MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Ucapan Adalah Doa


__ADS_3

Natasha menghampiri seorang wanita dewasa berwajah cantik yang sedang duduk menunggu di sebuah meja.


" Selamat siang, Nyonya Agatha," sapa Natasha ramah kepada wanita itu. " Saya tidak terlambat kan, Nyonya?" Natasha melirik arloji, masih kurang lima menit dari waktu yang disepakati bersama untuk bertemu.


" Tidak Nona Natasha, silahkan ..." Nyonya Agatha mempersilahkan Natasha duduk.


" Kapan Nyonya datang dari Jerman?" tanya Natasha berbasa-basi.


" Dua hari lalu," jawab Nyonya Agatha singkat.


" Oh ..." Natasha menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. " Nyonya sendirian saja?"


" Kenapa? Apa Nona Natasha mengharapkan suami saya ada di sini?"


Deg


Natasha menelan salivanya saat mendengar nada bicara Nyonya Agatha yang cenderung dingin. " Ehhmmm, tentu saja tidak, Nyonya," ucap Natasha memaksa senyum


" Nona Natasha, menurut Anda bagaimana restoran saya ini?" tanya Nyonya Agatha tiba-tiba.


" Ini milik Nyonya Agatha?" Natasha membulatkan matanya. karena dia tahu restoran ini salah satu western terkenal di kota ini yang juga mempunyai cabang di beberapa tempat.


" Iya, ini salah satu usaha saya, Nona Natasha. Bagaimana menurut Anda?"


" Ini salah satu restoran favorit saya, selain makanannya yang enak tempatnya yang nyaman dan besar, pelayanan di sini juga sangat ramah dan memuaskan menurut saya." Natasha berkata jujur apa adanya.


" Bagaimana kalau saya tawarkan kepemilikan restoran ini atas nama Anda, Nona Natasha?" ucapan Nyonya Agatha sukses membuat Natasha terperanjat.


" Ma-maksud Nyonya Agatha bagaimana?" Natasha dibuat bingung oleh ucapan-ucapan Nyonya Agatha.


" Saya bersedia memberikan kepemilikan atas nama restoran saya ini termasuk beberapa cabang, asal Nona Natasha bersedia untuk menjauhi suami saya!" tandas Nyonya Agatha tanpa keraguan.


Deg


Jantung Natasha berdetak kencang, dia tidak menyangka seorang Nyonya Agatha rela melepas harta yang tidak sedikit untuk mempertahankan suaminya. Apakah cinta memang membutakan akal sehat kita hingga rela melakukan hal-hal yang diluar dugaan. Natasha seperti berkaca pada diri sendiri, bagaimana dia juga sempat melakukan hal konyol, berniat mengajak kerja sama Yoga dan memberikan imbalan sebesar empat puluh juta untuk memisahkan Andra dan Adelia, dan untungnya saat itu, pria yang akhirnya menjadi suaminya itu menolak.


" Ehhmmm, maaf Nyonya Agatha, saya rasa anda tidak perlu melakukan hal itu, Tanpa anda minta dan tawarkan kepemilikan restoran ini pun saya dengan senang hati akan menjauhi tuan Gavin, Nyonya," ucap Natasha mantap.


" Maaf jika Anda mengira saya ini sudah gila, mungkin Anda belum bisa memahami kenapa saya rela melakukan hal ini, karena Anda belum menikah Nona Natasha. Mungkin jika Anda telah menikah dan rumah tangga Anda terancam akan adanya orang ketiga, pasti Anda akan mengerti maksud saya, Nona Natasha."


" Maaf Nyonya Agatha, saya tidak pernah sekalipun berusaha mendekati tuan Gavin, sedikit pun saya tidak pernah berpikiran untuk merusak rumah tangga Anda, Nyonya!" Natasha mengucapkan kata demi kata dengan penuh ketegasan.


