MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Patah Hati


__ADS_3

Sinta memperhatikan Ibu Bossnya yang sedari tadi melamun, kadang sekali waktu terlihat tersenyum sendiri. Sinta juga memperhatikan Bossnya itu yang hari ini mengenakan mini dress dengan kerah turtleneck warna hitam. Dia sampai memutar bola matanya saat beberapa kali Natasha tak merespon ucapannya.


" Bu? Ibu baik-baik saja, kan?" Sinta mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Natasha. " Ya Tuhan, semoga Bu Nat nggak kesurupan."


" Siapa yang kesurupan, Sin? Karyawan kita ada yang kesurupan? Di mana??" Ternyata Natasha tersadar dengan kata terakhir yang diucapkan Natasha.


" Karyawan kita nggak ada yang kesurupan, Bu." Sinta kembali memutar bola matanya.


" Lalu tadi kamu bicara kesurupan itu apa maksudnya?"


" Itu, ibu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?"


Natasha menautkan alisnya. " Masa, sih? Kamu salah lihat mungkin..." sangkalnya.


" Salah lihat gimana, Bu? Saya dari tadi bicara saja, ibu nggak merespon, kok," sergah Sinta. " Tadi itu, ibu melamun sambil senyum-senyum. Wajah ibu itu, nggak seperti orang patah hati karena putus dengan Pak Andra, tapi seperti orang yang sedang jatuh cinta." Sinta mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Natasha. " Memang sedang kasmaran dengan siapa nih, Bu? Nggak mungkin sama Pak Andra dan Tuan Gavin, kan?" Sinta menaik turunkan alisnya berulang-ulang.


" Iihh ... kepo, deh." Natasha mendorong tubuh Sinta yang mendekat kepadanya.


Sinta tergelak. " Berarti benar, kan? Ibu sedang jatuh cinta? Ciee ... ciee ... yang lagi kasmaran, sama siapa. tuh?" Sinta tidak berhenti meledek Natasha.


" Mau aku pending, gaji kamu sampai lebaran tahun depan?!" ancam Natasha.


" Ampun, Bu. Jangan." Sinta mengatup kedua tangan di dekat dadanya.


" Sudah sana kerja, jangan kebanyakan gosip terus." Natasha mengibas tangannya ke udara, memberi kode supaya Sinta segera keluar dari ruangannya.


Selepas kepergian Sinta dari ruangannya, Natasha menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. Entah kenapa, bayangan-bayangan kejadian semalam selalu menari-nari di benaknya.


" Aaahhh, kenapa aku jadi begini." Natasha menutup wajah dengan telapak tangannya. " Dasar, Yoga gila ..." Natasha mengingat tadi pagi saat dia bercermin di kamar mandi, dia banyak mendapati tanda merah di sekitar tubuh terutama bagian sekitar Dada dan lehernya. Sampai dia harus memakai baju berkerah Turtleneck untuk menutupi jejak-jejak percintaan dirinya semalam.


Dddrrrtt..ddrrrttt...


Natasha mengambil ponselnya, dia melihat notif pesan WhatsApp, ternyata Pria yang sedang dipikirkannya yang mengirim pesan.


***


Yoga meraih ponselnya, dia berencana mengajak makan siang Natasha, dengan cepat dia mengirimkan pesan kepada wanita cantik yang pertama kali dijumpai saat dia sedang melakukan tugas sebagai Driver ojek online.


" Assalamualaikum, Bunda sayang, hari ini kita makan siang di mana?"


" Waalaikumsalam,  terserah ..."


" Bunda mau makan apa?"


" Kamu sendiri mau makan apa?"


" Aku mau makan Bunda😘


" Dasar mesum, cabul😠


" 😘😘😘😘 Nanti aku jemput ke sana, ya?!Emmuuaacchh *kecup basah😜


Yoga terkekeh tak melihat balasan Natasha lagi. Tak lama dia memasukan kembali ponsel ke saku Jeansnya. Dan berjalan memasuki toilet, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat dia mendengar suara Isak tangis dari toilet wanita.


Yoga semakin menajamkan pendengarannya, untuk memastikan memang ada suara orang menangis. Yoga menunda rencananya ke toilet pria. Dia memilih menunggu siapa orang yang menangis di dalam toilet itu.

__ADS_1


Tak berapa lama, keluar seorang gadis cantik dengan wajah tertunduk dari dalam toilet. Yoga menautkan kedua alisnya saat dia mengenali sosok wanita itu.


" Adel ...??" Yoga terperanjat saat dia mendapati wanita yang keluar dari toilet itu adalah wanita yang sangat spesial untuknya, apalagi saat dia melihat Adel berjalan menunduk. Sementara wanita yang dipanggil Adel itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


" K-kak Yoga??" Adelia terkejut melihat Yoga yang sudah berdiri di hadapannya, buru-buru dia menghapus air matanya.


" Kamu kenapa, Del? Kamu menangis?" tanya Yoga menyelidik saat terlihat olehnya mata wanita cantik itu memerah, menandakan bahwa dugaannya mendengar suara isak tangis di dalam toilet wanita itu memang benar.


" Nggak, Kak. Aku nggak menangis, kok." Adelia memaksakan senyuman. " Ini cuma kena debu." Adelia mengibaskan tangan di dekat wajahnya.


" Kamu nggak bisa bohong dari aku, Del." Yoga tetap yakin ada yang disembunyikan Adelia. " Cerita sama aku ada masalah apa? Aku nggak pernah kamu seperti ini."


Adelia kembali menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan-pertanyaan Yoga, dia memang selama ini tidak pernah berbohong kepada pria itu, mungkin itulah yang membuat Yoga mencurigai, jika saat ini dia tidak berkata jujur.


" A-aku ...."


" Kita bicara di taman saja, ya? Kamu tunggu di sini, aku mau ke toilet sebentar,"


" Nggak usah, Kak. Nggak enak kelihatan teman-teman kampus."


" Nggak enak sama teman kampus atau takut ketahuan pacar kamu?" Yoga tersenyum menggoda. dia lalu melirik jam di tangannya, dia pikir masih ada waktu sebentar untuk mendengarkan curhat Adelia, sebelum dia menjemput Natasha makan siang. " Ya, sudah, kita ke kafe depan saja. Aku ke toilet dulu." Yoga bergegas ke toilet melakukan apa yang tadi masih bisa ditahannya.


" Yoga ...!" teriak salah seorang mahasiswa saat Yoga selesai dari toilet. " Dicariin Pak Yudi, tuh!" ucap Mahasiswa itu.


" Ada apa, ya?" tanya Yoga dengan kening berkerut.


Mahasiswa itu mengedikkan bahunya. " Nggak tahu, gue. Tadi Pak Yudi bilang kalau ketemu elo, suruh ke ruangannya," jawab mahasiswa itu kemudian meninggalkan Yoga.


" Del, tunggu sebentar, ya. Aku temui Pak Yudi dulu."


" Kak Yoga nggak usah khawatirkan aku, Kak Yoga temui saja Pak Yudi, Aku baik-baik saja, kok."


***


" Cerita sama Kakak, Kamu ada masalah apa?" tanya Yoga setelah mereka sampai di Kafe dan memesan makanan ringan dan minuman dingin di kafe itu. Di kampus Yoga memang dikenal sebagai mahasiswa yang punya kepedulian tinggi terhadap rekan-rekannya, baik wanita maupun pria. Tak heran jika dia banyak disukai rekan-rekan kampus dan juga dosennya.


" Apa ada masalah sama abi  dan umi kamu?" tanya Yoga mulai mengintrogasi,


" Abi sama umi baik-baik saja, Kak."


" Sama kuliah kamu? Ada masalah? Ada materi yang nggak kamu pahami? Atau ada mahasiswa atau dosen yang menyakiti kamu?" Adelia menggeleng rentetan pertanyaan yang dilontarkan Yoga kepadanya.


" Lalu ada masalah apa? Masalah percintaan? Ada masalah sama pacar kamu?" tebak Yoga kemudian.


Adelia bergeming, tak mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Bibirnya pun terkatup tak menolak atau mengiyakan menjawab pertanyaan terakhir Yoga.


Yoga mendengus menanggapi reaksi diam Adelia." Jadi benar, ini soal asmara? Kenapa? Kamu berantem sama pacar kamu itu?"


Adelia menundukkan kepalanya. " Dia menyakitimu?" Yoga benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikap Adelia yang tidak seperti biasanya.


" Kami sudah tidak pacaran, Kak." Seketika Dada Adelia merasa sesak saat mengucapkan kalimat itu.


" Putus??" Yoga terperanjat. " Kenapa? Kenapa kalian putus?? Bukannya pacar kamu itu sayang sekali sama kamu? Bukankah dia itu sangat posesif ke kamu?" Yoga benar-benar dibuat penasaran.


" Aku nggak ngerti, Kak. Tiba-tiba saja dia mutusin aku," ucap Adelia dengan suara yang tercekat.

__ADS_1


" Tiba-tiba? Nggak kasih alasan ke kamu, kenapa dia memutuskan untuk berpisah dengan kamu?"


" Dia bilang, dia mesti bertunangan dengan pilihan orang tuanya." Mata Adelia mulai berkaca-kaca.


