
" Mas, mas ... kok aku kelihatan tambah gemuk, ya? Lihat ini pipi aku, sudah kaya kue bolem, deh. Tuh badanku juga. Banyak baju yang sudah agak sempit gitu, deh," keluh Natasha saat bercermin di depan kaca di kamarnya.
" Gemuk apanya, sih? Ini tuh namanya montok, aku suka, kok." Yoga langsung melingkarkan lengannya di pinggang Natasha sedangkan bibirnya langsung mengabsen pundak dan leher Natasha.
" Iiihh ... ini gemuk, Mas. Nggak lihat apa kelihatan tambah gede gini?" tangan Natasha meraba bagian dadanya.
Yoga yang melihat tangan sang istri menyentuh bagian favoritnya langsung menyeringai. " Mana sini lihat, aku ukur dulu, masih muat nggak dalam genggamanku." Yoga langsung mengantikan posisi tangan Natasha yang memegang kedua bongkahan milik Natasha. Bukan hanya memegang tapi dia mulai iseng mulai memainkannya. Memilin puncak bongkahannya juga meremasnya walau terhalang blouse yang di pakai Natasha
" Mas, iihh ... nanti ASI nya keluar!" Natasha langsung menyingkirkan tangan usil sang suami. Karena kalau dia meladeni sudah pasti akan seperti apa kegiatan itu berakhir.
" Aku mau diet ah, Mas," lanjut Natasha setelah berhasil melepaskan diri dari sang suami.
" Diet? Buat apa pakai diet segala sih, Yank? Kamu itu 'kan masih menyusui Abhi!" protes Yoga.
" Tapi aku takuuuutt ..." rengek Natasha.
" Takut apa?" tanya Yoga mendekati istrinya yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur.
" Takut kamu ilfil sama aku gara-gara tubuhku melar, terus kamu cari wanita lain yang lebih cantik dan seksi dari aku." Natasha mencebikkan bibirnya.
Yoga tergelak mendengar jawaban istrinya membuat bibir Natasha makin mengerucut.
" Kalau aku ilfil karena perubahan tubuh kamu seperti ini, itu namanya aku tuh nggak tahu diri. Bentuk tubuh kamu berubah itu 'kan karena ulah aku juga. Aku yang bikin kamu hamil, harus mengandung, melahirkan anak. Aku paling nggak suka sama yang para suami yang protes karena perubahan bentuk tubuh istri terus dijadikan alasan mereka untuk berpoligami." Natasha begitu terpukau mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya itu.
" Masya Allah, Mas. Beruntung banget sih kamu punya istri aku," kelakar Natasha seraya mencubit kedua pipi Yoga dan menggerakkannya layaknya mencubit gemas anak kecil.
" Aku yang beruntung? Mestinya kamu dong yang beruntung dapat suami seganteng aku, sesabar aku, sebaik aku, se ...."
" Mesum kamu?" ledek Natasha menyerebot perkataan suaminya.
" Tapi suka, kan?"
Natasha hanya terkekeh membalas pertanyaan sang suami lalu memberi kecupan di pipi Yoga.
" Aku bukan Alden, bukan Azkia, bukan juga Abhi yang cukup dicium cuma di pipi doang," protes Yoga langsung menangkup wajah istrinya dan kini dialah yang mulai memberikan ciuman di bibir istrinya itu. Seperti biasa dia memulainya dengan penuh kelembutan, seraya menggiring istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur hingga kini dia menindih tubuh Natasha tanpa menjeda pagutannya. Tangannya yang aktif mulai bergerilya melepas pengait kain yang menyangga kedua aset favoritnya. Memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan yang bagaikan candu untuk mereka berdua hingga mata mereka berdua kini berkabutkan gairah. Dan kini mereka siap melakukan penyatuan untuk menuntaskan gelenyar-gelenyar yang membuat akal sehat mereka berhenti seketika.
" Mas, buruan ..." rengek Natasha sudah tidak sabar.
" Siap, Sayang." Yoga siap menyatukan tubuhnya dengan sang istri.
" Ooaaa ... ooaaa ... ooaaa ..."
__ADS_1
Suara tangis Abhi terdengar dari box bayi di samping tempat tidur mereka, membuat pasangan suami itu langsung melemas karena serbuan hasrat yang membuncah harus menguap karena tangisan bayi berusia empat bulan itu.
" Ya Allah. Abhi ... nggak boleh lihat papa senang ya." Yoga menghempaskan tubuhnya ke samping Natasha. Sedang Natasha buru-buru berlari tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya mendekati Abhi yang masih saja menangis.
