
" Sus, tunggu di sini sebentar! Saya mau beli cake dulu untuk Haikal," ucap Amara kepada Sus Maya yang memangku Haikal di kursi belakang.
" Iya, Bu." Maya menyahuti apa yang dikatakan oleh majikannya itu.
" Haikal di sini dulu sama encus, ya! Mama mau beli cake kesukaan Haikal." Amara pun berpamitan kepada anaknya seraya mengusap puncak kepala anaknya itu.
" Iya, Ma ..." Suara Sus Maya mewakili Haikal.
Amara lalu membuka seat belt lalu turun dari mobilnya menuju toko kue. Dia sengaja memarkirkan mobilnya di bahu jalan karena parkiran di dalam toko kue itu sangat ramai.
Tak lama setelah Amara masuk ke dalam toko kue tiba-tiba dua orang pria tak dikenal masuk ke dalam mobil milik Amara membuat Sus Maya terhenyak kaget.
" Hei, kalian siapa?" teriak Sus Maya ketakutan.
" Kalian perampok, ya?!" Tangan Sus Maya dengan cepat menekan tombol kaca jendela. " Maling ...!! Maling ...!! Rampok ...!!" Sus Maya sempat berteriak berharap ada yang menolongnya.
Salah satu dari perampok yang duduk di belakang kemudi langsung melajukan mobil yang memang dalam kondisi mesin menyala itu.
" Maliiinngg ...!! Tolong ...!!" teriak Sus Maya meminta tolong.
" Diam, be*go!!" Hardik perampok lainnya yang duduk di depan Sus Maya. " Lu mau mati, hah?!" Perampok itu mengacungkan senjata tajam ke arah Sus Maya, membuat pengasuh Haikal itu semakin beringsut ketakutan.
Sementara Amara yang baru keluar dari toko kue langsung terperanjat saat melihat mobil miliknya tiba-tiba berjalan.
" Mobil aku, itu mobil aku ...!!" Amara langsung menunjuk ke arah mobilnya.
" Rampok ...!! Haikal ...!!" Amara melepaskan semua paper bag berisi kue di tangannya dan berlari mengejar mobilnya itu
" Haikal ... !!" Amara berteriak seraya menangis di tepi jalan karena langkahnya tak kuasa mengejar mobilnya yang sudah melaju kencang.
" Mbak kenapa? Mobilnya dirampok, ya?
" Yang di dalam mobil ada siapa saja, Mbak?"
" Anak saya sama pengasuhnya, hiks hiks ..." Amara langsung terduduk lemas karena terlalu syok.
" Ada apa ini, Pak?" seorang pengendara motor sport berhenti saat melihat kerumunan di tepi jalan itu.
" Mbak ini mobilnya dirampok, Mas." sahut salah seorang yang turut mengelilingi Amara.
" Dirampok?" Pria itu melihat Amara yang sedang terduduk di trotoar sambil terisak. " Amara?" Pria yang ternyata Raditya itu langsung mengenali Amara dan nampak kaget mengetahui kejadian yang baru saja dialami Amara. Raditya kemudian menatap ke arah jalan di depannya.
" Mobilnya warna putih bukan?" tanya Raditya kemudian.
__ADS_1
" Iya benar, Mas." sahut orang yang tadi menjawab pertanyaan Raditya.
" Tolong jaga dia! Saya akan kejar perampoknya." Raditya kemudian melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi menyusul mobil milik Amara.
Tak butuh waktu lama untuk Raditya menemukan mobil milik Amara, wanita yang beberapa hari belakangan ini menarik perhatiannya itu. Raditya pun semakin mempercepat laju motornya.
" Woi, lu pikir ini sirkuit Mandalika main kebut-kebut saja kayak jalan nenek moyang lu sendiri saja!!" umpat pengendara yang merasa tergganggu dengan aksi kebut-kebutan Raditya. Namun karena Raditya fokus menejar mobil yang dibawa kabur oleh pencuri dia tak menghiraukan umpatan pengemudi itu.
Brrak brrak brrak
Tangan Raditnya memukul kaca jendela di dekat kemudi saat motor sportnya itu sejajar dengan mobil milik Amara.
" Minggir ...!! Cepat menepi ...!!" teriak Raditya saat membuka kaca helm nya. Namun mobil itu tetap melaju tak perdulikan ucapan Raditya.
" Hei, menepi ...!!" Raditya menggebrak semakin keras kaca mobil itu.
Dan bukannya menepi, pengemudi mobil itu justru merapatkan mobil seolah ingin menyenggol motor Raditya.
" Si*al!" Raditya mengumpat kesal karena ulah pencuri mobil itu. Raditya akhirnya mendahului laju mobil itu lalu menghentikan motornya di depan mobil milik Amara hingga pencuri mobil itu menghentikan secara mendadak mobil yang dicurinya.
Saat mobil itu berhenti, dengan langkah lebar Raditya berjalan ke arah pintu kemudi.