" Tapi kenyataannya Gavin sangat menginginkan Anda, Nona Natasha. Dia bahkan sudah mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan. Itu artinya dia serius ingin mengejar Anda, Nona."


" Saya tidak tahu masalah apa yang terjadi dengan rumah tangga Anda, Nyonya. Dan saya juga tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga kalian. Jadi tolong jangan libatkan saya dalam kemelut rumah tangga kalian."


" Tapi secara tidak langsung Nona Natasha lah yang menjadi pemicu keretakan rumah tangga saya dan suami saya."


Deg


Serasa tamparan mendarat di pipi Natasha, kata-kata yang dikatakan nyonya Agatha benar-benar sangat melukai hatinya, seketika dadanya bergolak, emosi mulai merambat ke hatinya. Dia sangat tidak terima secara terang- terangkan dituduh sebagai perusak hubungan rumah tangga mereka.

__ADS_1


" Maaf Nyonya, Anda telah salah menilai tentang saya! Saya tidak meminta dihadirkan dalam rumah tangga kalian, Nyonya sendirilah yang mengenalkan suami Anda kepada saya, Nyonya sendiri yang memberikan kewenangan kepada suami Anda untuk menghandle urusan kerjasama kita. Masalah dia menyukai saya, itu di luar kendali saya. Tapi saya pastikan jika saya tidak pernah menggoda suami Anda, Nyonya Agatha!" Setiap kata yang terucap disertai deru nafas yang menggebu. " Dan satu hal lagi yang mesti Anda ketahui, Nyonya. Saya sudah menikah jadi tidak mungkin saya berusaha merebut Tuan Gavin dari Anda!"


Nyonya Agatha menautkan kedua alisnya. " Anda sudah menikah? Apa Gavin tahu tentang hal itu?"


" Tuan Gavin sudah mengetahuinya Nyonya, bahkan dia juga sudah sempat bertemu dengan suami saya." Natasha mencoba menghela nafas dalam-dalam, " Maaf, Nyonya Agatha, jika maksud Anda mengajak saya bertemu untuk membicarakan hal ini, saya rasa ini sudah selesai. Saya pamit karena saya akan pergi keluar kota bersama suami saya." Natasha bangkit dari duduknya. " Permisi, Nyonya." Natasha membungkukkan badannya sopan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Nyonya Agatha yang memandang kepergiannya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


***


" Ada Apa?" tanya Yoga dengan gerakan tangan kiri membelai lembut kepala Natasha saat dilihatnya istrinya itu sedari tadi hanya termenung saat mereka dalam berjalanan menuju Bogor. " Galau karena mau bertemu dengan orang tua ku?"


" Salah satunya ...."


" Salah satunya? Berarti ada banyak yang yang membuatmu gusar?"


Natasha mengedikkan bahunya membalas pertanyaan Yoga.


" Apa yang terjadi dengan makan siang tadi? Apa kamu salah makan, sampai jadi pendiam begini, hemm?" Tangan Yoga mengacak rambut Natasha. " Apa kamu merasa sedih karena tadi nggak ketemu si cemilan itu?" ledek Yoga terkekeh. "


" Cemilan??" Natasha menolehkan wajah sambil mengerutkan keningnya.


" Si Gabin itu."


" Dia punya nama, Ga. Gavin, nama bagus gitu disamain sama makanan." Natasha mencebik.


" Ciee dibelain, ciee lakinya orang dibelain bini sendiri ..." Yoga mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha berniat untuk menggodanya. " Terus apa bedanya dulu kamu juga sering memanggil Adelia dengan panggilan wanita kampung?"


" Ck, apaan, sih!" Natasha mencebik, dia sedang malas berdebat, padahal kalau dalam kondisi normal pasti dia tidak akan terima Yoga membela Adelia.


" Kalau aku lihat kemarin, kamu bicara sama Si Gavin itu kelihatan ramah banget, halus banget bahasanya, coba ngomong sama aku, galak mode on."


