
Yoga beranjak menghampiri lemari mengambil piyama untuk Natasha. Dia tak sampai hati melihat istrinya itu harus tertidur dengan pakaian kerjanya.
" Ta, bangun ... ganti bajunya dulu, ya," bisik Yoga lembut di telinga Natasha sementara tangannya mengusap lembut kepala Natasha, tapi Natasha bergeming masih dengan mata terpejam.
" Sayang ... bangun dulu, ganti baju dulu, nanti baru tidur lagi, ya ..." Yoga menepuk halus pipi Natasha.
" Pah ... Tata kangen Papa ..." lirih Natasha masih dengan mata terpejam.
Jelas saja ucapan dari alam bawah sadar Natasha membuat hati Yoga mencelos, seketika bola matanya berembun. Apakah artinya alam bawah sadar istrinya saat ini sedang mengadu kepada Almarhum Papanya? Rasa bersalah kembali semakin menyeruak di hatinya. Jika waktu bisa diulang kembali, mungkin dia ingin memperbaiki sifatnya yang belakangan selalu terlihat emosi jika menyangkut orang lain di antara dia dan istrinya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dia hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk Natasha, dia hanya ingin mendengar tawa atau dia lebih suka mendengar ocehan dan omelan Natasha daripada air mata dan kesedihan istri cantiknya itu.
Yoga merebahkan tubuhnya, dia melingkarkan tangannya ke tubuh Natasha yang masih tertidur meringkuk. Dia menciumi wajah dan pucuk kepala Natasha.
" Maafkan aku, sayang ... maafkan aku yang belum becus menjadi suami kamu, maafkan aku yang selalu membuatmu bersedih. Aku benar-benar seorang suami tak berguna karena gagal membuat kamu bahagia." Setetes air mata luruh di wajah pria itu.
Natasha mengerjap saat merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya, karena terlalu banyak menangis membuat matanya terasa berat untuk dibuka lebar. Tapi Indra penciumannya menangkap aroma yang beberapa waktu ini menjadi favoritnya, aroma khas maskulin suaminya, seseorang yang belakang ini sudah memaksa hatinya terbuka untuk menerima kehadirannya.
" Yoga?" lirih Natasha menoleh ke belakang. Mata Natasha terbuka lebar saat mendapati suaminya itu sedang menitikan air mata. " Yoga ... hiks ... maafkan aku, aku salah, aku minta maaf, hiks ... hiks ... A-aku nggak bermaksud mengabaikan kamu, a-aku ... aku nggak bermaksud mengecewakan kamu ... hiks ..." Natasha langsung membalikkan posisi tidurnya dan memeluk erat tubuh Yoga, seolah dia tidak ingin melepaskan pria itu.
" Ssstttt ... aku yang salah, aku yang mesti minta maaf, aku yang nggak mengerti posisi kamu, aku suami yang gagal, yang hanya bisa membuat kamu menangis." Yoga mencium pucuk kepala Natasha kembali.
Natasha kembali terisak di dada Yoga, mendengar ucapan suaminya itu. Dia ingin membantah semua ucapan Yoga tapi Isak tangis menghalangi mulutnya untuk berbicara.
Beberapa saat mereka hanya saling berpelukan seolah melepaskan kerinduan yang membuncah.
" Kamu ganti baju dulu ya, seharian kamu pakai baju itu." Yoga mengurai pelukannya. Dia membantu mengangkat tubuh istrinya itu agar terduduk, dan mengambil piyama yang tadi dia siapkan dari lemari Natasha.
Yoga membukakan kancing piyama itu, kemudian dia juga membantu Natasha melepas kancing baju yang melekat di tubuh Natasha, dia membantu membuka pengait kain penutup kedua bongkahan milik Natasha yang merupakan wilayah jajahan favoritnya. Walaupun hasratnya langsung berkobar apalagi setelah apa yang dia lihat di apartemen Rico, tapi Yoga harus bisa menahan diri untuk tidak menyerang istrinya malam ini.
Dengan telaten Yoga memakaikan piyama ke tubuh Natasha, kemudian dia menyusun bantal untuk Natasha. " Tidurlah ..." ucapnya yang langsung dituruti oleh istrinya itu.
__ADS_1
Setelah Natasha berbaring, dia langsung menyelimuti rapat tubuh istrinya itu. Dia kemudian hendak beranjak tapi Natasha mencengkram lengan Yoga.
" Kamu mau ke mana?" tanya Natasha.
" Aku mau ke dapur sebentar "
" Kamu lapar? Nggak ada Bi Surti. Mau aku buatkan makanan?" Natasha hendak bangkit tapi Yoga melarang.
