MENGEJAR SUAMI IMPIAN

MENGEJAR SUAMI IMPIAN
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Teruntuk emak² & perawan² cantik, apakah kalian merasa bosan dengan kisah Yoga&Tata ini? Beberapa bab ini sedikit agak melebar ke kisahnya Gavin, karena Insya Allah kalau ada kesempatan mau dibikin novel terpisah kalo MSI ini selesai.


Lalu gimana kisah Andra & Adel? Mungkin nanti akan sedikit diceritakan di sini, karena jujur aja, aku ngeblank, gada gambaran untuk kisah mereka berdua jika dibuat novel terpisah, karena sejujurnya kisah MSI ini awalnya aku mau buat kisah cinta Andra & Natasha, makanya aku kasih judul Mengejar Suami Impian🤭, tapi ternyata hatiku berbelok dan aku jatuh hati pada sosok Yoga, jadilah kisah MSI ini kisahnya Yoga & Tata. 😂


Buat yang nanya kapan Tata hamil? Karena hitungan ceritanya mereka berhubungan suami istri dalam arti yang sesungguhnya kan baru jalan dua Minggu ini, jadi tenang aja, nanti akan ada kejutan kok di kehamilan Natasha, dan itu akan dijadikan konflik pamungkas dari kisah ini.


Jadi yang sabar menunggu ya emak² & perawan² tercinta.😁


_________________________________


Mata Gavin memperhatikan orang-orang yang saat ini sedang menatapnya dengan sorot mata penuh amarah dan kekecewaan. Bagaimana tidak? Tuduhan yang ditudingkan Azzahra kepadanya seperti sebuah petir yang menyambar tubuhnya. Mungkin dia bukanlah pria yang baik, tapi dia bukanlah pria kurang ajar yang berani melecehkan seorang wanita.


" Gavin!! Apa benar yang gadis ini katakan?!" geram Dad David.


" Kamu mau memperkosa anak saya?!" tanya Abi Rara tak kalah emosi.


" Astaghfirullahal adzim, salah anak saya apa?" Umi Rara terisak, bagi seorang ibu tentu saja akan merasa sedih jika sesuatu hal buruk apalagi masalah kesucian harus dipertaruhkan oleh anak gadisnya.


" I-itu tidak benar, Sa-saya tidak ada maksud melecehkan dia," bantah Gavin menghunuskan tatapan tajam ke arah Azzahra yang langsung memalingkan wajahnya.


" Jadi kamu mau bilang jika anak saya berbohong?! Selama ini saya dan istri saya mengajarkan kepada anak saya untuk berkata sesuai jujur, kami tidak mengajarkan dia untuk berdusta dengan ucapannya," ungkap Abi Rara.


" Tapi saya memang tidak melakukan hal itu, Pak." Gavin terus menyangkal, karena memang dia tak punya pikiran sejauh itu.


" Ra, coba kamu jelaskan apa yang sudah dia lakukan kepadamu, Nak?" tanya Umi Rara.


" D-dia suruh Rara masuk ke kamar, Umi. Dia bilang akan kasih hukuman ke Rara, dia langsung buka kancing bajunya, Umi." Azzahra tersedu di pelukan Uminya.


" Tapi bukan berarti saya ingin memperkosa kamu, kan? Demi Tuhan saya tidak mempunyai niatan kesana," sergah Gavin kesal.


" Ada apa, ini? Apa yang terjadi?" Yoga yang diberi kabar bahwa Azzahra sudah ditemukan di sebuah kamar hotel langsung menuju ke kamar itu bersama istrinya.


" Yoga, pria ini ingin memperkosa Rara," seru Umi Rara membuat Yoga dan Natasha melebarkan bola matanya.


" Kak Gavin??" Natasha terkesiap mendengar perkataan Umi Rara.


" Kau ...!!" Yoga hendak menyerang Gavin namun tangan Natasha segera mencekalnya.


" Mas ..." Natasha menggelengkan kepala, meminta agar suaminya itu tidak menggunakan kekerasan. Kemudian pandangan Natasha beralih ke arah Gavin dengan tatapan penuh tanda tanya.


" Kakak tidak melakukan itu, Alexa," ucap Gavin frustasi.


" Bukan tidak melakukan tapi belum sempat melakukan karena keburu ketahuan." Abi Rara terlihat kesal karena Gavin masih saja menyangkal. Jelas-jelas dilihatnya pria itu berada di kamar yang sama dengan anaknya.


" Lantas apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yoga dengan nada penuh emosi.


" Saya ... saya hendak menyuruh dia membersihkan baju yang tertumpah minuman yang dia senggol tadi." Gavin mengatakan alasan yang sebenarnya.


" Jika membersihkan baju kenapa harus ke dalam kamar? Bukankah kamu pemilik hotel ini? Kenapa kamu tidak menyuruh anak buah mu? Kenapa kamu malah menyuruh Azzahra?!" Pertanyaan-pertanyaan penuh amarah dilontarkan Yoga kepada Gavin. Tentu saja Yoga marah, karena dia sudah menganggap Azzahra seperti adiknya sendiri, jadi kalau ada sesuatu hal yang buruk menimpa gadis itu, dia tidak akan tinggal diam. Apalagi pria yang berurusan dengan Azzahra adalah pria yang beberapa hari membuatnya bertengkar dengan Natasha.


