
Minggu pagi ini Yoga dan Tata bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya bukan tanpa alasan mereka pulang lebih cepat dari yang direncanakan. Selepas aktivitas panas di bathroom kemarin siang, Natasha mendapat telepon dari Mama Nabilla, yang mengabarkan saat ini sedang berkunjung ke Jakarta, karena itulah mereka memajukan jadwal kepulangan.
" Mamih sebenarnya masih kangen sama kamu, Kasep." Mama Yoga memeluk erat putranya itu.
" Minggu depan kan kita ke sini lagi, Mih, ke pernikahannya Teh Lily ..." Yoga mengelus punggung Mamihnya dengan lembut.
" Kalau ke sini yang lama atuh, Kasep," pinta Mama Yoga seolah tak ingin melepas kepergian anaknya.
" Kalau lama nanti kuliah Yoga nggak selesai-selesai atuh, Mih, yang ada bolos melulu."
" Ta, salam buat keluarga kamu, ya. Maaf kami belum sempat berkunjung ke sana," ucap Papa Yoga yang melihat Natasha terlihat hanya termenung melihat interaksi Yoga dan Mamihnya.
" Iya, Pih. Nanti Tata sampaikan ke Mama," sahut Natasha.
" Mamih nggak mau titip salam buat Besan?" Papa Yoga meledek istrinya. Mama Yoga hanya membuang muka menanggapi ledekan suaminya itu.
" Tata pamit dulu ya, Pih, Mih." Natasha kemudian menyalami mertuanya bergantian dilanjut dengan Yoga yang menyalami dan memeluk Papihnya.
" Hati-hati di jalan, Ga. Jangan ngebut, jangan banyak bercanda sangat mengemudi," nasehat Papa Yoga.
" Iya, Pih, kami pamit pulang dulu ya, Pih. Assalamu'alaikum ..." pamit Yoga
" Waalaikumsalam ..." sahut Papa dan Mama Yoga bersamaan.
***
Cuaca kota Bogor pagi ini cukup cerah, Yoga mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sementara Natasha menyalakan audio di mobilnya, mencari lagu yang enak didengar.
" Nanti kita langsung ke butik saja, Ga. Mama mau ke butik bilangnya," ucap Natasha.
" Oke ..." Yoga menganggukkan kepala. " Kamu gimana? Betah nggak kalau suatu hari harus pindah ke sini?"
" Memang kita mau pindah ke sini?"
" Who knows?" Yoga mengedikkan bahunya.
" Aku akan sering ketemu Mamih kamu, dong?!"
" Nggak apa-apa biar makin akrab," ledek Yoga.
" Pindahnya nanti saja ya, Ga. Kalau Mamih sudah benar-benar bisa terima aku."
Yoga tertawa mendengar ucapan Natasha, membuat Natasha memberengut. " Iya makanya kita mesti giat bikin cucu buat Mamih, biar Mamih cepat luluh."
Natasha memutar bola matanya." Kumat, deh!"
" Lagian, aku saja masih kuliah, masa harus bolak-balik Jakarta-Bogor tiap hari? Bisa-bisa Abang lelah, Dek." Yoga terkekeh.
Natasha tersenyum menanggapi. " Tapi Papih kamu baik sih, Ga. Bisa terima aku," ucapnya kemudian.
" Iya, dong! Nggak lihat gimana anaknya? Baik hati dan tidak sombong. Papih kan nurunin sifat aku, tuh," seloroh Yoga.
" Yang ada juga anak yang nurunin sifat papanya kali," cibir Natasha sehingga membuat Yoga tertawa.
" Papih Pras memang bijaksana banget, aku beruntung punya seorang ayah seperti beliau, tapi bukan berarti Mamih aku nggak baik, lho! Mamih aku juga sebenarnya baik, cuma biasalah namanya juga wanita lebih suka main perasaan ketimbang logika. Aku berharap kamu sama Mamih bisa cepat berdamai dan akrab, biar aku bisa lebih tenang."
__ADS_1
" Berdamai? Kaya lagi musuhan saja."
" Mamih kan terlihat seperti musuhin kamu, tapi kamu-nya jangan balik musuhin Mamih, ya! Jangan jadi menantu durhaka!"
" Siapa juga yang musuhin Mamih?!" sangkal Natasha cepat.
" Caiyo Tata..! Semangat meluluhkan hati mamih mertua!" Yoga meraih tangan Natasha dan menggerakkannya ke atas saat mobil mereka berhenti di traffic light berwarna merah.
" Apaan, sih ...!" Natasha menarik tangannya dari cengkraman tangan Yoga.
" Aku lagi kasih semangat kamu, lho! Atau kamu ingin aku kasih semangat dengan cara yang lain?!" Tangan Yoga meraba paha Natasha, menaikan sedikit ke atas rok yang dipakai hingga tangannya bisa bersentuhan langsung dengan kulit putih halus Natasha.
" Astaga. Yoga ...!! Mesum banget sih, kamu!" Natasha langsung memukul dan menyingkirkan tangan Yoga dari pahanya, kemudian menurunkan kembali roknya yang tadi sempat terbuka karena ulah jahil suaminya itu.
