MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Let Me Lead


__ADS_3

Kalau muncul bab sebelum ini isinya sama, skip aja ya, tadi belum selesai nulisnya😁


_________________________________


Selepas Isya, Yoga dan keluarga berkunjung ke rumah Uwa Ridwan, orang tua Teh Lily, yang juga kakak tertua dari Mamih Ellena. Tentu saja banyak sanak saudara yang berkumpul di sana. Yoga pun sekalian mengenalkan Natasha kepada keluarga besar yang malam itu datang.


" Ta, sini ikut Teteh." Teh Lily menarik Natasha ke kamarnya.


Natasha memasuki ruangan kamar Teh Lily yang luas, tak seluas kamar Yoga, tapi cukup besar untuk ukuran kamar pribadi.


" Ada apa, Teh?" Natasha duduk di tepi tempat tidur Teh Lily. " Kok kamarnya nggak dihias, Teh?"


" Nggak, soalnya 'kan selepas resepsi di hotel kita nginep di hotel itu dua hari, setelah itu langsung terbang ke Bali," ujar Teh Lily.


" Honeymoon di Bali, Teh?"


" Honeymoon nggak honeymoon sih, Ta."


" Maksudnya?"


" A' Budi, calon suami Teteh 'kan dipindah tugaskan ke Bali."


" Oh ya? Apa Teh Lily nanti ikut pindah ke sana atau LDR?"


" Iya, Ta. Hotel tempat A' Budi kerja sekarang, mempromosikan A' Budi untuk tangani hotel di sana. Soalnya pimpinan di sana baru, jadi butuh bantuan orang yang handal untuk membantu, dan A' Budi lah yang terpilih."


" Yah ... tambah jauh dong kita, Teh."


" Mau gimana lagi? Kita kan mesti ikut suami."


" Benar juga, sih."


" Oh ya, Ta. Ceritakan ke Teteh, gimana rasanya?" Tiba-tiba Teh Lily terlihat antusias.


Natasha mengeryitkan keningnya. " Cerita apa, Teh?" tanya Natasha bingung.


" Cerita tentang malam pertama kamu, bagaimana rasanya? Beneran sakit banget, ya? Terus gimana buat tahan rasa sakitnya? Deg-degan banget nggak, sih?"


Seketika wajah Natasha merona mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Teh Lily. Pertanyaan-pertanyaan yang menurut Natasha sangat memalukan jika harus dia jawab. Bagaimana mungkin dia berani menceritakan tentang hubungan suami istri kepada orang lain? Sekali pun dia berani, itu hanya kepada Mama Nabilla saja.


" Cerita sama Teteh dong, Ta. Biar Teteh nggak grogi menghadapi besok malam." Teh Lily terkekeh.


" Hmmm, rasanya ... memang sakit sih, Teh. Namanya juga ada yang robek," ucap Natasha hampir tak terdengar.


" Duh, kok Teteh jadi takut ya, Ta. Teteh tuh nggak kuat nahan sakit. Kemarin saja suntik mau nikah Teteh sampai nangis, lho." Teh Lily terlihat gusar. Ada rasa geli yang menggelitik di hati Natasha melihat kakak iparnya itu.


" Hmmm ... Teteh nggak usah takut seperti itu. Sakitnya cuma bentar kok, Teh. Selebihnya sih ... nyeri-nyeri sedap." Natasha terkikik menutup mulutnya.


" Nyeri-nyeri sedap gimana maksudnya?" Teh Lily mengeryitkan keningnya hingga membuat Natasha tergelak.


" Ya, pokoknya nanti Teteh akan merasakan sendiri deh gimana nikmatnya. Awalnya sih pasti akan menolak, tapi lama-lama bikin ketagihan, Teh." Kini Natasha tersenyum geli mengingat dirinya sendiri yang sekarang malah menyukai bahkan menginginkan setiap sentuhan Yoga.


" Tapi Yoga gimana, Ta? Teman Teteh ada yang cerita, suaminya itu kasar kalau berhubungan sampai teman Teteh itu kesakitan. Yoga seperti itu, nggak?"


" Nggak kok, Teh. Tapi ...."


" Tapi apa, Ta?"


Natasha menggigit bibirnya, dia ragu antara ingin cerita atau tidak.


" Yoga itu nggak pernah puas, Teh. Kalau aku nggak bilang sudah, mau nya terus saja. Nggak lihat-lihat sikon juga, Tata kadang malu sendiri jadinya," curhat Natasha.


" Masa Yoga seperti itu, Ta? Padahal dia itu kelihatannya cool and calm gitu dibanding sepupu -sepupu cowok Teteh yang lain." Teh Lily seolah tak percaya dengan ucapan Natasha.


Natasha tersenyum, dia pun mengingat, awal-awal pertemuan dengan Yoga, dia juga punya penilaian yang sama dengan Teh Lily, tapi setelah mereka menikah, jangan ditanya bagaimana mesumnya suaminya itu, bahkan terlihat tidak ada jaimnya sama sekali.