" Kak, jawab pertanyaan Mas Yoga, kenapa Kak Gavin dan Rara bisa ada di kamar ini berdua?" Natasha ikut menanyakan.


Gavin menelan salivanya, dia tidak mungkin mengatakan alasan kenapa tidak menyuruh karyawannya adalah ingin mengerjai gadis itu.


" Alexa, Demi Tuhan, Kakak tidak melakukan hal itu, Alexa."


Natasha menatap Gavin, dia tidak melihat kebohongan di manik mata kakak sepupunya itu.


" Emmm ... maaf, saya bisa bicara empat mata berdua dengan Kakak saya?" ucap Natasha.


" Kakak??" Semua orang selain Yoga dan Gavin terperanjat saat Natasha menyebut kata itu.


" Yang, kamu mau apa?" Yoga terlihat tak setuju.

__ADS_1


" Jadi pria ini kakak istri kamu, Yoga?" tanya Abi Rara.


" Gavin, siapa dia?" Dad David pun dibuat bingung dengan perkataan Natasha.


" Iya, Dad. Alexa ini anaknya Tante Nabilla, adiknya Mommy." sahut Gavin.


" Oh kamu anaknya Nabilla, apakah Papa kamu itu Farhan?" tanya Dad David kembali. Daddy Gavin itu tentu saja ingat pada sosok pria yang pernah digilai mantan istrinya dulu.


" Iya, Om. Papa saya, Papa Farhan." Natasha buru-buru mencium punggung tangan Dad David.


" Tidak disangka kita bertemu di sini? Bagaimana kabar Papa dan Mamamu?" Dad David seolah tak menyadari kehadiran mereka di sini karena ingin mengurus masalah Azzahra.


" Mama sehat, kalau Papa belum lama ini meninggal."


" Innalillahi wa innailaihi Rojiuun, Om turut berduka."


" Iya, Om ... terima kasih."


" Maaf, masalah ini bagaimana?" Abi Rara memotong acara reuni keluarga antara Natasha dan Dad David.


" Oh, maaf ... sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja," ujar Dad David. " Wan, tolong kamu atur agar kejadian ini tidak sampai diketahui orang lain terutama karyawan hotel ini. Tolong kasih tahu orang yang tadi di bagian cctv kasih tahu agar tidak menceritakan apa yang dilihat di cctv tadi." Perintah Dad David kepada Iwan, asistennya.


" Baik, Tuan." Iwan pun akhirnya meninggalkan mereka, dan mereka pun kini berkumpul di ruang kerja Dad David.


Sementara itu di ruangan terpisah, Natasha sedang berbincang empat mata dengan Gavin, setelah susah payah membujuk suami posesifnya itu agar memberikannya ijin


" So, sebenarnya apa yang terjadi?" Natasha mengawali percakapan.


" Tadi gadis itu berjalan menabrak Kakak yang sedang berdiri memegang minuman, hingga minuman itu tumpah di baju, lalu pegawai Kakak memarahi dia membuat dia ketakutan. Entahlah, tapi Kakak lihat gadis itu seperti sedang bersedih, mungkin karena itu dia berjalan terburu-buru sepertinya ingin segera meninggalkan pesta ini. Dia seperti orang yang sedang patah hati, seperti orang yang hadir di pernikahan mantan." Gavin terkekeh menceritakan.


" Kak Gavin benar, dia itu sepertinya sedang patah hati." Natasha tersenyum kecut.


" Apa dia mantannya Budi?"


Natasha menggelengkan kepala. " Bukan, Kak. Dia itu tadi melihat aku dan Mas Yoga bermesraan. Gadis itu adalah calon istri yang dipersiapkan keluarga Yoga untuk Yoga, Kak."


" Iya, tapi Yoga malah nikah sama aku." Natasha tertawa kecil


" Aku bisa mengerti perasaan dia kalau begitu, kita sama-sama patah hati karena pasangan yang sama." Gavin kembali terkekeh.


" Kak ... ayolah kita ini sepupuan."


" Iya-iya, Kakak berusaha sepenuh hati melupakan perasaan itu," lirih Gavin.


" Lalu apa yang terjadi setelah Azzahra menabrak Kakak?"


" Entahlah, melihat dia seperti itu, tiba-tiba saja timbul niat iseng Kakak untuk mengerjai dia."


" Mengerjai?"


Gavin mengangguk. " Tadinya aku cuma iseng mau ngerjai dia membersihkan pakaian Kakak di kamar, karena dia itu terlihat polos sekali. Kakak sengaja membuka baju di depan dia, eh ... dia malah pingsan karena ketakutan. Karena itu Kakak taruh dia di tempat tidur, tapi Kakak tidak berniat melecehkan apalagi memperkosa dia, sampai akhirnya mereka datang dan menuduh Kakak berbuat macam-macam, apalagi saat gadis itu siuman dia malah mengatakan Kakak ingin memperkosa dia."


