
Tubuh Yoga seakan membeku, sementara gelombang panas seperti menyerang matanya, hingga tak sanggup lagi menahan buliran air mata untuk tidak jatuh di pipinya, saat mendengar bagaimana dengan semangat istrinya itu menceritakan tentang betapa bahagianya dia akan menjadi seorang mama.
" Mas, kamu kenapa nangis? Kamu nggak senang aku hamil?" ucapan Natasha sontak membuat dadanya semakin bergemuruh.
Dengan cepat Yoga merengkuh tubuh Natasha. " Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku ..." Dengan suara bergetar Yoga berbisik di telinga Natasha.
Natasha bisa merasakan tubuh Yoga yang bergetar saat memeluknya, apalagi saat suaminya itu menyatakan permohonan maaf, seketika itu juga kecemasan melanda dirinya. " Mas, ada apa? Kandungan aku nggak apa-apa, kan?" Natasha lalu menoleh ke arah Mama Nabilla. " Ma, bayi Tata nggak kenapa-kenapa, kan, Ma?"
Mama Nabila menghela nafas panjang. " Kamu mesti mengikhlaskan, ya." ucapan Mama Nabilla membuat Natasha melemas.
" M-maksud Mama apa?" suara Natasha tercekat di tenggorokan.
" Janin di rahim kamu nggak bisa bertahan lama, Ta." lirih Mama Nabilla.
" M-maksud Mama, T-tata keguguran?" dengan nada bergetar dan mata yang mulai mengembun Natasha mengucapkan kalimat itu.
" Kamu yang sabar, kamu harus belajar mengikhlaskan, mungkin ini belum rejeki kalian." Seketika tangis Natasha pecah mendengar penjelasan Mama Natasha.
" Nggak mungkin, Ma. Bayi Tata nggak mungkin keguguran, hiks ..." Natasha seakan tidak dapat menerima kenyataan buruk ini. " Mas, bayi kita nggak kenapa-kenapa, kan? Bayi kita baik-baik saja, kan, Mas? Dia kuat dia nggak akan mungkin meninggalkan kita, kan, Mas? Hiks ... hiks ...."
" Sayang ..." Yoga hanya bisa menghujani wajah Natasha dengan ciuman, dia benar-benar tidak sanggup untuk berkata-kata kepada istrinya.
" Aku nggak mau, Mas. Aku nggak mau anak kita pergi. Aku ingin anak kita tetap hidup. Aku ingin buat mamih kamu senang, Mas. Aku ingin buat mamih bisa sayang sama aku, bisa menerima aku, Mas. hiks ..." Perkataan Natasha membuat membuat Yoga sangat terpukul. Betapa khawatirnya istrinya itu akan sikap mamihnya.
Yoga menelan salivanya, apalagi saat ini ada mama mertuanya. Entah dia harus menjelaskan bagaimana tentang hubungan mamihnya dengan Natasha.
" Sayang, mamih pasti akan mengerti, kok. Kamu jangan khawatirkan mamih. Kamu fokus sama pemulihan kamu saja. Kita pasti bisa kasih cucu yang lucu untuk mamih, Kamu jangan bersedih, ya." Yoga mengusap air mata yang terus berlinang di pipi istrinya.
" Aku takut, Mas. hiks ... hiks ..."
" Nggak ada yang perlu kamu takutkan, kita akan hadapi semua permasalahan kita bersama, kamu harus ikhlaskan calon anak kita, ya?" Yoga terus mencoba menenangkan istrinya yang terus saja menangis tersedu.
***
__ADS_1
" Sebenarnya bagaimana hubungan Tata dengan orang tua kamu, Yoga?" tanya Mama Nabilla saat Natasha sudah kembali tenang dan tertidur. " Mama pernah tanya sama Tata, tentang bagaimana hubungan orang tua kamu dengan dia, dia bilang semua baik-baik saja, nggak ada masalah. Apa Tata menutupi sesuatu dari Mama?" selidik Mama Nabilla.
Yoga menarik nafas dalam-dalam, dia tidak menduga jika selama ini istrinya itu menutupi perlakuan mamihnya itu.
" Yoga minta maaf, Ma. Sebenarnya nggak ada masalah apa-apa, Mah. Cuma mungkin masih belum pas saja antara Tata dan mamih, jadi masih sering ada salah paham."
" Mama mengerti, bagi seorang istri bisa menyatu dan akrab dengan ibu mertua itu gampang-gampang susah. Apalagi Tata itu anaknya keras kepala. Mama berharap, kamu dan orang tua kamu bisa memaklumi sifat Tata yang seperti itu."
" Iya, Ma. Yoga sudah memahami karakter Tata seperti apa."
Tok tok tok
" Assalamualaikum ...."
Terdengar suara pintu diketuk dibarengi salam dari orang yang muncul di pintu ruang rawat Natasha.
