
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat Isya, Yoga keluar apartemen untuk mencari Natasha. Dia bahkan tak sempat mengisi perutnya yang tak terisi nasi sejak siang tadi. Rencana makan siang dengan Natasha membuatnya tak menyentuh makanan ringan yang dipesan saat berbicara dengan Adelia di kafe tadi.
Yoga melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sembari mengedar pandangan. Setiap kali melintas mobil berwarna putih apalagi ada beberapa kali menemukan mobil setipe seperti milik Natasha jantungnya berdebar kencang, berharap itu memang mobil Natasha. Tapi hatinya langsung mencelos setelah mengetahui ternyata itu bukan Natasha.
Sekitar jam sembilan lewat dia sampai ke rumah kontrakannya. Dia menatap rumah kecil yang terkunci rapat dari luar. Kecemasan membuatnya tak berfikir, bagaimana Natasha ada di sini, sedangkan istrinya itu tak memiliki kunci rumah itu.
" Nginap di sini, Ga?" Suara Bang Jamal membuyarkan lamunan Yoga yang berdiri mematung di depan rumahnya.
" Eh, Bang Jamal." Yoga menyapa. " Nggak, Bang. Cuma ambil barang yang tertinggal," sahutnya berbohong.
" Oh, kirain nginap di sini."
" Dari mana, Bang?"
" Beli nasi goreng." Bang Jamal menunjukkan plastik yang dijinjingnya." Si Ida malam-malam kepingin makan nasi goreng Bang Somad, kaya orang ngidam aja," gerutunya.
" Benar ngidam mungkin, Bang," sahut Yoga.
" Masa? Nggak mungkinlah, Si Ida hamil ..." bantah Bang Jamal.
" Nggak mungkin gimana? Orang Abang kalau minta selalu Ida kasih. Abang bilang cuma sekali, kalau udah dipraktekin mintanya berkali-kali." Suara Mpok Ida menyahuti dari dalam.
" Jadi lo beneran hamil, Da?" Bang Jamal terperangah. " Lo masih kuat mengejan memang, Da?"
" Insya Allah, Bang. Yang penting jaga kesehatan, makan yang banyak gizi, sama minta perlindungan Gusti Allah," ujar Mpok Ida tanpa ada sedikitpun kecemasan.
" Selamat, Mpok. Atas kehamilannya yang ke tiga, " ucap Yoga
" Makasih, Ga. Si cantik mana? Nggak diajak kemari?"
Yoga menggeleng, kembali dia teringat istrinya. " Nggak, Mpok."
" Salam ya, buat Si Tata, Ga," ujar Mpok Ida.
" Ya, sudah ... saya pamit dulu, Bang, Mpok." Yoga berniat kembali mencari Natasha.
" Iya sana, buruan pulang, kelonin bini lo, cepet nyusul Mpok, biar nanti kita hamil samaan."
__ADS_1
Yoga memaksakan senyumnya menanggapi ucapan Mpok Ida. " Saya permisi, Bang, Mpok, Assalamualaikum ..,,"
" Waalaikumsalam."
***
Rasa lelah dan kantuk, serta dinginnya kota Jakarta yang tadi sempat diguyur hujan tak menyurutkan tekad Yoga untuk terus menemukan keberadaan Natasha. Waktu sudah semakin larut, bahkan sudah masuk waktu dini hari. Tapi tak juga ditemukan di mana Natasha berada. Nomer teleponnya masih belum aktif membuat Yoga semakin gusar. Berkali-kali dia menghubungi Bi Surti dengan harapan Natasha sudah pulang, tapi dia selalu kecewa setiap dengar jawaban dari Bi Surti. Dia juga coba mencari kembali ke butik, siapa tahu Natasha kembali ke sana, tapi hasilnya nihil.
" Ya Allah, kamu di mana, Ta??" gumamnya penuh nada kecemasan dan frustasi.
Apalagi setiap melewati kumpulan pria-pria bertampang sangar di beberapa sudut jalan yang dilewatinya, semakin membuat hatinya tak karuan. Dia takut sesuatu terjadi pada Natasha.
Yoga tidak menyangka kelalaiannya melanggar janji makan siangnya berimbas pada hilangnya Natasha. Dia tidak menyangka karena lebih mengutamakan mendengarkan cerita Adelia membuatnya kesulitan menemukan Natasha.
Hampir masuk waktu Shubuh Yoga kembali ke apartemen dengan langkah gontai, dia memasuki kamar Natasha dan menghempaskan tubuh lelahnya dengan kaki menggantung ke lantai.
Yoga berkali-kali mengusap kasar wajahnya dan mencengkram kuat rambutnya.
