
Yoga dan Natasha memasuki pekarangan rumah Bang Jamal. " Assalamualaikum ..." Yoga memberi salam sambil mendongakkan kepala ke arah pintu rumah Bang Jamal, berharap penghuni rumah itu masih terjaga, karena saat ini sudah lewat jam sembilan, mungkin sudah terlalu malam untuk waktu bertamu.
" Waalaikumsalam ..." sahut Mpok Ida yang terlihat dari jendela dalam rumah Bang Jamal. " Eh ... elo, Ga. Ke mana saja lo kemarin kagak kelihatan? Ayo masuk, sini!" Mpok Ida membuka pintu dan mempersilahkan Yoga masuk ke dalam.
" Baru pulang dari luar kota, Mpok. Ada keluarga yang meninggal.." Yoga memberi jalan kepada Natasha untuk lebih dahulu masuk ke dalam rumah Bang Jamal.
" Innalillahi wainnaillaihi Rojiuun, Mpok turut belasungkawa ya, Ga," ucap Mpok Ida prihatin. " Loh, ini kan cewek yang waktu itu, kan? Siapa tuh namanya, Mpok lupa," Mpok Ida yang nampak terkejut saat melihat Yoga yang datang bersama Natasha menepuk keningnya.
" Natasha, Mpok." Jawab Yoga.
" Oh, iya Natasha, Natasha Al ... Al ... Aldebaran atau apa gitu Mpok lupa," Mpok Ida terkekeh sambil menutup mulut dengan tangannya.
" Alexandrina, Mpok. Panggil saja Tata biar lebih mudah mengingatnya." Natasha tersenyum melihat tingkah Mpok Ida. Entah kenapa, meskipun baru sekali berjumpa dengan wanita berusia hampir empat puluh tahun itu, dia merasa nyaman, walaupun gaya bicara wanita itu terkesan ceplas-ceplos, tapi Mpok Ida cukup bisa membuat Natasha terhibur, apalagi saat pertama kali mereka bertemu.
" Nah, enak gitu. Tata, jadi nggak bikin belibet lidah Mpok, maklum lidah orang kampung, hehehe ...."
" Bang Jamal ada, Mpok? Apa sudah tidur?" tanya Yoga kemudian.
" Ada ... sebentar Mpok panggil, sekalian bikin kalian minuman. Bang ... ada Si Yoga, nih!" teriak Mpok Ida sebelum akhirnya berlalu masuk ke arah dapur.
Tak lama kemudian Bang Jamal keluar dari kamar masih menggunakan sarung dan kaos oblong.
" Sudah tidur, Bang? Saya ganggu ya, Bang.?"
"Eh, Ga. Nggak kok, lagi rebahan saja di kamar sambil nonton sinetron kesayangan Si Ida." Bang Jamal mengambil posisi duduk di depan Yoga. " Ke mana saja lo, kagak kelihatan batang hidungnya seminggu ini? Eh, ini kan cewek yang dulu pernah lo tolongin, Ga?" Bang Jamal melirik sekilas ke arah Natasha.
" Iya, Bang.."
" Ada apaan, nih?" selidik Bang Jamal.
" Ini, Bang. Saya mau lapor kalau saya sama Natasha sudah menikah."
Bang Jamal terperanjat mendengar perihal yang baru saja Yoga sampaikan kepadanya. " Serius lo, Ga?" bisik Bang Jamal mendekat ke arah Yoga.
" Benar, Bang. Saya sama Natasha sudah menikah minggu lalu di Bandung."
__ADS_1
" Apa?? lo sudah kawin sama Si Tata?" Mpok Ida yang baru saja masuk membawa tiga gelas minuman pun tak kalah kagetnya.
" Nikah, Da. Bukan kawin," ralat Bang Jamal.
" Hehe ... iya maksudnya itu. Kalau sudah nikah kan artinya sudah kawin juga, Bang," ucap Mpok Ida.
" Kok lo nikah nggak bilang-bilang Abang, Ga?" tanya Bang Jamal kemudian.
" Maaf, Bang. Kemarin itu memang mendadak acara nikahannya."
" Mendadak?? Jangan bilang kalau kalian ini sudah ..." Mpok Ida tidak melanjutkan ucapannya.
" Hush, lo jangan suka su"udzon gitu, Da!" Bang Jamal langsung mendelik ke arah istrinya.
" Nggak, Mpok. Kemarin itu Papanya Natasha sakit, beliau ingin melihat Natasha menikah sebelum beliau meninggal." Yoga menjelaskan supaya tidak terjadi salah paham.
" Oh, jadi yang meninggal itu Papanya Si Tata?" tanya Mpok Ida lagi.
" Iya, Mpok." Natasha yang sedari tadi hanya diam pun menyahuti.
" Lo yang sabar ya, Ta." Mpok Ida menghampiri Natasha mengusap halus punggung Natasha.
