MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Pendarahan


__ADS_3

" Apa Pak Dirga ini teman satu kampus dengan Mas Yoga?" tanya Natasha kemudian.


" Bukan, kami tidak satu kampus." Dirga menyahuti.


" Oh, aku pikir kalian satu almamater. Sayang sekali, padahal aku ingin mencari tahu dari Pak Dirga."


" Mencari tahu apa?"


" Kamu cari tahu apa, Yank?"


Dirga dan Yoga menyahuti bersamaan.


" Aku penasaran sama wanita yang pernah dekat dengan suamiku ini."


" Yank ..." Yoga mencoba menghentikan rasa penasaran istrinya.


Sementara bola mata Kirania langsung membulat mendengar perkataan Natasha. Dirga sendiri terlihat lebih tenang.


" Untuk apa Anda tahu siapa wanita yang pernah dekat dengan suami Anda? Bukankah itu hanya masa lalu?" tanya Dirga.


" Memang cuma masa lalu, tapi rasanya aku nggak rela kalau ternyata dulu ada wanita yang menerima perhatian dan kasih sayang dari suamiku ini." Natasha membelai wajah Yoga tanpa memperdulikan dua mahluk lain di depannya.


Dirga terkekeh mendengar alasan Natasha. " Lalu apa yang akan Anda lakukan saat Anda mengetahui wanita di masa lalu suami Anda? Apa Anda akan melabraknya?"


" Cih, Pak Dirga pikir aku ini ABG labil yang main labrak-labrak orang?"


" Ppffftt ..." Yoga terlihat menahan tawanya, dia teringat kejadian saat terjadi duel antara istrinya dan Fira.


" Hmmm, maaf ... aku ke mushola dulu." Kirania buru-buru bangkit pamit untuk sholat Dzuhur.


" Kita bareng saja kalau begitu." Natasha pun ikut bangkit.


" Yank ..." Yoga menahan tangan Natasha, dia tahu istrinya itu punya maksud lain selain melakukan kewajiban ibadah.


" Sebentar, kok, Mas." Natasha mendekatkan wajahnya kemudian mengecup pipi Yoga tanpa merasa canggung, kemudian beranjak menyusul Kirania. Yoga sendiri memperhatikan punggung istrinya yang semakin menjauh, entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa tidak tenang.


" Tak usah tegang, bukankah istrimu sendiri tadi bilang tidak akan melabrak wanita yang dulu pernah kau sukai atau mungkin sampai sekarang pun rasa suka itu masih ada?" ucapan Dirga mengalihkan Yoga dari arah istrinya tadi berjalan.


Yoga menarik satu sudut bibirnya ke atas. " Saya sudah punya kehidupan sendiri, Bang. Dan saya sangat bahagia dengan pernikahan saya ini. Saya juga sangat mencintai istri saya."


Dirga menyeringai. " Pantas istrimu terlihat sangat posesif terhadap suaminya. Istrimu sangat menarik, terlihat beda dengan Kirania."


Yoga mengeratkan giginya, tentu saja dia sangat tidak suka ada pria lain terang-terangan memuji istrinya.


" Dia terlihat sangat agresif, pantas juga kalau kau bilang sangat bahagia," sambung Dirga.


" Bang Dirga sendiri, bagaimana hubungan Bang Dirga dengan Rania?" Yoga mengalihkan topik pembicaraan, dia merasa tidak nyaman istrinya dibahas oleh Dirga.


" Dia asistenku. Dia bekerja untukku."

__ADS_1


" Saya pikir, kalian akan hidup bersama."


" Apa kamu menyesal?"


Yoga tersenyum sambil menggelengkan kepala. " Saya tidak menyesal apa yang terjadi pada diri saya, Bang. Seperti yang saya bilang tadi, kalau saya sudah bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Jika ada yang perlu disesali, mungkin saya akan menyesal jika wanita sebaik Rania tidak mendapatkan pria yang baik untuk dirinya."


Sementara itu selepas melaksanakan sholat, Natasha sengaja menahan Kirania untuk berbincang.


" Ada apa kamu ingin bicara denganku, Natasha?" Kirania mengeryitkan keningnya. " Kita pasti ditunggu di meja."


" Kamu terlihat takut sekali dengan Pak Dirga. Apa dia itu atasan yang semena-mena terhadap karyawan?" selidik Natasha.


" A-aku rasa, kamu tidak menahanku di sini untuk membicarakan itu, kan?"


" Ah, iya ... tentu saja, untuk apa aku ikut campur urusan kalian." Natasha menyahuti.


" Lalu masalah apa yang ingin kamu bicarakan?"