" Kamu boleh hukum aku, apapun itu aku akan terima, tapi jangan seperti ini, Ta," lirih Yoga dengan mata hampir berkaca-kaca. " Aku mesti cari kamu ke mana lagi, Ta?"
Yoga kembali meraih ponselnya, dia kembali menghubungi nomer Natasha, tapi hasilnya sama.
Secara tak sengaja dia mengklik pembaharuan status WhatsApp, ternyata dia melihat adik iparnya saat ini sedang online, dan men-share gambar sosok papa mertuanya.
Dengan cepat dia mengirim pesan, berharap bisa berhasil menemukan petunjuk tentang istrinya.
"Assalamualaikum, adik ipar. Masih melek atau baru bangun, nih?"
Kurang dari satu menit Yoga mendapat balasan di ponselnya.
" Waalaikumsalam Kang Ojol ganteng kakak iparku😂🤭, Baru bangun, Kak. Mimpi ketemu papa, makanya trus upload foto papa, Kakak sendiri belum tidur? Atau habis lembur bikin anak sama Mbak Tata, hayooo...🤭🤔"
Yoga menelan saliva, anggapan akan kemungkinan Natasha ada di Bandung sirna saat membaca balasan dari Amara.
Setelah membalas singkat pesan Amara, Yoga melangkah ke ruang tamu, dia mendudukkan tubuhnya di sofa dan menengadahkan kepala bersandar ke punggung sofa dengan mata terpejam.
Dia tak bisa bayangkan bagaimana khawatirnya keluarga Natasha jika tahu saat ini Natasha menghilang, entah dia bersembunyi di mana saat ini. Pasti mereka sangat kecewa kepadanya, Mungkin Almarhum Papa Farhan juga, jika bisa melihat akan kecewa setelah tahu dia tidak bisa menjalankan amanatnya untuk menjaga Natasha dengan benar.
__ADS_1
Yoga memijat pelipisnya, kepalanya terasa mau pecah, Sekitar jam empat kurang matanya terpejam karena terjangan rasa lelah dan kantuk yang begitu berat menyerangnya
Yoga tersentak saat merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya.
" Mas, bangun ... sudah masuk Shubuh, istirahatnya pindah di kamar saja jangan di sini," ternyata Bi Surti yang membangunkannya.
Tubuh Yoga menggeliat. " Jam berapa sekarang, Bu?" suara Yoga terdengar berat.
" Setengah lima, Mas. Si Non gimana, Mas?"
Yoga menarik nafasnya yang terasa tercekat. " Saya belum menemukannya, Bi. Saya benar-benar nggak tahu harus mencari dia di mana lagi? Dia seperti hilang ditelan bumi. Saya khawatir banget, Bi. Saya nggak akan bisa memaafkan diri saya sendiri jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Natasha." Yoga terdengar gusar dan penuh rasa menyesal.
" Apa kita harus lapor polisi, Mas?" tanya Bi Surti.
" Saya mandi dulu, setelah itu cari dia lagi, Bi. Jika sampai tengah hari masih belum ketemu mungkin harus lapor ke polisi." Yoga bangkit menuju arah kamar.
Selepas mandi dan menjalankan Sholat Shubuh, Yoga pamit ke Bi Surti untuk kembali mencari Natasha.
" Mas, sarapan dulu saja. Semalam nggak makan, kan?"
" Saya nggak akan bisa menikmati makanan sementara hati saya nggak tenang, nggak tahu Tata di mana, Bi ..." lirih Yoga.
" Tapi Mas Yoga semalaman pergi dan tidur sebentar, kalau Mas Yoga nggak sarapan, nanti sakit, gimana? Gimana mau cari Si Non, kalau Mas Yoga jatuh sakit? Bibi buatkan roti panggang sebentar sama teh manis hangat ya, Mas." Tanpa persetujuan Yoga, wanita paruh itu bergegas ke arah dapur.
Yoga akhirnya menuruti perkataan Bi Surti, dia pun memilih duduk di sofa menunggu Bi Surti menyiapkan sarapan untuknya.
" Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, Ta. Aku berharap kamu hanya bersembunyi dariku karena kamu marah aku ingkar janji makan siang. Dan jika aku ketemu kamu dalam keadaan kamu baik-baik saja, aku akan kasih kamu hukuman, karena kamu sudah bikin aku cemas, gelisah dan khawatir seperti ini, Ta," gumam Yoga.
*
*
*
Author POV : Cari dulu sampai ketemu Neng Tata nya, baru mikir kasih hukuman, Tapi hukumannya yang enak-enak aja ya, Kang🤭🤭
Bersambung...
__ADS_1
Happy Reading😘