" Maaf, itu efek karena semalam sama tadi pagi nggak dikasih jatah." Yoga terpingkal.
" Dasar pria mesum ...!"
" Tapi kamu suka, kan?"
" Nggak ...!"
" Jangan gitulah, nanti nggak aku kasih jatah, lho!'
" Nggak masalah ..."
" Nanti aku nggak kasih peluk cium kamu, lho!"
" Nggak masalah ..."
" Nanti aku kasih peluk ciumnya ke wanita lain, lho!"
" Wuih sadiiiissss...! Kalau rudalku dicincang, nggak ada yang masukin dan puasin sarang kamu, dong! Kamu sendiri yang rugi," sindir Yoga tak henti menggoda istrinya itu.
" Bodo, ah! Males ngomong sama kamu! Sudah sana fokus ke jalan! Udah hijau, tuh!" Natasha mencebik dan melempar pandangan ke arah luar jendela.
Yoga tersenyum melihat tingkah istrinya yang selalu merajuk jika dia goda. Entah kenapa Yoga merasa senang jika membuat istrinya merajuk manja seperti itu, terlihat seksi di matanya. Untuknya, membuat istrinya ngambek begini ibarat suplemen yang bisa membuat hidupnya lebih semangat dan bergairah. Jadi jangan ditanya kenapa dia senang mengusili istrinya itu.
Tak ada obrolan di antara mereka, hanya suara penyiar radio yang terdengar dari audio mobil, yang dengan riangannya menyapa pendengarnya dan memutar beberapa tembang.
For all those times you stood by me..
For all the truth that you made me see..
For all the joy you brought to my life..
For all the wrong that you made right..
For every dream you made come true..
For all the love I found in you..
I'll be forever thankful baby..
You're the one who held me up..
__ADS_1
Never let me fall..
You're the one who saw me through, through it all..
You were my strength when I was weak..
You were my voice when I couldn't speak..
You were my eyes when I couldn't see..
You saw the best there was in me..
Lifted me up when I couldn't reach..
You gave me faith 'cause you believed..
I'm everything I am..
Because you loved me..
Natasha termenung, menghayati lagu yang sungguh cocok menyiratkan hubungannya dengan Yoga saat ini. Natasha kemudian menatap intens wajah suaminya dari samping, wajah tampan berahang tegas, dengan bulu yang tumbuh tipis di sekitar atas bibir dan di dagunya, membuat pria itu nampak semakin rupawan. Natasha tersenyum, mengingat perjalanan kisahnya dengan pria yang sedang serius dengan kemudinya. Mungkin secara tidak langsung Natasha harus berterima kasih kepada mantan calon tunangannya dulu. Kalau saja saat itu Andra tidak meninggalkannya, saat kedua orang tua Andra ingin membicarakan masalah pertunangan mereka, mungkin dia tidak akan pulang naik taksi online dan tidak akan dipertemukan dengan pria yang duduk di sampingnya saat ini.
" Kenapa ngeliatnya begitu banget? Pakai senyum-senyum segala, baru sadar ya suaminya ganteng?" ledek Yoga saat dia merasa sedari tadi diperhatikan oleh istrinya.
Natasha kembali tersenyum tak terlalu perdulikan ledekan yang dilontarkan Yoga kepadanya.
" Makasih ya, Ga." ucap Natasha tulus.
Yoga menautkan kedua alisnya. " Makasih untuk apa?"
" Untuk semua yang kamu beri ke aku."
" Yang aku beri ke kamu? Yang mana, nih? Yang lahir apa yang batin?" Yoga memainkan alisnya turun naik.
" Yogaaaaa ..." Natasha merengek dengan nada manja.
" Kamu panggil aku jangan gitu banget deh, kesannya seperti kasih kode buat ngajak mesum." Yoga mengerlingkan matanya.
" Yoga aku serius ..."
" Iya-iya, aku denger serius, kamu mengucapkan terima kasih untuk apa?"
" Untuk semua kebaikan kamu, pertolongan kamu, semua perhatian dan kepedulian kamu ke aku, termasuk pengorbanan kamu yang harus merelakan masa lajang kamu karena permintaan papa aku. Aku rasanya benar-benar berhutang budi dan nyawa sama kamu, Ga." Natasha mengutarakan semua rasa terima kasihnya atas apa yang dilakukan Yoga terhadapnya dengan mata berkaca-kaca. Mengatakan semua kebaikan Yoga membuat hatinya menjadi melow.
" Nggak usah baper gitu, nanti kamu malah jatuh cinta lagi sama aku."
Mendengar tanggapan Yoga, seketika membuat Natasha membuang nafas kasar. " Kamu tuh nggak asyik banget, sih! Lagi beneran serius malah diledekin. Aku tarik kembali deh ucapan terima kasihnya, aku cancel! Menyebalkan ...!!" Natasha memiringkan posisi tubuhnya ke arah jendela dengan semua umpatan yang keluar dari mulutnya.
Sedangkan Yoga kembali tertawa senang melihat istrinya, bukan hanya karena sukses berbuat usil tetapi juga dia merasa bahagia atas semua pujian yang dilontarkan istrinya tadi. Tanpa Natasha ketahui, saat ini jiwa Yoga serasa terbang di atas awan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš