
Yoga melangkah mendekat ke arah Natasha yang masih terduduk di sofa.
" Mau apa kamu kemari?" ketus Natasha memalingkan pandangannya dari tatapan suaminya. Sebenarnya dia masih kesal karena tadi Yoga berbicara seperti itu di depan banyak orang, bukan malah membelanya, seolah-olah yang ditudingkan Fira itu benar, jika dirinya hanya mengaku-ngaku saja jika Yoga adalah suaminya.
Yoga duduk berjongkok di depan Natasha, Dia yang memperhatikan wajah Natasha yang sedikit tergores karena cakaran Fira langsung mengkerutkan keningnya. " Apa sakit? Kamu bar-bar juga ternyata." Yoga berusaha menyentuh wajah Natasha yang terluka tetapi tangannya langsung menepis.
" Mau apa kemari? Kenapa nggak kamu temani saja sana pacar-pacar kamu itu?!"
" Pacar apaan sih? Waktu belum nikah saja saya nggak punya pacar, apalagi sekarang sudah punyak istri," jawab Yoga kemudian berpindah duduk di sebelah Natasha. " Kadang aku miris, sih. Punya wajah ganteng gini tapi pacar nggak punya ..." Yoga terkekeh.
Natasha memutar bola matanya mendengar kenarsisan Yoga.
" Kamu mau apa tadi ke kampus aku?"
" Kebetulan lewat saja ...."
" Kebetulan lewat kok sampai berantem cakar-cakaran sama Fira."
" Aku pikir cuma Adel saja yang kamu bikin baper ternyata ada cewek lain juga ..." sindir Natasha.
" Kan sudah aku bilang, fans cewekku banyak ..." Natasha kembali memutar bola matanya mendengar tingkat kepedean suaminya itu yang sangat tinggi. " Lagipula aku cuma bikin baper satu wanita saja, kok."
Ekor mata Natasha melirik ke arah Yoga. " Kamu mau tahu siapa orangnya?" tanya Yoga kemudian.
" Nggak penting ...!"
" Tapi dia penting buat aku." Yoga melingkarkan tangan kiri ke pundak Natasha, sementara tangan kanannya menyentuh dagu Natasha dan mengarahkan ke dekat wajahnya, hingga kini wajah mereka berdekatan dengan mata yang saling lekat memandang.
Natasha yang tak kuasa berlama-lama harus beradu pandang dengan Yoga langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, yang tanpa sengaja saat ini pandangannya mendarat di bibir pria itu.
" Kenapa lihat bibir aku? Mau minta dicium?" Seringai nakal langsung terbentuk di sudut bibir Yoga. Sedang Natasha hanya berdecak menanggapinya.
" Coba ulangi lagi, aku ingin dengar yang kamu ucapkan tadi ..." Jemari Yoga mulai menyelusuri wajah Natasha.
" Memangnya aku bilang apa?"
" Kalimat yang kamu ucapkan dengan lantang di depan orang-orang tentang siapa aku ..." ucap Yoga lembut sementara jarinya menyentuh dan mengusap bibir Natasha. " Aku benar-benar nggak sangka istriku ini ternyata bar-bar juga demi melindungi suaminya agar tidak didekati wanita lain. " Yoga mendekatkan bibirnya ke arah bibir Natasha, dia hendak melu*mat bibir manis istrinya itu ketika tiba-tiba pintu diketuk. Natasha langsung mendorong tubuh Yoga menjauh darinya.
" Maaf, Bu. Ini gado-gado pesanan Ibu sudah sampai," ujar Sinta membawa piring dan bungkusan berisi gado-gado yang tadi dipesannya.
" Makasih, Sin." Natasha langsung meraih piring itu dan membuka bungkus gado-gado itu. Sementara Yoga sudah menunjukkan ekspresi kesal karena misinya tiba-tiba terhenti karena kedatangan Sinta.
" Mbak, lain kali kalau ada saya di sini, sebelum dipanggil jangan masuk ke ruangan, ya!" protes Yoga dengan Nada kesal, membuat Sinta langsung menunduk.
" Baik, Mas. Maaf kalau saya mengganggu, permisi ..." Sinta buru-buru keluar menutup pintu.
__ADS_1
Natasha yang melihat kekesalan Yoga tersenyum, dia merasa terselamatkan atas munculnya Sinta tadi.
" Kamu cuma beli satu? Buatku mana?"
" Mana aku tahu kamu mau ke sini," sahut Natasha dengan mulut terbuka hendak memasukan suapan pertama ke dalam mulutnya, dan tiba-tiba dengan cepat Yoga menarik tangan Natasha dan mengarahkan sendok berisi gado-gado itu ke mulutnya sendiri.
" Yoga, itu punya aku ...!" Natasha mencebik
" Salah sendiri kenapa belinya satu." Yoga langsung merebut piring yang dipegang Natasha itu dan kembali menyantap gado-gado itu tanpa bersalah, membuat Natasha kesal.
" Kamu kalau mau tuh bilang, biar nanti aku suruh Sinta belikan lagi."
" Kelamaan, aku udah lapar," sahut Yoga dengan mulut penuh makanan.
Natasha memberengut. " Aku juga lapar, tahu nggak, sih!"
Yoga lalu menyendok gado-gado itu lalu menyodorkan ke depan mulut Natasha. " Nih, aaa...."
" Ogah ...!
" Katanya lapar, buruan dimakan, aku tahu kamu kan habis bertarung tadi, banyak mengeluarkan tenaga," sindir Yoga terkekeh membuat Natasha mendelik ke arahnya. " Ayo buruan makan!"
" Nggak mau, iihh ... bekas kamu." Natasha mengedikkan bahunya.
Yoga lalu melangkah menuju pintu dan keluar dengan membawa piring kotor itu. Tak lama kemudian di kembali masuk ke ruang kerja Natasha dan duduk di samping Natasha.
" Kemana kamu kemarin siang?" Tanya Yoga
" Kemarin?"
" Iya, kemarin siang aku ke sini, tapi sekretarismu itu bilang kamu keluar menemui seseorang," ucap Yoga sementara tangannya sibuk memainkan anak rambut di kening Natasha.
" Aku, aku kemarin ada perlu."
" Perlu apa? Perlu menemui mantanmu itu? Apa kamu sangat menghawatirkan dia sampai harus menemuinya daripada bertemu dan meluangkan waktu dengan suamimu sendiri?!" tanya Yoga dengan sorot mata penuh intimidasi.
" A-aku hanya khawatir."
" Kau masih mengkhawatirkannya? Untuk apa kamu masih perduli dengannya? Untuk apa kamu ke sana? Apa kamu masih mencintainya?" selidik Yoga.
Natasha berdecak. " Kamu ini benar-benar menyebalkan! Aku itu ke sana karena aku khawatir sama kamu!" Yoga langsung mencengkram tangan Natasha yang mencoba bangkit hendak menjauh darinya.
" Kamu mencemaskan aku? Memangnya kenapa?"
" Karena Tante Melly ingin melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penganiayaan."
__ADS_1
Kening Yoga berkerut. " Tante Melly? Siapa?"
" Mamanya Andra."
" Jadi kamu khawatir kalau aku dipolisikan? Kamu takut kalau aku masuk penjara?" Senyum mengembang di bibir Yoga, mengetahui Natasha sudah mulai perduli padanya.
" Ya iyalah, kalau kamu di penjara yang jagain aku siapa?? Awww ...!" Natasha memekik saat Yoga mencubit pipinya.
" Itu hukuman karena mendoakan aku dipenjara.'" Yoga terkekeh. " Kamu nggak pelu cemas, mantanmu itu nggak akan berani melaporkan aku."
" Bukan Andra yang melaporkan, tapi mamanya."
" Apa mamanya itu nggak sadar, tindakan pelecehan yang dilakukan anaknya terhadapmu itu lebih kriminal?"
Natasha tercenung mendengar ucapan Yoga. Yoga yang melihat air muka istrinya berubah muram itu langsung merengkuh tubuh Natasha ke dalam pelukannya. " Maaf, kalau mengingatkan kamu kembali kepada peristiwa itu." Yoga menghunjani pucuk kepala dengan kecupan.
" Kamu tahu dari mana? Kalau Andra yang melakukan itu." Natasha mendongakkan kepala menatap wajah Yoga. " Aku nggak pernah cerita hal itu kepada siapapun juga."
" Awalnya aku curiga dari sikap kamu saat aku menggantarmu pulang, saat kamu menolak pria itu mengetahui keadaanmu, aku bisa melihat wajah kamu yang nampak syok saat mendengar nama Andra disebut Bi Surti. Aku pikir bagaimana mungkin kamu tak ingin dia tahu keberadaanmu, karena setahuku kamu sangat mencintainya. Biasanya dalam keadaan kamu seperti itu, yang kamu butuhkan adalah orang yang kamu cintai ..." Yoga menjeda ucapan untuk mengecup kening Natasha sekilas. " Dan dari perkataan dia kemarin yang menyinggung soal tanggung jawab dan menebus kesalahan, saat mata dia lekat menatapmu ketika mengucapkan kalimat itu, dan juga saat aku melihat wajah tegang kamu saat mendengar ucapan Andra. Itulah yang sesungguhnya membuat emosiku tersulut."
Mata Natasha langsung berkaca-kaca, dia sangat terharu melihat suaminya itu begitu peka terhadap peristiwa yang pernah terjadi kepadanya. Tanpa sadar tangan Natasha menyentuh wajah Yoga. " Apa terasa sakit?"
" Tentu saja aku merasa sakit saat tahu dia pelakunya," tandas Yoga.
" Bukan itu ..."
" Lalu??"
" Dulu aku pernah menamparmu, apa itu sakit??"
" Memang dulu kamu tampar aku, ya? Kok aku nggak kerasa ditampar? Aku justru merasa wajahku itu sedang dibelai tanganmu." Yoga terkekeh mengingat kejadian itu. Sementara tangannya mulai membuka satu persatu kancing baju yang kenakan Natasha.
" Yoga kamu mau apa??" Wajah Natasha seketika menegang.
*
*
*
Author POV : Kang, tolong itu tangannya dikondisikan yaa. hadeuh pinter banget nih cari celah ,ðŸ¤
Bersambung...
Happy Reading😘
__ADS_1