" Oh iya, Bang. Pernikahan kami baru sah secara agama, karena memang keadaannya yang mendesak." Yoga kemudian mengeluarkan dua lembar kertas dan menyerahkannya kepada Bang Jamal. " Ini surat keterangan Nikah Siri yang asli dan copyan nya, Bang."
Bang Jamal memperhatikan surat itu sejenak. " Oke, Ga. Abang ambil copyan nya saja, yang asli lo simpan aja. Nanti Abang yang terusin ke Bang Romi. " Bang Jamal menyerahkan kembali lembaran asli kepada Yoga. " Selamat ya buat kalian berdua, semoga samawa, langgeng sampai kakek nenek, sampai cukup maut saja yang bisa memisahkan ...."
" Aamiin, terima kasih, Bang ...."
" Mpok senang bisa tetanggaan sama lo, Ta. Siapa tahu aura cantikya dia bisa tertular sama Mpok, biar Bang Jamal makin lengket sama Ida, biar Bang Jamal nggak lirik-lirik wanita lain."
" Mana pernah Abang lirik wanita lain, Da!" sanggah Bang Jamal.
Yoga dan Natasha hanya tersenyum melihat Bang Jamal dan Mpok Ida.
" Kalau begitu kita langsung pamit ya, Bang, Mpok." Yoga berpamitan, karena dia tidak enak sudah mengganggu waktu istirahat mereka..
__ADS_1
" Buru-buru amat, Ga. Mentang-mentang pengantin baru, lagi anget-angetnya," ledek Mpok Ida. " Lo mesti sering minum jamu, Ta. Biar bisa mengimbangi, Si Yoga kan badannya tinggi gede, pasti napsunya juga gede ..." ucapan Mpok Ida sontak membuat Yoga dan Natasha tersipu malu.
" Da ...!! Bikin malu saja omongan lo, tuh!" Bang Yoga menatap tajam istrinya karena omongan istrinya itu yang terkesan ceplas-ceplos.
" Si Abang, biasanya juga senang kalau Ida ngomong soal gituan." Mpok Ida mencebik seraya memukul lengan suaminya.
" Iya tapi nggak depan orang lain, cukup ngomong gitu sama Abang saja kalau sedang berdua," bisik Bang Jamal hampir tak terdengar Yoga dan Natasha.
" Kami langsung pamit ya, Bang. Assalamualaikum." Yoga menarik tangan Natasha, memilih cepat meninggalkan pasangan romantis versi Bang Jamal-Mpok Ida itu.
" Waalaikumsalam ..." sahut Bang Jamal dan Mpok Ida bersamaan.
***
" Kamu tidurlah di sana, sudah aku ganti sprei-nya." Yoga menunjuk single bed berlebar seratus dua puluh senti meter yang pernah Natasha tiduri beberapa waktu lalu. Sementara dia cepat menggelar karpet di bawah. Dia sudah menyusun selimut bermotif klub sepak bola terkenal asal kota Milan berwarna biru hitam untuk menyanggah kepalanya. Karena kasurnya itu hanya menyediakan satu guling dan satu bantal yang dia berikan kepada Natasha.
Natasha berbaring dengan manatap langit-langit kamar Yoga. Meskipun kecil tapi kamar Yoga terlihat bersih dan rapih, tidak ada baju atau apapun yang tergantung sembarang, seperti kebiasaan pria-pria lain, bahkan tadi Yoga sempat membeli pengharum ruangan elektrik di mini market setelah memarkirkan mobilnya.
" Coba kamu ijinkan aku pulang ke apartemen, kamu jadi nggak menderita harus tidur di bawah seperti itu," ucap Natasha memecah keheningan antara mereka.
" Dari pada kamu balik ke apartemen kamu, mending kamu geser dikit tidurnya. Ranjang ini masih cukup buat tidur berdua, apalagi pengantin baru seperti kita," ujar Yoga mulai menggoda Natasha.
." Nggak usah ngarep, deh!"
Yoga terkekeh kecil. " Sampai kapan kita begini? Sudah nikah tapi nggak boleh sentuh istri. Jangankah disentuh, sekamar saja tidurnya misah begini. Nasib-nasib Kang Ojol ..."
Beberapa menit kemudian setelah tak didengarnya lagi suara Natasha, Yoga bangkit menoleh ke ranjangnya. Terlihat Natasha yang terbaring dengan posisi miring membelakanginya. Perlahan dia beranjak dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh Natasha. Jarak tubuh mereka sangat dekat, Harum dari rambut Natasha menyeruak masuk ke Indra penciumannya. Yoga menelan salivanya, Jantungnya berdetak tak beraturan bagaimana pun ini adalah pertama kalinya dia tidur satu ranjang bersama seorang wanita.
*
*
*
Author POV : Apa yang akan terjadi setelah ini pemirsah??🤭
__ADS_1
Bersambung...
Happy Reading😘