MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Gelisah


__ADS_3

" Bu ... Ibu nggak pulang?" tanya Sinta kepada Natasha yang sedang duduk dengan wajah menelungkup di atas lengannya yang dilipat di atas meja.


Natasha mengangkat wajahnya. " Yoga sudah datang, Sin?" tanya Natasha dengan suara seakan tertahan di hidung karena banyak menangis.


" Belum, Bu." Sinta kemudian mendekat ke arah Natasha. " Sudah hampir jam tujuh lho, Bu. Kalau saya lihat bagaimana raut wajah Mas Yoga waktu keluar dari ruangan Ibu, ditambah lagi sampai jam segini Mas Yoga belum datang juga, saya rasa Mas Yoga nggak akan datang menjemput deh, Bu. Jadi menurut saya, sebaiknya Ibu pulang saja, dari pada nanti kemalaman."


" Aku tunggu sebentar lagi deh, Sin. Kamu kalau mau pulang dulu nggak apa-apa."


" Saya temani Ibu saja ya, kalau begitu."


" Nggak usah, Sin. Kamu pulang saja,"


" Beneran Ibu nggak apa-apa?" Sinta merasa tak yakin Boss nya itu baik-baik saja.


Natasha mengangguk pelan.


" Ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang ya, Bu." Sinta kemudian meninggalkan ruang kerja Natasha.


Sepeninggal Sinta, Natasha beranjak menuju arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. Dia memutuskan akan menunggu Yoga sampai jam setengah delapan, jika Yoga tidak juga menjemput, baru dia akan pulang.


Setengah jam berlalu....


Natasha mendengus kasar, sampai saat ini suaminya itu tak kunjung datang menjemputnya, bahkan sekedar chat mengatakan tak bisa menjemput pun tak ada di ponselnya. Natasha sudah bisa menduga jika Yoga bergitu marah kepadanya. Akhirnya dengan langkah gontai Natasha meninggalkan butiknya.


Tepat jam delapan mobil yang dikendarai Natasha sampai di rumah Yoga. Dia melepas safe belt kemudian turun dari mobilnya.


" Kakak Ipar ...!"


Langkah Natasha terhenti saat mendengar seseorang meneriakkan namanya. Walau baru satu kali bertemu tapi Natasha hafal itu suara siapa. Sebenarnya Natasha agak malas untuk menoleh, untuk menghadapi orang-orang seperti pemilik suara tadi, harus dengan hati yang tenang, sedangkan saat ini hati dia sendiri sedang merasa kacau.


" Kak Ipar, ini kado dari aku untuk kalian." Terlihat Cindy membawa kotak berukuran sekitar empat puluh sentimeter tiap-tiap sisinya.


" Makasih, kamu mestinya nggak perlu repot-repot." Natasha menerima hadiah yang diberikan Cindy berbasa-basi.


" Kakak Ipar kenapa? Kakak Ipar habis nangis, ya? Pasti karena Kak Yoga, kan? Kak Yoga selingkuh lagi, iya, kan?" celetuk Cindy terkekeh.

__ADS_1


Natasha mendelik ke arah Cindy.


" Eh, maaf Kakak Ipar bukannya Cindy tertawa di atas kesedihan Kakak Ipar, anggap saja kita satu sama. Kemarin pasti Kak Yoga sama Kakak Ipar tertawa di atas tangis aku, kan?!" Cindy berkacak pinggang. " Karma does exist," ucap Cindy terkekeh sambil membekap mulutnya sendiri, membuat Natasha hanya memutar bola matanya.


" Bercanda Kakak Ipar." Cindy langsung memeluk tubuh Natasha. " Oh ya, Kak Yoga mana? Kok nggak bareng Kakak Ipar pulangnya?"


Natasha diam tak menjawab, dia juga sebenarnya tidak tahu Yoga ada dimana? Apakah pria itu sudah pulang atau belum dia juga tidak tahu.


" Kakak Ipar sama Kak Yoga sedang marahan, ya?" Cindy merenggangkan pelukannya saat dilihatnya Natasha kerepotan memegang kada darinya saat dia memeluk Natasha tadi.


" Kenapa masih panggil aku Kakak Ipar? Apa kamu masih minat jadi istrinya Yoga?"


" Iisshh ... begini-begini, anti aku sama pelakor. Aku kan sekarang sudah nggak mungkin jadi istrinya Kak Yoga, jadi sekarang aku milih jadi adiknya Kak Yoga saja, Jadi aku kan tetap panggil Kak Natasha Kakak Ipar."


" Oh gitu ... Ya sudah, aku ke dalam dulu, ya." pamit Cindy.


" Oke, Kak." Cindy pun terlihat berlari kecil kembali ke rumahnya.


Natasha berjalan ke arah pintu dan menekan bel, tak lama pintu rumah dibuka Ibu Ratna.


" Assalamuaikum, Bu ..." sapa Natasha saat melihat Bu Ratna.


" Memang Yoga belum pulang ya, Bu?" Nada bicara Natasha terdengar kecewa.


" Belum, Non. Memang nya ada apa, Non?" tanya Bu Ratna, tapi tak digubris Natasha karena terlanjur meninggalkan Ibu Ratna.