" Teteh ingat waktu pertama aku ke sini minggu kemarin? Sikap Yoga gimana ke aku?"


" Oh iya, Teteh ingat, dia posesif banget, maunya nempel kamu terus, kebayang dong kalau sedang berduaan di kamar." Gelak tawa langsung terdengar saat Teh Lily berbicara. " Waktu pertama kali disentuh pria dan kita harus tanpa busana di depan pria rasanya deg-degan nggak sih, Ta?"

__ADS_1


Tawa Natasha langsung menyurut saat mendengar pertama kali disentuh pria. Dan pria yang pertama kali menyentuhnya tentu saja bukan Yoga, walaupun dia tak sampai kehilangan kesuciannya, tapi tetap saja tubuhnya sudah ternoda sebelum dia menikah dengan Yoga.


" Ta, kenapa?" Teh Lily merasakan perubahan ekspresi Natasha.


" Ah ... nggak apa-apa, Teh." Natasha menyangkal sembari menggigit bibirnya.


" Ada apa, Ta? Ada perkataan Teteh yang menyinggung kamu, ya?" Teh Lily merasa tak enak hati.


Natasha menunduk, seketika matanya terasa panas, bahkan bola matanya sudah mulai mengembun sekarang.


" Ta ..." Teh Lily mengelus bahu Natasha.


Natasha langsung menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. " Maaf, Teh ...."


" Kamu kenapa, Ta? Apa Yoga jahat sama kamu?"


Natasha menggeleng cepat. " Nggak, Teh. Yoga baik banget sama aku, dia sudah seperti dewa penolong buat Tata." Natasha mencoba tersenyum.


Teh Lily masih mengamati wajah Natasha, dia merasa adik ipar nya itu menutupi sesuatu tapi dia tidak ingin terlalu ikut campur jika Natasha sendiri tidak ingin menceritakannya.


" Kamu sudah lama kenal Yoga? Soalnya dia 'kan jarang bawa teman wanita sebelumnya kecuali Rara."


" Aku belum lama kenal Yoga, Teh. Mungkin sekitar sebulanan lebih, belum sampai dua bulan."


" Hahhh?? Serius kamu, Ta? Sebulan lebih kenal lantas sekarang kalian sudah menikah? Bagaimana bisa?"


" Sebenarnya kita itu kenal secara nggak sengaja, Teh. Awalnya aku order dia antar aku pulang ke apartemen."


" I see ... dia ngojek, kan?"


Natasha mengangguk, tersenyum mengingat awal pertemuannya dengan Yoga.


" Lalu apa yang terjadi?"


" Kita sering dipertemukan secara tak sengaja beberapa kali dalam kurun waktu yang sangat dekat. Dan Yoga sering menolongku saat aku dalam kesusahan."


" Iya, Yoga memang anaknya ringan tangan, mudah membantu orang lain, nggak lihat cewek atau cowok yang ditolongnya, makanya kadang sering disalah artikan oleh cewek-cewek. Lalu bagaimana kalian bisa menikah?"


" Dan kamu minta Yoga pura-pura jadi pacar kamu, gitu? Kayak sinetron saja." Teh Lily tergelak mendengar cerita Natasha.


" Iya, memang begitu, Teh. Dan ternyata Papa aku malah minta aku menikah dengan Yoga hari itu juga sebelum Papa meninggal."


" Berarti Tuhan mempertemukan kalian itu memang sudah mengatur jodoh kalian, Ta. Karena dalam waktu yang singkat, kalian dipertemukan beberapa kali dengan posisi kamu yang selalu dalam kesulitan dan Yoga yang membantu kamu, dia benar-benar orang yang dikirim Tuhan untuk jadi pelindung kamu, Ta."


Natasha mengangguk, dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan kakak sepupu dari suaminya itu. Tak terbantahkan jika Yoga adalah orang yang tepat dikirim untuknya menjadi malaikat pelindungnya.


***


" Kamu kenapa cemberut saja?" tanya Yoga saat mereka kembali ke rumah. Setelah acara melekan yang diadakan pihak pengantin wanita, sekitar jam sebelas, Yoga pamit pulang tidak ikut menginap di rumah Uwa Ridwan bersama Tante Jihan, sedangkan yang lain menginap di sana.


" Aku kesal sama kamu."


" Kenapa?" Yoga langsung memeluk tubuh Natasha tapi Natasha menolak.


" Kamu bohong sama aku." Natasha memberengut.


" Bohong tentang apa?" Yoga mengerutkan keningnya, karena dia memang tak merasa melakukan kesalahan.


" Kamu bohong soal Mamih."


" Mamih? Soal apa?" Yoga semakin terheran-heran.


" Kamu bilang Mamih pinter masak, aku 'kan jadi malu karena kamu bohongi."


" Kapan aku bilang Mamih pinter masak?" Yoga memicingkan matanya.


" Kamu bilang aku suruh belajar masak biar bisa masak lebih lezat dari Mamih, ternyata Mamih kamu nggak bisa masak juga." Natasha mencebik.


