
Selepas Isya, Yoga dan keluarga berkunjung ke rumah Uwa Ridwan, orang tua Teh Lily, yang juga kakak tertua dari Mamih Ellena. Tentu saja banyak sanak saudara yang berkumpul di sana. Yoga pun sekalian mengenalkan Natasha kepada keluarga besar yang malam itu datang.
" Ta, sini ikut Teteh." Teh Lily menarik Natasha ke kamarnya.
Natasha memasuki ruangan kamar Teh Lily yang luas, tak seluas kamar Yoga, tapi cukup besar untuk ukuran kamar pribadi.
" Ada apa, Teh?" Natasha duduk di tempat tidur Teh Lily. " Kok kamarnya nggak dihias, Teh?"
" Nggak, soalnya 'kan selepas resepsi di hotel kita nginep di hotel dua hari, setelah itu langsung terbang ke Bali," ujar Teh Lily.
" Honeymoon di Bali, Teh?"
" Honeymoon ngga honeymoon sih, Ta."
" Maksudnya?"
" A' Budi, calon suami Teteh 'kan dipindah tugas 'kan ke Bali."
" Oh ya? Apa Teh Lily nanti ikut pindah ke sana atau LDR?"
" Iya, Ta. Hotel tempat A' Budi kerja sekarang, mempromosikan A' Budi untuk tangani hotel di sana. Soalnya pimpinan di sana baru, jadi butuh bantuan orang yang handal untuk membantu, dan A' Budi 'lah yang terpilih."
" Yah ... tambah jauh dong kita, Teh."
" Mau gimana lagi? Kita 'kan mesti ikut suami."
" Benar juga, sih."
" Oh ya, Ta. Ceritakan ke Teteh, gimana rasanya?" Tiba-tiba Teh Lily terlihat antusias.
Natasha mengeryitkan keningnya. " Cerita apa, Teh?" tanya Nahtasha bingung.
__ADS_1
" Cerita tentang malam pertama kamu, bagaimana rasanya? Beneran sakit banget, ya? Terus gimana buat tahan rasa sakitnya? Deg-degan banget nggak, sih?"
Seketika wajah Natasha merona mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Teh Lily. Pertanyaan-pertanyaan yang menurut Natasha sangat memalukan jika harus dia jawab. Bagaimana mungkin dia berani menceritan tentang hubungan suami istri kepada orang lain? Sekali pun dia berani, itu hanya kepada Mama Nabilla saja.
" Cerita sama Teteh dong, Ta. Biar Teteh nggak grogi menghadapi besok malam." Teh Lily terkekeh.
" Hmmm, rasanya ... memang sakit sih, Teh. Namanya juga ada yang robek" ucap Natasha hampir tak terdengar.
" Duh, kok Teteh jadi takut ya, Ta. Teteh tuh nggak kuat nahan sakit. Kemarin saja suntik mau nikah Teteh sampai nangis, lho." Teh Lily terlihat gusar. Ada rasa geli yang menggelitik di hati Natasha melihat kakak iparnya itu.
" Hmmm ... Teteh nggak usah takut seperti itu. Sakitnya cuma bentar kok, Teh. Selebihnya sih ... nyeri-nyeri sedap." Natasha terkikik menutup mulutnya.
" Nyeri-nyeri sedap gimana maksudnya?" Teh Lily mengeryitkan keningnya hingga membuat Natasha tergelak.
" Ya, pokoknya nanti Teteh akan merasakan sendiri deh gimana nikmatnya. Awalnya sih pasti akan menolak, tapi lama-lama bikin ketagihan, Teh." Kini Natasha tersenyum geli mengingat dirinya sendiri yang sekarang malah menyukai bahkan menginginkan setiap sentuhan Yoga.
" Tapi Yoga gimana, Ta? Teman Teteh ada yang cerita, suaminya itu kasar kalau berhubungan sampai teman Teteh itu kesakitan. Yoga seperti itu, nggak?"
" Nggak kok, Teh. Tapi ...."
Natasha menggigit bibirnya, dia ragu antara ingin cerita atau tidak.
" Yoga itu nggak pernah puas, Teh. Kalau aku nggak bilang sudah, mau nya terus saja. Nggak lihat-lihat sikon juga, Tata kadang malu sendiri jadinya," curhat Natasha.
" Masa Yoga seperti itu, Ta? Padahal dia itu kelihatannya cool and calm gitu dibanding sepupu -sepupu cowok Teteh yang lain." Teh Lily seolah tak percaya dengan ucapan Natasha.
Natasha tersenyum, dia pun mengingat, awal-awal pertemuan dengan Yoga, dia juga punya penilaian yang sama denga Teh Lily, tapi setelah mereka menikah, jangan ditanya bagaimana mesumnya suaminya itu, bahkan terlihat nggak ada jaim-jaimnya sama sekali.
" Teteh ingat waktu pertama aku ke sini Minggu kemarin? Sikap Yoga gimana ke aku?"
" Oh iya, Teteh ingat, dia posesif banget, maunya nempel kamu terus, kebayang dong kalau sedang berduaan di kamar." Gelak tawa langsung terdengar saat Teh Lily berbicara. " Waktu pertama kali disentuh pria dan kita harus tanpa busana di depan pria rasanya deg-degan nggak sih, Ta?"
__ADS_1
Tawa Natasha langsung menyuruh saat mendengar pertama kali disentuh pria. Dan pria yang pertama kali menyentuhnya tentu saja bukan Yoga, walaupun dia tak sampai kehilangan kesuciannya, tapi tetap saja tubuhnya sudah ternoda sebelum dia menikah dengan Yoga.
" Ta, kenapa?" Teh Lily merasakan perubahan ekspresi Natasha.
" Ah ... nggak apa-apa, Teh." Natasha menyangkal sembari menggigit bibirnya.
" Ada apa, Ta? Ada perkataan Teteh yang menyinggung kamu, ya?" Teh Lily merasa tak enak hati.
Natasha menunduk, seketika matanya terasa panas, bahkan bola matanya sudah mulai mengembun sekarang.
" Ta ..." Teh Lily mengelus bahu Natasha.
Natasha langsung menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. " Maaf, Teh ...."
" Kamu kenapa, Ta? Apa Yoga jahat sama kamu?"
Natasha menggeleng cepat. " Nggak, Teh. Yoga baik banget sama aku, dia sudah seperti malaikat pelindung buat Tata." Natasha mencoba tersenyum.
Teh Lily masih mengamati wajah Natasha, dia merasa adik ipar nya itu menutupi sesuatu tapi dia tidak ingin terlalu ikut campur jika Natasha sendiri tidak ingin menceritakannya.
" Kamu sudah lama kenal Yoga? Soalnya dia 'kan jarang bawa teman wanita sebelumnya kecuali Rara."
" Aku belum lama kenal Yoga, Teh. Mungkin sekitar sebulanan lebih, belum sampai dua bulan."
" Hahhh?? Serius kamu, Ta? Sebulan lebih kenal lantas sekarang kalian sudah menikah? Bagaimana bisa?"
" Sebenarnya kita itu kenal secara nggak sengaja, Teh. Awalnya aku order dia antar aku pulang ke apartemen."
" I see ... dia ngojek, kan?"
Natasha mengangguk, tersenyum mengingat awal pertemuannya dengan Yoga.
__ADS_1
" Lalu apa yang terjadi?"
" Kita sering dipertemukan secara tak sengaja beberapa kali dalam kurun waktu yang sangat dekat. Dan Yoga sering menolongku saat aku dalam kesusahan.