
Jantung Gavin seolah hendak lepas dari tempatnya saat Mama Nabilla berkata, " Lho, kamu sudah ketemu dengan Alexa?!"
Tanpa penegasan kata "iya" dari tantenya atas pertanyaannya tadi, Gavin sudah berkesimpulan bahwa perkiraannya itu benar. Seketika tubuhnya melemas, ternyata selama ini, wanita yang telah mencuri hatinya, wanita yang mengisi pikirannya, wanita yang ingin dia jadikan pendamping hidupnya adalah adik sepupunya. Adik yang dulu dia sayangi, yang selalu dia jaga, adik yang selama ini dia rindukan kehadirannya.
Seketika itu juga wajah Gavin memucat, menerima kenyataan Alexa sudah menikah saja membuat hatinya patah, sekarang ditambah lagi ternyata Alexa yang sudah membuatnya jatuh hati adalah adik kecilnya dulu.
" Ja-jadi benar, adik kecilku adalah Alexa pemilik butik ini, Tante?"
" Iya, Gavin. Adikmu adalah pemilik butik ini," jawab Mama Nabilla membuat hati Gavin semakin mencelos. " Kamu sudah kenal Alexa? Sudah ketemu Alexa?"
" Su-sudah, Tante. Tapi aku nggak tahu jika dia adalah adikku," sahutnya. " Tante, kalau aku nggak salah bukannya nama Alexa itu ...."
" Alexandra Nathania ...."
" Iya, lalu kenapa bisa menjadi Natasha Alexandrina? Itu yang mungkin membuat Gavin nggak bisa mengenalinya."
" Iya, sejak kami pergi, Alexa sering sakit-sakitan, lalu Om kamu menerima saran orang untuk menganti nama Alex." Mama Nabilla menjelaskan." Kamu sudah lama ketemu dengan Alexa?"
" Sekitar sebulan ini."
" Sayang sekali, kalau saja kalian lebih cepat menyadari hubungan kalian, mungkin kamu masih bisa bertemu dengan Om kamu, Vin. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang kita sudah bertemu." Mama Nabilla kembali memeluk keponakannya. " Oh ya, bagaimana kamu masih bisa mengenali Tante? Padahal kita sudah lama tidak bertemu."
Gavin kemudian mengambil dompet dari sakunya, lalu mengeluarkan selembar foto usang kepada Mama Nabilla. Mama Nabilla tersenyum melihat foto yang berisi dirinya, suaminya, Natasha dan Gavin kecil. " Ini foto saat kita pergi ke Bali, kan?"
" Iya, Tante. Gavin nggak akan pernah lupa wajah Tante, bahkan setiap Gavin melihat wanita dengan tahi lalat di dagu sebelah kiri, Gavin selalu mengingat Tante." Gavin menyentuh wajah wanita paruh baya itu terutama bagian dagu yang terdapat tanda tahi lalat.
Mama Nabilla tersenyum kembali sambil menyentuh tangan Gavin di wajahnya. " Tante senang kamu selalu ingat Tante." Air mata Mama Nabilla kembali menetes.
" Sudah pasti Gavin selalu ingat, buat aku, Tante adalah Mommy keduaku." Gavin kemudian mengecup lembut kening Mama Nabilla.
" Kamu bagaimana bisa bertemu dengan Alexa, Vin?"
" Karena aku sedang menjalin kerja sama dengannya, Tante."
" Oh begitu, apa kamu ada janji dengan dia? sekarang ini dia masih dalam perjalanan kemari. Dia habis dari mertuanya di Bogor."
" Oh ... iya, Tante." Gavin berucap pelan, entah apa kata yang tepat untuk menjabarkan suasana hatinya saat ini.
" Tapi tunggu saja, mungkin sebentar lagi juga datang."
" Iya, Tante ..."
__ADS_1
Tak lama setelah itu pintu masuk butik terbuka, dan muncul lah sepasang manusia yang terlihat sedang mengedar pandangan ke setiap sudut butik.
" Itu dia Alexa!" tunjuk Mama Nabilla ke arah pintu.
***
Mobil yang dikendarai Yoga memasuki halaman Alexa Butique mendekati waktu Dzuhur. Mata Natasha menatap mobil berwarna biru yang terparkir di halaman parkir butiknya.
" Tuan Gavin?" gumam Natasha.
" Kenapa?" tanya Yoga yang melihat wajah kaget istrinya.
" Itu mobil Tuan Gavin." Natasha menunjuk dengan gerakan dagunya.
Yoga berdecak. " Mau ngapain lagi sih dia kemari?!" Yoga dengan cepat melepas kasar seat belt lalu hendak bergegas turun, tapi tangan Natasha mencengramnya.
" Ga, jangan ada baku hantam lagi, ya!" pinta Natasha.
