
Natasha mengoles night cream di pipi mulusnya, sebelum akhirnya melepas jubah baju tidur berbahan satin, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara suaminya masih mengobrol tentang rencana resepsi pernikahan dengan Mamihnya di lantai bawah. Belakangan ini dia merasa tubuhnya terasa cepat lelah, karena itu dia memilih naik terlebih dahulu ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Natasha menoleh ke arah pintu saat terdengar olehnya suara pintu dibuka.
" Sudah selesai diskusinya, Mas?" tanya Natasha saat dilihatnya Yoga memasuki kamar.
" Belum, lanjut besok lagi. Kalau meladeni Mamih nggak akan kelar sampai pagi." Yoga lalu ikut merebahkan tubuhnya dan langsung merengkuh tubuh istrinya.
" Iiihhh ... bau kamu kok aneh sih, Mas?" Natasha menutup hidungnya seraya menjauhkan tubuhnya dari jangkauan tangan Yoga.
" Aneh apanya, sih?" Yoga mengendus tubuhnya terutama di bagian ketiak. " Biasa saja nggak ada yang aneh, kok."
" Jangan dekat-dekat deh iihhh, nggak enak baunya. Sana kamu mandi dulu, Mas." Natasha kembali menepis tangan Yoga.
" Ya ampun, Yank. Sudah hampir jam sepuluh lho, masa aku disuruh mandi? Lagipula aku kan sudah mandi, Yank." Yoga memprotes permintaan Natasha.
" Ya sudah kalau kamu nggak mau mandi, jangan sentuh-sentuh aku." Natasha kemudian menyusun guling di tengah tempat tidur sebagai pembatas.
" Awas kalau kamu berani melewati pembatas!" ancam Natasha masih dengan satu tangan menutup hidungnya.
Yoga yang melihat apa yang dilakukan Natasha langsung menyingkirkan guling yang menghalangi mereka, dengan kakinya hingga membuat guling itu berserakan di lantai. " Apaan sih, pakai pembatas-pembatas segala! Dulu waktu belum belah duren saja nggak pakai pembatasan begini, sekarang sudah tahu nikmat isi durennya masa dibatasi begini, mana tahan Abang, Dek." Yoga terkekeh.
" Makanya kamu mandi dulu sana."
" Nggak mau, orang aku sudah mandi, dan bau aku nggak ada yang aneh, kok. Nih, cium ..." Yoga menyodorkan ketiaknya ke arah Natasha.
" Iiiihh ... bau, hueekkk ... " Natasha tiba-tiba mual dan ingin muntah rasanya.
" Kamu kenapa, Yank? Kamu sakit?" Yoga yang melihat istrinya membekap mulutnya seolah menahan sesuatu agar tidak keluar merasa khawatir, dia ingin mendekat ke arah Natasha, tapi istrinya menahan dengan gerakan tangannya.
" Cepat sana mandi, aku sudah ngantuk," rengek Natasha.
" Kamu mengantuk kenapa malah suruh aku mandi?"
" Minta dipeluk ..." kata-kata yang diucapkan Natasha terdengar manja.
Yoga langsung menyeringai. " Kalau minta dipeluk sini, dong. Kenapa malah nolak-nolak?"
" Nggak mau, bau kamu aneh bikin perut aku mual."
" Yang aneh itu kamu, Yank. Orang bau aku normal-normal saja, kok."
" Nggak! Bau kamu nggak enak, kalau nggak percaya sana tanya Mamih atau Bu Ratna."
Yoga mendengus kesal sebelum akhirnya keluar kamar untuk menanyakan kepada Mamihnya benar atau tidak tuduhan yang ditudingkan kepadanya.
" Mih ..."
__ADS_1
Mama Yoga yang sedang menonton acara talkshow di salah satu stasiun televisi swasta langsung menoleh ke arah Yoga.
" Mih, Mamih mencium bau yang aneh nggak di tubuh Yoga?" tanya Yoga setelah mendekat ke arah Mamihnya.
" Bau aneh?" Mama Yoga pun mendekatkan hidungnya ke tubuh anaknya. " Nggak ada, kecium bau parfum kamu seperti biasa, kok. Memangnya kenapa?" Mama Yoga bertanya heran.
" Si Tata, dia bilang bau aku aneh, nggak enak bikin mual mau muntah. Dia suruh aku mandi, padahal aku kan sudah mandi dari sore." Yoga menceritakan.
" Tata mual mau muntah cium bau kamu?" Mama Yoga langsung membulatkan matanya. " Jangan-jangan ...."
" Jangan-jangan apa, Mih?" Yoga memotong kalimat yang dikatakan Mamihnya karena tiba-tiba saja rasa cemas menggelayuti hatinya.
" Jangan-jangan Tata hamil, Ga!" pekik Mama Yoga sumringah.
" Ha-hamil?" Yoga terkesiap demi mendengar kemungkinan yang diduga oleh Mamihnya.
" Iya, bisa jadi seperti itu." Mata Mama Yoga melirik ke arah jam dinding di ruangan tengah. " Untuk memastikan, coba deh kamu ke apotek, beli test pack, masih ada yang buka kan jam segini?"
" I-iya, Mih. Yoga ke apotek sekarang." Dengan bergegas Yoga berlari menaiki anak tangga untuk mengambil uang dan mengambil kunci motornya.
