
Natasha masih memberengut, bukan karena aktivitas bercintanya tadi terhenti, tapi rasa kesal terhadap Yoga yang lalai mengunci pintu ruang kerjanya, hingga akhirnya perbuatan bermesraan mereka harus kepergok oleh Sinta.
" Sudah jangan cemberut seperti itu. Kalau kamu mau lagi kita bisa mengulang nanti di rumah." Yoga menyeringai, saat keluar dari toilet di ruang kerja Natasha. Setelah aksi cumbu mereka dilihat Sinta, mereka segera mengakhiri aktivitas itu dengan Natasha yang mengumpat, sementara Yoga yang belum mencapai pelepasannya memilih bersolo karir di toilet.
" Ini semua gara-gara ulah kamu. Aku tadi sudah bilang pintu belum dikunci." Natasha terus menggerutu.
" Mana aku tahu anak itu mau masuk ke sini." sergah Yoga.
" Bukannya kamu bilang kamu suruh dia siapin baju untukku?!"
" Iya, tapi aku sudah bilang ke dia, sebelum dipanggil jangan masuk kesini dulu. Salahkan dia yang sudah lancang melanggar aturan." Yoga tetap tak ingin disalahkan.
" Kalau sudah begini aku jadi malu, bagaimana jika Sinta cerita ke pegawai lain, terus aku digosipkan mereka berbuat mesum ..." Natasha menutup wajah dengan telapak tangannya.
" Kamu ini pintar dikit, dong! Kamu ini Boss di sini, Kamu bisa sedikit mengancam dia untuk merahasiakan apa yang kita lakukan tadi."
" Iya, mungkin bisa mengancam dia untuk tutup mulut kepada orang lain, tapi nggak menjamin nanti dia bisa tutup mulutnya sendiri untuk meledekku." Natasha mencebik. Dia kenal karyawannya yang satu itu memang sangat iseng dan usil jika menggodanya.
Yoga tergelak mendengar ocehan istrinya itu. " Aku baru tahu ternyata kau sangat penakut terhadap karyawan mu sendiri." Tangan Yoga kemudian melepas scarf yang melingkar di leher Natasha. Seulas senyuman mengembang di bibirnya melihat tanda percintaan yang dia cetak di leher wanita itu.
" Kenapa ditutupi? Karyaku ini bagus, kenapa mesti disembunyikan?" Natasha berdecak saat Yoga berusaha menyingkirkan scraf yang sengaja dia pakai untuk menutupi jejak-jejak kenakalan suaminya itu.
" Kamu ingin aku jadi bahan pergunjingan pegawaiku karena berbuat mesum di tempat kerja?!" Natasha mendelik kesal, merapihkan kembali scraf seperti semula. Sementara Yoga hanya terkekeh menanggapinya.
Tok tok tok..
" Ada apa lagi itu anak? Mau digantung dia rupanya! Besok-besok aku tempel stiker atau pasang banner DON'T DISTURB sekalian di depan pintu ruangan kamu kalau aku ada di sini!" umpat Yoga kesal.
Natasha yang sebenarnya juga masih kesal karena perbuatan memalukannya itu kepergok Sinta, tidak bisa menahan senyuman mendengar keluhan suaminya itu. " Masuk ..." ucapnya, setelah dari tadi ditunggu tidak ada yang muncul dari balik daun pintu.
Tak lama kemudian munculnya Sinta yang berjalan perlahan sambil menundukkan kepala. " Maaf, Bu ... maaf, Mas ... atas kelancangan saya tadi. Saya tidak lihat apa-apa, kok!"
" Kalau tidak lihat apa-apa kenapa tadi kamu lari?!" Yoga menanggapi perkataan Sinta dengan sebuah pertanyaan.
" Ta-tadi saya hanya kaget saja, Mas."
" Kaget? Memangnya kenapa kamu tadi kaget?!" tanya Yoga lagi penuh intimidasi.
" I-itu karena ta-tadi saya li-lihat penampakan." Sinta langsung menutup mulut dengan tangan setelah melontarkan kalimat yang dia ucapkan dengan terbata.
" Penampakan?! Kamu pikir kita ini mahluk halus, hahh?!" seru Yoga menampilkan ekspresi marah, padahal dia hanya iseng menggoda. Dalam hati dia ingin tertawa melihat wajah ketakutan Sekretaris istrinya itu.
" Maaf, Mas ..." Wajah Sinta semakin menunduk.
" Kamu tahu hubungan saya dengan Boss kamu?"
" Iya, Mas ..."
__ADS_1
" Iya apa??"
" Iya, saya tahu Mas Yoga suaminya Ibu Natasha."
" Kalau kamu tahu, berarti kamu juga tahu apa yang saya lakukan tadi dengan Boss kamu itu suatu hal yang halal, kan?!"