" Kenapa? Takut aku rusak wajah Gabin itu?!"
" Aku lebih takut kalau sampai Nyonya Agatha melaporkanmu karena menyerang suaminya."
Yoga sendiri tak menyadari sejak menikah dan sejak mengetahui jika banyak pria yang mengincar istri cantiknya, sifatnya berubah sedikit agak temperamen jika menyangkut urusan pria lain. Dia yang biasanya anti memakai kekerasan, sekarang malah gampang terpancing emosi.
" Selamat siang, Bu Natasha, Mas Yoga ..." sapa Pak Budi yang hari ini kebagian jaga.
" Siang, apa ada Tuan Gavin di dalam, Pak?" tanya Natasha pada Pak Budi.
" Oh, Tuan Gavin... iya beliau sedang berbincang dengan Mamanya Ibu di dalam," jawab Pak Budi santun.
Yoga dan Natasha saling bertatapan mendengar jawaban Pak Budi sebelum akhirnya bergegas masuk ke dalam butik.
Sesampainya di dalam, mata Yoga dan Natasha sama-sama mengedar pandangan mencari sosok yang mereka cari. Natasha yang lebih dulu melihat mamanya sedang berbincang akrab dengan Gavin di sofa tunggu, tak lama kemudian mamanya menunjuk ke arahnya lalu melambaikan tangannya.
" Ta, cepat kemar!!" seru Mama Nabilla.
" Ngapain sih, Mama kamu kelihatan akrab banget ngobrol sama Gabin?! Mau ganti menantu?!" Yoga mengutarakan rasa tak sukanya melihat keakraban mama mertuanya dengan pria yang jelas-jelas menyukai istrinya.
Natasha langsung menyikut pinggang Yoga mendengar ucapan Yoga. " Jangan bicara sembarang!" Natasha mencebik kemudian berjalan mendekati mamanya, tapi sebelum Natasha melangkah, Yoga langsung melingkarkan tangannya, merengkuh posesif pinggang ramping sang istri.
" Ta, kamu ingat siapa dia?" tanya Mama Nabilla.
__ADS_1
" Tuan Gavin? Ada apa lagi Anda kemari?" tanya Natasha dengan nada kurang ramah, dia teringat pertemuan terakhir dengan Nyonya Agatha membuat hatinya agak kesal.
" Alexa ..." Gavin berdiri dan melangkah ke arah Natasha, membuat Yoga mempererat pelukannya.
" Ta, apa kamu lupa dengan Kakakmu?" Mama Nabilla kembali bertanya.
Deg..
" Kakak?" Natasha terkesiap mendengar Mama Nabilla bicara. " Ma-maksud Mama apa?" tanya Natasha bingung.
" Ini Kak Gavin, Ta. Anak kakaknya Mama, dia ini Kak Gavin sepupu kamu."
Natasha tercenung, dia masih belum bisa memahami apa yang terjadi, arah matanya bergantian menatap Mamanya dan Gavin. " A-aku nggak ingat ...."
" Kamu nggak ingat Kak Gavin? Dulu dia yang selalu mengajakmu bermain dan selalu melindungi setiap ada anak yang nakal ke kamu. Kamu benar-benar nggak ingat?" Natasha menggeleng menjawab pertanyaan mamanya.
" Mungkin Alexa memang tidak ingat, Tante. Karena saat itu dia masih umur tiga tahun." Gavin memaklumi sikap bingung Natasha.
Mama Nabilla lalu menyerahkan foto usang kepada Natasha. Natasha memandang foto yang diberikan mamanya, dia memang pernah melihat foto itu di album keluarga.
" Anak laki-laki yang duduk di sebelah kamu itu Gavin, Ta."
Natasha kembali terkesiap, nafasnya terasa tercekat, udara yang masuk ke tubuhnya seakan terhalang di tenggorokan.
" Ja-jadi Tuan Gavin ini sepupu aku?!" Natasha masih tidak percaya, bagaimana mungkin pria yang selama ini kehadirannya mengusik ketenangannya, pria yang selama ini mendekatinya karena terang-terangan menyukainya adalah saudara sepupunya.
" Iya Alexa, ini aku. Kak Gavinmu ...."
Dada Natasha tiba-tiba bergemuruh, entah dia harus merasa sedih atau senang mengetahui kenyataan ini.
" Alexa, bolehkah aku memelukmu? Sebagai ungkapan kerinduan Kak Gavin kepada adik kakak yang hilang dulu?" Gavin memohon, sontak membuat rahang pria yang saat ini berdiri di samping Natasha, yang sedang merengkuh pinggang Natasha seketika mengeras dengan sorot mata mengisyaratkan keberatan atas permintaan Gavin.
*
*
*
Bersambung...
Happy Readingš
__ADS_1