
" Pa, Papa istirahat saja ya, jangan banyak bicara dulu biar cepat sehat." Natasha mengalihkan arah pembicaraan.
" Papa sudah tidak punya banyak waktu, Ta."
" Pa ...! Papa jangan bicara seperti itu, Tata nggak suka Papa bicara begitu." Natasha langsung memeluk tubuh ringkih Papanya.
" Ta, kamu sudah dewasa, sudah saatnya kamu memikirkan berkeluarga. Selama ini kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Papa ingin melihat kamu menikah, Ta." Tangan lemah Papa Farhan mengusap lembut Natasha.
" Nak Yoga, Om mempunyai dua anak perempuan, Salah satu kewajiban seorang ayah adalah menikahkan anak gadisnya. Adik Natasha masih umur sembilan belas tahun, belum saatnya Om menikahkan dia. Harapan Om hanya pada Natasha. Selagi Om masih ada nafas, Om ingin melihat Natasha menikah hari ini juga. " Papa Farhan menghela nafas yang terasa berat. " Nak Yoga, bersediakah Om nikahkan kalian?"
Deg..
Natasha dan Yoga terperanjat mendengar permintaan Papa Farhan.
" Pa ... hiks ..." Tangis Natasha kembali pecah. " Pa, Papa jangan mikirin Tata dulu, Papa mesti mikirin kesehatan Papa dulu, kesembuhan Papa terlebih dahulu, hiks ...."
" Papa ingin pergi dengan tenang, Ta."
" Pa ..." Mama Nabilla yang sedari menahan air matanya pun tak kuasa untuk menangis. Sedang Yoga hanya bergeming, tertegun menatap Papa Farhan yang terlihat seperti meminta persetujuannya.
" Bagaimana, Nak Yoga? Apa Nak Yoga bersedia mengabulkan permohonan Om? Om memang baru berjumpa sekali dengan kamu, Nak. Tapi entah mengapa Om merasa jika Tata akan aman jika bersamamu."
Yoga menelan salivanya, lalu menghela nafas panjang. Dia tidak pernah menyangka jika pertolongannya kali ini kepada wanita yang beberapa kali ditolongnya itu bakal berimbas pada keadaan yang mengharuskan dia mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya.
Menikah, siapapun menginginkan itu, termasuk dirinya. Tapi apakah secepat ini? Tanpa proses menjalani suatu hubungan, Tanpa persiapan yang matang, tanpa sepengetahuan dan persetujuan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Tapi apakah dia juga sanggup menolak permintaan pria paruh baya yang terkulai lemah di depannya? Tiap kata-kata yang terucap dari bibir pucat pria paruh baya itu seperti menyiratkan suatu pertanda. Yoga berusaha menepis pikiran buruk tentang apa yang akan terjadi pada Papa Farhan.
" Nak Yoga ...?" suara Papa Farhan kembali terdengar di telinganya, membuyarkan lamunan Yoga.
Sekali lagi Yoga menarik nafas dalam-dalam dan berucap. "Saya bersedia, Om. Saya bersedia menikah dengan Natasha," ujar Yoga mantap.
Papa dan Mama Nabilla menghela nafas lega, sedangkan Natasha hanya menggeleng tak percaya atas keputusan yang dibuat Yoga. Bagaimana bisa dia harus menikah dengan pria yang belum lama dikenalnya? Yoga memang pernah beberapa kali menyelamatkannya. Tapi dia tidak mengetahui bagaimana Yoga sesungguhnya, kehidupannya, keluarganya, pergaulannya. Apa mungkin dia bisa menikah dengan orang yang tidak pernah direncanakan bahkan tidak terpikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa dia menikah dengan orang yang tidak dicintainya?
" Pa, ini terlalu mendadak. Nggak mungkin kan Tata menikah hari ini juga? Tata belum siap, Pa ..." Natasha berusaha menolak.
" Om Faisal sudah mempersiapkan semuanya, Ta. Kalian hanya tinggal menikah saja." Mama Nabilla menyahuti, memberi penjelasan bahwa semua persyaratan sudah diatur oleh Adik dari Papanya itu.
__ADS_1
" Kalian sudah merencanakan semua ini?" Natasha tak percaya jika keluarganya sudah mepersiapkan semua ini.
" Sejak Papa kamu siuman tadi, Papamu meminta Om Faisal mempersiapkan acara pernikahan kamu, Ya mungkin ini nikah siri dulu, yang penting sah secara agama, karena kondisinya mendesak," ujar Mama Nabilla lagi.
" Mendesak gimana maksudnya, Ma? Papa pasti akan sembuh, Papa masih punya banyak waktu untuk menjadi wali nikah Natasha kan, Ma. Iya kan, Pa? Huhuuuu ..." Natasha tersedu.
" Ta, Papa takut usia Papa tidak akan bertahan lama, Papa takut Papa tidak bisa menunggu kamu siap untuk menikah, Nak."