" Yank, aku ke apotek dulu ya sebentar," ucap Yoga kepada Natasha, tapi Yoga langsung memicingkan matanya saat melihat ternyata istrinya itu sudah tertidur pulas sambil memeluk guling.
Yoga berjalan menghampiri Natasha di pembaringannya. Dia langsung membelai lembut kepala istrinya seraya memberikan kecupan di kening Natasha.
" Semoga dugaan Mamih benar, Sayang. Semoga benar-benar sudah tumbuh Yoga atau Tata junior di perut kamu ini." Yoga kembali menghujani kecupan di wajah Natasha, dia tidak bisa menutupi rasa bahagia yang saat ini menyelimuti hatinya, walaupun dia sendiri belum memastikan apa dugaan Mamihnya itu benar atau tidak.
" Uuugggghh ..." Natasha melenguh kerena merasa ada yang mengganggu tidurnya, matanya pun mengerjap beberapa detik sebelum pandangannya penuh mendapatkan wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.
" Tadi kan kamu suruh aku tanya ke Mamih, katanya bau aku aneh kamu bilang tadi."
" Aneh?" Natasha langsung mengendus tubuh suaminya, aroma maskulin yang seperti biasa memanjakan penciumannya, aroma yang selalu dia rindukan, yang Indra penciumannya rasakan saat ini. " Nggak ada yang aneh, bau aroma tubuh kamu kan memang khas begini yang aku suka."
Yoga langsung mengeryitkan keningnya merasa heran dengan perubahan penciuman istrinya yang begitu cepat. Bukankah tadi istrinya itu menolak dia dekati? Kenapa sekarang berubah lagi? Yoga sampai melupakan alasan dia kembali ke kamar tadi.
" Sayang, aku mau ke apotek dulu sebentar." Yoga akhirnya ingat rencananya ke apotek.
" Ke apotek? Memangnya siapa yang sakit?"
" Bukan mau beli obat, tapi aku disuruh Mamih beli test pack."
Natasha mendonggakan kepala ke arah suaminya. " Test pack? Buat apa?" pertanyaan konyol terlontar dari mulut Natasha. Bukannya dia tidak tahu fungsi alat itu, tapi dia pikir buat apa suaminya beli sekarang? Karena dia sendiri tidak mengalami gejala-gejala kehamilan.
" Ya buat test kehamilan dong, Yank. Buat apa lagi memang fungsinya alat itu?"
" Memang siapa yang hamil? Mamih?"
Yoga tergelak saat Natasha mengucapkan kata terakhir. " Astaga, Yank. Memang kamu pikir usia Mamih masih produktif bisa hamil?"
__ADS_1
" Terus buat siapa, dong?"
" Buat kamu lah, Yank."
" Aku? Memang aku hamil? Aku kan nggak muntah-muntah."
" Tapi tadi kamu mual gara-gara cium bau aku yang kamu bilang nggak enak."
" Memang aku mual tadi?"
" Iya tadi kamu mual, masa lupa, sih? Dasar pikun!" Yoga menarik hidung istrinya.
Natasha membalas mencubit pinggang suaminya. " Enak saja bilang aku pikun!" Natasha mencebik.
Yoga terkekeh melihat tingkah manja istrinya. " Ya sudah aku mau ke apotek dulu sebentar, ya." Yoga bangkit dari posisi tidurnya.
" Ikuuuuuttt ..."
" Cuma sebentar kok, Yank. Lagipula aku naik motor, nggak baik kalau kamu keluar malam begini," cegah Yoga.
" Aku mau ikut, sekalian cari roti bakar, aku kepengen roti bakar."
" Ya sudah nanti aku belikan kamu roti bakarnya, kamu nggak usah ikut di rumah saja."
" Nggak mau, aku mau ikut." Natasha merajuk.
" Yank, sudah malam, nggak bagus buat kesehatan kamu, apalagi jika dugaannya benar kamu sedang hamil." Yoga tetap melarang.
Natasha mendengus kesal. " Bilang saja kamu mau godain cewek-cewek nakal di jalan yang pamer paha sama dada."
" Ya ampun, Yank. Aku nggak ada pikiran kesitu, lho." Yoga cepat mengelak.
" Alasan! Sudah sana pergi dan nggak usah masuk kamar ini lagi." Natasha bangkit kemudian menarik paksa tubuh Yoga hingga keluar kamar dan menguncinya dari dalam. Dia tidak memperdulikan teriakan suaminya yang memberikan alasan-alasan untuk membela diri.
" Yank, buka pintunya sebentar! Kunci sama dompet aku masih di dalam, buka pintunya, Yank!" Yoga menggedor pintunya, tapi tak juga dibuka. " Oke-oke, kamu boleh ikut, kita naik mobil saja kalau begitu, tapi buka dulu pintunya!" Sepuluh menit Yoga berusaha membujuk istrinya tapi tak dihiraukan Natasha.
" Kenapa dia jadi sensitif banget gini, ya? cepat banget berubah moodnya?" gumam Yoga sebelum akhirnya turun ke bawah menemui Mamihnya.
Menurut emak² n anak gadis sekalian, cocok ga jadi visual Azahra?
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Readingš