Natasha memasuki kamar Yoga, dia meletakan dus pemberian dari Cindy di atas nakas. Dia hanya menaruhnya tapi enggan membukanya.


Perlahan dia membuka tas mencari ponselnya, tapi dia kembali kecewa karena tidak ada satu pun pesan terkirim dari Yoga.


Natasha gamang, dia ingin sekali menghubungi suaminya itu, tapi dia takut emosi Yoga belum reda. Satu jam berlalu bahkan dia belum sempat mengganti pakaiannya, dia hanya melakukan aktivitas berulang, duduk di tepi tempat tidur, berjalan bolak-balik, mencari udara di balkon, seperti itu terus beberapa kali dia lakukan, tapi yang ditunggu tak juga datang. Natasha merasa jika Yoga memang benar-benar kecewa kepadanya.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Natasha keluar dari kamar Yoga sambil membawa kembali sling bag nya


" Lho, Non Tata mau kemana?" tanya Bu Ratna terheran melihat Natasha kembali keluar dari kamar masih mengenakan pakaiannya yang sama dan membawa tas.

__ADS_1


" Aku akan ke apartemen, Bu. Kalau Yoga datang dan tanya aku, bilang saja aku ada di apartemen ya, Bu." lirih Natasha.


" Tapi, Non ...."


" Aku pamit ya, Bu. Assalamu'alaikum ...."


" Waalaikumsalam ... hati-hati, Non."


Natasha bergegas menuju mobilnya mengendarainya dengan kecepatan sedang menuju apartemennya. Saat mobilnya berhenti di traffic light, dia selalu mengecek ponselnya untuk melihat apakah Yoga menghubunginya atau tidak, tapi dia kecewa karena tak juga ada telepon atau chat masuk dari suaminya itu.


Sesampainya di apartemen dia langsung menuju kamarnya, Bi Surti sejak kemarin pulang ke kampung karena ada anaknya yang sakit, karena itu apartemennya terasa sepi.


Natasha menghempaskan tubuhnya, sesekali dia memijit pelipisnya. Dia merenungi nasib pernikahannya, baru berjalan hampir tiga minggu usia pernikahan dia dan Yoga, waktu yang sangat singkat, tapi dalam waktu yang singkat itu entah berapa kali terjadi salah paham di antara mereka yang akhirnya berujung pertengkaran, dan pertengkaran kali ini yang membuat hatinya terasa gelisah.


" Melihat kamu memilih orang lain untuk menceritakan masalah kamu, aku merasa seakan tidak dianggap sebagai suami. Melihat kamu memilih orang lain untuk membantu kamu, aku merasa aku nggak dihargai sebagai seorang suami. Dan saat orang lain itu berhasil membantu kamu, aku benar-benar merasa gagal dan tidak berfungsi sebagai suami kamu. Lantas kamu anggap aku selama ini apa, Natasha?! Apa fungsi aku hanya mampu untuk menerima kebutuhan biologis saja sehingga aku dianggap tidak mampu menjalankan kewajiban lahirku dan tanggung jawabku sebagai seorang suami?!"


Jujur aku sangat kecewa sama kamu Natasha, dengan tidak keterbukaan kamu terhadap masalah kamu ke aku, lantas apa fungsinya kita menikah? Apa fungsi aku sebagai suami kamu??Apa kamu menganggap aku hanya mampu berbagi kesenangan di ranjang semata?!"


Kata-kata yang Yoga ucapkan tadi siang benar-benar sangat menohok hatinya. Apakah seburuk itu kah dia memperlakukan suaminya? Dia sama sekali tidak bermaksud untuk tidak menghargai Yoga. Sebenarnya dia hanya tidak ingin terlalu merepotkan suaminya itu. Dia tahu jika dia menceritakan pada Yoga, Yoga pasti akan meminta bantuan orang tuanya. Natasha tidak meragukan kemampuan keuangan orang tua Yoga. Dia cuma menjaga supaya tidak semakin terlihat buruk di depan mamih mertuanya.


Apa jadinya jika Mamih Ellena tahu, Yoga meminjam uang sebesar itu untuk melunasi hutang butiknya? Apa Mamih Ellena tidak akan semakin menekannya? Apa Mamih Ellena tidak akan semakin membencinya?


" Aku nggak ada maksud untuk mengabaikan kamu, Ga. Aku bahkan nggak meragukan tanggung jawab kamu sebagai seorang suami. Kamu selama ini sudah terlalu baik sama aku, kamu sudah banyak membantu aku. Selamanya aku mengganggap kamu adalah dewa penolong yang Tuhan hadirkan untuk aku. Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu, Ga?" gumam Natasha yang dibarengi Isak tangis yang akhirnya kembali pecah.


*


*


*


Bersambung....


Kang kamu dimana? jangan marah-marah gitu dong, sini peluk Mak aja kalo lagi kesel Ama Neng Tata😘 daripada digondol ama Mak Yura😜😂


Saudaraku sebangsa dan setanah air 🤭 Jika berkenan tengok Novelku yang lain ya, makasih🙏😘

__ADS_1



Happy Reading😘


__ADS_2