
Malam harinya Yoga mengajak Natasha bertemu dengan saudara-saudara sepupunya yang juga tinggal di Bogor. Kehadiran Natasha di samping Yoga tentu saja membuat para sepupunya itu terkejut, apalagi saat Yoga mengenalkan Natasha sebagai istrinya. Karena selama ini setiap kali berkumpul Yoga jarang sekali terlihat membawa wanita kecuali Azahra, yang mereka semua tahu calon tunangan Yoga.
" Gila lo, Ga! Nikah nggak pakai bilang-bilang kita," ucap Mahesa salah satu sepupu Yoga.
" Yoi, udah cantik, mana cakep banget lagi tuh bodynya, kayak gitar spanyol." Yohan, sepupu Yoga yang lain menimpali, menatap kagum ke arah Natasha yang sedang berbincang dengan Teh Lily, calon pengantin yang akan melepas masa lajangnya minggu depan.
" Mata woi ... tolong dikondisikan!" Yoga melambaikan telapak tangannya di depan wajah Yohan yang menatap istrinya itu dengan sorot mata mendamba.
Yohan terkekeh. " Sialan lo, Ga! Pinter lo cari bini, bikin gue pengin kawin juga."
" Nikah woi, bukan kawin..! Kalau kawin, bukannya lo udah sering, Han?!" sindir Mahesa kepada sepupunya yang Casanova itu.
" Berisik lo, Hes! Pakai buka kartu segala!" Yohan meninju pelan pundak Mahesa, sehingga membuat tiga laki-laki bersaudara itu terbahak.
" Oh ya, lalu Azahra gimana, Ga? Bukannya Uwa Ellena bilang dia calon lo?!" tanya Mahesa lagi.
" Buat gue aja Azahra, Ga!" Yohan langsung menyahuti, sepupu Yoga yang satu ini memang tidak bisa tenang kalau lihat wanita cantik.
" Wah, sesat dia kalau dapet lo, Han!" sindir Mahesa tertawa puas.
" Sial lo, Hes! Lo pikir aliran dibilang sesat?!" Yohan mencebik.
" Lo pikir aja deh, Rara itu kalem, cewek Solehah, nah lo?? Cowok be*jat..!!" Mahesa semakin terpingkal keras.
" Eh, sebe*jat-be*jatnya cowok itu pasti mengharapkan cewek baik buat jadi pendamping hidupnya!" sergah Yohan.
" Widiihh ... bahasa lo! Sok bijak banget ..." Mahesa menyundul kepala Yohan dengan telunjuknya. " Rugi kalau Rara dapet lo, yang bekas celup-celup banyak lubang, mending sama gue yang masih ori." Tak henti-hentinya Mahesa membully Yohan.
" Sialan, Lo! Ternyata lo minat juga sama Azahra." Yohan mencibir.
" Iyalah, gila aja kali, dapet cewek kaya Azahra nggak mau, bego aja cowok yang nolak dia!" seloroh Mahesa membuat mata Yoga terbelalak.
" Dia dong..!!" tunjuk Yohan ke arah Yoga.
" Sialan, Lo!" Yoga melempar bantal sofa ke arah Yohan dan Mahesa yang akhirnya membuat mereka bertiga kembali tertawa lepas.
__ADS_1
" Astaga, nih anak-anak cowok kalau udah pada ngumpul, ribut sendiri aja!" gerutu Teh Lily yang membawa beberapa cangkir kopi. Sementara Natasha yang berjalan di belakang Teh Lily membantu membawakan beberapa toples makanan ringan di tangannya.
Setelah meletakkan beberapa toples makanan,. Natasha lalu memposisikan dirinya duduk di samping suaminya, yang dengan cepat merengkuh pinggangnya.
" Teteh nggak sangka, ternyata kamu yang lebih dulu nikah, Ga," ujar Teh Lily sembari menyesap kopi yang dia buat tadi. " Tapi kamu pinter pilihnya, cantik gitu," puji Teh Lily lagi membuat wajah Natasha merona.
Yoga yang melihat wajah istrinya memerah langsung timbul sifat isengnya. " Biasa saja nggak usah ge'er gitu, deh," bisiknya membuat Natasha melirik kesal ke arahnya.
" So sweet banget sih pengantin baru," celetuk Mahesa iseng melempar kulit kacang ke arah Yohan. " Tuh, lihat dihalalin dulu baru dicoba, bukannya dicoba dulu tapi ditinggal nggak dihalalin," sindir Mahesa lagi pada Yohan.
" Eh, lo lihat saja, bentar lagi Neng Rara bakal gue kasih label halal," sahut Yohan menanggapi sindiran sepupunya itu.
" Pede banget, Lo!" cibir Mahesa.
" Oh ya, lantas rencana pertunangan kamu dengan Rara batal dong, Ga?!" Yoga dan Natasha saling pandang menanggapi pertanyaan Teh Lily.
