MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Panggilan Sayang


__ADS_3

" Ma, bisa kita bicara berdua sebentar?" tanya Natasha pada Mama Nabilla saat mereka berempat duduk santai di ruang keluarga siang itu.


" Yeee ... sudah nikah juga,  pakai rahasia-rahasiaan segala," cibir Amara yang asyik ngemil snack berbahan dasar kentang sambil menonton televisi.


" Diam, kamu!!" Natasha memelototi Amara.


" Ya ampun, Kak Yoga yang sabar ya punya istri kaya dia. Galak, sudah mirip Suzanna saja, doyan mendelik, matanya sudah kayak mau copot. Hiiiii ... serem ..." Amara mengedikkan bahunya sambil tertawa yang disahuti oleh tawa Yoga. Natasha hanya bisa memutar bola matanya. Untuk urusan membully, Adik dan suaminya itu memang kompak tak ada lawan.


" Ada apa, Ta?" tanya Mama Nabilla sesampainya di kamar Mama Nabilla.


" Ma, soal pernikahan aku sama Yoga, untuk sementara biarkan seperti ini saja, jangan didaftarkan dulu ke KUA.


" Loh, memangnya kenapa? Kalau segera didaftarkan ke KUA, pernikahan kalian jadi sah baik secara agama maupun hukum negara. Itu lebih menguatkan posisi kamu sebagai istri dan anak kamu kelak, Ta" Mama Nabilla sedikit terkejut mendengar permintaan putri sulungnya itu


" Ya, biar kalau nanti ada masalah, terus harus pisah nggak malu sama orang-orang. Ma," tutur Natasha seraya menundukkan kepalanya.


" Astaghfirullahal adzim, Tata!" hardik Mama Nabilla. " Kamu jangan bicara sembarang soal perpisahan. Pernikahan kalian sah secara hukum agama. Kalian sudah mengikatkan janji suci di hadapan Allah, kalian tidak bisa mempermainkan pernikahan yang telah kalian lakukan itu." Mama Nabilla nampak kesal dengan ucapan Natasha yang terkesan meremehkan ikatan suci pernikahannya dengan Yoga.


" Iya, tapi pernikahan kami Ikan mendadak, Ma ..."


" Apa salahnya nikah mendadak? Toh, kalian saling mencintai, kan? Lagipula tetangga sekitar tahu kalau pernikahan mendadak kalian bukan karena menutupi aib, tapi karena permintaan papa kamu sebelum meninggal," protes Mama Nabilla.


Natasha mendengus kecil, Mamanya memang tidak tahu hubungan dirinya dan Yoga sebenarnya seperti apa? Tak ada cinta di antara mereka berdua. Mama Nabilla tidak tahu jika Yoga itu hanya sekedar pacar sewaannya.


" Tapi masalahnya orang tua Yoga belum tahu, Ma. Bagaimana jika mereka menentang pernikahan ini? Bagaimana jika mereka menolak Tata sebagai menantunya? Tata saja sendiri belum tahu orang tua Yoga itu gimana." Natasha berjalan ke arah jendela dan mengarah pandangan keluar sana.


" Loh, Kamu belum pernah ketemu orang tua Yoga?" Natasha menggeleng.


" Kamu pernah bilang orang tua Andra baik sekali sama kamu, Mama yakin orang tua Yoga juga akan bisa menerima kamu dengan baik seperti orang tuanya Andra." Mama Nabilla mendekati Natasha, kedua tangannya merengkuh tubuh Natasha'


Natasha tiba-tiba teringat sosok Tante melly dan Om Ruslan, orang tua Andra itu memang sangat baik dan sayang terhadapnya. Seandainya mertuanya juga seperti itu, mungkin tak akan membuat Natasha gelisah seperti ini.


" Ya pokoknya Natasha minta jangan diurus dulu sebelum semua terkendali. Tata mohon, Ma." Natasha menyadarkan kepalanya di pundak Mama Nabilla.

__ADS_1


Mama Nabilla terdiam beberapa saat, " Baiklah jika itu pilihan kamu, Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Mama Nabilla mengeratkan pelukannya.


***


" Eh, kita mau ke mana ini? Ini bukan jalan ke apartemenku?" Natasha heran saat Yoga tidak mengambil arah jalan menuju apartemen Natasha. Hari ini memang mereka berdua kembali ke Jakarta.


" Iya, memang bukan ke apartemen kamu."


" Lalu?"


" Rumah kontrakan saya."