" Hmmm, soal hubungan kamu dengan suamiku dulu." Tanpa basa-basi lagi Natasha bertanya langsung pada tujuannya.


Kirania menghela nafas dalam-dalam, karena dia sudah menebak apa yang akan dibicarakan Natasha.


" Apapun yang terjadi antara aku dengan Yoga, semua itu hanya masa lalu. Kalau kamu khawatir dengan kehadiran aku, sebaiknya kamu hilangkan perasaan itu. Kalau kamu sangat mencintai Yoga, percayalah padanya. Jangan biarkan pikiran-pikiran buruk bermain-main di pikiranmu." Kirania berucap dengan tenang namun penuh ketegasan. " Sebaiknya kita kembali ke dalam."


" Baiklah."


Buugghh


" Aaawww ...."


Pekik Natasha dan Kirania bersamaan.


" Ya Allah, maaf ... maafkan anak-anak saya, Mbak." Seorang wanita langsung menghampiri Kirania dan Natasha yang terjatuh.


" I-iya, tidak apa-apa, Bu." Kirania mencoba bangkit, dia pun kemudian membantu Natasha yang terlihat meringis.


" Aawww ... aakkhh ... sakiiiit ... " Natasha memegangi perutnya.


" Natasha, kamu ada yang terluka?" Kirania terlihat khawatir melihat Natasha yang tak juga bangkit tapi malah merintih kesakitan.


" Mari saya bantu, Mbak. Mbak ada yang terluka? Biar saya tanggung biaya pengobatannya." Wanita yang anaknya menabrak Kirania pun membantu mengangkat tubuh Natasha untuk berdiri.


" Sakiiiitt ..." ringis Natasha kembali terduduk.


Saat itu juga muncul dua pelayan restoran ikut membantu Natasha.


" Astaghfirullahal adzim, darah ... Mbak sedang hamil?" Pekik salah satu dari pelayan yang baru datang saat melihat cairan berwarna merah kental keluar dari sela-sela paha Natasha.


" Kamu sedang hamil, Natasha?" Kirania terkesiap.

__ADS_1


" Aaakkhh ... sakiiiitt ..." Natasha terisak mencengkram kuat lengan Kirania.


" Sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit, Mbak. Sepertinya Mbak ini mengalami pendarahan." Pelayan tadi menyarankan.


Kirania langsung memucat mendengar penuturan pelayan restoran itu.


" Kita ke rumah sakit sekarang saja, Mbak. Pakai mobil saya saja." Ibu dua orang anak tadi langsung menawarkan bantuan karena rasa bersalah atas ulah anaknya.


" Hiks, Mas Yoga ... sakiiiitt ...."


Kirania langsung tersadar saat mendengar Natasha menyebut nama Yoga.


" Mbak, saya titip sebentar, saya mau panggil suaminya yang ada di dalam, ya!" Tanpa menunggu persetujuan dua pelayan itu Kirania langsung bergegas menuju ke meja di mana mereka memesan tempat tadi.


" Yoga, Na-tasha ..." dengan nafas tersengal-sengal Kirania berucap saat sampai di depan meja Yoga dan Dirga menunggu.


Yoga yang melihat Kirania yang terlihat ketakutan dan menyebut nama Natasha, dengan sigap dia berdiri sambil memegang siku tangan Kirania.


" Ada apa, Ran? Natasha kenapa? Dia di mana? Kenapa nggak kembali ke sini?" Seketika Yoga dilanda kecemasan.


" Natasha jatuh, Ga." Air mata langsung luruh di pipi Kirania.


" Jatuh?? Di mana??" Yoga menoleh ke arah pintu keluar di samping restoran. Dia segera berlari walaupun belum mendapatkan jawaban dari Kirania.


" Ada apa, Ran? Apa yang sebenarnya terjadi?" Dirga yang sedari tadi hanya diam kemudian menanyakan kepada Kirania.


" Hiks ... hiks, ini salah aku ... ini salah aku." Kirania merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Natasha.


" Hei, kenapa, Ran?" Dirga langsung memeluk tubuh Kirania dan membiarkan wanita itu terisak di dadanya.


Sementara itu Yoga yang melihat Natasha terduduk dengan menangis tersedu di dekat pintu masuk langsung berhambur ke arah istrinya itu.


" Sayang, kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Yoga langsung merengkuh istrinya.


" Mas sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit. Mbak ini sepertinya mengalami pendarahan," ujar Pelayan yang menunggu Natasha.


Mata Yoga terbelalak lebar. " Pendarahan?" Yoga tercengang saat dia melihat ada darah di betis Natasha yang mengalir dari sela paha istrinya.


*


*


*


Otornya mau ngumpet dulu ah ...


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2