semula intens bermain di sekitar dada kita mulai turun ke bawah, mengelus paha berkulit halus milik Natasha. dan dengan satu hentakan dia sanggup membuat underwear bagian bawah Natasha sobek.


Andra seolah-olah berubah menjadi sosok iblis jahat yang tak kenal ampun, dia bukan seperti Andra yang Natasha kenal selama ini.


" Jangan Andra, aku mohon jangan ... huhuhuuuu ..." Natasha memukul-mukul tubuh Andra karena posisinya benar-benar sudah dalam bahaya. Natasha benar-benar tidak menyangka Andra sanggup melakukan hal ini terhadap dirinya. Dia memang berharap bisa bercinta dengan Andra, dia memang menginginkan sentuhan Andra, dia menginginkan berbagi gairah dengan Andra, tapi bukan seperti ini. Tidak seperti ini yang dia mau. Dia menginginkan bisa melakukan hubungan intim ini dengan Andra dalam satu ikatan suci pernikahan.


Natasha menyesali ucapannya tadi di atas roof top yang dia duga sebagai penyulut amarah dan gairah Andra. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Dia ingin kembali saat di roof top, dia tidak akan mengucapkan hal itu. Dia tak ingin mengadu ke Mama Andra. Dia tak ingin datang ke rumah Andra. Dan dia juga tidak ingin berkunjung ke kantor Andra. Tapi semua itu sudah terlambat. Natasha hanya bisa berharap dan berdoa ada seseorang yang datang untuk menolongnya keluar dari situasi ini.


" Tolooooonnnggg ...!! Natasha berteriak histeris sekuat tenaga. tapi teriakannya terasa percuma karena selain ruangan itu kedap suara, juga karena kondisi saat ini sudah malam tak banyak karyawan yang masih stay di kantor.


" Berteriaklah ...!! Tak akan ada yang bisa mendengarkan teriakanmu ...!!"  ujar Andra dengan sorot mata sayu penuh gairah


Andra yang semakin tak perduli dengan kondisi Natasha kemudian membuka T-shirt yang dikenakannya, kemudian dia melepas celana panjangnya, hanya menyisakan boxer. Dia kembali menin*dih Natasha memberikan sentuhan-sentuhan kasar ke setiap jengkal tubuh Natasha yang hampir setengah telanjang.


" Andra jangan lakukan ini, aku nggak mau .. .hiks, Papaaa, Mamaaa ... tolong aku ..." lirihnya sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba saja Andra tersadar saat mendengar suara rintihan Natasha memanggil mama papanya.


Andra langsung menghempaskan tubuhnya di samping Natasha. Deru nafasnya turun naik. Dia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berat, saat ini libidonya sedang berada dipuncak. Tapi dia tidak bisa menuntaskan saat ini.


Andra menoleh ke arah Natasha yang masih menangis pilu dengan posisi meringkuk. Dia mengambil pakaiannya yang tercecer, dan segera memakainya kembali. Setelah itu dia pergi beranjak keluar ruangan itu meninggalkan Natasha sendiri.


***


Sepeninggal Andra, Natasha bangkit dan beranjak dari tempat tidur. dia merapihkan pakaian yang tadi dia kenakan kini berantakan dengan beberapa bagian sobek. Dengan perasaan sakit Natasha berjalan keluar dari ruangan Andra. Sungguh Ironis, dalam waktu sehari, dia keluar dari kantor ini dengan kondisi yang memilukan. Siang tadi saat dia menjumpai Andra bercumbu dengan Adelia. Sekarang dia keluar gedung yang sama dengan kondisi lebih memprihatinkan. Untungnya kantor sudah sepi dari para karyawan, hanya satpam yang menjaga yang dia temui saat itu. Tapi Natasha sama sekali tak menggubris sapaan satpam yang menanyakan keadaannya yang kacau saat itu.


" Nal, Tadi itu cewek beneran bukan, ya?" tanya Pak Samsul, salah satu satpam yang jaga. " Gue kaget tiba-tiba keluar dari lift nangis gitu."


" Hush, ngawur! itu cewek beneran lah! Lo pikir apa? Hantu?? Kalau nggak salah itu teman dekatnya Pak Boss." jawab Pak Zaenal, rekannya.


" Oh iya, tadi ada Pak Boss juga, ya? Tapi kenapa mobil Pak Boss sudah keluar lebih dulu, ya? Kenapa cewek itu ditinggal, ya??" tanya Pak Samsul terkesan kepo.


" Mana gue tahu ...."

__ADS_1


" Apa tuh cewek abis digarap  ya, sama Pak Boss?  Terus ditinggal karena servicenya kurang memuaskan? Nggak nyangka gue, Pak  Boss main gituan di kantor."


" Jangan sembarang ngomong lo, Sul. Kedengaran telinga Pak Boss, bisa-bisa dipecat, lo!"


Itulah sebagian percakapan dua orang saptam yang berjaga malam itu saat melihat Natasha.


Dengan berjalan gontai Natasha menyusuri trotoar. Dia melangkah tak tahu hendak kemana. Mobil dan tasnya tertinggal di rumah Andra. Dia mengeratkan pelukan di tubuhnya sendiri. Bukan hanya karena hawa  dingin yang terasa, tapi juga karena berusaha menutupi bagian dadanya yang sedikit terbuka karena di beberapa bagian blouse itu terkoyak.


Tatapan aneh bahkan gunjingan orang yang melintasinya sudah tak dihiraukannya.


" Mbak, Mbak kenapa?"


" Eh, Neng, sendirian aja ...."


" Mampir dulu sini, nemenin abang?"


" Cantik, sih. tapi kaya stress gitu ...."


" Korban perkosaan ya, mbak?"


Dan entah apalagi ucapan-ucapan yang sempat mampir di telinga Natasha. Natasha tak perdulikan, dia hanya terus berjalan dan menangis.


" Wuih ada yang bening, nih ....'


" Suit ... suiiiittt ...."


" Gila Men, bodinya yahut tuh, putih mulus ...."


" Kedinginan, Neng? Sini abang angetin ...."


Tiba-tiba saja beberapa pria sudah mengelilingi dan menghalangi langkah Natasha. Natasha mengedar pandangan dilihatnya sekitar lima orang pria bertubuh kekar bertampang seram dengan beberapa tato yang terukir di tangan mereka. Mereka tertawa dengan pandangan buas menatap ke arahnya. Rasa takut kembali menjalar di hati Natasha.  Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi dengannya setelah ini.


Dia ibarat seonggok daging yang dilempar ke arah sekelompok hewan buas yang kelaparan. Tubuh Natasha bergetar, kepalanya menggeleng  tak bertenaga. Tubuhnya melemas.


" Jangan ... aku nggak mau ..." lirihnya seketika tubuhnya terkulai.

__ADS_1


“ Ya, dia pingsan ..." Ujar salah satu preman  yang berhasil meraih tubuh Natasha sebelum terjatuh ke tanah


" Belum kita apa-apain sudah lemas duluan ...."


" Bagus deh, jadi kita ga butuh perlawanan ...."


" Rejeki nomplok ini ...."


" Nggak tahan gue lihat bodinya, bawaannya pengen ngelonin aja."


" Sama, Bro. Si bungsu udah berontak nih di dalam."


" Bawa kemana nih enaknya?"


" Markas aja deh, markas ...."


" Ya sudah, buruan ...."


" Bro, sini gue  aja yang gendong tuh cewek."


" Udah biar gue aja. Tenang aja, Bro. Ntar juga lo kebagian jatah, kok."


" Ya, sudah ayo ...!"


Kelima orang pria itu baru akan pergi  meninggalkan tempat ketika suara bariton terdengar menghentikan langkah kaki mereka.


" Tolong singkirkan tangan kalian dari wanita itu...!"


Author POV : Eng ing Eng... suara siapakah gerangan??🤔


Babang Andra tega nian dikau


Bersambung....


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2