
Yoga berjalan menghampiri istrinya yang sedang merajuk dengan memasang wajah masam. Dengan penuh kasih sayang dia mengusap lembut kepala istrinya. " Siapa yang nggak ingat sama istri, sih, Yank? Aku dari siang pusing cari kamu, kepala rasanya kaya mau pecah cari kamu ke sana ke sini nggak ada. Aku cek di butik, ngga ada. Aku sampai nunggu hampir satu jam di apartemen kamu juga nggak ada. Justru kamu yang nggak ingat suami kamu sendiri. Meninggalkan suami sendirian di restoran, siapa yang lebih kejam?"
" Siapa yang meninggalkan kamu sendiri? Aku meninggalkan kalian berdua, kamu sama mantan kamu, kok!" Natasha semakin mengerecutkan bibirnya.
Dengan menundukkan tubuhnya Yoga merangkum wajah Natasha kemudian mengecup singkat bibir Natasha. " Kamu kok makin menggemaskan, Yank." Yoga tidak memperdulikan tuduhan istrinya lagi. " Kamu sengaja kan, bikin cemas aku, bikin kesalahan, supaya aku hukum, hemm?'
" Cih, siapa juga yang minta dihukum?" Natasha memalingkan wajahnya.
Yoga kemudian mengambil posisi duduk di samping Natasha. " Kamu habis dari mana seharian ini? Aku beneran cemas, takut terjadi sesuatu yang buruk dengan kamu."
" Bagus, kan?! Kalau terjadi sesuatu yang buruk dengan aku, kamu tinggal balik lagi sama mantan kamu tadi. Masih single, kan? Belum menikah juga!" ketus Natasha.
" Astaghfirullahal Adzim, kamu nggak boleh bicara yang jelek-jelek. Aku itu sayang sama kamu, mau dia masih single atau menikah, aku nggak perduli. Yang aku perdulikan sekarang ini adalah istri cantikku yang pandai merajuk ini." Yoga membelai rambut panjang Natasha tapi dengan cepat Natasha menepis tangan Yoga.
" Sudah jangan merajuk lagi, dong." Yoga merengkuh tubuh Natasha, meskipun Natasha menolak tapi Yoga tidak memperdulikannya. Dan seketika itu juga tangis Natasha tiba-tiba pecah.
" Aku takut kamu balikan sama mantan kamu, hiks ... dia cantik, pasti kamu bingung pilih aku atau dia, karena kami sama-sama cantik, hiks ...."
Yoga terkekeh mendengar mendengar ucapan Natasha. " Mau dia secantik apapun, aku tetap pilih kamu." Yoga mengecup pucuk kepala Natasha. " Sekarang katakan, sembunyi di mana tadi, hemm?" Tangannya mengangkat dagu Natsha kemudian menghujani kecupan di kening, mata, hidung dan berakhir di bibir istrinya.
" Aku di rumah depan."
Yoga memicingkan matanya. " Rumah depan?"
Natasha mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Flashback on
Natasha yang terbakar cemburu karena melihat Yoga berbincang dengan wanita yang dia duga adalah wanita yang pernah dicintai suaminya, memutuskan untuk pergi dari restoran itu. Saat Natasha keluar restoran dia melihat sebuah taxi argo berjalan keluar restoran. Setelah dia memberhentikan dan memastikan bahwa taxi itu kosong, Natasha pun langsung naik menuju tempat kediaman suaminya. Natasha juga menonaktifkan bunyi panggilan telepon, sehingga banyak panggilan masuk pun tidak digubrisnya.
Sesampainya di depan rumah Yoga, dia hendak masuk ke dalam saat sebuah suara nyaring memanggil namanya.
" Kakak Ipar ..." terdengar suara Cindy memanggil namanya.
Natasha menoleh ke arah suara Cindy, terlihat gadis itu berlari ke arahnya.
" Kakak Ipar, boleh nggak Cindy mengungsi di rumah Kak Yoga?" tanya Cindy kemudian membuat kening Natasha berkerut.
" Memangnya kenapa harus mengungsi di rumah suamiku?"
" Aku sendirian di rumah, Kak. Mama sama Papa ke luar kota, katanya baru pulang nanti malam. Aku takut, soalnya bibi di rumah juga sedang pulang kampung, nggak ada siapa-siapa di rumah. Cindy takut ada perampok, takut diculik, terus diper ... hihiiii serem." Cindy mengedikkan bahunya. " Boleh kan, Kak?"
Natasha berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar. " Kamu nggak boleh mengungsi di rumah suami aku, tapi aku yang akan mengungsi di rumah kamu."
" Maksud kakak?"
__ADS_1
" Sini aku bisikin."
Cindy pun mendekatkan telinganya ke arah Natasha, setelah mendengarkan apa yang dimaksud Natasha dia pun menganggukan kepalanya.
" Deal?" tanya Natasha.
" Deal, Kak." Cindy menyahuti.