" Waalaikumsalam ..." jawab Mama Nabilla dan Yoga.
" Prayoga, kamu ini gimana, sih? Kenapa istri kamu bisa keguguran? Kenapa sampai bisa jatuh? Kamu nggak jaga istri kamu baik-baik?" Suara Mamih Ellena yang baru saja memasuki ruang rawat Natasha langsung menggelegar.
" Mih ..." Yoga langsung menyalami kedua orang tuanya. " Pih, Mih, ini ada Mama Nabilla, mamanya Tata." Yoga langsung mengenalkan Mama Nabilla kepada papih mamihnya.
" Oh, apa kabar Ibu Nabilla? Maaf kami baru sempat ketemu. Rencananya Minggu depan kami akan ke Bandung, ya, Mih?" Papa Yoga menyalami Mama Nabilla.
" Ah, tidak apa-apa, Pak. Saya maklum Pak Pras pasti sibuk." Mama Nabilla memaklumi. " Apa kabar Bu Ellena, senang bisa bertemu mamihnya Yoga." Kini Mama Nabilla menyapa Mamih Ellena.
" Alhamdulillah baik, Ibu Nabilla sendiri bagaimana?" Mama Yoga membalas dengan ramah.
" Alhamdulillah baik juga, Bu Ellena," sahut Mama Nabilla. " Mari silahkan duduk ..." Mama Nabilla mempersilahkan besannya untuk duduk di sofa.
" Apa yang sebenarnya terjadi, Prayoga?" tanya Papa Yoga kemudian.
" Yoga juga nggak tahu pastinya, Pih. Cuma cerita dari teman yang kebetulan melihat, ada anak kecil berlarian lalu menabrak dan membuat Tata terjatuh." Yoga tidak menceritakan kejadian sesungguhnya seperti yang diceritakan Kirania.
__ADS_1
" Kamu memang nggak menemani istri kamu?" Mama Yoga ikut bertanya. " Lalu test pack kemarin, kenapa bisa negatif kalau usia kehamilan Tata sudah tiga minggu? Kamu beli alat test pack nya nggak benar kali, ya?" tuding Mama Yoga.
" Yoga beli test pack nya di apotek, Mih. Masa iya nggak benar, sih?!" sanggah Yoga.
" Mungkin waktu dicek pertama kali memang belum terdeteksi kehamilan Tata, Bu Ellena." Mama Natasha mencoba menerangkan.
" Mamih menyesal, mestinya kemarin itu Tata langsung disuruh cek ke dokter kandungan. Soalnya ciri-ciri orang sedang hamil muda kelihatan sekali sama Tata. Mamih nggak berpikir panjang saat itu." Mama Yoga memijat pelipisnya.
" Ya sudahlah, Mih. Namanya juga belum rejeki, mau gimana lagi?" Papa Yoga mengusap punggung istrinya.
" Ini karena anak Papih ini teledor! Nggak bisa jaga istrinya." Mama Yoga menyalahkan anaknya. " Mamih kan sudah ingin punya cucu, Pih."
" Iya sabar, Mih. Kita berdoa saja supaya menantu kita cepat pulih, dan Allah SWT cepat memberikan kepercayaan kepada Tata dan Yoga untuk segera punya momongan " Papa Yoga berkali-kali memberikan sentuhan tangannya di.punggung istrinya agar istrinya itu lebih tenang.
" Tapi Mamih menyesal, Pih. Mestinya saat itu Mamih lebih peka terhadap Tata, nggak mungkin dia bersikap aneh kalau tidak terjadi sesuatu apa-apa, hiks ... hiks ...."
" Sabar, Mih. Sabar ...." Papa Yoga merengkuh tubuh istrinya dan menenggelamkan wajah sang istri ke dadanya.
" Mih ..." terdengar suara lirih Natasha, sontak membuat semua orang menoleh dan mendekat ke arah Natasha.
" Hiks, Mih ... maafkan Tata, Mih. Tata nggak bisa jaga calon cucu buat Mamih, hiks ... hiks ..." Natasha seketika terisak saat melihat mama mertuanya. Rasa sedih, rasa bersalah dan rasa takut akan kebencian Mamih Ellena kini bercampur jadi satu di dalam hati dan pikirannya. Sehingga dia hanya mampu menangis dan meminta maaf sebagai bentuk rasa penyesalannya atas kelalaiannya menjaga kandungan di rahimnya.
*
*
*
Bersambung ...
Huft sehari nulis 2 novel berasa dikejar-kejar hantu😂😂 Jadi boleh ya minta Like & Komen reader tercintah sekalian. Buatlah otor kalian yang amatiran ini jadi semangat nulis dan rajin up. Makasih buat yang sudah kasih dukungan selama ini
Selamat menunggu waktu berbuka puasa
__ADS_1
Happy Reading ❤️