
Natasha membukakan pintu mobilnya saat melihat kedua anaknya Alden dan Azkia keluar dari pintu gerbang sekolah.
" Ada apa ini, kok cantiknya Mama Tata cemberut gini, sih?" tanya Natasha kepada putrinya Azkia yang sedang mencebikkan bibirnya saat memasuki mobil yang dikendarai sendiri olehnya.
" Adik Kia kenapa, Kak?" tanya Natasha kepada Alden, anak sulungnya. Yang ditanggapi Alden dengan mengedikkan bahunya.
" Kenapa sayang?" Kirania mengusap lembut kepala Azkia.
" Kia sebal sama Tiwi, Ma." Masih dengan mengerucutkan bibirnya Azkia mengadu kepada Natasha.
" Sebal? Memangnya kenapa cantiknya Mama Tata ini sebal sama Tiwi, hemm?" Natasha mengangkat tubuh Azkia lalu mendudukkan tubuh gadis kecil itu di pangkuannya.
" Tiwi bilang Kia nggak punya adik perempuan, nggak ada yang bisa diajak mainan Barbie, nggak ada yang bisa diajak main masak-masakan, Ma." Azkia bergelayut manja di bahu Natasha. " Kenapa Kia nggak punya adik perempuan sih, Ma? Jadi Kia nggak punya teman bermain." rengek Azkia.
" Azkia nggak punya adik perempuan tapi 'kan punya kakak laki-laki, punya adik laki-laki juga. Coba Mama tanya, Tiwi punya adik atau kakak laki-laki nggak?" Natasha mencoba menenangkan anaknya yang dijawab gelengan kepala Azkia.
" Nah, berarti Kia lebih beruntung, dong. Punya kakak dan adik laki-laki. Kalau punya kakak atau adik laki-laki nanti ada yang melindungi Kia kalau ada yang nakal sama Kia." Natasha terus memberi pengertian kepada anaknya agar anaknya itu lebih mengerti.
" Oh ... seperti dulu ada anak yang cubit pipi Kia waktu itu ya, Ma? Waktu itu Kak Alden terus bilang 'Siapa yang nakalin adikku?' sambil tangannya begini matanya melotot 'kan, Ma?" Azkia menirukan gerakan berkacak pinggang.
" Iya benar, punya saudara laki-laki itu juga enak, kok. Kalau pergi-pergi bawa barang yang berat bisa minta tolong bawain punya kita, dong." kelakar Natasha.
" Hahaha ... kaya Kak Alden suka bawain tas Kia ya, Ma?" Azkia tertawa mengingat kadang Alden lah yang sering mendorong tas nya sampai ke dalam kelas.
" Sekarang masih sedih karena Kia nggak punya adik perempuan?" tanya Natasha.
" Hmmm, tapi Kia mau punya adik perempuan juga, Ma. Kak Alden ada temannya Adik Abhi. Kia juga mau punya teman adik perempuan, dong." Azkia bersikukuh.
Natasha mengeratkan pelukannya pada putrinya.
" Kalau Kia mau punya adik perempuan, Kia harus berdoa meminta kepada Allah SWT kalau habis sholat ya."
" Kenapa minta sama Allah, Ma? Kan adik bayi keluarnya dari perut Mama." tanya Azkia kritis.
" Hmmm, karena Allah SWT itu yang menciptakan mahluk hidup. Biarpun adik bayi keluar dari perut Mama tapi kalau kata Allah nya di perut Mama nggak dikasih adik bayi, ya berarti Mama nggak bisa hamil adik bayi. Makanya Kia harus terus berdoa jangan pernah berhenti ya, Sayang."
" Iya, Ma. Nanti Kia mau doanya yang lama biar cepat dapat adik bayinya."
Natasha tersenyum mendengar ucapan Azkia, untung saja saat ini sang suami tidak ada di sana. Kalau saja Yoga tahu apa yang diinginkan Azkia, sudah bisa dibayangkan akan seperti apa tanggapan dari suaminya itu.
***
Yoga memperhatikan Azkia yang sedang khusyuk berdoa, padahal dia sendiri telah selesai memimpin sholat Maghrib berjamaah bersama keluarga kecilnya.
Natasha sendiri sudah bergabung dengan Ibu Ratna menyiapkan makan malam untuk mereka. Sedang Alden menemani Abhi di ruang keluarga.
__ADS_1
" Cantiknya Papa sedang berdoa apa sih? Kok kelihatannya khusyuk sekali berdoanya," tanya Yoga saat Azkia telah mengakhiri doanya.
" Kia berdoa supaya dikasih adik perempuan sama Allah, Pa."
Yoga membulatkan matanya mendengar keinginan anaknya itu.
" Kia mau punya adik perempuan, ya?" Yoga mengangkat tubuh Azkia kemudian menaruh di pangkuannya.
" Iya, Pa. Kata mama kalau Kia mau punya adik perempuan, Kia harus banyak berdoa minta sama Allah SWT, Pa." Kia menirukan apa yang dikatakan Natasha.
" Mama bilang begitu, ya?" Yoga langsung menyeringai.
" Iya, Pa. Biar di perut mama ada adik bayinya."