" Eh, maaf ..." Teh Lily lantas memukul mulutnya sendiri karena menganggap salah memberikan pertanyaan.
" Ya mau gimana lagi, itu kan rencana Mamih, Yoga sendiri sebenarnya hanya menganggap Rara itu seperti adik sendiri." Yoga menjawab pertanyaan Teh Lily. " Lagipula, pesona dia bikin aku nggak tahan, Teh." Yoga mengecup pipi Natasha hingga membuat Natasha semakin malu dengan sikap yang tidak tahu malu suaminya itu, yang senang mengumbar kemesraan di depan umum.
Yoga bersandar di punggung tempat tidur, tangannya masih memainkan ponselnya, sesekali matanya memperhatikan istrinya yang sedang membersihkan wajahnya di depan cermin.
" Kamu bisa nggak sih, kalau depan umum itu jangan bicara dan bertingkah mesum?! Aku tuh malu tahu nggak, sih?!" Natasha bersungut-sungut.
Yoga terkekeh mendengar ocehan istrinya yang dari keluar rumah teh Lily terus menggerutu.
" Iya maaf, soalnya aku suka khilaf kalau dekat kamu." Yoga menjawab asal membuat Natasha mencebik.
Natasha kemudian berjalan menuju arah tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya yang masih terasa lelah. " Malam ini jangan ganggu aku, ya! Aku lelah banget, " pinta Natasha pada Yoga yang masih duduk bersandar.
" Sorry, kalau aku bikin kamu kelelahan, soalnya itu kan dirapel, hampir dua minggu dipending nggak disalurkan," sahut Yoga sambil terkekeh.
Natasha langsung membalikkan badannya, kemudian mengambil posisi tidur tengkurap, pikirnya suaminya itu tidak akan mengganggunya jika dia tidur dengan posisi seperti itu.
" Sudah siap-siap pakai gaya tadi siang? Pakai jalan belakang, hemm?!"
__ADS_1
Natasha langsung terkesiap mendengar ucapan Yoga, dengan cepat dia bangkit dan memukul tubuh Yoga. " Dasar pria mesum ...! Suami nggak ada akhlak ...! Nggak ngertiin istri capek juga ...!"
Yoga yang mendapat serangan dari Natasha langsung merengkuh tubuh wanita itu, dan dalam sekejap tubuhnya sudah berhasil mengungkung tubuh Natasha. Natasha yang melihat tubuh suaminya itu sudah berada di atasnya langsung membelalakkan matanya. " Yoga jangan, aku capek ...!" rengek Natasha memohon.
Akhirnya Yoga menjatuhkan diri di samping tubuh Natasha, kemudian dia menarik tubuh wanita itu masuk dalam dekapannya. " Kita tidur begini saja kalau kamu lelah, aku akan membebaskan mu malam ini, kita hanya saling berpelukan saja."
Natasha langsung menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya, merasakan aroma maskulin yang sudah terbiasa dihirupnya dari tubuh Yoga.
" Ga ...?"
" Heemm?"
" Apa benar kamu nggak menyukai Azahra? Maksudku suka seorang pria kepada wanita?"
" Memang boleh pria beristri suka sama wanita lain?"
" Bukankah punya istri lagi juga boleh?"
Yoga merenggangkan pelukannya dan menatap wajah istrinya itu. " Apa kamu sedang membicarakan tentang poligami? Kamu ingin aku poligami?!"
" Coba saja kalau berani ...!!" ancam Natasha membuat Yoga tertawa kecil. " Memang kamu punya niat ke arah situ?" tanya Natasha dengan sorot mata menghunus.
" Punya satu saja galaknya minta ampun, gimana kalau banyak? Bisa-bisa aku tekanan batin." Natasha langsung memukul dada suaminya itu.
" Banyak orang menyalah artikan tentang arti poligami. Tujuan yang sebenarnya adalah untuk membantu orang yang kesusahan, semisal seorang istri yang ditinggal suaminya dan harus menghidupi anak-anaknya. ( Mendadak inget Kak Pocut🤭) menikahinya karena rasa kemanusiaan untuk memberikan kehidupan yang layak untuk mereka terutama anak-anaknya. Tapi kebanyakan orang berpoligami sekarang bukan karena alasan kemanusiaan lagi, tapi karena tuntutan napsu belaka, alasan memenuhi kebutuhan biologis yang sebenarnya bisa mereka dapatkan dari pasangan mereka yang sah. Dan aku? Aku sudah punya kamu, yang bisa memuaskan aku, jadi untuk apa aku harus mencari yang lain?!" Yoga mengecup kening Natasha hingga membuat Natasha tercenung. Sungguh Natasha merasa sangat beruntung mendapatkan suami seperti Yoga, yang bisa menerima dia dengan segala kelemahan, kekurangan dan sikap buruknya.
*
*
*
Bersambung...
Happy Reading😘
__ADS_1