" Papaaa ... huhuuu ..." Natasha langsung berhambur memeluk Papanya
***
Dan pada akhirnya, pernikahan Natasha dan Yoga terlaksana juga. Selepas waktu Maghrib, di depan penghulu, disaksikan kedua orang tua Natasha, Amara, adik Natasha, Om Faisal dan dokter Harry, dokter keluarga Natasha serta beberapa perawat yang menjadi saksi. Yoga mengucapkan ijab qobul dengan satu hembusan nafas dengan lantang dan mantap. Raut kebahagian terpancar di setiap wajah-wajah keluarga Natasha.
" Nak Yoga, Papa titip Tata, ya. Jaga dia baik-baik. Dia ini anaknya keras kepala, tapi sebenarnya dia sangat manja kepada orang yang dia sayang dan orang yang menyayanginya. Jika Tata berbuat salah, tegurlah dia baik-baik. Papa titip Tata, sayangi dia seperti Papa menyayanginya, Jangan sampai Nak Yoga menyakiti Tata, karena Papa sendiri selama hidup Papa tidak pernah menyakiti apalagi berlaku kasar terhadapnya," pinta Papa Farhan setelah penghulu dan kerabat berpamitan pergi.
" Iya, Om. Saya janji akan menjaga Natasha."
" Loh, Kok Om sih, Ga? Papa dong panggilnya. Kamu kan sudah menjadi menantu kami, berarti kami juga sudah menjadi orang tua kamu." Mama Nabilla menginterupsi.
" Dan untuk kamu, Ta. Sekarang ini kamu sudah menjadi seorang istri, Jangan bertindak semaumu sendiri. Jadilah istri yang baik, yang menurut kepada suamimu, yang patuh kepada suamimu, Jangan membantah apa yang diucapkan oleh suamimu, jangan selalu keras kepala dan jangan galak-galak pada suamimu ..." nasehat Papa Farhan.
" Pa ..." Natasha mencebik
" Dan satu lagi, harus belajar masak mulai sekarang, biar suami kamu bisa makan masakan yang kamu buat. Seperti Papamu itu, kalau bukan masakan Mama, Papa pasti nggak mau makan.." Mama Nabilla menimpali.
" Memang Natasha nggak bisa masak, Tante eh Ma?" tanya Yoga yang dibalas anggukan kepala,
" Memangnya kenapa kalau aku nggak bisa masak?!" ketus Natasha.
" Tuh, belum juga lima menit Papa kamu bilang, eh ... malah kejadian. Lihat deh Pa, anak Papa yang manja ini, kalo sama saya galak terus," ledek Yoga yang disambut dengan senyuman di bibir Papa Farhan, sedang Mama Nabilla hanya bisa menggeleng-geleng kan kepala melihat anak menantunya berdebat layaknya Tom and Jerry.
" Kalian berdua pulang saja dulu sana, istirahat di rumah. Pasti capek kan habis perjalanan jauh. Biar Papa kamu nanti Mama sama Amara yang jaga.
" Tata mau di sini temani Papa, Ma," protes Natasha.
__ADS_1
" Kasihan suamimu, biar dia istirahat di rumah. besok pagi baru kalian bisa datang kemari lagi." Mama Nabilla melarang.
" Iya buruan pulang sana, pengantin baru barangkali mau malam pertama, masa jagain pasien," ledek Amara yang sedari tadi asik dengan gadgetnya.
" Berisik ...!! Anak kecil tahu apa kamu?!" Natasha melotot ke adiknya.
" Tahulah, Kalau orang habis nikahan, malamnya langsung make love, malam pertama," celetuk Amara polos.
" Hush ... kamu masih belum pantas bicara seperti itu," hardik Mama Nabilla.
" Yaelah, Ma. Aku kan sudah sembilan belas tahun, kalau ada yang ngelamar juga aku sudah bisa dinikahin," seloroh Amara.
" Astaghfirullahal adzim kamu ini." Mama Nabilla menjewer telinga Amara hingga membuatnya meringis. Natasha yang melihat adiknya tersiksa malah menjulurkan lidahnya meledek.
" Sebaiknya Mama dan Amara saja yang pulang, biar saya dan Natasha yang jaga Papa di sini, Ma," kata Yoga.
" Jangan, Ga. Mama ingin selalu ada di samping Papa." Mama Nabilla menolak.
" Kalau begitu, Natasha dan Amara saja yang pulang, biar Yoga di sini temani Mama jagain Papa ..." sahut Yoga.
" Ya sudah ... bagus gitu, enakan tidur di kasur sendiri empuk, daripada tidur di sofa ini," celetuk Amara lagi.
" Ya sudah kalau kamu nggak keberatan, Mama setuju," sahut Mama Nabilla.
" Dih, Mama senang banget ya ditemanin mantunya yang ganteng," ledek Amara terbahak tapi langsung mendapat jitakan dari Natasha.
" Buruan deh pulang, banyak omong nih, bocah." Natasha kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya sebelum akhirnya menarik tangan Amara untuk meninggalkan mereka.
*
*
*
Bersambung....
__ADS_1
Happy Readingš