MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Tuduhan Azzahra


__ADS_3

Gavin memperhatikan gadis cantik berhijab yang terlihat memucat dan ketakutan, bahkan kini air mata sudah mengaliri wajah cantik gadis itu, seraya mengatupkan telapak tangan di dekat dadanya gadis itu berkata, " Tuan saya mohon, saya minta maaf, tolong jangan lakukan ini. Tuan bisa memberi hukuman lain terhadap saya, tapi tolong jangan paksa saya melakukan hal ini."


Gavin mengeryitkan keningnya mendengar ucapan gadis itu. " Jangan memaksa saya melakukan hal itu?" ucap Gavin dalam hati. Memangnya dia ingin memaksa melakukan apa? batin Gavin. Tiba-tiba hatinya kembali tergelitik, melihat wajah gadis cantik berhijab yang mulai menegang, rasanya menyenangkan menggoda gadis itu.


Gavin tahu apa yang ada di pikiran Azzahra, karena itu dengan perlahan dia melepas satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuhnya.


Rasanya Gavin ingin sekali terbahak melihat ekspresi gadis itu, tapi dia tahan. Dia malah mengucapkan kalimat bernada ancaman.


" Aku bilang masuk, atau aku akan benar-benar memberikan hukuman kepadamu?"


Sekejap kemudian Gavin melihat gadis itu limbung dan hampir jatuh ke bawah kalau saja dia tidak segera menangkap tubuhnya.


Gavin segera mengangkat tubuh Azzahra dan merebahkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur.


" Astaga kenapa dia malah pingsan? Aku 'kan hanya ingin menyuruh dia membersihkan bajuku dengan air di kamar mandi." gumam Gavin memijat keningnya.


Sementara itu beberapa menit kemudian di sebuah kamar suite room seorang wanita tengah bergerak dengan ritme beraturan di atas pangkuan suaminya di sebuah sofa. Sementara sang suami terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan sang istri kepadanya.


Suara desahan, lenguhan dan erangan saling bersautan yang lolos dari bibir mereka membahana ke setiap sudut ruangan. Sementara sang istri terus memimpin aktivitas pergerakan, tangan dan mulut suami dengan intens memainkan dua asset berharga milik sang istri hingga sang istri semakin meliuk-liuk menahan serbuan gairah.


" Aaakkhhh ... enak banget, Yang. Uuuggghh ...."


Sang suami tersenyum mendengar ungkapan istrinya.


" Enak??"


" Bangeeeettt ..." desah sang istri.


Sang suami lalu memegang kedua pinggang istri dan membantu agar gerakan sang istri lebih kencang, hingga akhirnya pelepasan mereka dapatkan.


" Yo-gaaaaaaaa ..." ucap Natasha sebelum akhirnya tubuhnya menggelinjang.


Yoga memeluk erat tubuh Natasha hingga kini mereka saling berpelukan tanpa kain yang menempel di tubuh mereka, dengan deru nafas tak beraturan. Tak ada pergerakan selain dada mereka yang turun naek dengan nafas tersengal-sengal tanpa melepas penyatuan mereka.


" Kamu benar-benar luar biasa, Sayang. Aku beruntung malam itu menemukan mu." Yoga menciumi wajah berpeluh Natasha.


" Aku yang paling beruntung, Mas. Aku yang paling beruntung bisa mendapatkan mu mendapatkan cintamu," balas Natasha menyandarkan wajahnya di dada Yoga yang tak berbalut kain.


" Apa katamu tadi?" Yoga mengangkat wajah Natasha agar menoleh ke arahnya.


" Aku yang paling beruntung."


" Bukan itu."


" Aku paling beruntung mendapatkan mu dan cintamu."


" Bukan."


" Yang mana? Aku tadi cuma bilang itu, kok."


" Tadi kamu panggil aku dengan sebutan apa?"


Natasha mengkerutkan keningnya sejenak kemudian tersenyum.


" Mas? Kamu nggak suka ya aku panggil Mas?"


" Kenapa tiba-tiba panggil itu, hemm?" Yoga membelai wajah Natasha.


