MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Season 2 -- Kunjungan Dirga dan Kirania


__ADS_3

" Bang Radit, nggak apa-apa? Siapa cewek tadi, Bang?" tanya beberapa wanita anak didik Raditya yang keluar dari aula selepas Amara meninggalkan Raditya.


" Nggak apa-apa, kok. Memangnya kenapa?" tanya Raditya enteng.


" Tadi kami lihat ada cewek yang mukul Bang Radit. Memangnya cewek itu siapa?" tanya salah satu cewek itu.


" Oh itu ... biasalah, cintanya aku tolak makanya dia ngambek merasa tak terima aku cuekin." Raditya berseloroh.


" Iiihhh, nggak tahu malu banget itu cewek, ngemis-ngemis cinta sampai segitunya."Cewek yang lain menimpali.


" Makanya Bang Radit itu jangan terlalu baik sama orang, kan akhirnya orang itu salah paham jadi baper sama sikap Bang Radit." Cewek pertama menambahi.


" Bukannya kita itu mesti baik sama semua orang dan nggak boleh pilih-pilih kita baik sama siapa saja?" Raditya menyahuti.


" Ya emang iya, sih. Tapi kalau kejadian seperti cewek tadi yang nyerang Bang Radit gimana? Coba tadi Bang Radit panggil kita, sudah babak belur pasti itu cewek." Cewek ketiga berpendapat.


" Ya ampun, apa kalian lupa? Kalian mempelajari ilmu bela diri itu bukan untuk melakukan pengeroyokan, bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk membela diri jika kalian terdesak atau menolong orang lain yang terdesak karena perbuatan orang yang berniat jahat."


" Kan kita juga mau nolongin Bang Radit." Mereka bertiga kompak menyahuti.


" Menolongku? Apa kalian melihat Abang terdesak? Apa kalian melihat Abang butuh pertolongan kalian?" tanya Raditya kepada mereka bertiga.


" Nggak sih, Bang." Mereka bertiga tertunduk.


" Berarti kalian tidak perlu menunjukkan keahlian kalian berbela diri untuk mengintimidasi orang lain, kalian paham?!"


" Paham, Bang."


" Ya sudah, kalian kembali masuk latihan."


" Baik, Bang." Mereka pun membubarkan diri dan berjalan menjauhi Raditya.


Sementara Raditya kembali menoleh ke arah mobil yang dikendarai Amara yang semakin menjauh dari pandangannya dengan seulas senyum di bibirnya.


***


" Assalamualaikum, Mami Tata"


Sapa seorang gadis kecil saat Natasha membuka pintu rumahnya.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, hai cantik ... apa kabar Falisha Sayang?" Natasha membalas sapaan dari putri Dirga dan Kirania.


" Alhamdulillah, Fa baik, Mami ..." Falisha langsung mencium punggung tangan Natasha.


" Pintar sekali sih kamu, Sayang." Natasha mengusap lembut pipi Falisha.


" Hai, Natasha ..." sapa Kirania kepada Natasha.


" Hai, Ran ..." Natasha pun melakukan cipika-cipiki dengan Kirania.


" Aku ingin titip Falisha, Nat. Dia ingin menginap di rumah Mami Tata katanya. Dia ingin main camping dengan Kakak Kia," cerita Kirania.


" Oh, Fa mau main sama Kak Kia, ya? Ayo masuk dulu, Ran. Pak Dirga." Natasha mempersilahkan Kirania dan suaminya yang berkunjung ke rumahnya.


" Ven, tolong antar Falisha ke kamar Kia." Natasha menyuruh Veny, salah seorang pengasuh anaknya yang saat itu selesai membuatkan susu formula untuk Aulia mengantar Falisha ke kamar Azkia.


" Baik, Bu. Ayo Fa, Sus Veny antar ke Kak Kia." Veny mengulurkan tangannya ke arah Falisha, dan Falisha pun mengikuti.


" Aku titip Fa ya, Nat," ucap Kirania kembali.


" Jangan sampai kau buat anakku menangis," sahut Dirga menimpali.


" Iiisshh, siapa juga yang akan membuat calon menantuku itu menangis? Memangnya Anda waktu pacaran dulu, Pak Dirga. Yang senang membuat Kirania menangis?!" cibir Natasha. " Kalau yang ganteng ini, mau menginap di rumah Mami Tata juga, nggak? Ada Adik Haikal, lho." tanya Natasha pada Daffa, balita laki-laki umur dua tahun yang sedang dalam pangkuan Dirga, yang dijawab dengan gelengan kepala balita itu.


" Iya, Ran. Sekarang ini dia tinggal di Jakarta dan aku suruh dia urus butik biar ada kesibukan." Natasha menjelaskan.