" Cerita deh sama aku, ada apa tadi dengan makan siang mu? Apa yang kalian bicarakan?" Yoga tetap merasa ada yang mengganggu pikiran istrinya itu.


Natasha menghela nafas sejenak. " Aku seperti melihat aku yang dulu dalam diri Nyonya Agatha," ucapnya kemudian.


" Kamu yang dulu? Kamu yang dulu itu yang seperti apa, ya? Kok aku mendadak amnesia.' Yoga selalu berusaha mencairkan suasana dengan melempar joke joke ringan.


" Sudahlah, Aku malas ceritanya." Natasha merajuk sembari membuang pandangan ke luar jendela.


" Duh, gitu saja ngambek, jangan ngambek-ngambek dong, nanti cantiknya hilang, loh." Yoga menggenggam tangan Natasha. " Kenapa dengan Istrinya Gavin itu? Apa dia melamarmu?"


" Ck, Yoga ...!!"


" Iya, maaf maaf, lanjutkan ceritanya."


" Dia suruh aku jauhi suaminya."


" Dia tahu suaminya itu tergila-gila sama istriku yang galak ini?!"


" Yoga ...!!"


Yoga terkekeh melihat istrinya itu mulai kesal menanggapinya. " Terus kalau dia suruh kamu jauhi suaminya, kenapa kamu kelihatan sedih? Kamu nggak rela gitu dijauhi Gavin?"

__ADS_1


" Bukan begitu ...."


" Lalu??"


Natasha mendengus kesal. " Dia menganggap aku adalah pemicu keretakan rumah tangga mereka."


" Kok bisa begitu?"


" Entahlah ..." Natasha memijat pelipisnya. " Mereka sendiri yang datang tiba-tiba menemuiku, mengajak kerja sama menanamkan modal. Dia sendiri yang mempertemukan aku dengan suaminya, sekarang suaminya begitu malah aku yang disalahkan."


" Kamu bilang status kamu sekarang?"


Natasha mengangguk. " Aku bahkan bilang jika suaminya itu sudah bertemu sama suamiku."


" Ciee yang sudah diaku suami ..." Yoga menggoda istrinya.


Natasha memutar bola matanya menanggapi. " Kamu tahu. Nyonya Agatha bahkan rela memberikan restoran tempat kami bertemu tadi buat aku, asalkan aku mau menjauhi suaminya. gila, kan?!"


Yoga membelalakkan matanya. " Kok aku jadi ingat seseorang ya, siapa gitu? Pernah tuh hampir berbuat nekat seperti itu, buang-buang uang untuk hal konyol."


" Nggak usah ngeledek." Natasha mendelik hingga membuat Yoga terkekeh.


" Serius dia bilang gitu? Puluhan atau ratusan milyaran loh itu."


" Itu dia ...."


" Mahal juga Si Gabin itu harganya."


" Aku kesal, dia pikir aku matre apa?!" Natasha memberengut.


" Baru tahu kan rasanya?! Kesal kan dianggap bisa diatur oleh uang sama orang yang mengganggap uang bisa membeli segalanya termasuk harga diri?!" Intonasi suara Yoga berubah serius.


Natasha menatap suaminya. " Karena itu kamu fitnah aku?"


" Fitnah kamu??" Yoga memicingkan matanya.


" Nggak ingat dulu bilang apa waktu di kafe??" Natasha memberengut.


Yoga tertawa kecil mengingat kenangan mereka dulu. " Aku dulu bilang apa, sih?"


" Tahu ah ...."


Yoga mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Natasha. " Tentang yang hangat-hangat itu, kan? Ternyata ucapan itu adalah doa ya, ternyata bener, karena pada akhirnya kita sama-sama saling menghangatkan di atas ranjang, iya kan iya kan?!" Yoga menaik turunkan alisnya.


" Yogaaa..!!" serangan cubitan dari jari-jari Natasha langsung menyerbu lengan dan pinggang Yoga.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung..


Happy Reading😘


__ADS_2