
Yoga baru saja menyesap kopi saat dia singgah di warung kopi pinggir jalan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Niatnya setelah mampir ke warung dia ingin langsung pulang karena ada beberapa buku yang mesti dipelajari di rumah. Ketika tiba-tiba berjarak sekitar kurang dari lima puluh meter dari tempatnya nongkrong, terlihat beberapa pria yang dia pikir para preman, sedang tertawa dan bersiul mendekati seorang wanita yang terlihat berjalan melewati mereka.
Awalnya Yoga tidak terlalu memperdulikan, tapi ketika terlihat olehnya wanita itu terpojok bahkan menangis membuatnya hatinya tergerak. Dengan langkah pelan dia mendekat. Lima orang preman yang ia lihat di sana. Dia tidak ingin gegabah. Bukan satu dua preman yang akan dihadapinya, belum lagi jika mereka membawa senjata tajam meskipun dia sendiri menguasai ilmu bela diri.
Semakin dekat langkah Yoga , semakin jelas wajah wanita malang itu. Yoga terperanjat saat melihat wanita yang entah sudah berapa kali secara kebetulan bertemu dengannya, dan dalam setiap pertemuannya wanita itu selalu meninggalkan kesan tidak mengenakkan. Tapi Saat ini sedang dalam keadaan ketakutan.
" Tolong singkirkan tangan kalian dari wanita itu ...!" suara bariton Yoga terdengar tegas dengan tangan mengepal saat melihat tubuh Natasha sudah terkulai dalam pangkuan lengan salah satu preman itu.
Beberapa preman itu langsung menolehkan kepala ke arah Yoga.
" Wuih ... ada yang mau ganggu kesenangan kita, nih!" Salah satu preman berambut gondrong itu menyeringai sinis.
" Eh, bocah ... lo mau ikut gabung juga bareng kita?!" tanya preman bertubuh gempal menimpali.
" Sorry, Bang. Saya bukannya mau ganggu, tapi cewek itu teman saya, Bang." Yoga menyahuti dengan nada tenang.
Preman berambut gondrong itu tergelak. " Kalau lo ngaku dia teman lo. gue juga bisa ngaku kalau nih cewek bini gue," ucapnya menyepelekan pengakuan Yoga. Teman-teman preman itu ikut menertawai Yoga.
" Heh, bocah. Lo ganteng ... lo bisa dapetin cewek kaya ini kapan saja. Nah kita?? Jarang-jarang nemu yang beginian, sekali seumur hidup saja belum tentu ..." sahut preman yang mempunyai tato di leher.
" Tapi saya benar-.benar kenal cewek ini, Bang. Saya tahu di mana dia tinggal, Saya tahu di mana dia kerja. Nama dia siapa, bahkan calon tunangan dia juga saya tahu, Bang!" Yoga menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan Natasha yang bisa dibuat bukti untuk meyakinkan para preman itu.
" Halaah ... nggak usah didengar! Paling juga dia mau ngerasain nih cewek sendirian," kata preman yang lainnya.
" Demi Allah, saya nggak punya niat itu, Bang! Saya kenal dia, Bang. Namanya Natasha."
" Sekarang apa buktinya kalau lo kenal dia? Tas aja dia nggak bawa, gimana bisa buktiin??" tanya si preman gempal.
" Eh, tapi benar, nih cewek pakai kalung tulisan Natasha." Preman yang menggendong Natasha menyahuti saat melihat kalung yang melingkar di leher jenjang Natasha memang terukir nama itu.
__ADS_1
" Ah, gue masih kagak percaya. itu bisa aja suatu kebetulan," sergah preman gondrong.
" Abang bisa pegang KTP atau Kartu Mahasiswa saya kalau abang mengira saya ingin mengambil keuntungan dari teman saya itu, Bang." Yoga buru-buru mengeluarkan dompetnya. selain kartu, dia juga mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan sebanyak satu juta rupiah yang baru saja ditariknya dari ATM tadi sore.
" Apaan nih maksudnya?" tanya preman bertato menatap lembaran uang bergambar pahlawan proklamasi yang disodorkan Yoga.
" Anggap saja ini sebagai ganti kerugian kalian semua," ujar Yoga.
" Gimana, nih??" tanya preman bertato melirik teman-temannya.
" Tolong, biarkan saya bawa teman saya itu, Bang. Seandainya cewek itu sanak saudara abang-abang semua, rasanya gimana lihat keluarga sendiri diperlakukan seperti ini??"
