
" Kamu selalu bilang sudah berjanji pada papaku, aku dengar kamu ucapkan itu pada papa, aku juga dengar kamu berjanji akan menjaga aku, aku dengar saat kamu bilang tak akan menyakiti aku, tapi nyatanya justru saat ini kamu sudah menyakiti hati aku, Ga!" Natasha mencoba menyingkirkan air mata yang mulai membuat pipinya semakin lembab. " Kenapa semua pria tidak pernah bisa tulus menyanyangi aku, baik Andra maupun kamu ..." lirih Natasha dengan memalingkan wajahnya keluar jendela.
" Ta ..." Yoga bergerak ingin kembali merengkuh tubuh Natasha tapi Natasha sudah memberikan perintah.
" Antar aku ke apartemen, aku lelah ... aku mau pulang." Natasha tidak memberikan kesempatan Yoga untuk menyelesaikan kalimatnya.
Yoga tertegun, beberapa saat matanya menatap bahu Natasha yang masih bergetar karena menangis sebelum akhirnya dia kembali melajukan mobilnya menuju apartemen milik Natasha.
Sesampainya di apartemen Natasha langsung berlari menuju kamar, dan mengunci pintu kamarnya itu, dia tak memberi kesempatan Yoga untuk masuk ke kamarnya.
Yoga yang masuk ke apartemen beberapa menit kemudian langsung menghampiri kamar Natasha, dia mendengus saat dia memutar knop pintu kamar Natasha terkunci.
Yoga mencoba mengetuk pintu kamar Natasha, " Ta, tolong buka pintunya, ijinkan aku menjelaskan semuanya, Ta." Yoga memohon agar Natasha membuka pintu kamarnya, tapi tak ada reaksi apa-apa.
" Si Non sudah pulang, Mas?" tanya Bi Surti yang baru keluar dari kamarnya.
" Sudah, Bi. Tapi dia sedang merajuk, saya nggak boleh masuk kamar." Yoga menyahuti.
" Oalah, pasutri muda ngambeknya uwu banget, deh." Bi Surti tersipu.
" Uwu?? Apa itu, Bi?" Yoga mengkerutkan keningnya
Bi Surti terkekeh, " Nggak tahu, Mas, Bibi ikutan sinetron di televisi saja."
" Oh ..." Yoga ber 'Oh' ria.
" Mas sama Si Non sudah makan belum?"
" Belum, Bi."
__ADS_1
" Ya sudah, Bibi siapkan makan siang, ya. Mas Yoga silahkan lanjutkan usaha membujuk Singa Betinanya ..." Bi Surti kembali terkekeh sambil menutup mulutnya.
Sepeninggal Bi Surti, Yoga masih berusaha membujuk istrinya itu dengan mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian usahanya berhasil, karena Natasha kemudian membuka pintu kamarnya.
" Silahkan kamu bawa keluar barang-barang kamu dari kamarku, mulai saat ini kita tidur terpisah, tidurlah di kamar tamu, sampai kau mengesahkan dan mengurus perceraian kita!" ucap Natasha dingin.
" Ta, dengarkan aku dulu ..."
" Mau kamu yang ambil atau aku yang akan lempar semua barang-barang kamu keluar?!" gertak Natasha.
Yoga menatap wajah Natasha yang tak sedikitpun mengarahkan pandangan ke arahnya. Tapi bisa Yoga lihat kesedihan wanita itu. Wajah yang memerah dengan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis membuat hatinya merasa teriris. Kemudian dia melangkah memasuki kamar Natasha dan memasukan beberapa baju dan beberapa barangnya dari kamar Natasha.
" Apapun yang terjadi, aku nggak akan mengabulkan permintaanmu, Ta." ucapnya melangkah mendekat ke arah Natasha. " Aku sudah berjanji pada ...."
" Papa aku sudah meninggal, seandainya kamu mengingkari janji kamu pun papa tidak akan tahu!" tandas Natasha. " Pergilah, dan jangan pernah pakai alasan janji pada papa sebagai tamengmu ...!"
Natasha tertegun, wajahnya menoleh ke arah Yoga, apakah benar yang dikatakan Yoga, bahwa dialah yang dikhawatirkannya. Benarkah yang dikatakan suaminya itu jika dia lah wanita yang disayanginya saat ini. Atau itu hanya alasan Yoga agar dia bisa memaafkan pria itu.
" Aku sudah berjanji di depan penghulu dan juga kedua orang tuamu, dan aku akan pegang janji itu seumur hidupku." Yoga kemudian melangkah pergi meninggalkan Natasha yang masih tercenung.
***
Pukul delapan pagi Natasha keluar dari kamarnya, Dia menuju ke arah meja makan. Sejak kemarin siang dia menyembunyikan diri di dalam kamar, sudah pasti rasa lapar melandanya, meskipun Bi Surti sempat membawakan makanan ke dalam kamar, tapi tak ada satupun yang disentuhnya.
Natasha menyantap roti panggang dan segelas coklat hangat yang dibuatkan Bi Surti untuknya, sementara ekor matanya terus menatap ke arah pintu kamar tamu yang terlihat jelas dari posisi dia duduk saat ini.
" Mas Yoga sudah pergi, Non ..." ungkap Bi Surti yang sepertinya mengetahui kegelisahan Natasha.
__ADS_1
Natasha tak merespon dia masih asyik menguyah makanannya, dia berpikir mungkin Yoga memang pergi terburu-buru ke kampusnya, karena kemarin suaminya itu terpaksa bolos kuliah karena sibuk mencarinya.
" Semalam Mas Yoga pergi membawa kopernya, sebenarnya apa yang terjadi? Maaf kalau Bibi lancang bertanya seperti ini." Bi Surti memberanikan diri bertanya.
" Yoga pergi??" Natasha terkesiap mendengar penuturan Bu Surti.
" Benar, Non. Bibi lihat Mas Yoga sedih banget mukanya. Bibi memang baru kenal Mas Yoga, tapi Bibi merasa Mas Yoga itu orang yang baik, seperti yang pernah Non katakan. Kemarin waktu Non menghilang, Mas Yoga mencari Non sampai dini hari, sampai hampir Shubuh baru pulang ke sini. Setelah Shubuh Mas Yoga langsung pergi cari Non lagi. Biarpun Non cerita kalau Non menikah dengan Mas Yoga karena terpaksa, tapi Bibi bisa melihat Mas Yoga sangat tulus sayang sama Non."
Natasha termenung, Yoga akhirnya pergi, tanpa pamit kepadanya. Apakah pria itu tersinggung dengan ucapannya? Dia menyuruhnya keluar dari kamar, bukan dari apartemennya. Apakah pria itu benar-benar tulus menyayanginya?
Sementara itu beberapa jam sebelumya...
Selepas Isya, Yoga memandang pintu kamar Natasha, sedari siang istrinya itu tidak keluar kamar bahkan untuk sekedar makan. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke rumah kontrakannya, Dia tidak membawa sehelai baju pun selain baju yang dia pakai dari apartemen Natasha. Dia sengaja sembunyikan kopernya di tempat yang tak terlihat oleh Natasha, dia juga meminta Bi Surti untuk berbohong dengan mengatakan dirinya pergi membawa koper. Dia memang tidak berniat meninggalkan Natasha, dia hanya biarkan istrinya itu menenangkan diri.
Jam setengah sepuluh Yoga sampai ke rumah kontraknya, rasa penat yang dia rasakan sejak kemarin siang karena mencari Natasha belum lagi kejadian siang tadi yang harus menimbulkan salah paham antara dia dengan istrinya membuat seluruh tubuh dan otaknya benar-benar lelah.
Yoga menyandarkan tubuhnya ke dinding kamarnya, merenungi apa yang terjadi pada hidupnya beberapa waktu ini. Bisa dikatakan sejak bertemu dengan Natasha, dia seperti terseret kedalam lingkaran permasalahan yang tak henti dengan wanita itu.
Dia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk menerima pernikahannya dengan Natasha, dia berusaha menerima wanita angkuh berwajah cantik itu sebagai wanita yang semestinya dia kasihi. Mungkin tanpa disadari olehnya, rasa itu bukan baru kali ini rasa itu muncul, mungkin sejak pertemuannya beberapa kali yang tak terduga olehnya, wanita itu seperti telah menarik perhatiannya.
Dia pikir dengan perlakuannya dan perhatiannya selama ini, dengan penegasannya tentang janjinya kepada Almarhum papa mertuanya itu Natasha akan mengerti, jika dia mau membantunya atas permintaan Papa Farhan itu bukan hanya sekedar iseng semata.
*
*
*
Author POV : Sini Kang Ojol kalo butuh bahu untuk bersandar, author rela pinjemin, gratis ga pake bayar🤣
__ADS_1
Bersambung...
Happy Reading 😘