***
" Kita mau ke mana sih, Ma?" tanya Alden, saat siang ini Natasha membawa Alden bersama kedua anaknya yang lain ditambah baby sister yang menggendong Abhi pergi ke Mall.
" Kita mau beli kado, Kak." Natasha membalas pertanyaan Alden.
" Kado ulang taun ya, Ma? Capa yang ulang taun, Ma?" Azkia yang sibuk bermain boneka ikut menyahuti.
" Adik Falisha, Sayang," jawab Natasha.
" Kia diundang ya, Ma?" tanya gadis mungil itu
" Diundang dong, Sayang."
" Kak Alden?" tanya Azkia kembali.
" Diundang ...."
" Diundang semua, Sayang." Natasha mencubit gemas pipi anak perempuan satu-satunya itu.
" Kak Kayla diundang nggak, Ma?" Pertanyaan Alden sontak membuat Natasha menolehkan pandangannya ke arah Alden.
" Kayla?" Natasha lalu mengeryitkan keningnya. " Kak Kayla 'kan ada di luar negeri, Kak. Mama nggak tahu deh, nanti diundang apa nggak sama Tante Rania."
Natasha memperhatikan ekspresi wajah sendu anak sulungnya yang berusia belum genap lima tahun itu. Seketika ingatan terbayang saat kejadian di wedding party Andra, saat Alden menunjuk dan memuji Kayla cantik. saat itu di usia Alden yang belum genap tiga tahun sudah memahami tentang kata cantik.
***
" Hallo Adik Falisha, happy birthday, Sayang." Natasha langsung meraih Falisha dari tangan Kirania saat mereka datang di perayaan pesta ulang tahun Falisha yang pertama.
" Calon mantuku yang cantik." Natasha lalu menghujani ciuman ke pipi Falisha dengan gemas.
" Hei, hati-hati mencium anakku. Bisa-bisa dia tertular virus cerewet sepertimu." suara pria dari belakang Kirania membuat Natasha menoleh malas pada pria itu.
" Nggak apa-apa ya, Sayang. Cerewet-cerewet juga yang penting cantik." Natasha kembali menciumi pipi Falisha.
" Mana suamimu?" tanya Papa Falisha kepada Natasha.
__ADS_1
" Masih di kampus, Biasalah orang sibuk," sahut Natasha.
" Di kampus? Sibuk godain mahasiswi-mahasiswi cantik?"
Natasha langsung melotot ke arah Papa Falisha mendengar suaminya itu difitnah.
" Abang ..." Kirania merangkul lengan suaminya, memintanya untuk berhenti menggoda Natasha. Karena dia tahu setiap bertemu dengan istri dari Yoga, suaminya selalu saja mengajak berdebat wanita cantik itu.
" Jangan sembarangan nuduh suamiku yang tidak-tidak, ya. Suami aku itu tipe setia, nggak mungkin dia berani macam-macam sama aku." Natasha menyahuti penuh percaya diri.
Papa Falisha tergelak mendengar jawaban Natasha. " Jelas saja suamimu takut, istrinya galak kaya macan begini." Papa Falisha menyindir.
" Iiihh emang aku itu macan, Mama cantik, dong. Benar kan, Ran?" Natasha mengedipkan matanya ke arah Kirania yang juga akhirnya dibalas tawa Kirania juga.
" Kamu sudah isi lagi belum, Ran?" tanya Natasha.
" Belum, Nat." Kirania menggeleng.
" Kamu mesti belajar dong sama aku. Pakai gaya yang lain biar nggak jenuh juga."
Kirania dibuat bersemu wajahnya mendengar ucapan Natasha yang terkesan ceplas-ceplos.
" Memang kamu mau ajari istriku ini pakai gaya apa?" Justru Papa Falisha lah yang antusias menanggapi Natasha.
" Ck, mau tahu saja." Natasha memutar bola matanya. " Sudah sana gabung sama Hot Daddy yang lain, biarkan Mama-mama cantik ini merumpi. Soal gaya tenang saja nanti aku ajari istrimu gaya yang paling hot, bikin kamu malas berangkat ke kantor." Natasha tertawa menggoda pasangan suami istri itu.
*
*
*
Dear Readers yang Budiman ...
Alhamdulillah kisah Mengejar Suami Impian ini berhasil menjejaki RTB berhasil jadi karya kontrak juga. Semoga ini membuat aku semangat bikin kisah-kisah lainnya.
Terima kasih atas dukungan kalian semua,🙏🙏🤗🤗
Happy Reading❤️
__ADS_1