" Ya sudah kasih aja tuh cewek, lumayan dapat duit banyak." Preman gondrong langsung merebut uang itu dari Yoga. " Kasih itu cewek ke tuh bocah!" perintahnya pada preman yang dari tadi hoki menggendong Natasha yang pingsan.
Preman itu kemudian mendekati Yoga dan menyerahkan tubuh lemah Natasha ke Yoga. " Buruan bawa pulang teman lo ini. Jangan sampai ketemu preman lain kaya kita di jalan," lanjutnya tertawa.
" Kuy-lah, kita cabut. lumayan bisa buat minum," perintah preman gondrong itu sembari menciumi uang yang diberikan Yoga tadi.
Kemudian Yoga mengarahkan pandangannya ke sosok lemah yang sedang berada dalam rengkuhannya. Wajah cantik wanita itu terlihat pucat. dia sempat melihat beberapa jejak-jejak kemerahan di leher dan pundak wanita itu. Baju yang sobek di beberapa bagian mengekspos keindahan tubuh wanita itu. Siapa pun pria yang melihat sudah pasti akan berpikiran seperti preman-preman tadi.
Yoga bukannya tidak terangsang melihat tubuh indah Natasha, tapi melihat kondisi memprihatinkan wanita yang selalu terlihat angkuh itu tak berdaya ternyata membuat hatinya gelisah. Yoga mengeratkan giginya, rahangnya mengeras, rasa amarah tiba-tiba memenuhi hati dan pikirannya. Siapa orang yang tega melakukan hal seperti ini? itu yang kemudian muncul di kepala Yoga.
Yoga bergegas kembali ke tempat dia menaruh motornya di depan warung kopi
" Ada apa Mas?" tanya beberapa orang yang nongkrong di depan warung itu.
" Teman saya sepertinya abis kena celaka," sahut Yoga. " Pak, punya minyak angin, nggak? Teman saya pingsan." Yoga bertanya kepada pemilik warung.
" Sebentar, Mas." Pemilik warung itu menyahuti. " Bu, Ibu ... ada orang pingsan. Punya minyak angin, nggak??" teriak Pemilik warung ke istrinya. " Dibawa masuk saja dulu temannya, Mas."
__ADS_1
" Terima kasih, Pak." Yoga segera masuk ke bagian dalam warung itu.
" Ditaruh di sini aja, Mas." Ibu warung menunjukan tempat tidur bale berukuran kecil.
Yoga merebahkan tubuh Natasha di atas bale itu. Kemudian melepas jaket hijau identitasnya sebagai driver ojek online untuk menutupi tubuh Natasha. Kemudian dia mendekatkan minyak angin ke dekat hidung Natasha. Beberapa saat menunggu Natasha akhirnya mengerjapkan matanya.
" Jangan ...!! Tolong lepaskan aku ...!! Aku nggak mau, huhuuu ..." Natasha bangkit dengan posisi duduk tangannya memukul-mukul udara sambil teriak histeris.
" Neng, Istighfar, Neng. Istighfar ..." Ibu pemilik warung mengelus pundak Natasha menenangkan gadis itu.
" Huhuuuu ... aku takut, Pa, Ma ... aku takut," lirih Natasha memeluk erat lututnya sendiri.
Sementara Yoga hanya tertegun mendapati fakta Natasha yang terlihat syok seperti itu. Rasanya dia ingin membuat perhitungan kepada orang yang melakukan pelecehan terhadap Natasha.
" Sebaiknya cepat dibawa pulang, Mas. Kasihan ..." ucap Ibu pemilik warung itu kemudian.
Yoga mengangguk sambil mengambil ponselnya. " Pak, posisi ada di mana sekarang?" tanya Yoga pada Pak Teguh di seberang teleponnya.
" Daerah GrogoI, Ga. lagi bawa penumpang. Kenapa, Ga?" tanya Pak Teguh.
" Oh, ya sudah, nggak jadi, Pak." Yoga akhirnya memutus panggilan. Karena saat ini dia hanya membawa motor matic akhirnya dia memutuskan mencari Taksi Argo untuk membawa Natasha. Dan menitipkan motornya itu ke pemilik warung dan berjanji akan mengambilnya esok hari.
*
*
*
Author POV : Kang Ojol... lope lope deh aku padamu😘
__ADS_1
Bersambung...
Happy Reading😘