
Natasha sedikit menegang saat tiba-tiba tangan Yoga mulai membuka satu persatu kancing baju yang melekat di tubuhnya.
" Yoga kamu mau apa??" Natasha menepis tangan Yoga yang membuka baju yang dipakainya
" Kamu pikir aku mau apa?" Satu tangan Yoga menyentuh dagu Natasha dan menge*cup lembut bibir Natasha.
" Yoga ini di butik, jangan berbuat mesum di sini " pekik Natasha mencoba menjauhkan tubuh suaminya yang selalu berusaha mendekat ke arahnya.
" Memangnya menurutmu aku mau melakukan apa? Aku hanya ingin membantu melepaskan baju kamu yang kotor ini akibat pertempuran tadi," ledek Yoga, lalu telunjuknya mengetuk kening Natasha " Pikiran kamu ini yang mesum, atau memang kamu yang ingin kita berbuat mesum di sini, hemm?! Yoga menaik turunkan alisnya.
" Alasan ..." Natasha kembali menepis tangan Yoga yang mengarah ke kancing bajunya.
" Kalau kamu nggak percaya, tanyakan pada sekretarismu itu, aku tadi suruh dia bawakan baju ganti untukmu."
" Aku bisa buka sendiri." Natasha kembali menolak gerakan tangan Yoga yang membuka baju ia pakai.
" Sudah nurut saja, jangan banyak membantah." Akhirnya Yoga selesai membuka seluruh kancing baju yang dipakai Natasha. Sejenak dia menatap kagum tubuh putih mulus milik istrinya itu, dan juga dua bongkahan yang masih terbungkus, dua bongkahan yang baru pertama kali dijelajahinya beberapa hari lalu sebelum terjadi kesalahpahaman antara dia dan istrinya.
Yoga menelan salivanya, mendapati keindahan tubuh sang istri ditambah lagi kerinduan karena tiga malam tidak bersentuhan dengan wanita itu menimbulkan serangan gairah yang mulai memenuhi otaknya. Tangannya kini mulai menangkup bongkahan yang menggiurkan itu.
" Yoga, hentikan ...! Kamu bilang tidak akan berbuat mesum!" Natasha mencebik
Yoga menyeringai. " Awalnya memang begitu, tapi mubazir kalau yang indah-indah seperti ini dilewatkan begitu saja. Bukankah sudah tiga malam kita tidak bermesraan, apa kamu tidak merindukan sentuhan-sentuhan dari suamimu ini?" bisik Yoga lembut terdengar di telinga Natasha, hingga membuat darah Natasha terasa kembali berdesir. Hembusan nafas Yoga di lehernya, membuat tenggorokannya terasa tercekat. apalagi saat tangan Yoga akhirnya berhasil menyingkirkan kain terakhir yang menutup dua aset di dadanya.
" Yoga ..." lirih Natasha ketika tangan nakal Yoga mere*mas dan memainkan puncak asetnya.
" Hemm ..." Bibir Yoga mulai intens menjelajahi leher dan wajah Natasha.
" Yoga kita di butik ...."
__ADS_1
" Memangnya kenapa kalau di butik?"
" Kamu belum mengunci pintunya ...."
Yoga terkekeh. " Memangnya kita mau ngapain sampai harus mengunci pintu segala?" godanya kemudian. Seketika membuat wajah Natasha bersemu seolah dia sedang memberi kode kepada lelaki mesum di depannya itu.
Yoga yang melihat Natasha merona langsung merebahkan tubuh Natasha di atas sofa. " Kita coba lakukan di sini, ya." Yoga langsung membuka kemejanya dan meloloskan t-shirt dari ke atas kepala dan melempar ke atas meja. Tubuh atletis pria itu terekspos begitu menggoda. Masih terbayang di ingatan Natasha saat kulitnya bersentuhan dengan tubuh liat pria itu, seketika Natasha pun bersusah payah menelan salivanya. Bagaimana mungkin dia tidak akan terpesona dengan keindahan tubuh atletis pria ini? bagaimana mungkin dia tidak terpesona pada sikap dan perhatian yang diberikan pria ini kepadanya.
" Yoga kamu ... mmmpppttt ..." Kalimat Natasha terhenti saat bibir Yoga mulai melahap bibirnya, melu*mat penuh gairah. Natasha yang mendapat serangan dari suaminya itu pun mulai membalas setiap sentuhan yang diberikan oleh Yoga. Mungkin benar, jika dia juga merindukan kehangatan, belaian dan sentuhan Yoga yang selama tiga hari ini terlewatkan olehnya.
Suara decapan dan lenguhan membahana di dalam ruangan kerja Natasha, dua insan yang sedang dimabuk asmara sama-sama sedang melepaskan kerinduan yang sesungguhnya sangat menyiksa diri mereka masing-masing.
Mereka begitu menikmati keintiman mereka, gairah yang tersalurkan tiga hari itu membuat hasrat mereka membuncah.
" Aakhhh ..." desahan dari yang keluar dari mulut Natasha menandakan dia merasakan suatu kenikmatan saat bibir dan lidah Yoga bermain di kedua bongkahannya.
Yoga yang menyadari Natasha itu mulai terbuai akan permainannya, kini mulai mengarahkan tangannya ke bagian bawah tubuh istrinya itu, dia melepas pengait pants dan menurunkan resletingnya, perlahan tangannya mulai bergerilya menyentuh daerah inti istrinya.
" Ssssttt ... kamu nikmati saja, ini akan lebih nikmat dari sebelumnya." Jari-jari tangan Yoga mulai bermain dengan intens di bagian inti Natasha.
" Yoga i-ini gila ..." Natasha mulai diserang gelenyar aneh. Tangannya mencoba menyingkirkan tangan Yoga di intinya. Jujur dia sangat malu, tapi Yoga tak memperdulikannya.
Yoga terus mencumbu Natasha, bibirnya menyapu dan mengabsen setiap jengkal tubuh bagian atas Natasha. mencium, menge*cap, Melu*mat hingga menimbulkan bercak-bercak merah di tubuh putih mulus itu.
" Yo-gaa, Aaakkhh ..." Tubuh Natasha menggelinjang dan bergetar saat dia merasakan pelepasan atas permainan jemari suaminya.
Benar-benar kenikmatan yang tak terbantahkan, Natasha benar-benar melayang tinggi ke awan. Gila, suaminya ini benar-benar membuatnya mabuk kepayang, dia melenguh, Mende*sah dan merancau tak karuan.
Senyum tipis terukir di bibir Yoga, pandangannya kini tertuju pada mata sang istri yang kini tengah dipenuhi kabut gairah. " Bagaimana, nikmat rasanya?" bisik Yoga kembali menggigit cuping telinga Natasha.
__ADS_1
Natasha menoleh ke arah suaminya, dadanya turun naik akibat nafasnya yang terasa tersengal-sengal, layaknya seperti habis berlari maraton, Rasanya sulit untuk menjabarkan apa yang dirasakannya saat ini. Dia tak menyangka pernikahan tak sengaja dengan pria yang selalu diajaknya berdebat setiap awal pertemuan akan membawanya kepada situasi seperti ini. Dan entah mengapa kini dia pun mulai menyukai hal yang dilakukan Yoga terhadap dirinya.
Natasha mencoba merangkum wajah tampan yang ditumbuhi bulu-bulu halus suaminya itu. Perlahan dia memberanikan diri untuk mengecup bibir sang suami. Apa yang dilakukan Natasha sontak membuat Yoga membelalakkan matanya. Sekejap dia tercenung, dia tidak menyangka apa yang dilakukan Natasha terhadapnya. Wanita ini memang mulai merespon baik bahkan membalas apa yang dilakukannya, tapi untuk bersikap agresif dengan mulai terlebih dahulu melakukan sentuhan, ini sama sekali tidak terbesit di pikirannya.
Yoga tersenyum, dia pun akhirnya membalas apa yang diberikan istrinya itu. Bibir mereka kembali saling bertautan dengan posisi tubuh yang sangat intim, terbaring di atas sofa yang tidak terlalu lebar, tapi justru itu membuat mereka begitu menikmati kebersamaan mereka.
" Kamu mulai nakal sekarang, ya ..." ucap Yoga disaat mereka menjeda pagutan bibirnya untuk meraup oksigen.
" Maaf ..." lirih Natasha menyesal, tangannya bermain di seputar dagu suaminya yang ditumbuhi rambut.
" Kenapa harus minta maaf? Justru aku sangat suka. Ini awal yang baik untuk kita masuk ke tahap berikutnya," sahut Yoga kembali melu"mat bibir manis istrinya saat dirasa oksigen sudah cukup olehnya.
Tok tok tok..
Bersamaan dengan bunyi pintu diketuk, Sinta yang membawa baju yang dipesan Yoga pun masuk ke dalam ruangan Natasha. Membuat Natasha dan Yoga tidak mempunyai waktu untuk merapihkan posisinya saat ini.
" Permisi, Mas ini ba-ju ..." Mata Sinta langsung terbelalak saat melihat pemandangan luar biasa yang ditemuinya di atas sofa ruang kerja Boss nya itu.
" Astaghfirullahal adzim ...! Astaghfirullahal adzim ...!! Oh my God ...! Saya nggak lihat ... saya nggak lihat ..." Sinta langsung menutup mata dan membalikkan tubuhnya. " Maaf ... Bu. Maaf ... Mas. Saya permisi ..." Sinta langsung berlari keluar dari ruangan Natasha.
" Sintaaaa ...!!" pekik Natasha dan Yoga bersamaan.
*
*
*
Author POV : Sintaaa...saya pending gajimu sampai lebaran dua tahun mendatang..!! 🤣🤣
__ADS_1
Bersambung...
Happy Reading😘