" Dan kamu percaya itu? Ayolah, dia itu seorang lelaki dewasa, seorang CEO Perusahaan besar, mana mungkin dia mau dijodoh-jodohkan seperti itu." Entah kenapa Yoga merasa sangat emosi mendengar itu.


" Dia bilang ada suatu hal yang nggak bisa dia jelasin ke aku, yang berhubungan dengan rencana pertunangannya itu."


" Apa yang dia sembunyi dari kamu? Kenapa nggak bisa dijelasin? Apa dia menghamili tunangannya itu? Apa dia selingkuh sebelumnya?"


" Mas Andra nggak seperti itu, Kak," sanggah Adelia cepat.


Yoga tersenyum getir. " Bahkan saat dia menyakitimu pun, kamu masih tetap membelanya."


" Karena aku tahu, Mas Andra bukan tipe lelaki brengsek seperti itu, Kak."


Tiba-tiba Yoga teringat sesuatu. " Apa kamu pernah tahu siapa tunangannya?"


" Kalau tunangannya itu masih orang sama, Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Terakhir bertemu beberapa minggu lalu di kantor Mas Andra. Saat itu calon tunangan dia marah besar, meninggalkan kami berdua." Air mata Adelia tiba-tiba saja terjatuh membasahi pipi mulusnya.


" Apa dia mencintai tunangannya?"


Adelia mengedikkan bahunya. " Sejauh yang aku tahu, Mas Andra selalu bersikap dingin kepada calon tunangannya itu. Setahu aku, calon tunangannya itu yang mengejar-ngejar Mas Andra, tapi nggak pernah Mas Andra perdulikan.


" Awalnya Mas Andra selalu bilang akan mempertahankan hubungan kami, apapun yang terjadi, walaupun orang tua Mas Andra nggak merestui hubungan kami, Mas Andra tetap akan mencintai aku. Tapi aku nggak tahu belakangan ini sikap Mas Andra berubah dingin ke aku, hiks ..." Adelia terisak. Dan itu tentu saja membuat hati Yoga sakit. Dia kemudian menggenggam tangan Adelia, memberikan kekuatan untuk gadis itu.


" Kamu benar-benar tidak mencari tahu alasan dia bersikap seperti itu? Bukankah kalian saling mencintai?"


" Awalnya seperti itu, tapi dengan sikap dingin dia, membuat aku sadar akan posisi aku, Kak. Aku hanya dari kalangan bawah, nggak pantas mendampingi dia yang seorang pemimpin perusahaan, apalagi sudah jelas-jelas orang tuanya nggak menyukai aku. Aku nggak punya pilihan lain, selain menerima keputusannya." Adelia terus terisak.


" Ssstttt ... .kamu jangan bicara seperti itu, kamu gadis yang baik, kamu pasti akan mendapatkan pria yang baik yang akan tulus mencintai dan menyayangi kamu." Ibu jari Yoga menyeka air mata di pipi Adelia, membuat Adelia terkesiap. " Kak, jangan seperti ini, nanti orang akan yang lihat akan salah paham," ucap Adelia salah tingkah.


" Aku nggak perduli orang lain berpikir seperti apa. Aku hanya ingin adikku ini tidak sedih karena patah hati." Yoga tersenyum.


Adelia menatap Yoga, akhirnya dia membiarkan jemari Yoga menyapu air mata di pipinya. Dia tahu pria yang di depannya ini sangat menyayanginya. " Maaf, ya, Kak..." lirihnya.


Yoga menautkan kedua alisnya. " Untuk?"


" Karena mengabaikan perasaan Kakak, Kak Yoga pasti senang kan melihat aku patah hati seperti ini?"


Yoga meraih kedua tangan Adelia dan menggenggamnya. " Mana mungkin aku merasa senang, yang ada hati aku sakit melihat kamu menangis seperti ini. Jadi sekarang kamu jangan bersedih lagi. Ada Kakak yang selalu siap, mendengarkan semua permasalahan kamu."


Adelia menganggukkan kepala. " Makasih, Kak ..." Adelia memaksakan tersenyum.


" Good girl." Yoga mengacak rambut Adelia.


Sementara beberapa saat sebelumnya di tempat lain. Natasha terus menggerutu kesal, karena sudah hampir setengah jam, Yoga belum muncul juga di butiknya. Tidak ada kabar, bahkan dihubungi pun susah. Karena khawatir terjadi sesuatu akhirnya Natasha mengambil keputusan untuk datang ke kampus Yoga.


*


*


*


Author POV ; Mak-emak dimari, kira-kira tau ga nih apa yang akan terjadi dengan Kang Ojol kesayangan kita²?

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2