Yoga tertawa keras mendengar Natasha.

__ADS_1


" Aku nggak bilang Mamih pandai masak, kan? Aku bilang biar masakan kamu lebih lezat dari Mamih, karena memang masakan Mamih nggak ada lezat-lezatnya, karena nggak pernah masak. Lalu bagaimana ceritanya bisa kamu tahu Mamih nggak bisa masak?"


Akhirnya Natasha menceritakan kejadian di dapur jelang makan setelah Maghrib tadi, membuat Yoga semakin terpingkal-pingkal.


" Kamu senang banget ya lihat aku dimarahi Mamih?"


" Bukan senang lagi, bahagia malah."


Natasha lalu mendorong tubuh Yoga hingga terduduk di sofa. " Aku mau kasih hukuman ke kamu."


" Hukuman apa, hemm?" Yoga langsung melingkarkan tangannya di pinggang Natasha.


" Jangan sentuh aku! Tangan kamu taruh di belakang kepala." Natasha lalu mengambil tangan Yoga yang melingkar di pinggangnya lalu melipatnya di belakang kepala Yoga.


" Ingat ya, hukumannya kamu nggak boleh sentuh aku," Natasha lalu duduk di pangkuan Yoga dengan tubuh saling berhadapan.


" Wow ...." Yoga terlihat surprise dan bersemangat, tangannya bahkan reflek ingin bergerak menyetuh istrinya tapi dengan cepat Natasha hentikan.


" Aku bilang jangan bergerak, kamu nakal banget, sih." Jari telunjuk Natasha mengitari wajah Yoga.


" Oke, cepat kasih hukumannya aku sudah nggak sabar." Yoga sudah mulai terbakar gairah apalagi Natasha terus mengerakkan tubuhnya membuat sesuatu dibawahnya mengeras.


" Ada ya orang yang nggak sabar minta dihukum?" Jari Natasha kini bermain di bibir Yoga.


" Tentu saja ada, karena hukuman yang diberikan enak." Mata Yoga pun kini bertumpu pada bibir kenyal nan ranum milik istrinya itu.


" Siapa bilang hukumannya enak?" Desah Natasha mendekatkan bibirnya ke bibir Yoga.


" Aku yang bilang." Yoga memajukan kepalanya, hendak menyergap bibir Natasha tapi Natasha langsung menjauhkan wajahnya.


" Aku bilang kamu dilarang sentuh aku!"


Yoga berdecak frustasi. " Aku nggak tahan, sayang."


" Sabar dong. suami sabar disayang istri." Natasha langsung memberikan kecupan lembut hampir di seluruh wajah suaminya itu dengan tubuh yang terus bergerak membuat Yoga mengerang.


" Yang, aku nggak kuat ini."


" Hahh? Kamu pangku aku nggak kuat? Memang aku berat, ya?" ledek Natasha menggoda, dia bukannya tidak tahu kalau milik suaminya sudah menegang dari tadi.


" Bukan itu, yang ...."


" Lalu apa?" Natasha mulai membuka satu persatu kancing kemeja suaminya dan melepaskan kemeja itu dari tubuh suaminya, dia juga meloloskan kaos milik suaminya hingga saat ini sudah bertelanjang dada.


" Berapa banyak wanita yang sudah bersandar di dada kamu ini?" Natasha mengelus dada bidang suaminya, memainkan bulu-bulu halus membuat Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Hanya kamu saja ...." Yoga memejamkan mata menahan untuk tidak menyerang istrinya.


" Aku beruntung dong, dapat perjaka." Natasha terkekeh, tangannya kini membuka ikat pinggang dan meloloskan nya dari celana Yoga.


" Let me lead, okey?" Natasha mengedipkan matanya kemudian menyergap dan memberikan sentuhan penuh gairah ke bibir Yoga.


" Lakukan sekarang," bisik Yoga. " Undress me ...."


Natasha kemudian meloloskan semua kain yang menutup bagian bawah hingga pakaian suaminya itu menyentuh mata kaki. " Done." Natasha terseyum bahagia. Saat ini dia bisa melihat sesuatu milik suaminya itu menegang sempurna.


Natasha kembali duduk di pangkuan Yoga, dia mengikat tangan Yoga dengan ikat pinggang milik suaminya itu. " Ingat ya, aku yang memimpin jadi kamu jangan macam-macam" Natasha kembali menciumnya penuh gairah dan Yoga pun tak membantah.


Beberapa menit kemudian Natasha beranjak dari duduk nya. " Selamat bersolo karir ya, sayang. Aku akan menemani Tante Jihan tidur di kamar tamu." Natasha bergegas menuju pintu kamar. " Love you suamiku tersayang. kecup basah dari istrimu, emmmmuuuaaaacchh ..." Natasha tertawa meninggalkan Yoga yang sudah merah padam dikerjai olehnya.


" Natashaaaaa ...!! Aaarrgghh ...!!" geram Yoga.


*


*


*


Pagi-pagi pikirannya jangan traveling ke mana-mana, ya! 😂😂

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2