" Hah??" Natasha membelalakkan matanya. " Nggak, Nggak ... aku nggak mau ya mesti tinggal di kontrakan kamu yang sempit itu."  Natasha menolak


" Lalu kita tinggal di mana?"


" Terserah kamu mau tinggal di mana, kalau aku mau balik ke apartemenku," tegas Natasha.


" Kita ini sudah menikah, Ta. Kita satu kota, masa kita harus tinggal terpisah? Lagian saya sudah janji ke papa buat jagain kamu."


" Nggak boleh manggil Tata, terus maunya dipanggil apa? Kalau panggil sayang boleh, nggak?" bisik Yoga mencondongkan tubuhnya ke arah Natasha.


" Idih, amit-amit ... kecentilan banget sih ini orang," gumam Natasha melempar pandangan keluar jendela menyembunyikan pipinya yang merona.


" Tata itu kan panggilan kesayangan keluarga kamu, sekarang saya eh aku juga kan bagian keluarga kamu, jadi aku juga boleh dong panggil kamu dengan panggilan Tata?" Yoga juga merubah panggilan formal saya menjadi aku.


" Sudah ah, pokoknya sekarang putar arah ke apartemen aku, aku nggak mau tinggal di kontrakan kamu itu! Kalau kamu janji jagain aku, kenapa nggak kamu aja yang pindah ke apartemenku?"


" Aku ini suami kamu, Ta. Aku yang bertanggung jawab atas kamu, masa aku yang harus numpang sama kamu. Gengsi, dong," ujar Yoga. " Sudahlah, kamu nurut dong sama aku, ingat Papa kamu bilang 'yang nurut sama suami, jangan membantah suami, jadilah istri yang baik'. Masa kamu nggak mau menuruti pesan papa kamu itu. Mau jadi anak durhaka memangnya?"


" Terserah, deh!" Natasha mendengus kesal.


" Nah gitu, dong. Ini baru namanya istri solehah." Yoga mengacak rambut Natasha

__ADS_1


" Ck, apaan, sih!" Natasha buru-buru menepis tangan Yoga dari kepalanya sembari melempar pandangan kembali keluar jendela. Dia juga berusaha menepis getaran-getaran aneh yang sering kali muncul belakang ini jika menerima perlakuan manis dari pria yang kini berstatus suaminya itu. Semetara Yoga hanya mengulum senyumannya melirik ke arah Natasha yang dia pastikan wajahnya akan bersemu merah setiap kali dia memalingkan pandangan darinya.


***


Yoga memarkirkan mobil Natasha di halaman sebuah Mini Market depan gang rumahnya. Selain karena Mini Market itu buka dua puluh empat jam, dia juga sangat mengenal dekat beberapa karyawan Mini Market itu,


dan juga kenal preman yang merangkap tukang parkir di sana. Berbekal uang seratus ribu, dia menitipkan mobil mewah milik istrinya itu ke preman itu.


" Wuih, mobil siapa tuh, Ga? Seminggu nggak keliatan Avanza putihnya kok berubah wujud jadi alphard hehehe ..." Ilham yang sedang nongkrong di Pos Kamling sepertinya melihat kedatangan Yoga yang tadi turun dari mobil berwarna putih itu.


Hampir setiap malam memang pemuda-pemuda di sana sering ngumpul di Pos, sekedar main catur atau bermain gitar. Terkadang jika ada even besar sepak bola atau bulu tangkis, mereka sengaja nonton bareng di sana, rame nya sudah tidak kalah sama di stadion itu sendiri.


" Cewek yang kemarin, Ga?" tanya Didit yang memang tertarik melihat kecantikan Natasha " Mau nginep di rumah lo lagi?"


" Iya, kalau dia mau." Yoga terkekeh.


" Ah gila lo, Ga. Halalin dulu napa, daripada nanti keciduk warga berbuat mesum."


Yoga menanggapi cibiran Didit dengan senyuman. " Memang sudah halal, kok," sahutnya kemudian.


" Ah gila, serius lo, bro?" Didit dan Ilham dibuat terperanjat dengan ucapan Yoga.


" Kapan gue pernah bohong? Kita duluan ya, mau lapor ke Bang Jamal dulu," pamit Yoga kemudian menarik tangan Natasha, membawanya menjauh dari dua pemuda yang masih bengong.


" Gila, Yoga hoki banget dia ..." Didit menggelengkan kepalanya kagum.


" Makanya lo banyak buat kebaikan tuh kaya Si Yoga, biar dapat jodohnya juga cantik kaya dia." Ilham menimpali.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung,,,


Happy Reading😘


__ADS_2