" Jadi kamu sekarang nggak pergi ke butik?" tanya Kirania


" Nggak, dong. Beruntung istri-istri seperti kita ini yang punya suami kaya raya tinggal duduk santai menikmati hasil kerja suami." Natasha terkekeh saat berucap.


" Suamimu mana? Belum pulang? Lembur? Lembur kencan dengan mahasiswinya atau lembur kencan dengan sektetarisnya?" sindir Dirga terkekeh.


" Iiissshh ... kalau nggak ingat dia itu suamimu, Ran. Ingin rasanya aku tampol mulutnya pakai wedges." Natasha memutar bola matanya menanggapi ledekan dari suami Kirania itu.


" Kalian ini kalau bertemu, selalu saja berdebat nggak pernah bosan." Kirania menggelengkan kepala menanggapi sikap Natasha dan Dirga.


" Hahaha, kau sendiri yang hidup tiap hari dengannya, apa kau tak bosen punya suami menjengkelkan seperti dia, Ran?" Natasha tergelak.


" Apa kau bilang? Suami menjengkelkan? Tentu saja bersama istriku tercinta tidak mungkin aku bersikap menjengkelkan. Benar 'kan, Sayang?" Tangan kanan Dirga merengkuh dan menarik tubuh Kirania mendekat ke arahnya lalu membenamkan sebuah kecupan di pelipis sang istri membuat Natasha memutar bola matanya.

__ADS_1


" Lho, ada Bang Dirga dan Rania?" Tiba-tiba dari arah ruangan atas terdengar suara Yoga yang tak lama disertai kemunculannya yang berjalan menuruni anak tangga mengenakan t-shirt tanpa kerah warna putih dan celana selutut berwarna dark grey. " Sudah dari tadi, Bang?" tanya Yoga kemudian.


" Baru saja. Falisha ingin main dengan Kia. Dia bilang minta menginap di rumah Maminya. Aku heran, anakku itu semangat sekali jika bilang ingin ke Mami Tata, padahal istrimu ini cerewet sekali," sindir Dirga tanpa menoleh ke arah Natasha yang mencebikkan bibirnya membuat Yoga tergelak. Baik Yoga maupun Kirania sudah memaklumi jika pasangan mereka itu sering saling berdebat.


" Itu artinya aku itu tulus terhadap Falisha, makanya dia senang di sini," sergah Natasha menyahuti seraya mengambil Daffa, adik dari Falisha yang sedang dalam pangkuan Dirga. Dia sengaja membiarkan Dirga dan Yoga memisahkan diri mengobrol dengannya dan Kirania.


" Kita ngobrol di teras depan, Bang?" Yoga mengajak Dirga ke teras seraya memperhatikan ikan-ikan yang ada di dalam kolam yang didesain dengan bentuk yang unik dan cukup asri.


Sementara Natasha tetap mengobrol dengan Kirania di ruangan tamu.


" Sini, Daffa biar sama aku saja, Nat. Berat dia ..." Kirania mencoba meminta anaknya yang digendong Natasha tapi Natasha menolak.


" Nggak apa-apa ya, Sayang. Mau digendong sama Mami Tata kan, ya?" Natasha dengan gemas menciumi pipi gembul anak laki-laki Kirania itu hingga balita itu tertawa kegelian.


" Mami Tata gemas sama Daffa, jangan-jangan Mami Tata ingin punya dede lagi, nih." Kirania berkelakar.


" Oh, astaga ... Aulia belum genap dua tahun, Ran. Yang benar saja kau ini, hahaha ..."


" Bukannya kalian rajin produksi anak?"


" Usiaku sudah tiga puluh lima, Ran. Sudah empat anak. Cukuplah dua laki-laki, dua perempuan."


" Tapi bukan berarti nggak bisa hamil lagi, kan? Masih bisa usia segitu."


" Hahaha ... kamu sendiri saja yang mestinya nambah."


" Abang sudah nggak kasih aku ijin hamil lagi, Nat."


" Lho, kenapa memangnya?"


" Dia nggak tega melihat aku mengalami morning sickness dan melihat aku kesakitan saat akan melahirkan. Sedangkan aku sendiri ingin melahirkan secara normal."


" Tapi kalau Allah kasih anak nggak nolak juga, kan? Siapa tahu kalian kebobolan."


" Iya pasti diterima dong, Nat."


Mereka berdua pun tertawa, tawa bahagia para istri yang begitu sangat dicintai oleh pasangan mereka masing-masing, dengan kisah percintaan mereka yang begitu unik dan mungkin bisa diceritakan kelak kepada anak mereka tentang bagaimana perjalanan kisah asmara mereka hingga akhirnya tumbuh buah kasih dari cinta mereka.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2