" Iya, Mas. Saya tahu apa yang dilakukan tadi memang halal."
" Kamu tahu apa yang kami lakukan tadi?!"
" Iya, Mas ..."
" Kamu tahu, tapi kenapa tadi kamu bilang nggak melihat apa-apa?!"
Sinta langsung mendongakkan kepala merasa terjebak dengan pertanyaan Yoga. " Maaf, Mas ...."
" Sudah, sudah ... kamu kembali ke tempatmu sana!" Natasha yang sedari tadi menjadi pendengar memerintahkan Sinta untuk kembali ke tempatnya. " Tapi ingat, Sin. Jangan sampai apa yang kamu lihat tadi kamu sebarkan ke orang lain, paham?!"
" Paham, Bu ...."
" Kalau kamu melanggar, gaji kamu dipending sampai lebaran tahun depan!" Yoga menimpali.
" I-iya, Mas ... saya paham," jawab Sinta. " Suami-Istri sama saja tukang ancam," gerutu Sinta dalam hati.
" Ya sudah balik sana ke mejamu!" perintah Yoga lagi.
" Baik, Mas ..." Sinta pun berjalan keluar ruangan, tapi kemudian dia kembali masuk ke ruangan Natasha.
" Maaf, Bu ... saya lupa, sebenarnya tadi saya ingin memberi tahu kalau ada tamu yang ingin bertemu." Sinta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sementara Natasha dan Yoga hanya menggelengkan kepala dan memutar bola matanya menanggapi tingkah Sinta.
" Tamu siapa?" tanya Natasha kemudian.
" I-itu, Bu. Tuan Gavin."
" Tuan Gavin?"
" Iya, Bu ..."
" Kita nggak punya janji sama dia hari ini, kan?'
" Nggak ada, Bu ...."
" Tuan Gavin itu siapa?" tanya Yoga penasaran.
" Dia relasi bisnis aku, istrinya yang kemarin kasih modal buat bangun cabang butik aku di Bogor." Natasha menjelaskan.
__ADS_1
" Bogor??"
" He-em ...."
" Ya sudah kamu temui saja dulu, siapa tahu ada hal penting yang ingin dia sampaikan." Yoga memberikan ijin kepada Natasha untuk menemui relasi bisnisnya itu.
" Ya sudah, Sin. Suruh dia masuk saja ..." perintah Natasha.
" Baik, Bu ..." Sinta pun kembali keluar ruangan Natasha untuk memanggil Gavin yang menunggu di bawah.
" Setelah ini apa masih ada jadwal ketemu relasi bisnis kamu yang lain?" tanya Yoga merengkuh pinggang Natasha.
" Nggak ada, kenapa?"
" Kalau begitu setelah urusanmu selesai dengan Tuan Gavin itu, kita langsung pulang saja, kita lanjut yang tadi di apartemenmu." Yoga menaik turunkan alisnya menggoda.
" Mesum ..." Natasha memukul lengan Yoga melingkar di pinggangnya.
" Tapi kamu suka, kan?" Yoga mengkerlingkan matanya.
Natasha memutar bola matanya. " Lepaskan tanganmu, sebentar lagi mau ada tamu, jangan sampai kita kepergok Sinta lagi."
Yoga terkekeh mengurai pelukannya. " Ya sudah, aku tunggu di bawah saja, ya. Aku sama Pak Joko saja ngobrol di depan."
" Kamu di sini saja ..." Natasha mencegkram tangan Yoga melarangnya untuk pergi. " Temani aku disini ..."
Yoga tersenyum. " Rupanya istriku ini tak betah jauh-jauh dari suaminya yang ganteng ini. ya?"
Natasha berdecak. " Aku hanya merasa tak nyaman saja jika harus berdua dengan Tuan Gavin."
Yoga yang menyadari ada kegusaran di wajah Natasha langsung memahami apa yang diinginkan istrinya itu. " Baiklah, aku temani kamu di sini." Yoga lalu beranjak menuju sofa yang tadi sempat dipakai untuk melakukan aksi panasnya dengan sang istri.
Sementara terdengar suara pintu di ketuk, dan muncul lah Sinta yang mempersilahkan Gavin masuk ke ruangan Natasha.
" Selamat siang Tuan Gavin ..." sapa Natasha berusaha ramah.
" Selamat siang Alexa." balas Gavin " Wow ... kau terlihat cantik siang ini ..." Gavin melebarkan senyuman menatap penuh kekaguman pada sosok wanita yang akhir-akhir ini sudah mencuri perhatiannya.
*
*
*
Author POV : Jreng...jreng...jreng..!! Bakal ada adu jotos lagi kah seperti kemarin??š
Author mau beli lakban dulu yaa buat nutup mulut Sinta ya, biar ga bocorš¤£
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš