
" Ingat tempat ini, Yank?" tanya Yoga saat mereka berdua menunggu pesanan makanan datang.
"Kita 'kan biasa makan di sini, Mas." Natasha menjawab seraya mengikat rambutnya.
" Ini tempat kita pertama kali makan siang sebagai suami istri" ucap Yoga.
" Bukan pertama kali itu waktu di kafe dekat kampus kamu ya, Mas?" Kening Natasha berkerut.
" Setelah kita resmi menikah, Sayangku. Waktu di kafe itu sih waktu tragedi empat puluh juta kamu minta bantuan aku buat dapetin calon tunanganmu." Yoga terkekeh.
" Aiissshh, nggak usah ingat hal itu lagi, deh. Alergi aku ..." Natasha mengedikkan bahunya.
" Kamu sendiri yang nyinggung soal kafe." Yoga mengacak rambut Natasha. " Kamu ingat tempat ini waktu kita makan siang pertama kali setelah menikah, lalu kamu menyodorkan surat kesepakatan ke aku. Kamu ingat? Kamu buat peraturan yang konyol."
" Hahaha ... ah iya kamu benar, tapi pada kenyataannya nggak ada satu poin pun yang kamu patuhi."
" Di mana surat itu sekarang? Masih kamu simpan?"
" Sudah aku robeklah sudah lama banget."
" Kirain masih kamu simpan, buat dokumen gitu. Biar anak-anak tahu, kelakuan konyol Mamanya." Yoga kembali tergelak.
" Iiissshh ... kamu ini senang banget godain aku, Mas." Natasha mencebikkan bibirnya.
" Dari pada aku goda cewek lain."
" Coba saja kalau berani!" Natasha langsung melotot.
" Bercanda sayangku, nggak mungkin aku goda-goda wanita lain." Yoga merengkuh pundak Natasha dan mengecup pipi sang istri.
" Kamu itu biasa banget ya nggak lihat-lihat tempat. Malu tahu dilihat orang," protes Natasha.
" Biar orang tahu kita ini pasangan bahagia." Yoga tergelak hingga membuat Natasha tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
***
" Ma, sini Kia bisikin," ucap Azkia saat Natasha masuk ke dalam kamar Azkia untuk mengecek apakah anak-anaknya itu sudah tidur atau belum.
" Kia ...!!" Alden yang melihat adiknya itu ingin menyampaikan sesuatu yang tidak disukainya langsung memprotes.
" Bisikin apa, sih? Ada rahasia apa, nih?" Natasha langsung mendekat ke arah putrinya itu, sedang Alden langsung memasang wajah masamnya lalu berlalu dari kamar Azkia menuju kamarnya di sebelah.
" Kok Kak Alden marah gitu? Ada apa memangnya, Sayang?" Natasha langsung duduk di tepi tempat tidur Azkia.
" Hmmm, Mama tadi dapat salam dari Om Radit," bisik Azkia.
" Astaga ..." Natasha langsung menutup mulutnya mendengar berita yang disampaikan oleh anaknya itu.
__ADS_1
" Kia, Sayang ... apa Kak Alden tahu soal ini?"
" Iya, Kia kasih tahu Kak Alden, Ma. Memangnya kenapa, Ma?"
" Sayang lain kali kalau ada hal seperti ini jangan bilang kakakmu, ya. Lalu jangan terlalu dekat juga dengan Om Radit itu. Mama nggak mau papa jadi marah sama Mama karena hal ini."
" Memangnya kenapa, Ma? Kan Mama juga sering dapat salam dari Ibu guru Gladys, Ibu guru Florence ..." tanya Azkia kritis.
" Kalau yang titip salam ke Mama ibu guru nggak apa-apa, tapi kalau yang titip salamnya laki-laki itu nggak boleh, Sayang." Natasha mencoba menjelaskan.
" Tapi Om Gavin juga sering bilang titip salam buat Mama sama papa, Om Gavin itu 'kan laki-laki."
" Om Gavin itu 'kan masih saudara Mama, jadi nggak masalah, kalau Om Radit itu 'kan orang lain, jadi nggak boleh kasih salam ke Mama."
" Oh gitu, ya?"
" Iya, Sayang ... Makanya kalau Om Radit titip-titip salam lagi, Azkia tolak, ya. Jangan bilang ke Kak Alden apalagi ke papa."
" Siap, Ma. Nanti kalau Om Radit titip salam, Kia bilang saja, Om nggak boleh titip-titip salam ke Mama Tata nanti Papa Yoga marah."
" Sip," Natash mengacungkan jempolnya. " Pintar banget cantiknya Mama Tata ini. Sekarang Kia tidur ya, biar besok nggak bangun kesiangan." Natasha mengecup kening Azkia dan menyelimuti Azkia lalu menyalakan lampu tidur.
" Baca doa sebelum tidur jangan lupa ya, Sayang," ucap Natasha sebelum meninggalkan kamar Azkia.
Selepas dari kamar Azkia, Natasha menyempatkan diri masuk ke kamar Alden.
" Kak, sudah tidur?" tanya Natasha saat kamar Alden dan Abhi sudah gelap
Natasha lalu beranjak ke arah kamarnya. Dia mendapati Yoga yang sedang berselonjor sambil memeluk Aulia yang tertidur dalam pelukannya.
" Aulia sudah bobo, Mas?" tanya Natasha kepada Yoga.
" Sudah sejak tadi." Yoga menjawab.
Natasha pun meraih tubuh Aulia dan menaruhnya di box bayi. Selepas mengusap dan mengecup pipi gembul Aulia, Natasha menyibak selimut dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
" Ada apa?" tanya Yoga.
" Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya ingin terus begini selamanya dengan kamu."
" Insya Allah kita akan begini sampai kakek nenek sampai anak-anak kita menikah dan kita punya cucu yang banyak." Yoga membelai pucuk kepala istrinya lalu memberikan kecupan yang sangat dalam di kening Natasha.
***
" Bu, gaun kiriman perancang baru itu banyak peminatnya, kayanya kita mesti minta tambah beberapa items lagi deh, Bu," ujar Sinta saat dia berada di ruang kerja Natasha.
" Benarkah? Ya sudah nanti aku telepon orangnya, deh." Natasha menyahuti.
__ADS_1
Tok tok tok
" Permisi, Bu. Ada kiriman bunga untuk Ibu," salah seorang pegawai Natasha membawakan buket bunga mawar merah.
" Ciee, tumben banget ada yang kirim Bu Nat buket bunga." Sinta mengomentari seraya menerima buket yang diserahkan pegawai tadi.
" Iya, benar banget, ya. Siapa juga yang nyasar kasih bunga ke aku?" Natasha kini menerima buket itu yang disodorkan oleh Sinta.
" Ada kartu ucapannya, coba lihat dari siapa, Bu? Kali saja buket itu sebenarnya buat saya." Sinta berseloroh.
Natasha lalu menarik kartu ucapan yang tertempel di buket itu.
From : Raditya
" Oh, astaga ...!!" Natasha langsung melempar kartu ucapan dan bunga yang tadi digenggamnya.
" Dari siapa, Bu?" Sinta merasa heran karena Natasha terlihat kaget saat membaca kartu ucapan itu. Sinta pun kemudian meraih buket dan kartu ucapan yang dibuang Natasha.
" Raditya? Dia siapa, Bu?" tanya Sinta mengeryitkan keningnya.
" Orang gila ...!!" celetuk Natasha.
" Orang gila? Ibu punya penggemar orang gila?"
" Cepat kamu singkirkan bunga itu, Sin. Sebentar lagi suamiku datang, jangan sampai dia tahu ada yang mengirim bunga untukku," perintah Natasha.
" Tapi Raditya itu siapa, Bu? Saya baru dengar namanya."
" Dia pelatih karatenya Alden dan Azkia. Jadi waktu aku jemput anak-anak aku 'kan lari karena aku lihat padepokannya sudah sepi. Lalu karena terburu-buru aku hampir jatuh dan orang itu menahan tubuhku. Terus sudah nggak tahu, dia orang sampai bilang Mama Azkia cantik, sampai berani titip salam segala, sekarang malah kirim bunga kemari." Natasha menjelaskan.
" Kok dia tahu Ibu di butik ini?" selidik Sinta.
" Beberapa hari lalu dia dan ibunya datang kemari. Suamiku sampai marah karena Alden mengadukan jika orang itu mencoba mendekatiku, Sin."
" Dia tahu Ibu sudah menikah, tapi masih berani dekati Ibu. Nekat itu orang. Awas lho, Bu ... siapa tahu dia psycho."
" Iisshh, kamu jangan menakuti aku seperti itu, deh. Sudah sana buang buketnya jangan sampai papanya Alden curiga."
" Baik, Bu." Sinta pun lalu keluar ruangan Natasha sambil membawa mawar itu juga kartu ucapannya.
***
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️