MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Pindah Ke Apartemen


__ADS_3

" Jadi lo beneran pindah, Ga?" tanya Bang Jamal, saat Yoga dan Natasha berpamitan sore ini.


" Iya, Bang. Tata nggak betah tinggal di gubuk reyot saya, Bang. Makanya minta balik ke apartemennya," ledek Yoga langsung dibalas cubitan Natasha di tangan Yoga.


" Oh, apartemen ... rumah susun itu ya, Ga?" tanya Mpok Ida.


" Da, apartemen ya apartemen, bukannya rumah susun. Apartemen mah buat orang kaya, kalau rumah susun buat rakyat jelata seperti kita." Bang Jamal menjelaskan.


" Mpok Ida benar, Bang. Apartemen itu rumah susunnya orang gedongan." Yoga tertawa menimpali.


" Kenapa mesti pindah, sih, Ta? Padahal Mpok senang banget dapet tetangga cantik kaya lo, Ta." Mpok Ida memeluk tubuh Natasha.


" Nanti Tata juga sekali waktu nginap di sini, Mpok." Natasha mengusap halus punggung Mpok Ida.


" Nggak usah pindah lagi, napa, Ga," protes Mpok Ida.


" Dia malu, Mpok," celetuk Yoga.


" Malu kenapa?" tanya Mpok Ida mengurai pelukan dan memperhatikan wajah Natasha.


" Malu kalau malam, desahannya sampai kedengeran tetangga, Mpok." Yoga tertawa lebar. " Awww ...!" Kemudian dia meringis karena kembali mendapat cubitan dari Natasha.


Bang Jamal dan Mpok Ida pun tertawa melihat pasangan pengantin baru itu.


" Lo udah pinter ngomong gitu sekarang, Ga." Bang Jamal sampai memegang perutnya karena terus tertawa.


" Iya, Bang. Belajar dikitlah, Bang." Yoga menyeringai.


" Eh, Kalian sudah pakai gaya apa saja?" Pertanyaan Mpok Ida sontak membuat ketiga orang yang sedang bersamanya memandang ke arahnya.


" Da ...." Bang Jamal mendelik.


" Apaan, sih, Bang? Sebagai senior kan kita mesti berbagi ilmu dengan junior, Bang." Bang Jamal hanya menggelengkan kepala menanggapi tingkah istrinya. " Kalau dilihat dari postur tubuh Yoga sih, gaya apaan aja kayaknya asyik tuh, Ta."


" Astaghfirullahal Adzim, Da. Istighfar, Da ... istighfar."


" Abang ganggu saja deh," Mpok Ida mencebik. "Ta, nanti kita lanjut chat di WA obrolin hal ininya." Natasha hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Mpok Ida.


***


Sekitar jam delapan malam Natasha dan Yoga sampai di apartemen Natasha.


" Eh, Si Non sudah pulang, " sambut Bi Surti saat mereka berdua masuk ke apartemen. " Bibi turut bela sungkawa ya, Non. Bibi nggak sangka Bapak secepat ini perginya." Bi Surti memeluk tubuh Natasha.


" Iya, Bi. Aku juga nggak sangka papa sekarang sudah nggak ada." Natasha membalas pelukan pelayannya itu.


" Mas ini, bukannya yang waktu itu antar Si Non pulang, ya?" tanya Bi Surti saat menyadari ada orang lain di ruangan itu.


" Iya, benar, Bi" Yoga menyahuti sambil menyalami Bi Surti.

__ADS_1


" Oh iya, Bi. Dia ini Yoga, dia akan tinggal di sini." Kening Bi Surti berkerut mendengar kalau Yoga akan tinggal bersama mereka.


" Tinggal di sini, Non?" tanyanya.


" Iya, Bi. Dia itu ..." Natasha melirik ke arah Yoga sebentar yang sedang memasang seringai menyebalkan. " Dia itu, Suami aku, Bi ..." lanjutnya


" Suami??" Bi Surti terperanjat mendengar pengakuan Natasha.


" Iya, Bi. Kemarin sebelum papa meninggal, papa ingin lihat aku menikah."


Bi Surti memperhatikan dengan seksama sosok Yoga. Dia tahu jika sosok pria yang dicintai Natasha itu bukan pria yang dihadapannya saat ini, tapi kenapa tiba-tiba majikannya itu menikah dengan pria ini? Pria yang terakhir kali dia temui datang bersama Natasha saat Natasha untuk pertama kalinya tidak pulang ke apartemen. Dan saat itu, bukankah pria ini mengaku jika Natasha bersamanya malam itu?


" Dia baik, kok, Bi." Natasha menyentuh bahu Bi Surti, Natasha menyadari tatapan mata Bi Surti yang penuh keraguan terhadap Yoga.


" Oh, maaf, Non."


" Yoga ini berkali-kali nolong aku, saat aku dalam dalam bahaya, bahkan yang hampir merenggut nyawa aku, Bi." Kalimat pujian itu lolos dari bibir Natasha, Tak ada rasa gengsi untuk menepis semua kebaikan-kebaikan yang tak disengaja pria itu kepadanya.


Bi Surti menutup mulut dengan tangannya. " Apa kejadian malam itu, Non?" tanyanya.


" Salah satunya itu, Bi," sahut Natasha.


" Ya Allah, Non. Kenapa Non nggak cerita sama Bibi, Non?" Bi Surti nampak bersedih.


" Sudahlah, Bi. Yang penting aku baik-baik saja sekarang?" Natasha mencoba mengulas senyum.


" Nggak apa-apa, Bi. Panggil saya Yoga saja, Bi, jangan pakai Den segala."


" Nggak enak kalau panggil nama saja, Ya sudah Bibi panggil Mas Yoga lagi saja, ya?" Bi Surti terkekeh, yang disambut anggukan kepala Yoga.


" Aku ke kamar dulu ya, Bi ..." pamit Natasha.


" Oh, silakan, Non."


Natasha melenggang masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Yoga hanya menunggu duduk di sofa ruang tamu.


" Kok, Mas Yoga nggak ikut masuk ke kamar?" toanya Bi Surti heran.


" Saya belum diajak masuk, Bi. Nggak enak kalau langsung nyelonong masuk gitu aja," ujar Yoga enteng.


" Loh, Kalian kan, suami istri ..."


" Iya, sih ... tapi saya takut, Bi."


Alis Bi Surti yang semakin menipis menaut. " Takut? Jangan bilang Mas Yoga itu termasuk ISTI. ya."


" Apa ISTI, Bi?"


" Ikatan Suami Takut Istri." Bi Surti tertawa sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Yoga tergelak mendengar perkataan Bi Surti. " Tapi bisa jadi itu, Bi. Dia itu galak banget, kayak singa betina," bisik Yoga memelankan suaranya.


" Benar itu, Mas. Banyak yang bilang Si Non itu galak dan cerewet, kadang memang bener juga, tapi aslinya sih baik Si Non itu."


" Semalam saya ditendang sama dia, padahal itu di kamar saya sendiri. Bagaimana sekarang di apartemen dia, Bi?" Yoga memasang wajah memprihatinkan.


" Mas Yoga mesti sabar kalau begitu, Mas." Bi Surti kembali terkekeh. " Lalu, Mas Yoga akan tidur di mana sekarang? Masa di kamar tamu, nggak lucu kan, Mas."


" Dia memang mintanya begitu, Bi. Tapi saya menolak. Kalau tidur terpisah, gimana kita bisa berkembang biak?"


Bi Surti spontan terbahak mendengar ucapan Yoga. " Seperti ternak saja berkembang biak, Mas." Bi Surti tak henti tertawa. " Ya sudah, saya ke dapur dulu ya, Mas. Mas Yoga sama Si Non sudah makan belum?"


" Sudah, Bi."


" Ya sudah, Bibi permisi kalau gitu, Mas." Bi Surti pun berpamitan meninggalkan Yoga.


" Ngapain kamu masih di situ? Cepat bawa masuk kopernya." Tiba-tiba suara Natasha terdengar dari arah pintu kamarnya.


" Tunggu ijin penghuni kamar dulu, dong, Aku takut ditendang lagi seperti tadi pagi di kamarku. Sekarang di kamar kamu, aku takut dianiaya melebihi yang terjadi pagi tadi."


" Nggak usah lebay, deh." Natasha memutar bola matanya. " Cepat masuk!"


" Sudah boleh masuk sekarang?"


" Iya."


" Masuk sekarang boleh?" Yoga melangkah mendekat ke arah Natasha sambil menarik koper milik Natasha dan dirinya..


" Iya, cerewet!" Natasha sudah mulai merasa kesal.


" Dimasukin sekarang boleh?" Yoga menyeringai.


" Iya ...! Iya ...! Iya ...! Kamu nggak dengar dari tadi aku bilang iya?!" geram Natasha.


Saat sudah dekat dengan Natasha Yoga mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinga Natasha. " Rupanya istriku ini sudah nggak sabar ya, ingin aku masukin," godanya seraya memberikan kerlingan mata.


Natasha terkesiap mendengar bisikan Yoga, dia baru menyadari maksud dari kata 'Masuk' oleh suaminya itu. Dan dengan cepat tangannya memukul lengan Yoga kemudian bergegas masuk ke dalam kamar. Dan Yoga seperti biasa menikmati kesenangannya dalam menggoda Natasha


*


*


*


Author POV : Digodain terus Kang Ojol, mana tahaaaann🤭


Bersambung...


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2