" Keluar, Kau ...!" hardik Raditya membuka paksa pintu mobil dan menarik perampok yang mengemudikan mobil lalu menghantamkan tinju ke arah perampok itu dan tak memberi kesempatan kepada perampok untuk melakukan perlawanan. Tak membutuhkan waktu lama Raditya berhasil melumpuhkan perampok yang mengendarai mobil hingga jatuh tersungkur ke jalan. Sementara orang-orang di sekitar langsung berkerumun karena penasaran ingin tahu apa yang terjadi.
Teriakan histeris langsung terdengar dari orang-orang yang melihat kejadian itu. Mereka nampak ketakutan apalagi saat melihat ada balita yang sedang menangis dalam gendongan Sus Maya
Raditya yang melihat perampok yang lain seolah mengancamnya langsung melangkah mendekat, seakan tak gentar dengan ancaman perampok itu.
" Saya bilang jangan mendekat ...!! Atau saya akan menyakiti mereka!!" ancam perampok itu nampak gusar karena merasa terpojok.
Namun bukannya menjauh atau menampakkan rasa khawatir, Raditya justru mengembangkan seringai licik di sudut bibirnya.
" Lu pikir gue perduli sama mereka?!" Raditya tertawa terbahak seraya berkacak pinggang membuat perampok itu dan beberapa orang di sekitar langsung menatap curiga ke arah Raditya
" Gue nggak perduli lu mau apakan mereka! Gue lebih peduli dengan mobil ini! Lu mau mencelakai mereka, lu masuk penjara, mereka ini saksinya dan lu nggak akan bisa kabur!" Raditya kemudian membalikkan badannya.
Tentu saja tindakan Raditya itu membuat perampok itu tercengang tak menyangka. Dan kelengahan ini langsung dimanfaatkam Raditya untuk melumpuhkan perampok itu.
Dengan gerakan cepat, Raditya menarik tangan perampok yang masih menggenggam senjata tajam dan menjauhkan dari leher Sus Maya.
Sus Maya yang mendapati senjata tajam itu sudah tidak lagi berada di lehernya langsung berlari menjauh hingga membuat Raditya leluasa melumpuhkan sang perampok. Tak beda jauh dengan perampok pertama, Raditya pun tak mendapatkan perlawanan berarti dari perampok itu.
" Kamu nggak apa-apa, Sus? Ada yang terluka?" tanya Raditya mendekat ke arah Sus Maya yang masih nampak syok.
__ADS_1
" N-nggak, Mas. S-saya nggak apa-apa, hanya tadi syok saja," sahut Sus Maya nampak gugup.
" Mbak, sebaiknya minum dulu." Seorang Ibu menyodorkan air mineral cup kepada Sus Maya.
" Terima kasih, Bu."
" Bapak-bapak di sini ada yang bisa bantu saya urus kedua perampok ini?" tanya Raditya kepada warga sekitar.
" Siap, Mas. Kami siap bantu!" ucap salah satu orang yang sejak tadi melihat kejadian itu.
" Iya, Mas. Kami siap bawa mereka ke polisi!" sahut orang yang lainnya.
" Terima kasih atas bantuan Bapak-bapak semua." Raditya lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya.
" Halo, Vit. Bisa bantu gue? Ada kasus perampokan mobil tapi udah bisa gue atasi. Lu bisa bantu lapor kejadian ini ke pihak berwajib? Nanti gue share lokasinya." Raditya berbicara dengan seseorang di ponselnya.
" Oke, Dit. Lu kirim saja lokasinya di mana." Vito, orang yang dihubungi Raditya langsung menyahuti.
" Oke, thanks, Bro!" Raditya langsung membagikan posisinya saat ini kepada Vito.
" Bapak-bapak, saya minta tolong, jaga perampok-perampok ini. Saya mau menjemput pemilik mobil ini. Saya titip juga mereka juga." Raditya menunjuk ke arah Sus Maya dan Haikal yang sudah mulai berhenti menangis.
" Baik, Mas."
" Sus, saya mau jemput Amara, sebaiknya kamu menunggu di dalam mobil sebentar." Raditya menyuruh Sus Maya menunggu di dalam mobil.
" Iya, Mas."
Setelah menitipkan perampok yang sudah diikat di dekat pohon juga menitipkan Sus Maya dan Haikal. Raditya pun langsung melajukan motornya untuk menjemput Amara.
Raditya masih mendapati Amara yang masih menangis dan terduduk lemas di trotoar. Dia langsung menghentikan motornya dan turun dari motor sport kesayangannya itu.
" Perampoknya sudah dilumpuhkan. Ayo, kita ke mobil kamu." Raditya mengulurkan tangannya ke arah Amara membuat Amara mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah Raditya dengan mata penuh dengan cairan bening yang menumpuk di mata indah wanita itu.
...~ TAMAT ~...
*
*
*
Happy Reading❤️
__ADS_1