Yoga membelai kepala Azkia dengan lembut.
" Kia bilang sama mama, kata Papa ... Papa mau bantuin mama biar di perut mama cepat ada adik bayi." Yoga berseloroh.
" Papa mau bantu doa juga ya, Pa?" tanya Azkia antusias.
" Iya dong, Papa pasti berdoa dan akan berikhtiar biar keinginan Kia cepat terwujud."
" Ikhtiar apa, Pa?"
" Ikhtiar itu berusaha, bekerja giat."
" Siapa bilang Papa nggak bekerja giat?!"
" Soalnya Kia nggak dikasih adik perempuan. Padahal Papa kalau kerja kadang pulangnya sampai malam," protes Azkia salah menanggapi maksud papanya.
Tentu saja Yoga langsung tergelak mendengar jawaban polos anaknya itu. Belakangan ini selain mengajar di Kampus, Yoga juga mulai disibukkan dengan bisnis milik Papih Prasetya di Jakarta ini yang mesti dihandlenya, membuatnya memang harus pulang telat.
" Ayo buruan dilepas mukenahnya, lalu kita makan, yuk." Yoga kemudian mengajak Azkia menuju meja makan untuk santap malam.
" Ma, kata Papa ... Papa mau ber ... apa tadi Pa namanya?" Azkia meminta Yoga kembali menyebutkan kata yang sukar diingatnya sesampainya mereka di meja makan.
" Berikhtiar ..." Yoga menyahuti.
" Iya berikh-tiar ..." Azkia mencoba mengikuti kata-kata Yoga.
" Berikhtiar apa?" Natasha meraih gelas hendak meneguk air.
" Berikh-tiar biar perut Mama ada adik bayinya."
" Uhuk ... uhuk ... uhuk ..." Natasha dibuat tersedak oleh perkataan Azkia
__ADS_1
" Pelan-pelan dong minumnya, Ma." Yoga mengusap punggung Natasha membuat Natasha langsung melirik kesal suaminya itu, sementara Yoga menyeringai mendapat tatapan tajam sang istri tercinta.
" Kata Papa, Papa kerjanya mau lebih giat biar Adik bayinya cepat datang. Jadi nanti Papa kerjanya sampai malam ya, Pa?" Tak henti-henti Azkia membahas soal keinginannya untuk mempunyai adik perempuan.
" Iya dong, Papa nanti kerjanya sampai lembur biar keinginan Kia terwujud." Yoga kembali menyeringai seraya mengedipkan mata ke Natasha.
" Mas, iihh ... kenapa bahas itu depan anak-anak, sih?" bisik Natasha menggerutu.
" Nggak apa-apa, Yank. Buat menyenangkan hati Azkia." Yoga menimpali santai seraya memberikan kecupan di pipi sang istri.
" Iiihh ... Papa sama Mama co cuit banget," celetuk Azkia seraya memegang pipinya melihat kelakuan kedua orang tuanya.
" Mas ..." Natasha langsung mencubit pinggang Yoga karena ulah usil suaminya itu membuat Azkia yang memang mempunyai karakter mirip dengannya itu tak hentinya berkomentar.
***
" Kita mulai usaha sekarang yuk, Yank," ajak Yoga saat melihat Natasha memasuki kamarnya, setelah menidurkan Abhi.
" Mulai apa?" tanya Natasha mencoba tak terpengaruh dengan ucapan sang suami.
" Mulai mewujudkan keinginan Azkia, dong," senyum nakal Yoga langsung mengembang.
" Oh astaga, iihh ... kamu tuh, Mas. Jangan suka bicara yang begituan depan anak-anak, dong!"
" Terus bolehnya depan siapa?" Yoga mulai melingkarkan lengannya di pinggang Natasha.
" Ck, kamu ini ..." Natasha mencoba melerai tangan Yoga yang membelit pinggangnya.
" Mau ke mana?" Bukannya melepas, Yoga makin mengeratkan pelukannya seraya mengecup dan menghisap bibir manis sang istri.
" Aku lagi berhalangan lho, Mas." Natasha menatap wajah Yoga dengan memasang wajah semanis mungkin saat mereka menjeda ciumannya.
Yoga memperhatikan wajah cantik nan menggemaskan Natasha. " Kamu bisa memuaskanku dengan cara yang berbeda, kan?" Yoga kemudian mengangkat tubuh Natasha membuat Natasha memekik dan beteriak.
" Yoga gilaaaaaaaaa!!"
***
*
*
Kayanya otakku mesti dirukyah kalo nulis part tentang Tata&Yoga🤭🤭😂😂
Oh ya, karena karya ini udah kontrak dan Alhamdulillah dapet bonus dari reward kontrak, jadi aku putusin untuk melanjutka kisah MSI ini. Selanjutnya akan menceritakan keseruan keluarga Tata & Yoga dalam mengurus anak-anak mereka, dengan ada sedikit konflik yang semakin membuat kisah ini semakin seru dan menarik.
__ADS_1
Dan sekali lagi aku ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh reader yang selalu setia menanti pasangan penomenal ini. 🙏🙏 Big hug🤗🤗