" Nggak usah, aku cuma mau ambil minum sebentar. Kamu tidur saja dulu." Yoga kemudian beranjak keluar kamar Natasha.
Beberapa saat kemudian Yoga kembali ke kamar, dia mendapati istrinya sedang terduduk di tepi tempat tidur.
" Kenapa belum tidur?" tanya Yoga mendekati Natasha.
" Aku nunggu kamu, aku takut kamu pergi lagi," lirih Natasha.
Yoga tesenyum kecut mendengar ucapan Natasha. Begitu takutnya istrinya itu dia tinggalkan.
Natasha langsung memeluk tubuh Yoga, dia menenggelamkan wajah ke dada bidang suaminya itu.
" Aku tadi pulang ke rumah kamu ...."
" Rumah kita." Yoga meralat ucapan Natasha.
" Aku tadi ke sana tapi kamu nggak ada. Kamu nggak jemput aku pulang, kamu juga nggak kasih kabar apa-apa ke aku. Aku takut kamu ninggalin aku, karena kamu marah sama aku," ucap Natasha dengan nada bergetar. " Aku takut melihat kamu marah seperti tadi siang, aku takut kamu ninggalin aku, Ga. Aku nggak mau kamu pergi dari aku, aku nggak mau pisah dari kamu, Ga. Hiks ..." Natasha kembali terisak di dada Natasha.
" Sssttt ... sudah jangan menangis lagi, aku nggak akan pergi, aku nggak akan ninggalin kamu. Aku sudah berjanji pada Papamu kalau aku akan menjaga kamu. Aku minta maaf tadi siang aku sudah berkata kasar sama kamu, aku minta maaf jika kata-kata yang aku ucapkan menyakiti kamu."
" Aku yang sudah mengecewakan kamu, Ga."
__ADS_1
" Nggak, sayang. Aku yang salah ..."
Deg
Natasha mendongakkan kepalanya ke arah Yoga, kata 'Sayang'. Walaupun dia pernah mendengar kata itu dari Yoga, tapi saat ini terasa beda. Kalau dulu kata 'Sayang' yang diucapkan terdengar konyol karena diucapkan saat Yoga sedang menggodanya, tapi kali ini kata itu terdengar sangat tulus.
" Sayang?" Natasha menanyakan kata itu pada Yoga.
" Kenapa? Kamu keberatan kamu panggil sayang?" Yoga membelai lembut wajah mulus Natasha.
" Apa kamu sayang aku, Ga?"
" Apa kamu nggak bisa merasakannya selama ini, hemm? Apa sikap aku selama ini tidak menunjukkan kalau aku sayang sama kamu? Apa perhatian aku selama ini tidak kamu artikan sebagai rasa sayang aku ke kamu?" Yoga menangkup wajah Natasha.
" Jika itu yang kamu ragukan selama ini, aku akan tegaskan sekarang juga. Aku akan katakan bahwa aku sangat menyanyangimu, Natasha. Hanya kamu wanita yang aku inginkan, bukan yang lain. Aku menyanyangimu, karena itu aku tak ingin ada pria lain menyentuhmu. Aku menyanyangimu, karena itu aku ingin hanya aku yang ada di dalam hatiku, hanya aku yang ada di pikiranmu,"
" Maka dari itu aku merasa kecewa saat kamu memilih pria lain untuk tempat berkeluh kesah mu, karena aku takut, Natasha. Aku takut ada pria lain yang akan mengambilmu, aku takut ada pria lain yang akan mengalihkan perhatianmu dariku."
Yoga menyeka bulir air mata yang masih menetes di pipi Natasha. " Aku mencintaimu, Natasha, aku sangat-sangat mencintaimu ..." Yoga mengecup kening Natasha dengan penuh perasaan.
Sementara Natasha tertegun mendengar ungkapan perasaan suaminya itu. Jiwa nya serasa melayang di atas awan. Ribuan bunga seakan bermekaran di hatinya. Benarkah apa yang dia dengar saat ini? Benarkah ini sebuah kenyataan? Apakah ini bukan sebuah mimpi? Seandainya ini hanya mimpi, rasanya dia ingin tetap tertidur agar mimpi ini tidak menghilang saat dia terjaga nanti.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Maafkeun yang menanti² bab ini, anggap aja aku lagi pundung, Karena kemarin sudah nulis setengah jalan tiba-tiba MT nya ngeblank jadi aja ilang naskah yang ada di draft. Kan mikir laginya tuh males, blm tentu Ilham yg tadi nyantol, muncul lagi sekarang. Rasanya gemes banget. Karena aku sekarang lebih suka nulis pake hp timbang di laptop. Apalagi kalo di rumah laptop nya rebutan ama anak😂😂
Happy Reading😘