MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Merasa Bersalah


__ADS_3

Sekitar pukul empat sore mobil yang dikendarai Yoga memasuki gerbang rumah berhalaman luas dan sangat asri yang dijaga oleh satpam di depan pintu masuk.


" Ayo, turun!" Yoga membuka seat belt nya, setelah mereka sampai di depan rumah besar bercat putih bergaya Eropa klasik.


" Ini rumah kamu?" tanya Natasha yang terkesiap melihat rumah megah berlantai tiga di depannya.


" Bukan, aku ngekost di sini," celetuk Yoga membuat Natasha mencebik.


" Mang, punten parkirkeun mobilna! (Mang, tolong parkirkan mobilnya!)" perintah Yoga pada pria yang mendekat ke arahnya.


" Muhun, Den." ( Baik, Den) sahut pria itu membungkuk memberi hormat dan langsung mengambil kunci yang diberikan Yoga kepadanya.


Pandangan mata Natasha menyapu setiap sudut bangunan berukuran besar di hadapannya itu. Seketika hatinya menciut, diserang kegusaran yang teramat sangat. Kegelisahan atas sikap mamanya Yoga saat berbicara di telepon pagi tadi yang terkesan kurang bersahabat atas keberadaan dirinya tiba-tiba saja kembali menyeruak. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa Yoga ternyata bukanlah berasal dari keluarga biasa yang sederhana, jika dilihat dari rumah yang ada di hadapannya dan sikap pria yang tadi disuruh Yoga memarkirkan mobilnya, tanpa perlu ada penegasan dari mulut Yoga, Natasha bisa menebak kalau Yoga sepertinya anak dari orang terpandang di sini.


" Ayo masuk! Kenapa bengong saja di situ?" tanya Yoga pada istrinya yang bergeming tak mengikuti langkahnya.


Pandangan mata Natasha kini bertumpu pada sosok suaminya yang sedang menarik koper miliknya. " Lagian cuma handle koper doang yang digenggam, tangan aku nggak. Nggak ngerti apa aku lagi nervous gini," gumam Natasha sembari akhirnya mengikuti langkah Yoga.


" Bilang apa tadi?" tanya Yoga yang sekilas mendengar gumaman istrinya.


" Nggak ada."


" Jangan bohong!"


" Aku nggak ada ngomong apa-apa. Yoga!"


" Hmmm, minta digandeng saja nggak mau ngaku." Yoga kemudian menggenggam tangan Natasha hingga jari mereka saling bertautan. " Maaf kalau aku lupa genggam tangan kamu, soalnya aku kan jarang genggam tangan kamu seperti ini, kecuali saat bergumul berbagi gairah di ...."


Plakkk..


Sebuah pukulan mendarat di lengan Yoga. " Bisa ngga sih, nggak selalu membahas hal yang mesum-mesum?!" Natasha bersungut-sungut.


" Maaf, Bunda ... maaf .." ledek Yoga kemudian langsung memberikan sebuah kecupan di pipi istrinya itu.


" Iisshh ..." Natasha langsung menjauhkan tubuhnya dari Yoga.

__ADS_1


" Eh, Den Yoga ..." sapa seorang wanita saat pintu rumah terbuka


" Assalamu'alaikum, Bi Enjum ..." sapa Yoga tersenyum lebar.


" Waalaikumsalam, Den. Kumaha kabarna? Tambih kasep wae, Den. ( Waalaikumsalam, Den. Gimana kabarnya? Tambah ganteng saja, Den ) " sahut Bi Enjum kemudian arah pandangannya berganti ke arah sosok Natasha yang berdiri di samping Yoga dengan tangan saling bertautan dengan tangan Yoga.


" Saha ieu teh, Den? meni geulis pisan? ( Siapa ini tuh, Den? Cantik sekali)" tanya Bi Enjum yang terlihat menatap kagum pada Natasha. Natasha hanya tersenyum membalas ucapan Bi Enjum


" Nepangkeun, Bi. Ieu pun bojo. ( Kenalkan, Bi. ini istri saya )" ujar Yoga memperkenalkan Natasha kepada salah satu asisten rumah tangga orang tuanya.


" Bojo? (Istri)" Bi Enjum terperanjat dengan mulut ternganga, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Natasha. " Siapa namanya, Neng?"


" Natasha, Bi, panggil saja Tata ..." Natasha menyambut uluran tangan Bi Enjum.


" Iraha Den Yoga Nikah na? Naha Bibi teh teu terang, Den? ( Kapan Den Yoga nikahnya? Kenapa bibi nggak tahu?)."


" Sakitar dua minggoan kapengker, Bi. ( Sekitar dua minggu lalu, Bi)," jawab Yoga.


" Oh Kitu ...( Oh, begitu)" sahut Bi Enjum


" Papih sareng mamih aya, Bi? (Papih sama mamih ada, Bi)"


" Kadieu ku Bibi nu nyandakeun koper na, Den. ( Sini Bibi saja yang bawa kopernya)." kemudian mengambil koper yang sedang dipegang Yoga.


" Nuhun, Bi. (Terima kasih, Bi)"


" Abdi lebet heula nya, Bi. ( Saya masuk dulu ya, Bi)"


" Muhun, Den.(Baik, Den)" Bi Enjum mempersilahkan anak majikannya itu masuk.


Natasha kembali diserang kegusaran saat mulai memasuki bangunan bagian dalam rumah Yoga.


" Ga ..." Natasha menahan langkahnya, kenapa kaki nya terasa berat untuk melangkah.


" Nggak usah takut, kan ada aku." Yoga mempererat genggamannya lalu membawa Natasha melangkah ke ruang keluarga, dimana orang tuanya saat ini sedang berada.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, Pih. Mih ..." sapa Yoga mengucap salam kepada sepasang paruh baya yang sedang berbincang ringan.


" Waalaikumsalam ..." sahut orang tua Yoga berbarengan.


Yoga lalu menghampiri mereka, mencium tangan dan memeluk kedua orang tuanya bergantian. " Papih kumaha, damang? (Papih gimana, sehat?)"


" Alhamdulillah, damang. (Alhamdulillah, sehat)" jawab Papih Prasetya, Papa Yoga.


Sementara Natasha menatap interaksi harmonis Yoga dan kedua orang tua Yoga, seketika dia teringat dengan orang tuanya sendiri, sosok Mama Nabilla dan Papa Farhan yang selalu hangat menyambutnya saat dia pulang ke Bandung. Tiba-tiba kerinduan akan papanya kembali menyeruak, Natasha menundukkan wajahnya merasakan kehampaan yang saat ini dia rasakan.


" Kamu nggak ingin mengenalkan wanita yang kamu bawa kepada kami, Prayoga?!" Kata-kata Papa Yoga terdengar tenang tapi terasa tegas.


" Oh, maaf, Pih ..." Yoga menoleh ke arah Natasha yang masih terpaku dengan kepala tertunduk. " Ta, kenalkan ini Papih dan Mamih aku."


Natasha mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya dia melangkah mendekat ke arah kedua orang tua Yoga.


" Assalamu'alaikum Om, Tante, perkenalkan saya Natasha.." Natasha mengulurkan tangan meraih punggung tangan Papa dan Mama Yoga kemudian menciumnya. Ada sambutan berbeda dari kedua orang tua Yoga terhadap dirinya. Kalau Papa Yoga terlihat lebih tenang saat menerima uluran tangan Natasha, sedangkan Mama Yoga terlihat lebih dingin, bahkan suara dengusan nafas kasar yang menandakan ketidak sukaan terdengar jelas di telinga Natasha saat dia menyalami Mama mertuanya, apalagi saat ekor matanya sepintas melihat wajah sinis wanita paruh baya itu saat menatapnya.


" Kamu hutang penjelasan kepada Papih dan Mamih, Prayoga," lanjut Papa Yoga kembali seraya kembali duduk di sofa.


" Iya, Pih ..." Yoga pun ikut duduk di kursi samping tempat Papa Yoga duduk bersebelahan dengan Natasha.


" Jadi apa yang menyebabkan kalian memutuskan menikah diam-diam tanpa sepengetahuan kami? Apa kamu sudah tidak menganggap kami sebagai orang tuamu, Prayoga?!"


Deg


Kata-kata Papa Yoga membuat Natasha seakan diterpa bongkahan batu besar, bagaimanapun juga dialah yang tanpa sengaja menarik Yoga dalam permasalahan ini. Yoga tidaklah bersalah, Natasha lah yang merasa bersalah. Jika saat itu dia tidak meminta Yoga untuk berpura-pura untuk menjadi pacarnya, jika saat itu dia tidak meminta Yoga menemaninya bertemu dengan papanya, dan jika saat itu dia mampu menolak permintaan papanya untuk menikah dengan Yoga, mungkin saat ini dia tidak dihadapkan situasi sulit seperti ini. Sekarang justru Yoga lah yang dipersalahkan orang tuanya. Kata-kata Papa Yoga seakan menegaskan, seolah Yoga anak durhaka yang tidak menganggap keberadaan mereka sebagai orang tua karena mereka tidak mengetahui pernikahan anaknya yang belum genap berusia dua minggu, dan itu membuat Natasha merasa sangat bersalah...


*


*


*


Author POV : Maafkeun telat Up, masih repot di kerjaan RL,🙏 Moga masih sabar nungguin perjalanan kisah cinta Yoga❤️Natasha ya, mak-emak😁

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2