" Karena kalau panggil Kang, Abang atau Aa rasanya kurang pas, jadi aku panggil Mas saja. Tapi kalau kamu keberatan aku panggil begitu, nanti aku cari panggilan yang lain."


" Nggak usah, panggil saja seperti itu."

__ADS_1


" Mas Yoga?"


Yoga menganggukkan kepala kemudian mengangkat tubuh Natasha lalu berjalan ke arah tempat tidur dan kembali mengungkung tubuh Natasha. Yoga kembali menyergap bibir Natasha, mencoba membakar gairah kembali untuk melanjutkan ronde selanjutnya sementara tubuh mereka masih dalam penyatuan.


" Kita lanjutkan ronde selanjutnya, kali ini giliran aku yang memimpin." Saat jeda bibir mereka berpagutan Yoga mengucapkan hal itu.


" Terserah apapun yang kamu mau, Mas."


" Nah gitu dong, istri yang baik nurut apa kata suami." Kemudian dengan rakusnya mulutnya melahap kedua bongkahan kenyal milik istrinya hingga membuat istrinya itu mendesah.


Beberapa menit aktivitas pemanasan kembali mereka berjalan, ketika tiba-tiba ponsel Yoga berdering.


" Hp mu bunyi, Mas."


" Biarkan saja." Yoga tak menghentikan aktivitas mencumbu istrinya.


" Barangkali penting."


" Biarkan ...."


Kini giliran ponsel Natasha yang berbunyi.


" Mas, Hp aku juga bunyi, pasti mereka mencari kita."


" Abaikan saja."


" Maaaasssss ...."


Akhirnya dengan berdecak Yoga kembali mengangkat tubuh Natasha dan melilitkan kaki sang istri ke pinggangnya, dia berjalan mengambil ponsel milik Natasha di dalam tasnya tapi panggilan itu lebih dulu terputus. Namun tak lama ponsel dia yang kembali berbunyi.


" Mamih yang telepon."


" Angkat saja." Natasha menyandarkan kepalanya di dada Yoga dengan tangan melingkar di leher pria berbadan kokoh itu.


" Prayoga kamu di mana sekarang? Azzahra hilang " pekik Mama Yoga.


" Hahh?? Rara hilang??"


Natasha mendongakkan kepalanya mendengar nama Rara disebut.


" Iya kamu di mana, sih? Cepetan kemari. Di sini kita sedang panik cari Rara."


" I-iya, Mih. Kita segera ke sana." Yoga langsung mematikan panggilan teleponnya.


" Rara menghilang?" tanya Natasha kemudian.


Yoga menganggukkan kepala kemudian dia berdecak. " Mengganggu saja."


" Ya sudah kita kembali ke ballroom."


" Urusan kita belum tuntas ini."


" Kita bisa lanjutkan ini kapan saja, Mas. Yang penting sekarang membantu mencari Rara." Ada nada khawatir dalam ucapan Natasha. Karena jujur saja saat di Ballroom tadi, dia sempat melihat gadis itu memperhatikan interaksi dia dan Yoga. Dan dengan sengaja dia melingkarkan tangannya ke leher Yoga dan melakukan interaksi intim dengan suaminya untuk membuktikan pada Azzahra jika saat ini Yoga adalah miliknya, dia yang berhak atas kepemilikan seorang pria bernama Prayoga Atmajaya.


***


" Di Lobby sama di taman hotel juga nggak ada." Mang Ucup yang ditugaskan mencari Azzahra tidak menemukan keberadaan Azzahra.


" Aduh ... gimana ini, Bi? Rara menghilang kemana?" Umi Rara terlihat cemas berbicara pada suaminya.


" Umi tenang dulu, jangan panik begini." Abi Rara berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


" Kamu terakhir lihat, Rara bilang apa ke kamu, Hesti?" tanya Mama Yoga kepada Umi Rara.


" Rara bilang mau cari udara segar, tapi nggak bilang ke mana-mana nya, Ceu." Mama Rara menyahuti.


" Jadi gimana ini, Pih?" Mama Yoga meminta pendapat Papa Yoga.


" Papih sudah bilang ke Budi, minta bantuan pihak hotel untuk melihat cctv, semoga diijinkan sama pihak Hotel."