" Kenapa Kakak sampai punya niatan mengerjai dia?"


" Entahlah, Kakak juga tak mengerti." Gavin mengedikkan bahunya.


" Dia cantik kan, Kak? Mamihnya Mas Yoga selalu membangga-banggakan dia."


" Kamu cemburu dengannya? Kamu meragukan kesetian suami kamu yang posesif itu?"


" Bukan dia yang aku ragukan, Kak. Tapi Mamihnya, beliau masih belum bisa seutuhnya menerima aku sebagai menantunya," ungkap Natasha.


" Mama mertua kamu belum merestui pernikahan kalian?"

__ADS_1


Natasha melebarkan bola matanya, lalu menutup mulutnya. " Oh, astaga ... aku keceplosan." Natasha lalu menoleh ke arah Gavin. " Kak, tolong jangan ceritakan hal ini kepada Mama atau siapapun juga, ya! Anggap Kakak tidak mendengar apapun tadi. Aku nggak ingin buat Mama sedih. Please ya, Kak ..." Natasha memohon.


" Tapi kamu baik-baik saja, kan? Kamu bisa handle semuanya?"


" Bisa kok, Kak. Aku masih bisa handle semuanya, Kakak nggak perlu khawatirkan itu."


" Baiklah kalau kamu yakin seperti itu, Kakak tidak akan bicara apapun tentang hal tadi."


" Lalu apa rencana Kak Gavin terhadap Azahra? Kalau orang tua Azzahra meminta Kak Gavin menikahi dia, gimana?" Natasha tersenyum usil.


" Menikahi dia? Memangnya kenapa harus menikahi dia? Kakak tidak melakukan apa-apa terhadap dia."


" Iya, tapi kan di mata orang tua dia Kak Gavin bersalah, karena bawa anak gadisnya masuk kamar lagi. Kalau Kakak dipaksa menikah dengan dia, Kakak terima saja, ya!" Natasha tak bisa menahan senyum lebar.


" Supaya kamu aman, begitu?"


Natasha tertawa. " Aku nggak merasa terancam kok, Kak. Aku cuma merasa, dia itu wanita yang baik, akan cocok untuk Kak Gavin yang baik juga." Natasha tak berhenti menggoda.


" Sudahlah, kita kembali ke dalam." Gavin berdiri beranjak menuju ruang kerja Dad David diikuti oleh Natasha.


***


" Bagaimana, Gavin? Apa keputusanmu?" tanya Dad David saat Gavin kembali terduduk di sofa, sedang Natasha memilih duduk di samping Yoga yang langsung melingkarkan lengannya di pundak Natasha.


" Baiklah, jika kalian tetap menganggap saya bersalah dan meminta saya bertanggung jawab atas hal yang telah dituduhkan kepada saya, saya bersedia menikahi Azahra, setelah urusan perceraian saya dengan istri saya selesai."


Keputusan Gavin membuat beberapa orang yang hadir di sana terkesiap.


" Rara nggak ingin menikah dengan dia, Umi." Isak tangis kembali terdengar dari mulut Azahra.


" Umi juga nggak setuju punya menantu pria mesum seperti dia." Umi Rara menyahuti.


" Jadi kamu sudah menikah? Dan kamu berani melakukan pelecehan terhadap anak saya. Saya juga tidak sudi punya menantu pria beristri, saya tidak sudi anak saya dituding sebagai perebut suami orang." tandas Abi Rara.


" Berarti kalian tidak setuju jika anak saya menikahi anak kalian?" tanya Dad David.


" Tentu saja." Abi dan Umi Rara bersamaan.


" Kalau seperti itu, apalagi yang dipermasalahkan? Anak saya sudah bersedia tanggung jawab, tapi kalian menolak. Apa kalian ingin meminta ganti rugi materi?"


" Kami tidak kekurangan materi," tegas Abi Rara.


" Lalu apa kalian ingin melaporkan anak saya, yang belum tentu tuduhan yang ditujukan kepadanya benar. Apakah itu tidak merugikan nama anak Anda sendiri?"


Abi dan Umi Rara saling berpandangan.


" Kami hanya ingin menuntut pertanggung jawaban dia atas perlakuannya terhadap anak kami," ujar Umi Rara


" Bertanggung jawab dalam bentuk apa?"


" Bagaimana kalau nanti ada yang tahu apa yang terjadi pada anak saya malam ini? Bagaimana jika nanti tidak ada pria yang mau mendekati anak saya karena tahu kejadian ini?" Umi Rara mengungkapkan kekhawatirannya.


" Kalau tidak ada pria yang akan mendekati anak Ibu, biar saya yang akan menikahi anak ibu," tegas Gavin.


" Tidak! Saya tidak mau kamu jadi menantu saya," sergah Umi Rara.


Sementara Natasha memijat pelipisnya menanggapi sikap orang tua Azzahra. Yoga dan Dad David hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala karena bingung, apa yang diinginkan orang tua Azzahra sebenarnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading😘


__ADS_2