" Oke sekarang kita ke rumahmu. Tapi ingat, jangan sekali-kali kamu bilang sama Yoga kalau aku bersembunyi di sini."
" Beres, Kak ..." Cindy mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Flashback off
" Astaga, Yank. Berarti dari siang kamu di rumah Cindy?"
Natasha mengangguk sembari mendongakkan kepala dengan mengembang senyum di bibirnya.
Yoga mendengus kasar. " Aku kelabakan, lho, Yank. Bolak-balik keluar rumah cari kamu, eh ... kamu malah nyantai di rumah depan."
" Aku tahu, aku juga lihat kamu kebingungan dari kamar Cindy, Mas."
" Dan kamu diam saja melihat aku senewen begitu?"
Yoga menggelengkan kepalanya. " Kamu benar-benar minta dihukum, Yank."
Natasha menjauhkan tubuhnya dari pelukan Yoga, kemudian dia naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang dengan posisi kaki dan tangan terbuka " Hukum saja, silahkan hukum. Aku sudah siap, Mas?"
Yoga yang melihat istrinya tidur dengan posisi menantang dengan cepat mengungkung tubuh Natasha dan dengan segera melucuti pakaian yang dikenakan istrinya itu. Setelah melakukan pemanasan lewat sentuhan, maka dimulai hukuman yang diberikan Yoga. Yang kini malah justru menjadi candu bagi istrinya, hingga membuat mereka berdua berpeluh, setelah menyalurkan hasrat dan gairah mereka sebagai pasangan yang benar-benar sedang dimabuk asmara.
***
Satu Minggu berselang...
Hampir setiap hari Yoga selalu dipusingkan oleh tingkah Natasha yang aneh-aneh. Belum lagi menghadapi mood istrinya yang turun naik. Kadang telat menjemput lima menit saja, Natasha langsung uring-uringan. Dia bisa menangis tersedu-sedu seperti orang yang ditinggal pergi setahun. Tapi untungnya, Yoga selalu bisa menanggapi semua perubahan yang terjadi pada istrinya dengan sabar.
Seperti yang terjadi pada hari ini. Natasha kembali bersikap manja kepadanya.
" Mas, gendong ..." Natasha merengek manja saat sore ini Yoga menjemputnya pulang.
" Yakin minta digendong?"
" Iya, memang kenapa? Kemarin-kemarin juga aku minta gendong, kamu nggak protes banyak tanya." Natasha mencebik.
" Itu kan di rumah, Yank. Ini di butik, lho!"
__ADS_1
" Memang kenapa kalau di butik? Kamu malu gendong aku di sini?"
" Aku sih nggak masalah, Yank. Justru kamu, apa kamu nggak malu dilihatin karyawan kamu nanti?"
" Siapa yang mau lihatin terus ngatain aku, aku pecat sekalian!" tegas Natasha.
" Galak amat, Yank. Ya sudah sini kalau mau gendong." Yoga kemudian mengangkat tubuh Natasha dengan lengannya ala bridal style, tapi Natasha berontak.
" Aku nggak mau gendong gitu, aku mau gendong di punggung kamu."
Yoga pun kemudian menurunkan tubuh Natasha.
" Sudah cepat putar badannya." Yoga pun kemudian sedikit berjongkok agar istrinya lebih mudah naik ke punggungnya, dan kemudian keluar dari ruangan kerja Natasha.
" Bu, Ibu kenapa, Mas Yoga?" tanya Sinta yang langsung berdiri saat melihat Boss nya itu digendong di punggung suaminya.
" Lagi manja Boss kamu ini, Sin." Yoga menyindir.
" Oh kirain Ibu sakit, Mas."
" Eh, tunggu-tunggu!" Langkah Yoga terhenti saat istrinya itu meminta dia menghentikan langkahnya.
" Sin, mulai sekarang kamu aku larang panggil suami aku dengan sebutan Mas," protes Natasha.
" Lho, memangnya kenapa, Bu? Kan dari awal juga saya panggil Mas Yoga, Bu." Sinta balik memprotes.
" Iya tapi mulai sekarang yang boleh panggil Mas Yoga itu cuma aku! Nggak ada wanita lain yang boleh panggil itu selain aku!" ketus Natasha.
" Lalu saya harus panggil apa, dong, Bu?"
" Terserah, cari panggilan lain. Kamu kalau panggil aku ibu, panggil suami aku Mas, enak saja." Natasha mencebik.
" Ya, kan, karena Ibu itu boss, masa saya panggil Mbak Boss, kan lucu, Bu."
" Ya sudah, kamu panggil saya Pak saja, Sin." Yoga menengahi, karena jika diteruskan pasti urusan akan panjang antara boss dan sekretarisnya itu. Akhirnya Yoga yang mengendong Natasha pun turun. menuju mobilnya dan sudah pasti mereka jadi santapan tatapan mata pegawai-pegawai yang langsung bergosip melihat kelakuan boss mereka.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Readingš
__ADS_1