Akhirnya setelah beberapa saat Abi dan Umi Azzahra diperkenankan melihat hasil dua rekaman cctv di pintu Ballroom yang mengarah ke bagian dalam dan luar Ballroom.


" Itu dia Rara, Bi. Ya Allah kenapa dia? Dia menabrak seseorang." Umi Rara menutup mulut dengan tangannya.


" Rara keluar dengan orang itu, kemana?" Abi Rara ikut berkomentar karena rekaman cctv itu hanya melihat bayangan Rara sampai depan lift.


" Mas, maaf ... apa saya bisa melihat ke mana mereka pergi?" tanya Abi Rara pada karyawan hotel.


" Emmm ... sebentar, Pak. Bapak dan Ibu bisa duduk dulu sebentar di sana." Karyawan itu menunjuk kursi lipat yang tersedia di ruangan itu. Tak lama karyawan itu menyuruh orang tua Rara mengikutinya.


***


Sementara itu Gavin masih terduduk di tepi tempat tidur, sedari tadi dia memandangi wajah Azzahra tanpa berniat untuk membangunkannya. Punggung jarinya bergerak membelai wajah Azahra, tiba-tiba saja ingatannya terkenang akan Natasha. Dia teringat pernah juga diam-diam membelai wajah Natasha yang sedang tertidur saat menemukan Natasha menangis di parkiran perusahaan Andra.


Entah kenapa gadis di hadapannya kini membuatnya tertarik, apalagi dengan kepolosan dan penampilan tertutup Azzahra, membuatnya tak ingin begitu saja mengacuhkan wanita itu.


Seulas senyum terbersit di sudut bibir Gavin demi mengingat kejadian tadi di mana gadis itu menyalah artikan maksudnya membawa kemari. Dia kembali membelai wajah Azzahra merasakan kulit halus mulus ketika tiba-tiba ...


Braaakkk


Pintu kamar dibuka paksa, dan terlihat beberapa orang telah muncul.


" Gavin! Apa yang telah kamu lakukan?!" Geram salah seorang dari empat orang yang tiba-tiba hadir di kamar itu.


" D-dad?" Gavin buru-buru menarik tangannya dari wajah Azzahra dan bangkit.


" Apa yang telah kamu perbuat terhadap gadis itu, Gavin?" Selidik Dad David memperhatikan kemeja Gavin yang terbuka.


" Astaghfirullahal adzim, Rara." Umi Rara langsung menghampiri tubuh Rara yang terbaring dan dengan cepat menggoyang tubuh Rara agar terbangun.


" Gavin, jawab Daddy ... apa yang sedang kalian lakukan di kamar ini?"


" A-aku tidak melakukan apa-apa, Dad." Gavin terlihat bingung.


" Tidak melakukan apa-apa bagaimana? Anak saya tertidur seperti ini, dan kamu?" Umi Rara juga melihat bagaimana baju yang dikenakan Gavin yang terbuka, belum lagi saat masuk dia melihat tubuh Gavin condong ke arah Azzahra yang tertidur.


" Maaf, Bu. T-tapi saya benar-benar tidak melakukan apapun terhadap dia." Gavin menyangkal tuduhan Umi Rara.


" Ra, Rara ... bangun, Nak." Umi Rara terisak, pikirannya sudah ke mana-mana.


Akhirnya beberapa saat setelah ditepuk-tepuk pipinya, Azzahra mengerjapkan mata, bayangan Uminya yang pertama dia lihat, dia langsung mengedar pandangan hingga matanya terkunci pada sosok Gavin yang memperlihatkan sebagian dadanya, membuat Azzahra langsung bangkit dan terisak memeluk Uminya dan berkata ...


" Umi, Rara takut, Rara mau diperkosa ...."


Perkataan Azzahra sontak membuat semua orang yang ada di sana terkesiap, terutama Gavin yang langsung membulatkan matanya demi mendengar tuduhan konyol yang dilontarkan Azzahra kepadanya.


*


*


*


Wkwkwkwkkk Gavin oh Gavin, makanya jangan iseng jadi orang😂😂

__ADS_1


Bersambung...


Happy Reading😘


__ADS_2